Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab 110


__ADS_3

Nampak Bianca pamit kepada sang Mama karena dia mau pergi ke Bandung bersama kakaknya.


"Sudah jangan banyak pikiran biar anakmu di sini saja dengan Mama. Biar Mama ada temen, sepi kalau nggak ada cucu," ucap Mama Astri sambil menggendong anaknya Bianca. Sang Mama begitu sayang terhadap anaknya Bianca, dan perhatian.


Selama dalam perjalanan Bianca sibuk dengan ponselnya, dia pun nampak sesekali tersenyum ketika melihat layar ponselnya. Nampak terlihat Merry sang sahabat menggodanya di aplikasi WhatsApp yang menanyakan hubungan Bianca sekarang dengan siapa. penuh harap dan begitu percaya diri Bianca mengatakan sedang mendekati seorang lelaki yang begitu dewasa dan perhatian.


{"Awas kamu kena bujuk rayu lagi lelaki itu, seperti si rama yang menyakitimu,} pesan Merry di aplikasi WhatsApp itu.


{"Enggak lah, dia nggak akan menyakitiku. Dia itu sosok lelaki yang baik kebapakan,"} balasnya.


{"syukur kalau begitu aku cuman bisa mendoakan saja agar kamu bahagia mungkin di saat teman-teman kamu sibuk dengan mengurus ujian, tapi kamu disibukkan dengan mengurus laki-laki. Hehe.."} ejek Merry, di pesan selularnya.


Bianca merasa tersinggung dengan ucapan sahabatnya itu dia pun cemberut dan mematikan ponselnya, lalu dia masukkan ponsel tersebut ke dalam tas.


"Pandai sekali dia mengejekku!" ucap Bianca, merasa tersinggung dengan ucapan sang sahabat.


Sontak Gerry dan Tyanca saling bertatapan dan mengernyitkan kening, dalam hati mereka dihinggapi rasa heran kepada sang adik yang terdengar menggerutu.


"Kenapa Dek?" tanya Tyanca dengan kepala menengok ke arah sang adik yang sedang cemberut. Bianca hanya terdiam ketika sang kakak bertanya terhadapnya.


"Sudah, jangan banyak pikiran, ke Bandung itu buat rekreasi," ucap Gerry menyindir Bianca.


"Aku sebel sama Merry! Dia bilang, aku sibuk mencari laki-laki sementara dia lagi sibuk ujian," ucapnya seakan geram.


"Sabar, sudah jangan di layani," ucap sang kakak.


"Kamu jangan mengingat masa lalu, kalau kamu mengingat masa lalu terus yang ada nanti kamu tidak akan maju, sekarang kan kamu mau buka usaha. Nah, kamu fokus di situ," ucap Gerry mencoba memberi semangat kepada Bianca.


Bianca hanya menganggukkan kepala sedangkan pandangannya tertuju ke kaca jendela mobil.


_____


Tiba di Bandung.


perjalanan Jakarta menuju Bandung tidak terasa sudah sampai mereka pun keluar dari dalam mobil dan memasuki rumah sementara Gerry dia langsung pergi ke tempat kerjanya karena banyak kerjaan yang harus diselesaikan.


"Pak Gerry, kemarin ada tamu datang ke sini," ucap Gisel karyawan di Kafe tersebut.


kamu siapa tanya Gerry kepada karyawannya tersebut.


"Seorang laki-laki, katanya Rama! Ya, namanya Rama, kalau nggak salah," ucap Gisel terlihat dari raut mukanya mengingat-ingat nama tamu yang kemarin datang ke cafe tersebut.


"Ngapain si Rama nyariin aku? Aku nggak ada hubungannya dengan dia." gumam hati Gerry. Gerry pun berlalu dari hadapan Gisel menuju ruang kerjanya.


_____


Keesokan harinya.


Amel pun datang kembali ke Bandung, untuk bekerja, setelah sampai di rumah sang Kakak, dia pun langsung mengabarkan sang Ibu, bahwa dia sudah kembali datang ke rumah yang di Bandung dengan selamat. Setelah Amel bersiap untuk kembali bekerja dan tak lupa pamit kepada Teh Siti sang ART.


"Neng, terlihat ceria pagi ini," ucap sang ART, yang baru kembali bertemu dengan adik majikannya itu.


"Ah, Teh Siti bisa saja," ucap Amel.


Amel yang dari subuh pergi dari Jakarta dan sampai ke Bandung jam 8 pagi, langsung mengganti pakaian kerjanya.


Sementara Kang Burhan yang mengantar Amel pergi ke Bandung, dia pergi untuk bertemu rekan bisnis yang berada di kota tersebut.


"Ya, sudah, aku mau jalan dulu ya, Teh," ucap Amel tersenyum ramah kepada ART tersebut.

__ADS_1


Amel pun pergi meninggalkan rumah, dan menyeret langkah kakinya menuju Kafe, tempat kerjanya.


"Amel..."


Nampak terdengar suara lembut dari perempuan memanggilnya. Amel pun dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah suara perempuan tersebut.


mata Amel berselancar melihat suara yang memanggilnya.


"Siapa yang barusan memanggil aku," gumam hati Amel.


setelah Amel yakin tidak ada orang di sekitar situ yang memanggilnya amal pun hinggapi rasa penasaran dan kembali melanjutkan langkah kakinya.


"Amel.."


Kembali ada yang memanggilnya, perempuan itu pun akhirnya membuka kaca jendela mobilnya dengan lebar.


Degh....


Dada Amel bergetar tatkala melihat wanita di dalam mobil tersebut, Amel merasa tidak mengenal wanita tersebut. Dalam hati Amel berkata, (Siapakah dia?)


Kemudian wanita tersebut keluar dari dalam mobilnya. dia pun mengulurkan tangannya.


"Kenalkan, saya Rani," ucapnya.


Amel pun dihinggapi rasa heran dan penasaran siapakah wanita yang tengah berada di hadapannya dan mengaku sebagai nama Rani?


"Maaf anda, siapa ya? Tanya Amel tersenyum tipis dan menatap wanita itu.


"Kamu sibuk tidak? atau mau pergi kerja, sudah terlambat!" Rani malah bertanya balik kepada Amel.


"Ya, saya mau masuk kerja, dan kesiangan," ucap Amel.


"Kalau jam istirahat, saya boleh mampir ke Kafe kamu?" ucap lagi wanita tersebut.


"Maaf, Tante tahu dari mana nama saya?" Amel dihinggapi rasa penasaran. Karena secara tiba-tiba wanita tersebut mengenalnya.


"Tidak penting kalau itu, yang penting aku mau booking Kafe, tempat bekerja kamu saat ini, buat temanku sih," ucapnya.


"Yasudah, nanti siang, saya tunggu di Kafe saja. Sekarang aku sibuk sudah tekat mau pergi kerja," ucapnya. Amel pun segera berlalu dari hadapan wanita tersebut, dengan dihinggapi rasa penasaran dan tanya. Siapa sebenarnya wanita ini!?


_____


Tiba di Kafe.


"Amel, sehat? Baru datang ya, dari Bandung," ucap Gerry tersenyum ramah ketika menyambut Amel yang tiba-tiba datang ke ruangannya.


"Iya, Pak. Maaf telat," ucap Amel tersipu malu kepada Gerry.


"Enggak apa-apa kok, Bapak tahu kamu kurang enak badan dan baru pergi dari Bandung tadi subuh," ucap Gerry seakan menentramkan hati karyawannya tersebut. Karena sang Bos, tidak memarahinya walau dia datang terlambat.


Amel pun berlalu dari hadapan Gerry. kemudian dia memasuki ruangannya, nampak dia melamun seperti ada yang dipikirkan. Amel memikirkan wanita yang baru saja memanggilnya dari dalam mobil, Amel bertanya-tanya dalam hatinya dan dihinggapi rasa penasaran kepada sosok wanita tersebut. "Rani...? Siapa ya, Rani! Apa ada hubungannya dengan Rama?" gumam hatinya. "Tapi nggak mungkin," Amel pun mencoba menepis pikirannya yang tidak jelas.


___


Siang pun tiba.


Amel nampak gelisah menunggu kedatangan wanita yang mengaku berdemarannya matanya berselancar ke area cafe dia pandangi satu persatu meja yang berada di cafe kebetulan siang itu KP banyak pengunjung nampak sosok Rani tidak ada di sana Amel pun hanya mengelus dada.


"Aku sudah menunggu, wanita itu tidak ada. Mungkinkah dia hanya basa-basi untuk membooking Kafe ini," ucap Amel.

__ADS_1


"Mel kenapa kamu, lagi nyari siapa?" tanya Gerry terlihat dihinggapi rasa penasaran karena Amel dari tadi, dan nampak diperhatikan oleh Gerry gestur tubuhnya seakan tidak mau diam, dan pandangan matanya berselancar ke arah para tamu yang hadir ke Kafe tersebut.


tadi pagi saya ketemu sama seorang wanita katanya dia mau membuktikan kafe ini untuk teman yang sedang ulang tahun terus waktu itu tersebut janji siang ini akan datang ke sini Tapi kok tidak ada ya ucap Amel.


"Sudah jangan terlalu dihiraukan, banyak kok yang seperti itu janji mau booking Kafe, ternyata tidak datang lagi. Sudah jangan terlalu dihiraukan, kamu istirahat dulu makan," ucap Gerry, menyuruh Amel untuk istirahat karena jam makan siang sudah lewat tetapi Amel terlihat oleh Gerry belum istirahat karena menunggu seseorang.


Amel pun berlalu dari hadapan Gerry kemudian dia memasuki dapur nampak terlihat Gisel teman kerjanya sedang melahap makanan.


"Makan, sama apa kamu,? tanya Amel sambil melirik ke arah meja, di sana tersedia nasi, sayur asem, dan ayam goreng beserta kerupuk.


"Wah, enak," ucap Amel.


"Ayo, bareng kita makan," ucap Gisel.


Akhirnya Amel pun duduk di samping Gisel kemudian mengambil makanan yang sudah tersedia di meja tersebut.


"Gimana kabarnya Bobby, pacar kamu itu?" tanya Amel kepada Gisel.


"Dia sedang keluar kota, kayaknya dia sedang sibuk mungkin minggu depan baru dia kembali ke Bandung," ucap Gisel.


"Kalau dia ke Bandung kenalin sama aku ya, Hehehe..."ucap Amel tersipu malu.


"Pasti aku kenalin sama kamu, dan aku sudah cerita tentang kamu Mel, kepada pacarku," ucap Gisel tersenyum renyah.


"Masa! terus kamu ceritain apa tentang aku?" Amel tersipu malu dan dihinggapi rasa penasaran.


"Aku cerita yang baik-baik Mel, tenang saja," sindir Gisel kepada Amel.


"Aku cerita sama Bobby, aku punya teman baik banget namanya Amel, dan dia peduli sama kamu. Aku bilang gitu sama pacarku," Gisel seakan bangga dengan sosok Amel kepada pacarnya tersebut.


"Kamu suka berlebihan ah, aku jadi nggak enak." kembali Amel tersipu malu dengan pujian dari sahabatnya itu.


____


Sore pun tiba.


Nampak Amel sudah rapi, dia mau pulang ke rumah. Gisel hari itu mau menginap di rumah Amel.


"Awas kalian jangan keluyuran langsung pulang," ucap Gerry menyindir karyawannya tersebut.


"Kita mau nongkrong Pak, nanti pulang larut malam," ucap Amel menyindir Gerry, Bos-nya tersebut.


"Lihat saja nanti aku bilangin sama Kang Burhan," kembali kiri menyindir Amel.


Amel pun hanya tersenyum tipis dalam hatinya berpikir, kenapa semua orang seakan menghubungkan dia terus-menerus dengan kang Burhan, mungkin juga semua orang menyangka Amel ada hubungan khusus dengan Kang Burhan.


Padahal sampai detik ini Amel belum menerima cintanya Kang Burhan, hanya sebatas teman saja. Tapi Kang Burhan selalu menampakan rasa sayangnya yang begitu tulus kepada Amel.


"Ya sudah Pak, kita pulang dulu ya," ucap Amel dan Gisel pun tersenyum ramah kepada Bosnya itu.


____


Tiba di rumah.


Nampak ada mobil sedan terparkir di depan rumah, Amel mengingat-ingat kembali mobil yang terparkir tersebut.


"Ini kan mobil yang tadi pagi, mobilnya wanita yang memanggil aku yang bernama Rani." ucap Amel dihinggapi rasa penasaran, ada apa gerangan wanita ini datang ke rumah.


"Neng, ada tamu di dalam, namanya Bu Rani," ucap Teh Siti yang tiba-tiba menghampiri Amel ke halaman rumah.

__ADS_1


"Tahu dari mana, dia rumahku!" gumam hati Amel.


Bersambung...


__ADS_2