Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab 6 Gurunya Bianca khawatir


__ADS_3

Gurunya Bianca khawatir


"Merr, kenapa Bianca nggak masuk sekolah sudah dua hari ini ya?" tanya Bu Guru kepada Merry. Sang Guru terlihat khawatir kepada muridnya. Dia menunggu kabar dari Bianca karena selama sekolah dari mulai kelas 2, tidak pernah bolos masuk sekolah.


Merry di tanya oleh Bu Guru, tentang kabar Bianca. Dia merasa bingung harus berkata apa.Terlihat ketika menjawab dia berpikir lama seperti sedang mencari alasan yang tepat, agar bisa diterima oleh gurunya dan masuk akal.


"Sakit Bu, mungkin Mamanya tidak sempat memberitahu kesini karena lagi sibuk," ucapnya terlihat grogi dari cara berbicara.


Sang Guru yang bernama Bu Widya, nampak termenung, di dalam benaknya berpikir, mungkinkah sakitnya serius, karena tidak biasanya Bianca tidak masuk sekolah.


"Merr, kalau sampai besok nggak masuk sekolah lagi, Ibu sama ketua kelas mau jenguk ke sana, kamu tahu nggak sakitnya karena apa? tanya lagi Bu Guru, seperti dihinggapi rasa penasaran.


"Ng-nggak tahu, Bu," jawabnya tertunduk kemudian mengalihkan pandangan dari Gurunya itu, terhadap teman-temannya yang sedang berada diluar kelas, karena saat itu waktunya jam istirahat.


"Bu, aku mau istirahat dulu ya," ucap Merry, karena dia tidak mau ditanya lebih jauh lagi oleh sang guru tentang keadaan Bianca. Merry pun akhirnya berlalu dari hadapan Gurunya itu.


***


Merry berjalan ke arah kantin.


Setelah berada di Kantin sekolah, Merry kemudian menggeser kan kursi, lalu dia duduk. Matanya berselancar seperti mencari sesuatu. Dilihatnya satu persatu roda yang menjajakan makanan di kantin sekolah itu.

__ADS_1


"Heuhhhh...makan apa ya!" gumamnya menghela napas. Matanya tertuju kepada roda yang berjualan Harum manis, bentuknya menyerupai rambut sehingga di sebut juga rambut nenek, wangi tercium dari makanan itu yaitu wangi gula yang khas, warna dari Hatim manis sangat unik berwarna-warni.


Merry tersenyum tipis, seakan teringat seseorang yaitu Bianca, yang suka dengan makanan rambut nenek itu.


"Apa aku beli itu saja, nanti aku beli juga ah, buat Bianca." Dia teringat Bianca yang hampir tiap hari beli rambut nenek, dia sangat suka wangi dari gula itu begitu pekat menyengat.


***


Waktunya pulang sekolah.


Lonceng berbunyi di lapangan sekolah itu. Jam menunjukkan pukul 1 siang, akhirnya semua murid SMP, yang masuk pagi bisa pulang.


Nampak Merry, siap-siap membereskan semua buku dan peralatan menulisnya yang berada di meja kedalam Tasnya.


"Kenapa si Aqilla, memperhatikanku." gumamnya. Tapi Merry, seakan tak mau memperdulikannya dia pun bergegas dari ruangan kelas.


"Merr, tunggu!" ucap Aqilla, ketika Merry baru saja melangkahkan kakinya untuk keluar dari kelas.


Merry sontak melirik Aqilla.


"Ada apa, aku mau pulang," jawabnya.

__ADS_1


"Tahu lah, aku juga. Kamu mau pulang," ucapnya.


Merry berpikir dalam hati yang paling dalam, Aqilla orang yang suka 'Kepo'. Dia selalu menjadi orang yang pertama yang tahu masalah yang ada di sekolah.


"Sahabat kamu, nggak sekolah, tumben! kemana dia?" tanya Aqilla.


"Sakit," ucap Merry singkat. Dia lalu dengan cepat meninggalkan Aqilla.


Aqilla mengernyitkan dahi, dia seakan heran dengan kelakuan Merry, temannya itu. Seakan menyembunyikan sesuatu.


"Aku harus mencari info, kenapa Bianca, nggak ada kabar," gumam hati Aqilla.


***


Tok-Tok-Tok...


Merry mengetuk pintu rumah Bianca begitu pelan, nampak di dalam rumah sepi. Matanya menatap lekat ke dalam ruangan rumah tersebut dari arah celah jendela yang berada di pinggir pintu.


"Nggak ada orang pada kemana ya?" gumam hati kecilnya. Merry berpikir sangat serius.


Apakah Bianca di bawa jauh dari rumah atau di ungsikan dari rumah itu, karena lagi dalam keadaan hamil. Beribu-ribu tanya dalam benaknya muncul pikirannya tidak karuan.

__ADS_1


Merry membuang napas kasar.


__ADS_2