Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 133 Tyanca Kesal.


__ADS_3

Nampak Papanya Bianca gelisah.


Papanya Bianca berdiam diri di kamar, dan sang istri pun telah kembali pulang ke rumah, dengan kondisi badannya sudah mulai membaik seperti sedia kala.


"Pah,, sebenarnya ada apa!? Jawab jujur sama Mama, dan Mama tidak mau, ada hal


yang ditutupi oleh Papa," tanya sang istri pandangannya lekat ke arah bola mata sang suami.


Sang Papa menatap kepada istrinya tersebut, bukan jawaban yang dia berikan tapi derai air mata yang terhampar di pipinya.


Sang istri pun semakin dihinggapi rasa penasaran, dan khawatir terhadap sang suami karena nampak terlihat dari bola matanya sang suami seakan begitu sedih dan terluka hatinya.


"Mah, maafkan Papa ya, terlalu banyak kesalahan yang Papa perbuat dan membuat hati Mama terluka. Sampai Mama sakit, dan Papa tahu, Mama terjatuh karena Mama sebenarnya, memikirkan Papa yang sudah dengan berani mengambil keputusan untuk menikahi wanita lain," ucap sang suami terdengar sesak ketika dia berucap.


"Ya, Pah sudah aku maafkan mungkin juga Azizah adalah wanita terbaik jadi Papa berselingkuh dari Mama. Tapi,,, sudahlah, Mama sudah ikhlas kok, dengan Papa memutuskan untuk menikahi Azizah.


_____


Mama Astri nampak menghela napas panjang. Ada guratan sesal dan kecewa nampak dari raut wajahnya itu meskipun di bibirnya ada kata ikhlas.


"Tapi,Mah,,,!" sang suami seakan tidak bisa melanjutkan perkataannya terhadap sang istri mungkin saja terlalu sesak atau rasa malu Yang menghinggapi dirinya.


"Tapi,,,,tapi apa!?" tanya sang istri terlihat dihinggapi rasa penasaran.


"Tapi, Azizah mau cerai dari aku Mah!" ucapnya dengan menundukkan pandangan dari sang istri karena dihinggapi rasa bersalah yang teramat dalam dan rasa malu yang tidak terhingga.


"Cerai..!! Maksud Papa, Azizah sudah tidak mau lagi jadi istri Papa!?" tanya sang istri dihinggapi rasa terkejut yang teramat.


"Iya,,,Mah, Azizah ingin cerai dariku alasan dia tidak mau menyakiti hati Mama dan banyak hal yang dipikirkannya dia, nantinya kedepannya mungkin pernikahan yang akan dia jalani bersama Papa akan banyak rintangan. Maafkan Papa karena papa tidak berpikir panjang saat itu, dengan cepat menikahi Azizah.


Sang Papa sesenggukan menangis, dia memohon ampun kepada sang istri.


"Sudah, Pah, sudah Mama maafkan," jawabnya lirih.


Sang Papa pun diam seribu bahasa tatkala sang istri memberi kata maaf, dan nampak hening seketika ketika sang suami berkata kembali bahwa dia akan berpisah dari Azizah.


_____


Bruk...


Tiba-tiba seperti ada suara terjatuh dari luar pintu kamar. Ternyata dari tadi Tyanca menguping dari balik pintu kamar luar, tatkala mendengar suara sang Papa dengan lirih dan terdengar ada tangisan di dalam kamar, jadi dia dihinggapi rasa penasaran dan akhirnya dia mendengarkan obrolan kedua orang tuanya itu.


Lalu dengan cepat dia berlari ke arah pintu kamar karena dia menyenggol sebuah Vas bunga yang terjatuh ke bawah lantai.

__ADS_1


___


Karena dihinggapi rasa terkejut ada bunyi suara dari arah luar pintu kamar, kedua orang tuanya Tyanca keluar dari dalam kamar.


"Vas bunga terjatuh, tapi tidak ada orang," ucap sang Papa kemudian dia membereskan Vas bunga tersebut.


Nampak mata sang Mama berselancar ke arah ruangan rumah, dan disana tidak ada seorang pun berada di ruangan tersebut.


"Tyanca sedang tertidur di dalam kamar, sedangkan Bianca sedang keluar bersama Gerry dan Mischa juga ikut untuk melihat Ruko. Lalu,,, siapa yang memecahkan Vas bunga!?" gumam hati sang Mama ketika melihat Vas bunga pecah dan kacanya berserakan di lantai.


"Pah,,,Mama mau buat teh hangat dulu," ucap sang Mama. kemudian sang Mama pun berlalu ke dapur sementara sang Papa sedang membereskan Vas bunga yang berserakan kacanya di lantai


___


Sementara di dalam kamar Tyanca.


"Goblok,,,ternyata kelakuan sang Papa sungguh menyakitkan hati Mama, aku tidak menyangka hal ini bisa terjadi. Ternyata Papa sudah menikah dan dia baru saja diceraikan oleh istri mudanya," gumam hati Tyanca.


Tyanca mengelus dada dan nampak dari sorot matanya begitu tajam seakan dihinggapi rasa kesal dan amarah yang memuncak.


Prakk...


Gelas pun dia lempar ke arah ujung jendela seakan tidak bisa meluapkan emosi kepada sang Papa, hanya rasa kesal yang dia lampiaskan kepada barang yang dengan sengaja dia pecahkan.


Dia seakan ingin menumpahkan kekesalannya detik itu juga kepada sang Papa, namun dia berpikir kembali dia menghargai sang Mama, karena sang Mama baru saja sembuh dari sakit, takut sang Mama keadaan kondisinya kembali drop.


______


Papa dan Mama nampak terkejut.


"Pah,, seperti ada suara lemparan kaca atau gelas, Papa dengar tidak!? tanya sang istri yang tiba-tiba datang dengan membawa 2 cangkir teh hangat.


"Iya aku juga dengar Mah, tapi sepertinya dari arah kamar Tyanca, tapi lampu kamarnya gelap. Tyanca kan, sedang tidur. Argh... mungkin hanya perasaan kita saja Mah," ucap sang Papa. Akhirnya mereka pun menyeret langkah kakinya menuju ruang tamu.


••••


Tiittt.. Tiittt.. Tiittt...


Tiba-tiba bunyi klakson terdengar dari arah halaman rumah, sontak kedua orang tua Bianca pandangannya mengarah ke halaman rumah. Di sana nampak mobilnya Gerry datang, dan ketika mobil berhenti di garasi rumah, nampak Bianca sedang menggendong Miska keluar dari dalam mobil. Sang Mama pun tersenyum lebar tatkala sang anak dan cucunya datang.


"Wah,,, Mischa tidur, ayo baringkan ke kamar," ucap sang Mama tatkala melihat sang cucu tertidur pulas di gendongan sang anak.


Nampak Gerry pun duduk dekat sang mertua, sementara Bianca dan sang Mama berlalu untuk menidurkan anaknya Tyanca yang tertidur di gendongan Bianca.

__ADS_1


____


Tok...Tok...Tok...


Sang Mama mengetuk pintu beberapa kali.


"Kak,,buka pintunya,Kak!" ucap sang Mama.


Krekkkk..


Pintu pun terbuka walau tidak lebar, nampak Tyanca wajahnya cemberut seperti menahan sesal, tidak ada senyuman manis dari bibir mungilnya itu.


Melihat sang Kakak cemberut seperti dihinggapi rasa amarah, Bianca pun seakan malas melihat wajah sang Kakak tersebut.


"Mah, ini gendong sama Mama Mischa nya, Bianca mau mandi dulu," ucapnya.


Bianca pun menyerahkan Mischa yang sedang di gendong kepada sang Mama.


nampak Bianca mengalami nafas panjang dan menepuk halus pundak sang Mama, mungkin mengisyaratkan harus sabar menghadapi Tyanca yang emosinya kadang cepat tersulut.


____


Mama pun nampak memasuki kamar sang anak dan seperti dihinggapi rasa penasaran dan tanya dalam diri karena melihat sang anak wajahnya cemberut tidak enak di pandang.


"Wah,,,ada pecahan gelas," ucap sang Mama dihinggapi rasa kaget ketika melihat pecahan gelas berserakan di ujung jendela kamar Tyanca.


•••


Tyanca tidak bergeming sedikitpun, dia tetap cemberut dan nampak wajahnya mendelik ke arah sang Mama.


Kemudian sang Mama menidurkan cucunya tersebut di atas kasur, kemudian dia menatap sang anak


"Kenapa Nak?" tanya sang Mama seperti dihinggapi rasa khawatir sambil berjalan ke arah ujung jendela, lalu dia membersihkan pecahan gelas yang bercecer di lantai.


"Aku kesal!!" jawab Tyanca dengan sorot mata tajam


"Kesal kenapa?" tanya sang Mama terlihat heran.


"Kesal, karena Mama begitu sabar dan diam, Papa,,,!" Tyanca seakan tersendat untuk bicara suaranya berubah menjadi serak seakan menahan air mata yang akan keluar dari bola matanya.


"Papa,,! Papa kenapa!?" tanya sang Mama kembali dihinggapi rasa penasaran karena sang anak terlihat memotong pembicaraan.


"Papa, nikah lagi kan!? Tapi Mama diam tidak memarahi Papa, Mama diam saja kenapa!? Tidak ada tindakan apapun. Kalau aku di posisi Mama, suami selingkuh apalagi sampai menikah, aku sudah ngamuk Mah!" ucapnya. Terlihat Tyanca kesal dan menumpahkan rasa amarahnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2