Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 117 Rasa Rindu


__ADS_3

Rama menatap sang anak dengan lekat, dia seakan ingin membawa anak tersebut ke rumahnya, agar Ibunya Rama merasa tidak kesepian dengan kehadiran sang anak.


Dibelainya lembut rambut sang anak oleh Rian, dia pun memeluk sang anak dengan posisi sang anak masih dalam keadaan berada di kasur.


Rian menangis sesenggukan, di peluknya sang anak tersebut dengan erat dadanya begitu sesak terasa.


_____


Nampak Bianca menggeliatkan tubuhnya, dia pun membuka kedua bola matanya secara perlahan, dia seperti mendengar suara tangisan dengan suara volume terdengar pelan, tapi begitu menyayat hati.


Bianca pun berpikir itu adalah suara tamu dari pasien Rumah Sakit yang sedang sedih dengan kondisi sang pasien.


Kuping Bianca begitu lekat dengan suara tangisan tersebut, Bianca pun seakan penasaran dengan bunyi suara itu berasal dari mana. Matanya berselancar. rambutnya yang terurai panjang dia rapikan. Lalu dia ikat agar kupingnya lebih leluasa mendengar suara tangisan tersebut datangnya dari mana.


_____


"Sepertinya suara tersebut di pinggir gorden di ruangan anakku, tapi siapakah yang berada di ruangan anakku sepertinya suara lelaki," gumam hati Bianca.


Bianca pun seakan dihinggapi rasa penasaran yang teramat karena suara tangisan tersebut berada di ruang anaknya. Bianca sangat hapal suara Bapaknya dan Gerry tidak seperti itu.


Kembali Bianca alat pendengarannya dia fokuskan ke suara yang menangis penuh dengan rasa sesak.


•••


Terdengar dari balik gorden.


"Nak, kita pulang ya, sama Ayah," ucapnya dengan suara serak.


Degh...


Sontak Bianca terkesiap ketika mendengar ucapan dari suara laki-laki tersebut dengan memanggil kata (Ayah).


Dag-dig-dug terasa jantung Bianca, berdebar tidak karuan dengan perkataan lelaki itu. Rasa sakit yang masih terasa karena akibat terjatuh, seakan tidak dia rasakan. Bianca turun dari atas ranjang lalu Bianca mencoba menahan rasa nyeri di bagian kakinya. Bianca pun mengintip di celah gorden.


Tatapan Bianca begitu lekat ke seorang lelaki yang sedang membelakangi dirinya. Bianca mengatur deru napasnya yang mulai memburu. Ketika Bianca melihat rambutnya yang sedikit ikal dan gestur tubuhnya tinggi, kurus. Peluh Bianca pun bercucuran, dia dihinggapi rasa kaget yang teramat karena sosok lelaki yang tengah berada bersama anaknya itu adalah Rama, Ayah dari anaknya itu.


•••


"Astaghfirullah,,,Apa aku tidak salah lihat!?" rasa terkejut Bianca begitu teramat sangat.


Rasa Nyeri di kaki pun dihadang oleh Bianca, Dia seakan tidak peduli dengan kondisi kakinya yang masih nyeri dan menahan linu.


Dengan cepat dia membuka gorden, lalu mendorong Rama yang sedang memeluk sang anak.

__ADS_1


Rama tersungkur yang mengakibatkan sang anak tertutup badannya oleh Rama. anak dari Bianca pun menangis karena dihinggapi rasa terkejut dan menahan rasa sakit dari tindihan Rama, atau sang Ayah.


"Kamu ngapain ke sini!?" tanya Bianca menatap lekat kepada Rama.


Rama seakan tidak bisa berkata apa-apa, dia pun hanya memandangi wajah Bianca yang nampak cantik dan polos tanpa make-up.


Getar asmara yang dulu hinggap kian meraja kedua insan tersebut.


________


Argh..


Bianca mencoba menepis semua.


"Sedang mikir apa aku ini!?" gumamnya gusar.


"Aku tidak mau kembali dengan Rama! Aku tidak mau! -Cinta lama bersemi kembali- dengan lelaki penghianat seperti dia," kembali Bianca dihinggapi rasa kecewa dan kesal terhadap sosok lelaki yang tengah berada di hadapannya.


Bianca dengan cepat mengambil sang anak yang sedang menangis lalu sang anak tersebut Lia gendong. Di peluknya erat sang anak tersebut oleh Bianca, dia pun menepuk secara perlahan pundak sang anak itu agar tidak menangis.


"Sayang, diam ya," ucap Lia tersenyum renyah kepada sang anak dan memberikannya air mineral.


"Gara-gara kamu! Jadi anakku nangis," Bianca menggerutu dan terlihat menahan rasa amarah.


_____


Bianca saling berpandangan dengan Rama, dia pun tidak mau masalah berkepanjangan akhirnya Bianca mencoba berbohong kepada suster tersebut.


"Enggak apa-apa Sus, anak saya cuman mau minum saja, sudah kok, Sudah saya kasih minum air mineral," ucap Bianca terlihat gugup.


Sang suster menatap lekat ke arah Rama, entah mengapa dari raut muka sang Suster seperti dihinggapi rasa penasaran kepada Rama, karena Rama seakan gugup dan pucat dari raut mukanya.


"Ya sudah, Bu, kalau tidak terjadi apa-apa," ucap sang Suster.


Sang Suster pun memberitahu tahu Bianca untuk segera pindah ruangan, karena ruangan baru bagi pasien sudah di persiapkan.


•••••


"Sus,, pasien yang bernama Bianca dan anaknya segera pindah ke ruangan yang sudah di sediakan ya, soalnya ada pasien yang mau masuk lagi ke ruangan IGD," ucap sang dokter tiba-tiba datang dari arah luar.


Nampak di ruang IGD penuh, dan ada lagi pasien yang masuk ke ruangan tersebut. Jadi Bianca dan anaknya disuruh oleh Dokter untuk meninggalkan ruangan tersebut dan beralih ke tempat lain yang sudah disediakan oleh pihak Dokter dan Rumah Sakit.


"Pak tolong bereskan ya, sekarang juga barang-barangnya. Nanti Bapak diantar sama suster Nadia, menuju ruangan yang baru," ucap sang Dokter, telunjuknya menunjuk kearah Suster Nadia yang sedang tersenyum ramah. Sang Dokter pun berlalu dari ruangan tersebut.

__ADS_1


•••


"Ayo, Pak beresin barang-barang nya sekarang juga, lebih baik Bapaknya yang bawa anaknya ke ruangan, karena kondisi Ibu belum stabil," ucap sang Suster, pandangannya mengarah ke Bianca yang pikirannya sedang dihinggapi rasa mimpi karena dia hari ini bertemu dengan sosok Rama, dan sang anak mesti di antar ke ruangan yang lain oleh Rama.


•••


Bianca tertegun dengan ucapan Suster, dia seakan tidak rela jika harus di antar oleh Rama


"Kalau aku melarang dia untuk mengantarkan aku ke ruangan yang baru, mungkin akan terjadi percekcokan diantara aku dan Rama. Dan ini akan mengakibatkan ruangan IGD menjadi ribut, aku tidak mau hal itu sampai terjadi," gumam hati Bianca dihinggapi rasa khawatir dengan hal tersebut.


"Sus, apa tidak menunggu Mama saya saja, nanti pindahnya." Bianca berharap sang Mama yang akan mengantarkan Bianca dan anaknya untuk pindah ruangan.


"Tidak bisa Bu! Kok Ibu ngeyel sih, mungkin sama saja. Ini kan suami Ibu, nanti kan Mamanya bisa nyusul ke ruangan yang baru," ucap sang Suster terlihat kesal karena Bianca seakan mengulurkan waktu ketika mau pindah ke ruangan yang lain.


•••••


Nampak Rama mengambil alih sang anak dari gendongannya Bianca, dan terlihat Bianca pun menampakan raut muka yang teramat kecewa dan kesal terhadap sang Suster karena sang Suster tidak memberikan jeda waktu baginya. Lalu Bianca membereskan baju ke dalam tas besar, mukanya nampak cemberut.


"Suster itu nggak salah karena akan ada pasien yang akan datang ke sini," ucap Rama lekat ke kuping Bianca, ketika mereka beradu badan untuk membuka gorden.


"Iya tapi aku kecewa sama kalian berdua!" ucapnya dengan sinis.


"Ayo Pak," ucap sang Suster dengan pandangan mengarah ke sang anak yang sedang di gendong oleh Rama.


Rama pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah kepada sang Suster.


Suster berlalu dari ruangan tersebut dengan diikuti oleh Rama dan Bianca. Nampak ketika kaki dipijak kan menuju ruangan pasien yang akan di tempati oleh Bianca dan anaknya.


Tatapan sang anak sangat lekat tertuju kepada Rama. Mungkin dalam hati sang anak dihinggapi rasa penasaran dalam dirinya.


(Siapakah sosok yang tengah menggendongnya!? baru kali ini tapi pelukan yang dia rasakan seakan hangat dan nyaman)


•••••


Sesampai di ruangan pasien yang baru, sang Suster pun mempersilahkan mereka masuk ke ruangan, dan dia pun berlalu dari hadapan Bianca dan Rama.


"Silakan kamu keluar!" tegur Bianca. Pandangannya menunduk tanpa mengarah kepada Rama.


"Tidak mau! Aku masih rindu dengan anak ini, dan mau menatap dulu anakku," ucap Rama dengan memeluk anak tersebut dengan lekat tanpa menidurkannya di kasur.


"Kamu jangan bermimpi ya, tidurkan dia!" ucap Bianca dengan kesal.


Rama hanya cengengesan seakan mengejek hati Lia, namun akhirnya dia menidurkan anaknya itu di tempat tidur. Namun baru saja dia rebahkan anak itu di kasur, entah mengapa anak tersebut merengek minta digendong lagi olehnya, sang Ayah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2