Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab 41 Bianca Teringat Rama


__ADS_3

Bianca terus menerus memikirkan Rama, dia berpikir apakah akan mengabarkan kepada Rama bahwa dia sudah melahirkan, atau tidak. Tidak bisa dipungkiri rasa cinta dia begitu besar kepada Rama, karena dia cinta pertamanya. Meskipun sang lelaki brengsek itu sudah mengkhianatinya.


Ada istilah mungkin cinta itu buta.


Kemudian dia memijit tombol layar ponselnya, lalu dia mencoba menelepon Rama, namun teleponnya Rama tidak aktif, begitupun ketika mengirimkan pesan lewat aplikasi WhatsApp, tidak terkirim atau ceklis satu. Bianca hanya menghela napas panjang.


"Mungkinkah dia ganti nomor telepon? dasar lelaki brengsek!" gumam hati Bianca, raut mukanya nampak terlihat kesal dan menyimpan amarah.


Bianca pun mencoba memejamkan matanya agar dia bisa tertidur, karena dari malam matanya belum bisa terpejam.


Dia pun menghela napas secara perlahan, dan mencoba menepis bayangan Rama.



Entah mengapa sosok Raden kini hadir dalam bayangannya. Anak Pak RT, tersebut datang menghinggapinya. Pikirannya berselancar mengingat masa kecil dulu, Pak RT dan Bu RT selalu menjodohkan dia dengan anaknya yang bernama Raden.


Bianca tersenyum sendiri dia ingat saat itu, ketika Mamanya pergi ke pasar untuk berjualan dan Papanya pergi bekerja. Bu RT datang dengan membawakan banyak sekali makanan. Bu RT begitu perhatian terhadapnya.



"Aku mikir apa ini, tidak mungkin Bu RT, mau menerimaku menjadi menantunya, dengan keadaan aku seperti saat ini. Aku wanita kotor, aku nakal," Bianca kembali berbisik dalam hatinya dia seakan menyalahkan dirinya sendiri.


Tiba-tiba sang Papa datang menghampiri Bianca, yang sedang melamun.


"Eh, kirain sudah tidur istirahat," ucap sang Papa, menatap lekat kepada sang anak.


"Iya Pah, ngantuk tapi nggak bisa terpejam mata ini, entah kenapa!" jawab Bianca.


"Sudah jangan banyak pikiran, Bayi kamu sehat," ucap sang Papa. "Papa mau tanya, setelah anakmu sehat, kamu bersama anakmu mau tinggal dimana? mau ikut ke Jakarta lagi bersama Papa dan Mama atau tetap tinggal disini di Bekasi bersama Tante Astrid?" sambung Papa kembali.


Bianca menghembuskan napas kasar.


"Menurut Papa gimana? Tapi Bianca lebih memilih tinggal disini saja Pah, bersama Tante Astrid," jawab Bianca.


"Barusan Kakakmu Tyanca menelepon kepada Mama, katanya kalau tinggal di Bandung dengan Kakakmu mau nggak?" tanya sang Papa.


Mungkin orang tua Bianca berpikir jika terus menerus tinggal bersama Tante Astrid, takutnya merepotkan, tapi kalau tinggal dengan Tyanca, tidak apa-apa karena dia Kakak kandungnya sendiri.



Bianca dengan cepat menggelengkan kepalanya, pertanda dia tidak mau kalau untuk tinggal bersama Kakaknya, karena hubungan dia dengan sang Kakak, kurang baik semenjak kejadian dia hamil diluar nikah.

__ADS_1



Padahal dulu hubungan mereka sangat akrab terjalin. Apapun keinginan Bianca selalu dipenuhi oleh sang Kakak. Sekarang sang Kakak terlihat tidak peduli dengan sang adik, nampak dari sikap sang Kakak seperti beda seakan ada jarak.



Dulu setiap satu bulan sekali Tyanca rajin membelikan hadiah barang entah itu baju, sepatu atau tas. Namun sekarang tidak ada hadiah yang di berikan oleh sang Kakak kepada adiknya tersebut.


"Aku enggak mau tinggal di Bandung, aku mau tinggal disini saja untuk sementara waktu. Nanti juga suatu saat aku pindah kembali ke Jakarta, disaat hatiku sudah siap. Untuk saat ini aku belum siap dengan cibiran tetangga dan teman-teman dengan keadaanku yang sekarang, sudah mempunyai Bayi. Aku sadar diri telah mempermalukan Mama dan Papa, juga Kakak Tyanca," ucap Bianca matanya berkaca-kaca.


Nampak sang Papa merasa heran dan bangga, karena sang anak sekarang pemikiran tidak manja dan terlihat tegas dalam berbicara. Tidak seperti dulu sebelum hamil, dia dalam berkata terdengar manja dan merengek.


Tapi sekarang sang Papa menghampiri pun dia langsung menggeserkan badannya sedikit menjauh dari sang Papa seakan ada jarak dan malu jika harus bermanja-manja.



Mungkin didikan yang di berikan oleh sang Tante, beda dengan didikan sang Mama. Tante Bianca begitu tegas dan sangat disiplin dalam mendidik anaknya, begitupun kepada Bianca, didikan yang diberikan cukup tegas walaupun tidak mengurangi rasa perhatian.



Beda dengan sang Mama yang memanjakan anaknya dari kecil, mungkin karena sang Mama sibuk berjualan jadi apapun yang di inginkan anaknya di kabulkan, yang penting sang Mama tenang ketika pergi ke pasar karena anaknya sudah tercukupi semuanya.


Ting...



Tiba-tiba bunyi pesan muncul dari gawai milik Bianca, nampak terlihat sang Kakak yaitu Tyanca mengirimkan sebuah pesan.


{"Selamat ya, adikku tersayang, kamu sudah melahirkan anak perempuan dengan selamat. Semoga kamu sehat dan diberikan kesabaran dalam menghadapi situasi yang terjadi kedepannya nanti,"} Bianca hanya membaca pesan tersebut tanpa membalas pesan dari sang Kakak.



Dalam hati Bianca berpikir sangat jauh, mungkin isi pesan yang di tulis oleh sang Kakak hanya ingin menguatkan hatinya saja, yang sedang gundah gulana, atau kemungkinan sang Kakak mau membujuknya untuk tinggal di Bandung. Seakan penuh tanya yang ada di benak Bianca.


"Ya sudah, kalau itu keputusan kamu, Papa tidak bisa melarangnya. Papa seminggu sekali pasti akan tetap datang untuk mengunjungimu dan Bayimu kesini, ke rumah Tante Astrid," ucap sang Papa.



Terdengar suara tangis Bayi.


"Nih, anaknya kasih ASI dulu, dia merengek nangis," ucap sang Suster, yang tiba-tiba datang masuk kedalam kamar.

__ADS_1



Sang suster kemudian memberikan Bayi mungil tersebut ke dekapan sang Ibu untuk diberikan ASI.


Bianca kemudian menyusui sang Bayi, dan tatapan dia lekat kepada Bayi tersebut.


"Bayinya mirip banget Rama," gumam hati Bianca, kemudian dia mengelus rambut Bayi tersebut yang ikal. "Rama pun rambutnya ikal, dan kedua bola matanya berwarna hitam pekat," sambungnya lagi, Bianca berbisik dalam hatinya.



Sang Papa seakan tahu perasaan sang anak sedang memikirkan apa.


"Sudah Nak, jangan menghubungi Bapaknya, percuma juga dia tidak ingat anaknya. Ada Papa ini pengganti Bapaknya, kamu awas kalau mencoba menghubungi Rama lagi," ucap sang Papa, seakan mengancam.



"Tapi, tadi Bianca meneleponnya sudah tidak aktif ko, teleponnya," ucap Bianca. Pandangannya tidak melihat sang Papa, tapi tetap fokus kepada sang Bayi.



"Ngapain kamu telepon, Nak?" Papa terdengar dari nada bicaranya seakan marah.



"Aku tidak ada maksud apapun, cuma memberikan kabar, Bayinya sudah lahir, gitu saja," jawab Bianca.



"Bianca, kamu jangan hubungi lagi si Rama ya? disangka kamu meminta uang untuk keperluan persalinan Bayi ini. Papa nggak mau kita dihina seakan kita mengemis. Tunjukkan sama si Rama kamu mampu berjuang sendiri tanpa lelaki brengsek itu!" ucap sang Papa terdengar menggebu ketika berucap.



"Sudah Pah, Bianca tahu ko, mana yang harus dilakukan dan mana yang harus di tinggalkan," tiba-tiba Mama Astri datang menghampiri kedalam kamar.



"Maksudnya bukan begitu Mah, cuma jika Bianca terus menerus menghubungi si Rama yang ada dia nanti besar kepala. Disangka dia kita memelas tidak punya duit!" terdengar sewot sang Papa Ketika berucap.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2