
Lima bulan kemudian.
Hujan telah reda sejak segelas kopi hangat di atas meja itu tandas. Rasa sepi selalu mencipta rindu, dan kenangan masa lalu pun hadir kian nyata menjelma.
Satu setengah tahun Rama hilang dari hatinya Bianca, dari masa berlalunya dengan Rama, kini dia menjelma menjadi wanita yang lebih dewasa, dan bijak dalam menghadapi persoalan hidup.
Dia kembali menata hidupnya kembali yang pernah hancur lebur karena di usik oleh sang lelaki brengsek.
Saat aroma tanah basah memenuhi penciuman, di hirup nya dengan napas dalam dan mencoba pejamkan mata. Sebelum bayangan itu kembali hadir, yaitu bayangan sesosok lelaki yang menebar pesona yang bernama Rama.
Bayangan lain pun kian hinggap menerpa.
___
"Anak SMP sudah punya anak!" pedih hati ini setiap kali ada ucapan dengan kalimat-kalimat seperti itu.
Belum cemoohan keluarga yang seakan menyudutkan dan seakan membuang, karena ada rasa malu jika melihat perut Bianca semakin hari semakin membuncit.
___
Bianca membuang napas kasar.
"Mungkin karena aku sekarang sedang keadaan sendiri di rumah, jadi perasaan merasa sendiri dan diasingkan hinggap di hati terasa begitu menghantam hati dan pikiranku," gumam hatinya
___
Tiba-tiba ada yang mengucap salam dari arah luar dan terdengar nyaring suaranya.
"Assalamualaikum,"
Ucap salam begitu terdengar nyaring di telinga Bianca, yang sedang termangu di dalam kamar. Kebetulan kedua orang tuanya sedang pergi ke pasar dengan membawa anaknya.
"Wa'alaikum salam," ucap Bianca.
Bianca pun dengan cepat menyeret langkah kakinya menuju teras rumah.
Krekkkk
Akhirnya pintu terbuka lebar setelah dibuka oleh Bianca, betapa terkejut hati Bianca, karena yang datang adalah Bu RT, ibunya. Raden. (Yang dulu selalu menjodohkan dirinya dengan anaknya tersebut).
Bianca seakan tersipu malu ketika melihat ibunya Raden, karena dia dulu pernah dijodohkan oleh Ibunya tersebut.
"Bu Risma, masuk Bu. Tapi kedua orang tua Bianca, lagi ke pasar," Bianca, tersenyum renyah kepada Bu Risma.
"Eh, Bianca, kapan datang dari Bekasi?" tanya Bu RT, terlihat ramah dan tersenyum lebar.
Bu Risma nampak terpesona dengan penampilan Bianca yang terlihat anggun, dan nampak lebih cantik.
"Sudah seminggu saya di sini Bu. Saya tadinya mau ke rumah ibu, sama mama. Tapi lupa, dan akhirnya nggak jadi." jawabnya, tersipu malu.
"Padahal tiga hari yang lalu, ibu ke sini belanja ke warung, tapi Kok, nggak lihat kamu ya," ucap Bu Risma.
"Mungkin saya lagi di kamar Bu, atau sedang memandikan anak saya. Mari, silahkan masuk Bu!" Amel mempersilahkan masuk kepada Bu Risma.
"Ibu duduk di sini saja Nak, enak di luar ada angin," ucap Bu Risma.
Bu Risma duduk di teras rumah.
"Oh, ya, anakmu ke mana Bianca? Kok nggak kelihatan," ucap Bu RT.
__ADS_1
Pandangan matanya tertuju ke dalam rumah.
"Anakku dibawa sama Mama, ke pasar Bu," ucap Bianca. "Gimana Bu Risma, kabarnya sehat ?" ucap Bianca kembali.
"Alhamdulillah sehat, gimana kamu, sama anak kamu sehat kan," ucap Bu Risma.
Mengusap lembut pundak Bianca.
"Aku sama anakku, Alhamdulillah sehat bu." ucapnya tersenyum kembali.
_____
Nampak Bu Risma menatap lekat kepada Bianca, terlihat ada rasa iba yang hinggap di hatinya. Anaknya yang bernama Raden selalu menanyakan keberadaan Bianca, (sekarang di mana). Nampaknya sang anak tidak bisa melupakan sosok Bianca, karena sejak dari zaman sekolah dulu, selalu bersama dan kedekatan orang tuanya pun sangat erat terjalin.
_____
"Oh ya, Bu, Raden sekarang kerja di mana?" tanya Bianca dengan tersipu malu.
"Di Bandung dia kerja, Kebetulan besok dia mau datang ke Jakarta, nanti deh, Ibu kasih tahu ke Raden, bahwa kamu sedang ada di sini. Besok Ibu ajak dia ke sini ya, kamu tahu sendiri kan, dia orangnya pemalu," sang Ibu tertawa terkekeh.
•••••
Bianca pun menundukkan kepalanya, seakan malu. Dia mengingat masa lalu bersama Raden, kedua orang tua Raden sangat memperhatikan Bianca, begitupun sebaliknya dengan orang tua dari Bianca selalu memperhatikan Raden.
"Kenapa aku bertemu dengan Rama sedangkan Raden yang selalu hadir menemaniku di saat sekolah, aku tinggalkan begitu saja," gumam hati Bianca.
_____
Dahulu ketika Raden pindah ke Bandung untuk bekerja, Bianca seakan tidak ada teman untuk berbagi cerita. Dia pun tergoda oleh bujuk rayu Rama.
Setelah selesai sekolah SMA Raden tengah menunggu panggilan kerja, namun setelah keterima kerja di Bandung Raden pun meninggalkan Bianca, usia mereka terpaut 6 tahun
("Awas ya, kamu jangan nakal, ditinggalin sama Kakak, ke Bandung,"). saat itu Bianca, hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan tersipu malu.
•••••
"Bianca...!" Bu Risma menepuk pundak Bianca, yang nampak sedang melamun.
"Ra- Raden.." ucapnya dengan spontan.
Bu Risma tersipu malu dan dia menutup mulutnya dengan penuh oleh jemari tangannya, dia nampak menahan rasa tawa.
Dengan kelakuan Bianca yang salah menyebut nama.
"Bu.. Iy-iya!" Bianca terdengar gugup, ketika berucap.
"Ya sudah, Ibu mau pulang dulu ya, nanti sore Ibu ke sini lagi, sebenarnya Ibu ada perlu dengan Mama kamu," ucapnya lembut.
"Atau, kalau ibu ada perlu sama Mama, telepon saja," ucap Bianca.
"Sebenarnya sih, Ibu mau pesan sayuran sama buah-buahan, kepada Mama kamu, karena di rumah Ibu, mau ada syukuran nanti hari minggu," ucap Bu Risma menatap lekat kepada Bianca.
"Mau ada syukuran apa Bu? tanya Bianca.
"Syukuran Raden," ucap Bu Risma.
Degh
Jantung Bianca tiba-tiba berdetak lebih kencang, pikirannya tidak karuan. Dia sudah berpikir terlalu jauh, dan aneh-aneh.
__ADS_1
Takut jika Raden syukuran untuk tunangan atau menikah.
Bianca nampak terlihat salah tingkah. Melihat gestur tubuh Bianca, yang tiba-tiba berubah. Bu Risma seakan tahu dan merasakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Syukuran, Raden ulang tahun," ucap Bu Risma, mencoba menenangkan hati Bianca.
***
Meskipun Raden yang selalu menanyakan keadaan Bianca walaupun Raden sudah disakiti Bianca, setahun yang lalu. Dengan mendengar kabar bahwa Bianca tengah hamil oleh Rama.
---
"Aku selalu bilang kepada Mamanya Bianca
waktu dulu.("Kita, besanan Bu,")
Mungkinkah, ini akan benar-benar terjadi?"
gumam hati Bu Risma.
---
Nampak Bianca menghela napas secara perlahan, ketika mendengar Bu Risma mengucapkan kalimat. ("Hari ulang tahun Raden,") jadi bukan acara pertunangan atau pernikahan." gumam dalam hatinya.
-----
" Ya,sudah. Ibu pulang dulu ya," ucap Bu Risma, tersenyum manis dan memeluk Bianca.
Bu Risma pun berlalu dari hadapan Bianca
•••
Bianca terlihat bisa bernapas dengan lega, karena ucapan yang baru saja terdengar dari mulut Bu Risma, seakan membuat dirinya tidak terbakar api cemburu.
Bianca pun seakan berpikir keras untuk bisa membuat Raden bahagia dengan cara memberikan sebuah kado kejutan.
•••••
Tiba-tiba orang tua Bianca datang, nampak terlihat sang Mama sedang menggendong anaknya Bianca.
Melihat sang anak tersenyum sendiri dan nampak raut mukanya begitu gembira, sang Mama pun dihinggapi rasa penasaran dan menggoda sang anak.
"Kenapa anak, Mama ini! Lagi gembira ya?"ucap sang Mama.
"Mah barusan bu RT, ke sini. Katanya mau pesan sayuran dan buah-buahan, soalnya ada acara hari minggu, di rumahnya," ucap Bianca
"Ada acara apa katanya, Nak? tumben!"
ucap Mama Astri.
"Katanya, Raden ulang tahun," Bianca pun Menundukkan kepalanya dan tersipu malu. Mukanya merah padam.
Mama Astrid pun seakan tahu isi hati dari anaknya tersebut, sang anak sedang memikirkan Raden yang dulu pernah memberi perhatian lebih kepada anaknya itu.
"Nanti malam kita pergi buat beli kado, buat Raden." ucap sang Mama menggoda.
Mama pun masuk ke dalam rumah diikuti oleh sang papah yang terlihat tertawa terkekeh. melihat kedua orang tuanya seakan menggodanya, Bianca seakan dihinggapi rasa malu yang teramat.
Bersambung...
__ADS_1