
Sampai di rumah
"Duduk Bianca, jangan ke kamar dulu," sang Papa menyuruh anaknya duduk, jangan masuk kamarnya.
Nampak muka Bianca pucat pasi, dia seakan tahu apa yang akan Papanya, lakukan terhadap dia yaitu, sebuah pertanyaan yang pasti akan memojokkan dan memarahinya.
Bianca menarik napas secara perlahan.
Sang Mama, hanya terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya memandangi muka anaknya yang polos itu terlihat dihinggapi rasa takut oleh sang Papa.
Papa menghembuskan napas kasar.
"Kamu sudah berapa lama kenal lelaki itu?" Papa bertanya kepada anaknya itu, dengan sorot mata yang tajam.
Pandangan Bianca tetap tertunduk tidak bergeming sedikitpun, lalu sang Mama menepuk bahu sang anak.
"Nak, ditanya Papa, jawab saja, kamu harus jujur," ucap sang Mama.
__ADS_1
Nampak Bianca menghela napas, sebelum berbicara dia menatap sang Mama.
"Baru.., baru 5 bulan Pah," jawabnya lirih.
"Kamu melakukannya dimana, dan mengapa kamu mau melakukan tindakan bodoh itu!" sang Papa, seakan memojokkan anaknya itu.
Bianca seakan tidak bisa menjawab pertanyaan dari sang Papa, dia seakan takut melihat muka sang Papa, yang nampak marah dan kesal.
"Pah, ini sudah terjadi. Mau gimana lagi, kita yang penting minta pertanggung jawaban dari lelaki itu, kedepannya seperti apa," ucap sang Mama, mencoba menenangkan hati sang suami yang tersulut emosi.
"Tidak bisa begitu Mah, kita juga harus tahu kronologisnya seperti apa, sampai anak kita hamil. Apa dia di perk**a atau diberi obat biar tidak sadar. Kita kan bisa nuntut lelaki itu, kalau hal itu terjadi," Papa menerangkan secara gamblang kepada sang istri.
"Tidak.. tidak Pah, aku melakukannya atas dasar tidak di paksa. Rama pacarku tidak memaksaku," ucap Bianca.
Bianca mencoba membela sang pacar, meskipun dia tahu sang pacar berkhianat dan akan menikahi gadis lain bulan depan.
"kenapa kamu lakukan! itu perbuatan salah. Sejak kapan anak Papa, jadi bod*h!" Papa matanya melotot.
__ADS_1
"Sudah, Pah. Besok saja kita datangi rumah Rama," Mama kembali meminta suaminya, agar menyudahi obrolan seperti ini. Mama merasa anaknya di sudutkan.
"Mending kalau tanggung jawab, coba kalau kabur. Mau di taruh dimana mukaku Mah!" ucap sang Papa.
"Nggak, Rama nggak akan kabur. Dia pasti tanggung jawab mau menikah denganku, tapi .." ucap Bianca, dia seakan tidak mau meneruskan pembicaraannya itu.
Bianca sesenggukan menangis, terdengar suara dari anak itu begitu perih dan menyayat hati. Melihat sang anak seperti tersayat luka yang dalam lalu sang Mama, mengelus pundak anaknya itu.
"Ada apa Nak, bilang saja semua sama Papa," ucap Mama lirih.
Bianca menghela napas panjang.
"Rama..Rama, bulan depan akan menikahi wanita lain," ucap Bianca.
Terasa ada sesak ketika dia berbicara seperti itu. Pandangannya terlihat kosong, rasa sesak di dada kian merasuki hati dan pikirannya.
"Apa..!" sontak mata sang Papa, terbelalak, tatkala mendengar apa yang baru saja dia dengar dari mulut anaknya tersebut. Terasa bagai petir di siang bolong begitu menampar hati sang Papa.
__ADS_1
Bianca seperti dihinggapi rasa takut yang teramat, ketika sang Papa terlihat menampakkan raut muka yang begitu kesal, dan amarah yang mendidih.