Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 52 Rama kecelakaan


__ADS_3

Rama bingung.


Nampak Rama bingung memikirkan nasibnya yang tidak karuan, di tambah sekarang sang Bapak jarang pulang, semenjak ketahuan selingkuh oleh sang istri. Dan Bapaknya Rama pun seakan menaruh dendam kepada sang anak, karena di telah membongkar semua aibnya kepada sang Ibu.


Nampak dia sudah siap-siap mau pergi, tapi nampak hatinya gelisah tidak karuan.


"Nak, kalau tidak enak badan jangan di paksakan, istirahat saja di rumah," ucap sang Ibu. Meskipun Rama telah melakukan kesalahan yang bertubi-tubi namun sang Ibu nampak masih menyimpan rasa perhatian kepada sang anak.


"Aku kalau di rumah terus suntuk dan ingat terus sama Bayiku, aku ingin bertemu dengannya. Apalagi dengar kabar kemarin kata Ibu, Bayiku sakit," ucap Rama, menghela napas panjang. Dia keluar rumah mau mencari kerja lewat temannya.


Ibu pun hanya diam tidak banyak kata.


Sang Ibu nampak sedang memikirkan suami yang tak kunjung pulang. Sampai detik ini dia belum menemukan jejak sang suami berselingkuh dengan siapa, Ibu seakan dihinggapi rasa penasaran yang dalam, ingin sekali mengetahui siapa selingkuhan suaminya tersebut.



Apalagi sekarang suami jarang pulang, Ibu berpikir jauh bahwa sang suami, sudah menikah dengan wanita lain atau ada madu.



"Pasti dia sudah menikahi wanita itu, aku semakin curiga," gumam sang Ibu.


"Bu, pamit ya," ucap Rama.


Rama pun berlalu ke garasi halaman rumah, lalu memanaskan motornya. Nampak bayangan Amel dan Bianca hinggap sekelebat, Bayi Amel pun nampak hinggap.


"Bagaimana, dengan Bayi Bianca. Apakah dia sudah melahirkan," gumam hati Rama.


Rama pun menepis semua bayangan yang hinggap didalam ingatannya. Setelah memanaskan motor kira-kira 15 menit, kemudian Rama menaiki motor tersebut, dan melajukan motornya dengan kecepatan yang lumayan ngebut, tujuan dia ingin segera bekerja dan menghasilkan banyak uang agar bisa membayar hutang kepada sang mertua.



Ketika melajukan motor tersebut, pikirannya melanglang buana jauh ke sana kemari. Bayangan Amel dan Bianca seakan menghujat dirinya, dia tidak fokus ketika melajukan motor tersebut.


Dari arah depan ada terlihat ada mobil melaju dengan kencang. Tiba-tiba entah mengapa pikiran dan pandangannya buyar, dia pun merasa pusing ketika mengendarai motornya tersebut. Kemudian motor yang di dikendarainya oleng tanpa arah.


Bruk...


Mobil yang melaju kencang tersebut menabrak motor yang di kendarai oleh Rama, dan Rama pun tersungkur ke pinggir jalan, dia nampak terlihat meringis kesakitan.


Sang pengendara mobil nampak terkejut melihat dirinya telah menabrak sang pengemudi motor.


"Jangan lari Bu, selesaikan dulu urusan dengan pengendara motor ini," ucap seseorang yang melihat kejadian tabrakan tersebut. Nampak wanita dari mobil tersebut keluar dengan muka pucat, karena dia takut di serang oleh warga sekitar karena telah menabrak pengemudi motor.


"Iya, Iya, Pak.." jawabnya terlihat gugup.


Kemudian Rama dibawa ke Rumah Sakit terdekat untuk di obati. Dia meringis menahan rasa sakit di bagian kaki karena terluka.



Di Rumah Sakit.


"Mas, maafkan saya ya" ucap sang wanita, yang usianya sekitar 40 tahun tersebut.


__ADS_1


Rama hanya menganggukkan kepalanya.


"Saya akan tanggung jawab atas semuanya," ucap wanita itu kembali terlihat panik.



Rama pun di tangani oleh pihak Rumah Sakit.


Setelah semuanya beres Rama ingin minta pulang kepada pihak Rumah sakit, namun pihak Rumah sakit melarangnya, karena keadaan luka kakinya belum sembuh total.



Rama pun mencoba menghubungi Ibunya, dan dia mengabarkan bahwa dia sedang berada di Rumah Sakit karena kecelakaan. Sang Ibu ketika mendengar kabar tersebut terlihat khawatir.


Di sambungan telepon.


{"Keadaan kamu sekarang gimana Nak? Ibu sekarang ke sana ya, bersama Tante Fani,"} ucap sang Ibu.


Sang Ibu pun bergegas ke rumah Tante Fani, kemudian berlanjut menjenguk anaknya yang tengah berada di Rumah Sakit.



Tiba di Rumah Sakit.


"Nak, kenapa kamu selalu buat masalah saja," ucap sang Ibu matanya berkaca-kaca.


"Kak, jangan bilang gitu, ini musibah loh," ucap Tante Fani.


"Bu, maafkan saya, tadi saya yang menyerempet motor anak Ibu," ucap wanita yang menabrak motor Rama. Pandangan wanita tersebut menunduk.


"Makannya, kalau menyetir kendaraan jangan ngebut dan jangan ngelamun," ucap sang Ibu, mendelik wanita tersebut.


"Iya lah, harus bertanggung jawab atas semua ini, masa lari dari kenyataan," ucap lagi sang Ibu.


Wanita tersebut pun keluar ruangan, dia pun nampak terlihat sedang menghubungi seseorang.



Tante Fani pun keluar dari ruangan, dimana Rana sedang dirawat. Tante Fani menatap wanita tersebut dan tersenyum tipis.



"Iya, Mbak, kalau mau tanggung jawab, alhamdulillah," ucap Tante Fani, ketika mendekati sang wanita tersebut yang nampak sedang gelisah.



"Saya sedang menunggu suami saya Bu, tadi dia bilang mau kesini. Tapi sekarang saya coba hubungi dia kembali ponselnya tidak aktif," ucap wanita tersebut sambil memegang ponselnya.



"Memang kejadiannya tadi seperti apa ya?" sang Tante seakan dihinggapi rasa penasaran.



"kalau menurut aku, kita tadi sama-sama sedang melamun." ucapnya.

__ADS_1


\_\_\_\_


"Iya mungkin bisa jadi Rama sedang melamun dan dari arah depan ada mobil berlalu kencang, mereka sedang ngelamun dan terjadilah tabrakan." gumam hati sang Tante


\_\_\_


"Memang Mbak mau kemana, maaf," ucap Tante Fani.



"Aku mau belanja Bu," jawabnya.



Drett... Drett...Drett..



Tiba-tiba bunyi telepon muncul dari ponsel wanita tersebut, nampak lelaki yang dia hubungi barusan menghubungi dia kembali.


"Mah, maaf ponsel Papa tadi mati, jadi habis berapa biaya pengobatannya," ucap lelaki yang sedang berbicara di sambungan telepon tersebut.



"Mungkin 5 juta Pah," jawab sang wanita tersebut. "Tapi kalau Papa nggak pegang uang, ada simpanan Mama. Papa datang dulu saja kesini," ucap wanita tersebut.



"Wanita ini terlihat orang berada," gumam hati Tante Fani, menatap lekat wanita tersebut.



Tante Fani terlihat ingin membuang air kecil. Dia pun pamit kepada wanita tersebut untuk pergi ke toilet, yang berada diluar kamar pasien, dimana Rama sedang di rawat.


Tiba-tiba sesosok lelaki datang, kira-kira usianya sekitar 50 tahun.


"Pah.." ucap wanita tersebut, matanya berkaca-kaca.



"Ko, bisa sih, nabrak motor, Mama sedang melamun?" ucap lelaki tersebut, tiba-tiba menodong pertanyaan.



"Panjang ceritanya. Memang benar ucapan Papa barusan, Mama sedang melamun. Ingin cepat di segerakan nikah agama, selama ini hanya nikah siri!" sambung wanita itu kembali tersenyum kesal, karena hubungan Meraka sudah lama, tapi sang lelaki hanya menikahi siri kepada wanita tersebut.



"Sabar dong Mah, perlu waktu. Kalau waktunya tiba, pasti kita nikah secara resmi," ucap lelaki tersebut.


Tante Fani keluar dari kamar mandi.


Dia berjalan secara perlahan, dari kejauhan nampak wanita yang menabrak Rama, sedang ngobrol dengan seorang lelaki.


Ketika melihat sosok lelaki tersebut, Tante Fani terbelalak matanya, karena wanita yang menabrak Rama, sedang ngobrol dengan Bapaknya Rama.

__ADS_1


"Loh, itu Bapaknya Rama kan, sedang ngobrol dengan wanita tersebut. Mereka ada hubungan apa ya," gumam hati Fani, melihat dari kejauhan.


Bersambung...


__ADS_2