
Di kamar Bianca.
"Bianca, kamu benar mau ikut sama Tante?" tanya sang Tante, menatap lekat terhadap keponakannya itu.
Bianca menganggukkan kepalanya, tanda dia ingin sekali ikut bersama dengan Tantenya tersebut. Tiba-tiba Mama Astri datang ke kamar anaknya itu.
"Nak, Mama ikut saja sama Papa, ke Bekasi. Nanti Mama nginep di sana 2 hari ya, dan kedepannya pasti Mama akan datang seminggu 2 kali," ucap sang Mama, sambil mengusap lembut rambut sang anak.
Bianca pun tersenyum merekah mendengar sang Mama mau ikut dan menginap 2 hari.
Dalam diri Mama, dihinggapi rasa sedih yang luar biasa ketika harus berpisah untuk sementara. "Nak, ko' Mama berat meninggalkan kamu ya, bagaimana kalau kamu jangan jadi saja, ikut dengan Tante Astrid. Biar kalau tetangga dan teman Mama di pasar menghujat, Mama sudah siap. Ini resiko yang harus di terima oleh Mama," ucap sang Mama.
Sang Mama berubah pikiran dia tidak mau jika dipisahkan dengan anaknya tersebut.
"Mah, aku mau sama Tante Astrid saja, aku takut kalau disini kena bulian teman, dan pasti teman-teman nanti datang ke rumah, belum Mama sama Papa lihat aku nanti nangis terus," ucapnya polos.
"Kak, Astri, sudah jangan banyak pikiran, biar dia yang nentuin. Lagian nanti kalau tinggal di rumahku juga tidak akan aku terlantarkan, pasti akan aku sayangi seperti aku menyayangi anakku sendiri," ucap Tante Astrid, dia berusaha meyakinkan sang Kakak.
Mama pun terdiam, dan membereskan baju yang akan dibawa oleh anaknya tersebut.
Kemudian Papa datang, dia memeluk erat sang anak, matanya berkaca-kaca.
"Maafkan Papa ya," ucapnya lirih.
"Kenapa Pah, Bianca nggak apa-apa ko," anak polos itu, sambil mempermainkan rambut kuncirnya.
Papa mengelus pundak anaknya itu.
"Sabar, lebih dewasa ya," Papa menghela napas secara perlahan.
***
Di ruang tamu.
"Kita ikut antar Bianca ke Bekasi saja ya," ucap Tyanca menatap lekat kepada Gerry, sang suami.
"Boleh, biar dia merasa tidak terasingkan, terutama oleh sang Kakak," ucap sang suami seakan mengejek istrinya itu.
Tyanca cemberut terlihat kesal ketika mendengar ucapan sang suami.
"Kamu ya, aku sebenarnya sayang sama adikku, cuma kesal saja dengan kejadian yang memalukan," ucapnya ketus.
"Sudah, jangan ngomongin masalah malu, malu, terus. Sudah terjadi semuanya. Kita doakan saja semua kedepannya lancar. Pasti ada hikmah dibalik semua ini," ucap sang suami.
Tyanca pun tertegun.
"Ya, aku salah selama ini, terlalu emosi dan tidak perhatian kepada adikku," gumam hatinya.
Kemudian Tyanca, melangkahkan kakinya ke kamar Bianca. Tiba di depan pintu kamar, dia melihat sang Papa, sedang memeluk erat sang adik dengan tangisan pecah.
Tyanca seakan mengurungkan niatnya, untuk memasuki kamar adiknya tersebut. Dia menghela napas panjang, seakan iba melihat sang Papa dan adiknya tersebut.
***
***
__ADS_1
Dari ruang tamu Gerry, melihat sang istri hanya tertegun di balik pintu kamar, dia terlihat merasa heran kemudian dia menyeret kakinya, untuk menghampiri istrinya itu.
Setelah dekat di hadapan istrinya, lalu dia melihat istrinya yang pandangannya lekat kedalam kamar. Gerry pun arah pandangannya mengikuti istrinya, mengarah kedalam kamar sang adik.
Gerry membuang napas kasar, ketika melihat sang Papa mertua memeluk erat Bianca, dengan tangisan pilu.
"Mih, ayo!" Gerry, menggandeng istrinya tersebut, untuk memasuki kedalam kamar.
Setelah Tyanca berada didalam kamar.
"Dek, maafkan Kakak," Tyanca, mengusap lembut kepala rambut sang adik.
Tyanca terlihat matanya berkaca-kaca.
"Ayo, kita mau pergi jam berapa?" ucap Tante Astrid, seakan memecahkan suasana yang sedang dihinggapi rasa pilu.
"Iya Pah, ayo kita siap-siap," ajak sang Mama, menepuk pundak Papa.
Papa mengusap air matanya,tersenyum tipis lalu dia berlalu meninggalkan kamar Bianca.
"Tante, aku mau ikut anterin Bianca, ke Bekasi," ucap Tyanca, menatap sang Tante sambil memeluk sang adik.
"Asik, beneran Kakak mau ikut?" tanya Bianca, tersenyum lebar. Nampak terlihat dalam diri Bianca dihinggapi rasa bahagia yang teramat, ketika sang Kakak mau ikut mengantarnya.
Gerry menghela napas secara perlahan, dan matanya berkaca-kaca.
"Aku senang, jika istriku dan adiknya akhirnya akur, tidak berantem lagi," gumam dalam hatinya.
\*\*\*
\*\*\*
"Semua sudah siap ya!" ucap Tante, melirik satu persatu semua orang yang berada di teras rumah.
Terlihat sang Papa sedang mengunci pintu. Dan Mamanya Bianca, sedang memasukkan barang-barang yang akan dibawa kedalam mobil Tyanca.
"Tante, aku duduk didalam mobil Tante saja ya," ucap Bianca kepada Tante Astrid.
Tante tersenyum manis.
"Iya, boleh sayang, masa nggak boleh sih," ucap sang Tante.
Setelah semuanya beres kemudian mereka berlalu pergi dari rumah tersebut, menuju Kota Bekasi, dimana Tante Astrid tinggal.
\*\*\*
\*\*\*
__ADS_1
Di dalam mobil Gerry.
Didalam mobil Gerry, ada Tyanca,dan Mischa anaknya, juga sang Papa. Sedangkan Mama dan Bianca berada di dalam mobil Tante Astrid.
Papa bercerita tentang Bianca didalam mobil.
"Papa sebenarnya sedih jika harus berpisah dengan Bianca. Papa seakan membuang dia," ucap Papa terdengar sedih ketika berucap.
"Pah, kenapa bicara seperti itu. Sudah Pah, jangan banyak pikiran yang penting sekarang doakan Bianca, agar dia dilancarkan semua kedepannya. Papa dan Mama juga kan, tidak melepas anak Papa, begitu saja. Papa dan Mama akan lihat Bianca, seminggu sekali. Jarak antara Jakarta dengan Bekasi dekat," Gerry sang menantu yang bijak, berusaha meyakinkan sang mertua agar tidak gundah gulana hatinya.
Tyanca mengelus pundak sang Papa yang duduk di depan bersama suaminya. Seakan terlihat mencoba menyabarkan hati sang Papa. Sedangkan Tyanca bersama Mischa duduk di belakang.
***
***
Sementara di dalam mobil Tante Astrid.
Bianca memeluk erat sang Mama, sang Mama mengelus rambut sang anak.
"Kamu jaga kesehatan selama tinggal di rumah Tante Astrid ya," ucap sang Mama.
Bianca menganggukkan kepalanya.
"Mah, nanti kan Mama tiap minggu nengok Bianca, jangan lupa bawa, cemilan harum manis (rambut nenek)," Bianca tertawa terkekeh.
"Di sana banyak, ngapain Mama kamu suruh bawa Nak," ucap suami Tante Astrid. Mengejek sang keponakan dan tertawa lebar.
Mama hanya tersenyum.
"Iya kalau mau yang bawain Mama, nggak apa-apa. Mama nanti bawa ya, sayang," ucap sang Mama
***
***
Tiba di rumah Tante Astrid.
Akhirnya mereka tiba di rumah Tante Astrid, nampak mertua dari Tante Astrid, ada di sana untuk mengantarkan anaknya Tante Astrid.
"Pah, jadi ngerepotin ya, tadinya Astrid yang mau ambil anak-anak ke sana," Astrid mencium punggung tangan Papa dan Mama mertua.
Tadinya Tante Astrid, mau membawa anak-anaknya ke rumah mertuanya itu, karena Tante Astrid, menitipkan anak-anaknya itu kepada mertuanya.
Tapi setelah sang mertua menelepon, ingin bertemu dengan Kakaknya Tante Astrid, atau Mamanya Bianca. Jadi sang mertua yang datang ke sana yang di antar oleh sang supir.
***
Meeka pun memasuki rumah dan beristirahat .
"Ini kamarnya Bianca," ucap sang Tante, ketika memperlihatkan kamar Bianca, yang berada dekat dengan ruang tamu.
__ADS_1
Nampak terlihat suasana kamar dihiasi dengan warna pink muda, dan ruangannya terlihat asri dan nyaman.
"Bianca senang dengan dekorasi kamarnya, Tante. Terima kasih ya," Bianca tersenyum renyah dan memeluk sang Tante.