
Rama merasa bersalah.
Hari-hari yang dilalui Rama sungguh sangat dihinggapi rasa gelisah. Dia merasa dihinggapi rasa bersalah terhadap Bianca dan juga Amel yang kini dia tinggalkan bersama Bayi nya yang baru lahir itu.
"Kalau kamu menuntut sejumlah uang 100 juta untuk saat ini kepada Ibumu, itu nggak ada. Kamu pikir uang 100 juta gampang dicari!" Ibunya Rama terlihat kesal terhadap sang anak karena nampak Rama tiap hari memaksa Ibunya agar memberikan pinjaman uang, untuk dia pergunakan sebagai uang ganti utang ke mertuanya atau Bapaknya Amel yang sampai saat ini belum dia bayar.
"Ibu heran dengan nasibmu, sudah ditipu orang, sekarang kamu di keluarkan di tempat kerja, dengan alasan penyusutan karyawan. Padahal kamu sudah lama kerja disana, harusnya pegawai baru yang kena imbasnya. Nah kenapa kamu yang karyawan lama, yang di keluarkan oleh perusahaan!" Ibu terdengar sangat kecewa dengan keputusan perusahaan dimana Rama bekerja.
Rama diberhentikan kerjanya dan sekarang dia nganggur. Padahal dia sudah lama kerja di perusahaan itu sekitar 5 tahun. Tapi anehnya karyawan yang baru yang bekerja baru hitungan bulan, malah dipertahankan untuk tetap bekerja di perusahaan tersebut.
"Rama juga bingung Bu," dia nampak terlihat bingung, apalagi sang Bapak kerjanya marah-marah karena melihat sang anak yang nganggur tiap hari ada di rumah.
Tiba-tiba sang Bapak keluar dari dalam kamar dengan raut muka seperti menahan rasa kesal dan marah.
"Sebagai laki-laki kamu harus cepat cari kerja, dan lihat istri dan anakmu mereka makan tidak!" Bapak terdengar mengejek sang anak dan seperti memojokkan Rama.
Sang Ibu hanya bisa mengelus dada. Ibunya Rama seakan menyadari ini adalah teguran dari sang pencipta atas kelakuannya dia terdahulu yang menyia-nyiakan Bianca dan tidak bertanggung jawab sampai detik ini.
Entah mengapa bayangan kedua wanita yang pernah di nikahi oleh Rama muncul di benak sang Ibu. Bedanya Amel masih menjadi menantu untuk sekarang ini, sedangkan Bianca belum jadi menantu karena pernikahan baru semalam di gelar.
Nampak Ibu menghela napas panjang.
Dia berpikir dalam benaknya, kedua wanita itu kini mempunyai Bayi yang harus dibiayai begitu pun kebutuhan istrinya yang harus dipenuhi minimal untuk makannya sehari-hari. Semua itu darimana?
Ibu pun merasa kasihan dan kesal juga melihat kondisi Rama yang sedang dalam keadaan nganggur tidak punya pekerjaan lagi.
Jangankan untuk makan istri untuk makan dia pun dia masih tergantung di rumah orang tuanya sendiri.
__ADS_1
"Pak, tolong antarkan aku ke rumah Amel nanti sore," ucap sang Ibu kepada sang suami terdengar begitu memelas.
"Mau apa Bu? Bapak malu ah, anak kita saja bikin masalah, apa kata kedua orang tuanya nanti. Muka Bapak mau taruh dimana, anak kita belum bisa bayar. Kalau nanti Bapak Amel menagih uang yang 100 juta gimana?"
tanya Bapaknya Rama terlihat tidak mau untuk bertemu dengan menantu dan Cucunya tersebut.
"Baik kalau anak dan Bapak sama-sama egois, mementingkan kepentingannya sendiri. Aku akan pergi sendiri!" ucap Ibu terdengar sangat kesal dengan ucapan suaminya barusan, karena tidak mau mengantar dia ke rumah Amel. Niat Ibu mau memberikan uang alakadarnya untuk pegangan Amel selama dia berada di rumah orang tuanya.
Melihat kedua orang tuanya berselisih paham karena ulahnya. Rama hanya menundukkan kepalanya. Dia seakan berpikir mau mencari kerja kemana lagi sedangkan saat ini dia sudah menanyakan kepada semua temannya, untuk bekerja namun tidak ada lowongan pekerjaan yang diberikan untuk Rama.
"Gara-gara kamu semua jadi kacau!" Bapak melotot ke arah Rama.
"Kenapa Bapak menyalahkan aku?" Rama menatap tajam ke arah Bapaknya tersebut.
"Hidup kamu selalu nyusahin Ibu dan Bapak, sudah kejadian wanita yang bernama Bianca hamil, terus kamu menghamili juga Amel dan akhirnya menikah. Nah sekarang kamu kena tipu. Apa ini bukan namanya masalah!" ucap sang Bapak kembali memojokkan sang anak.
Rama sebenarnya kesal kepada sang Bapak karena dari kemarin terus menerus memojokkan dirinya. Amarah dia seakan tersulut. Dia kembali mengingat masa lalu dimana sang Bapak berselingkuh dan Ibunya Rama tidak mengetahuinya. Hanya Rama saja yang mengetahui sang Bapak berselingkuh.
"Apakah Bapak tidak mempunyai masalah terhadap seorang wanita? dulu Bapak berselingkuh dengan Ibu dan Bapak begitu pandai sekali menutup rapat. Hanya Rama yang tahu perselingkuhan Bapak!" Rama menatap tajam kepada sang Bapak, dan matanya berkaca-kaca.
Sontak sang Ibu terkejut mendengar pengakuan dari sang anak, bahwa sang suami ternyata dulu pernah berselingkuh. Ibu memandangi sang suami, penuh rasa kecewa. Kemudian melirik kepada Rama seakan mengisyaratkan kata (Apa benar yang dikatakan oleh sang anak bahwa suaminya berselingkuh?)
Bapaknya Rama sangat terkesiap ketika Rama dengan beraninya berbicara bahwa dirinya dulu pernah berselingkuh.
"Kamu ngomong apa, dasar anak durhaka!" ucap sang Bapak. Tangan sang Bapak mengepal lalu tangan kanannya tersebut dengan spontan menampar ke arah pipi kanan sang anak.
PLAK..
__ADS_1
Rama di tampar pipinya oleh sang Bapak, nampak Rama meringis menahan rasa sakit.
Sontak sang Ibu mendekat kepada Rama dan mengusap lembut pipi sang anak yang baru saja kena batu hantam oleh sang Bapak.
"Kamu kasar ya, sama anakmu. Mungkin benar apa yang di omongkan oleh anakmu kamu berselingkuh jadi kamu menutupi aibmu dengan cara menampar anakmu!" Ibunya Rama terlihat kesal.
"Dia hanya ngarang cerita, sudahlah Bu, jangan percaya ucapan anakmu itu. Dia lagi banyak pikiran jadi ngomongnya ngelantur kemana-mana," sang Bapak terlihat gugup dan malu karena rahasia perselingkuhan dia terungkap oleh sang anak.
"Bapak ngaku saja!" Rama terdengar kesal dan kecewa terhadap sang Bapak.
"Sudah, sudah cukup!" Ibunya Rama menangis histeris. Dia berpikir dalam hatinya cobaan begitu datang silih berganti.
Kekecewaan dia terhadap Rama sang anak yang belum sekesai kini bertambah kembali dengan rasa kecewanya, terhadap sang suami. Ternyata suami berselingkuh darinya sudah lama.
Ibu pun dihinggapi rasa penasaran, wanita mana yang tega merebut hati suaminya itu. Mungkin juga sang suami untuk saat ini masih menjalin hubungan dengan wanita tersebut. Karena akhir-akhir ini suaminya seakan cuek dan kurang perhatian terhadap dirinya. Ini merupakan masalah yang harus diselidiki oleh Ibu.
Sang Bapak dihinggapi rasa malu dan kaget karena perselingkuhannya di ungkap oleh Rama sang anak. Bapaknya Rama dengan cepat meninggalkan rumah. Dia berlalu keluar dan melajukan kendaraan beroda dua.
Setelah sang suami pergi, Ibunya Rama menghela napas panjang, dadanya seakan sesak sekali, jantungnya terasa di remas setelah mendengar perselingkuhan sang suami dengan wanita lain yang di ungkap oleh anaknya sendiri.
"Kamu jujur sama Ibu, Bapakmu berselingkuh dengan siapa?" tanya sang Ibu dihinggapi rasa penasaran.
__ADS_1
Bersambung...