Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab 67 Pertemuan Amel dan Tyanca.


__ADS_3

Pagi itu nampak keluarga Bianca sedang berkumpul. Mereka terlihat gembira, dan sang Papa pun baru datang tugas dari luar kota semalam sekitar pukul 10 malam.


Kemudian sang Mama membicarakan niat Bianca, yang ingin buka usaha. Tapi Tante Astrid melarangnya dengan alasan belum cukup umur dan Bianca lebih baik menikmati masanya dulu sebagai Ibu dengan mengurus anaknya.


"Ada saatnya kan, nanti saja. Aku harap dia biar stabil dulu keadaan hatinya yang dulu pernah mengalami rasa trauma di rumah ini," ucap Tante Astrid lekat matanya ke Mama Astri dan melirik suami sang kakak.



Mama Astrid seakan berat untuk melepaskan Bianca kembali ke pelukan sang Kakak, karena dia sangat dekat sekali dengan Bianca dan menganggap anak tersebut sudah seperti anaknya sendiri begitupun dengan suaminya seakan berat melepas Bianca.


"Masalah buat usaha gampang hari ini juga bisa. Tinggal belanja buka warungnya beres, tapi kan perlu waktu untuk memikirkan keadaan Bianca. Toh, di Bekasi juga sekarang Bianca tidak tinggal diam tapi menjahit pakaian. Baju-baju yang di jahit Bianca bagus kalau di jual itu bisa saja mendapatkan uang." balas suaminya Tante Astrid.


"Sekarang gini saja, tunggu waktu yang tepat saja kalau mau kembali kesini. Keadaan kamu juga sekarang selalu sakit Kak, nanti terbebani dengan Cucumu," ucap Tante Astrid mencoba meyakinkan.


••


Orang tua dari Bianca diam begitupun dengan Tyanca dan Bianca seakan paham dari maksud ucapan sang Tante.


Mereka pun terdiam cukup lama sambil menikmati kopi ngebul dan roti bakar.


••


"Ya, sudah bagaimana kalau sekarang kita jalan-jalan sebelum keluarga Tante Astrid, pulang ke Bekasi," ucap sang Papa mencoba melumerkan suasana.


"Iya, pembahasan Bianca mau buka usaha kita lanjutkan setelah kita refreshing saja," ucap sang Mama.


"Ayo, kita renang saja Mah," ucap Bianca dan Tyanca pun menganggukkan kepalanya.


Dia pun ingin menikmati rekreasi nya dengan berenang bersama keluarga.


Keluarga besar Bianca pun nampak setuju dengan rencana tersebut. Dan mereka pun terlihat mempersiapkan semuanya.


Sementara suami Tyanca sedang sibuk dengan laptopnya karena urusan kerjaan belum selesai.


"Kak, jadi nanti kakak nyusul kira-kira jam berapa ke kolam renangnya?" tanya sang Mama. Karena jarak kolam renang dengan rumah tidak begitu jauh sekitar setengah jam.



"Secepatnya Mah, nunggu Mas Gerry menyelesaikan tugas pekerjaannya dulu," ucap Tyanca.



"Ya sudah, Mischa dibawa duluan sama Mama ya, sekarang," ucap Mama Astri.


Tyanca pun menganggukkan kepalanya.


•••


Mereka memakai 3 mobil.


Papa, Mama beserta Bianca dan anaknya juga Mischa nampak berada di mobilnya Papanya Bianca.


Sedangkan keluarga dari Tante Astrid dengan keluarga kecilnya tetap satu mobil berempat.



Setelah semuanya beresmobil pun di lajukan nampak semua yang berada di dalam mobil terlihat senyum bahagia.



"Daahhhh...Sayang," Tyanca terlihat melambaikan tangan kepada Mischa, sang anak pun tersenyum renyah.



Nampak semua yang berada di mobil pun melambaikan tangan kepada Tyanca yang tengah berdiri tegap di depan teras rumah.


Keadaan terlihat sepi setelah semuanya berlalu pergi. Tyanca duduk di teras rumah matanya berselancar melihat warung yang berada di pinggir teras rumah, nampak warung yang kecil tersebut terlihat rapi dan bersih tapi isi dari warung tersebut komplit.


"Alhamdulillah isi warungnya komplit sekarang dan Mama tidak harus bulak-balik ke pasar jualan disana," ucapnya.


Kemudian Tyanca berjalan menuju ruangan sofa dimana sang suami berada. Tapi ketika sampai di kursi sofa, nampak sang suami sedang tertidur lelah dan Tyanca pun seakan tidak berani membangunkannya. Karena sang suami begitu pulas dan terlihat kelelahan.


Tyanca pun membereskan rumah yang nampak terlihat berantakan. Semua dia bereskan sambil bersenandung merdu.


Hatinya merasa senang karena di rumah yang dia singgahi sekarang sudah tidak ada lagi kesedihan seperti 8 bulan yang lalu, dimana selalu ada perselisihan dan keributan dengan sang adik.



"Assalamualaikum.." tiba-tiba suara salam terdengar dari arah teras halaman rumah.

__ADS_1



Tyanca yang sedang berada di dapur dengan cepat menyeret langkah kakinya menuju teras halaman rumah.



"Wa'alaikumsalam.." nampak Tyanca mengucapkan balasan salam tatkala tiba di depan teras rumah.



Nampak mata Tyanca terbelalak ketika melihat sosok wanita yang tengah berada di hadapannya itu. Dia terkejut sekaligus tidak percaya dengan sosok wanita yang tengah berada di hadapannya itu.



"Sepertinya aku mengenal wanita ini, tapi siapa?" gumam hatinya.



Tyanca sudah belasan tahun tidak bertemu dengan sosok wanita yang tengah berdiri dengan menggendong sang anak di hadapannya itu.



Nampak sesosok wanita yang sedang berdiri di depan pintu pun menatap tajam.


Dia seakan kenal dan pernah mengenal sosok wanita yang berada di hadapannya itu.



"Warungnya tutup ya, Kak," ucap wanita tersebut tersenyum ramah.



"Iya, Mama sedang pergi jadi tutup warungnya," jawab Tyanca, terlihat nampak terkejut. Bola matanya melirik kearah sang anak yang sedang di gendong oleh wanita tersebut yang tertutup topi.



"Ini dengan anaknya Ibu Astri, ya?" tanya Wanita tersebut terlihat akrab.



"Iya, saya baru datang dari Bandung," jawab Tyanca tersenyum ramah.



Tyanca menatap lekat dan coba mengingat-ingat. Sebenarnya siapa sosok wanita yang sedang berada di hadapannya itu. Dia memejamkan matanya lalu menghela napas panjang.


____________________


Sosok wanita yang pernah membantu menolongnya. Dia dulu ketika sekolah di buli temannya. Wanita ini dulu tomboy.


Meskipun adik kelas dia sangat berani.


••


("Amel biasa di panggil Siska, dia istri Rama!")


teringat ocehan Febry tatkala sedang di sebuah undangan waktu dia menelponnya.


••


"Rama akan menikah dengan wanita lain, bulan depan dan wanita tersebut sama dengan Bianca tengah berbadan dua." terdengar dengan jelas ucapan tersebut kembali menghinggapi otak dan pikirannya Tyanca.


____________________


"Kak.." ucap Amel.


Sontak Tyanca terkejut tatkala wanita yang berada di hadapannya, memanggilnya.


Karena keadaan dia sedang melamun memikirkan sosok wanita yang tengah berada di hadapannya.


Terlihat tatapan Tyanca seakan kosong.


•••


"Apakah ini Amel? Nggak, nggak mungkin!


Apa aku sedang mimpi," gumam Tyanca. Gemuruh di dadanya terasa hebat, hinggap meraja.


"Kamu Amel kan," ucap Tyanca lirih, dia seakan tidak percaya dan mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan.

__ADS_1



" Ya, aku Amel. Ini Kakak kelasku ya, Kak Tyanca," Amel menatap lekat.


Ternyata Amel masih ingat dengan Kakak kelas sekolahnya itu.



"Iya, Aku Tyanca," jawabnya.



Tyanca dihinggapi rasa kesal dan amarah kepada Rama yang belum tersalurkan.


Tyanca yang tadi tersenyum ramah kini wajahnya berubah terlihat bengis. Apalagi tatkala melihat sosok anaknya Amel yang sedang di gendong. Amel mencoba membuka topi sang anak. Nampak jelas wajah sang anak mirip dengan sosok Rama, rasa amarah kian meraja menyelimuti di dadanya.


"Kamu ngapain kesini!" sambung Tyanca. Nampak matanya terlihat melotot.


Sontak Amel dihinggapi rasa heran dan terkejut karena secara tiba-tiba Tyanca melotot seakan kesal terhadapnya. Dalam hati Amel berkata ada apa dengan Tyanca.


"Aku, mau belanja Kak," ucapnya lirih.


"Sudah tahu tutup, ko masih nanya," Tyanca seakan ingin menerkam Amel, tapi dia mencoba menenangkan hati dan pikirannya.


"Yasudah," Amel menundukkan kepalanya dalam hati dan pikirannya dihinggapi rasa takut dan heran. Dia juga merasa takut dengan Tyanca yang terlihat galak.



Amel pun berlalu.


"Hai, tunggu..." Tyanca memanggil Amel, ketika Amel beberapa langkah baru berjalan.



Amel membalikkan badannya, tatapan Amel kepada Tianca terlihat dihinggapi rasa tidak bersalah sambil mendekap erat sang anak.



"Apa benar suami kamu bernama Rama?" tanya Tyanca terlihat kesal.



Amel sontak terkejut dengan pandangan menerka-nerka. "Kenapa orang ini tahu, nama suamiku,".


Amel pun menganggukkan kepalanya.



"Bagaimana kabarnya sekarang lelaki brengsek itu!" ucap Tyanca terlihat diselimuti amarah yang kian membara.



Degh...



Amel tersentak hebat dadanya, karena Tyanca mengenal sosok suaminya. Dalam hati Amel pun berkata bahwa sang suami adalah lelaki brengsek yang sudah hampir 8 bulan tidak memberikan napfkah kepada dirinya.



"Bilang sama suamimu, harus tanggung jawab sama anaknya!" ucap Tyanca melotot.


Rasa panas begitu menganga di dadanya, seperti di siram bensin langsung menyambar hatinya.



Brukkk...



Dengan keras Tyanca menutup pintu rumah.


Amel terkejut hebat. Tatkala Tyanca berbicara seperti itu.



Dia pun seakan berpikir keras.


Apa maksud dari ucapan Tyanca barusan yang mengatakan tanggung jawab terhadap anaknya. Dan mengapa Tyanca tahu bahwa sang suami selama ini tidak tanggung jawab terhadap dirinya. Amel dihinggapi beribu pertanyaan dalam dirinya.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2