Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 93 Rasa khawatir


__ADS_3

Angga ketika membaca kabar dari Andri bahwa relasi bisnisnya nanti malam ingin bertemu dengannya, tidak perlu waktu lama untuk membalas pesan chat tersebut.


{"Iya, aku pasti bisa datang,"} balas pesannya.


{"Nanti Pak Gerry juga akan hadir untuk bertemu dengan relasi bisnis kita."} ucap Andri.


{"Pak Gerry sudah datang dari Jakarta kapan? terus kita nanti, dimana pertemuannya?"} tanya lagi Angga.


{"Gerry sudah datang sejak sore tadi ke Bandung, nanti di Kafe tempat kita saja pertemuannya, kali ini yang datang hanya Pak Rangga, tapi besok dia bawa 2 orang temannya, katanya kedua temannya itu ada kesibukan dulu, baru besok bisa datang,"} ucapnya lagi.


•••••


Nampak Angga sudah terlihat rapih.


"Dek, Kakak mau pergi dulu ya, mau ketemu sama relasi bisnis, bersama Pak Andri. Paling satu atau dua jam, nggak lama." ucap Angga kepada Amel.


•••


Amel nampak terlihat matanya lekat ke layar Televisi, dia tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


"Capek ya, Kamu tadi jalan-jalan ke mana sama Teh Siti?" tanya Rangga kepada Amel, adiknya tersebut.


"Cuma keliling komplek Kok, sesudah itu beli makanan kuliner diluar komplek," jawabnya.


"Ya sudah, Kakak, pergi ya," ucapnya.


Angga berlalu dari ruang tamu, dengan di ikuti dari arah belakang oleh Amel.


Angga pun kemudian memanaskan mobilnya yang baru dia beli. Mobil sedan berwarna hitam nampak masih mengkilat.


"Kak, Rumah dan Mobil sudah ada, tinggal nunggu apa lagi! Cepetan nikah, cari jodoh," goda sang adik sambil tertawa terkekeh.


"Itu dia, belum ada yang cocok!" jawabnya.


"Kakak terlalu pemilih sih," ucap sang adik seakan mengejek, karena Kakaknya tersebut sangat selektif mencari wanita. Selain cantik, imut juga pintar.


"Nggak juga lah, ada sih, adiknya Pak Gerry, entah mengapa Kakak suka sama dia. Kalau dipikir-pikir, dia usianya masih belia tapi sudah punya anak. Apa mungkin dalam waktu dekat Kakak nikahin? Hehehe.." Angga tersipu malu.


Dari pertama bertemu dengan sosok Bianca pertama kali, Angga seakan suka dengan wanita itu. Angga teringat saat itu, dia nampak terlihat tersipu malu, begitupun dengan Bianca. Ketika mengingat saat itu dia terlihat mesem-mesem sendiri.


Melihat gelagat sang Kakak, Amel seakan tahu isi hati dari Kakaknya tersebut.


"Kak, kamu jatuh hati beneran ya, sama Bianca!" Amel kembali menggoda Kakaknya tersebut.


Angga tertegun, dia memejamkan matanya sebentar, terlihat dalam pikirannya sosok Bianca ketika tersenyum membuat hatinya nyaman.


"Nggak apa-apa, kalau suka sama dia. Siapa tahu dianya juga suka. Aku mendukung, dia wanita baik, pintar dan ceria. Sesuai dengan Kakak mau. Pepet!" Amel tertawa lebar.


"Iya, aku suka sama adiknya Pak Gerry! Paham kamu!" ucap Angga mencubit gemas pipi sang adik, dia pun berlalu dari hadapan adiknya dan memasuki mobil.


"Daahhhh.. Bawel!" ucap Angga, melambaikan tangannya. Dia pun melajukan mobilnya ke arah Kafe.


_____


Amel seakan memikirkan obrolan yang baru saja dia bahas dengan sang Kakak.


Angga menyukai Bianca.


"Dia sosok yang baik, cantik, periang. Rasanya semua kriteria yang Kak Angga mau, ada di diri Bianca semuanya. Tapi rasanya tidak mungkin kalau Bianca, bisa cepat-cepat bisa di nikahi Angga, karena usianya masih belia," ucap Amel menghela napas secara perlahan. Dia pun berlalu kedalam rumah.


_______


Angga tiba di Kafe.


Terlihat Andri, Pak Gerry dan Rangga sudah menunggu disana.


"Maaf, maaf, aku datang telat," ucap Angga terlihat malu dengan orang di sekitarnya yang sudah menunggu disana.


"Kenalin ini Angga, yang barusan kita bicarakan," ucap Gerry melirik ke arah Angga kemudian menatap Rangga.


Angga mengulurkan tangannya, dan bersalaman dengan Rangga.


"Angga.." ucap Angga tersenyum ramah kepada Rangga.


Rangga pun menyambut uluran tangan Angga, dan tersenyum ramah juga.


•••

__ADS_1


Kebetulan Rangga datang lebih cepat ke Bandung, tadinya dia tidak akan datang ke Bandung, dan hanya di wakilkan oleh Asistennya.


Tapi setelah dia pikir-pikir, rasanya nggak enak sama Gerry, karena Gerry adalah teman lama bisnisnya.


•••


"Akhirnya kamu datang juga, aku sudah khawatir loh, kamu nggak datang dan hanya di wakilkan oleh Asisten kamu," ucap Gerry.


"Pasti aku usahakan lah, memang tadinya aku nggak bisa datang, tapi demi kamu, aku coba konsisten," ucap Rangga tersenyum.


"Katanya ada lagi yang mau join dengan bisnis kita, kemana orangnya, hari ini tidak bisa datang? Apa dia sibuk juga seperti kamu?" tanya Gerry, dihinggapi rasa penasaran karena Rangga berjanji akan datang bersama rekan bisnisnya 2 orang lagi.


"Iya mereka ada halangan, mungkin mereka besok akan tiba di Banding," ucap Rangga.


•••


Obrolan pun di mulai oleh Gerry, ke masalah bisnis mereka. Nampak semua yang berada disana sangat serius. Rangga pun berniat membuka usaha di dua tempat, dan kebetulan jarak tempatnya, dari Kafe tersebut dekat sekitar 15 menit.



Satu jam sudah mereka membicarakan masalah bisnisnya. Tiba-tiba suara getar telepon terdengar dari ponselnya Rangga, yang terletak di meja.



Kebetulan Rangga menerima telepon dari sambungan aplikasi WhatsApp nya, nampak tertera disana nama Fani muncul, dan sekilas Rangga melihat foto profil nya, adalah gambar Tante Fani.



Sontak mata Angga dia buka lebar karena Angga seakan tidak percaya, yang menelepon Rangga adalah, Tante Fani kakaknya Rama.



"Maaf, aku angkat telepon dulu," ucap Rangga.


Rangga pun berdiri lalu dia berlalu dari hadapan teman-temannya.



Sementara Gerry sedang berbicara dengan Andri. Angga kupingnya lekat ke arah Rangga, yang sedang menerima sambungan telepon.




"Ya sudah, nggak apa-apa, yang penting besok bisa datang dengan Rama," ucap Rangga, di sambungan teleponnya.



Begitu terhenyak hati Angga, Ketika Rangga sedang menerima telepon, dan berkata ditunggu kedatangan Rani bersama Rama.


"Aku tidak salah lihat foto profil dan tidak salah dengar dengan yang baru saja aku dengar. Rekan bisnis yang dia bawa besok adalah Rama dan Tante Fani.



Berarti jika Amel direferensikan kerja oleh Andri, di perusahaannya Rangga, berarti ada kaitannya dengan Rama.Tidak! Tidak mungkin." gumam hati Angga


••••••


Nampak Angga terlihat gusar, pikirannya berselancar tidak karuan. Dia takut Amel suatu saat nanti, kembali lagi bersama Rama.


Angga berpikir, pasti akan mungkin terjadi, karena pertemuan mereka nanti akan sering dan timbul lagi benih-benih asmara, di antara Amel dan Rama.


Terlihat Angga meremas rambutnya, kemudian dia membuang napas kasar.



"Kenapa!" Andri menepuk pundak sahabatnya itu, dengan rasa heran karena terlihat sahabatnya itu, sedang memikirkan sesuatu.



"Ng-nggak, nggak apa-apa," ucapnya terbata-bata.



"Benar, nggak ada apa-apa?" tanya Andri. Karena Andri sahabatnya dari kecil, jadi dia tahu bagaimana keadaan sang sahabat jika sedang memikirkan sesuatu.


__ADS_1


"Iya," Angga tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


•••


Namun Andri tidak bisa dibohongi, dia seakan tahu isi hati dari sahabatnya itu.


"Aku tahu, kamu sedang ada yang dipikirkan Angga," gumamnya sambil menatap lekat ke arah Angga yang berpura-pura sibuk dengan telepon selularnya.



Setelah menerima telepon Rangga pun kembali duduk di meja rekan bisnisnya tersebut.


" Maaf ya, menunggu lama. Barusan rekan bisnis kita Bu Rani menelepon. Jadi Bu Rani sama Pak Rama besok akan datang ke sini." ucap Rangga tersenyum ramah.



Degh



Terasa tersentak jantung Angga, tatkala mendengar ucapan dari Rangga, bahwa rekan bisnisnya adalah Tante Fani dan Rama. Rangga pun mengabarkan bahwa Rama dan Tante Fani, akan datang besok ke Kafe tersebut.



"Aneh, kenapa masalahnya jadi rumit seperti ini! Kenapa aku dan Amel harus berurusan lagi dengan keluarga si Rama!" gumam hati Angga, seakan tidak habis pikir dengan semua yang terjadi.


•••


"Oke! besok kalian bisa kan, ketemu dengan klien Pak Rangga," ucap Gerry, melirik ke arah Andri dan Angga.



"Kayaknya aku besok nggak bisa karena aku mau ngantar adikku berobat, tadi dia sepulang dari Bandung badannya tidak enak," dengan cepat Angga berucap, dia berusaha berbohong karena tidak mau bertemu dengan Tante Fani dan Rama.



"Ya, sudah, Pak Andri bisa kan?" tanyanya kepada Andri.


Andri menganggukkan kepalanya tanda setuju.


\_\_\_


Akhirnya Rangga pulang, kebetulan dia menginap di Hotel yang berada di daerah sekitar, Jalan.Dago.



Setelah Rangga pulang kemudian Angga berbicara sangat serius kepada Gerry.


"Pak Gerry, tahu tidak. Barusan aku beralasan untuk tidak bisa bertemu dengan Bu Fani dan Rama? Sebenanya Fani dan Rama yang dimaksud oleh Rangga adalah..." Angga seakan tidak bisa melanjutkan ucapannya.



"Memang siapa?" Gerry seakan terlihat penasaran. Gerry tidak bisa menerka sebenarnya Bu Fani dan Rama yang dimaksud oleh Rangga, siapa.



Maaf tadi saya melihat Pak Rangga menerima telepon dari Bu Fani dan saya lihat foto profilnya itu adalah Bu Fani dari Rama. Maksudnya, Rama yang telah menghianati Amel dan Bianca.



Degh



Jantung Gerry berdetak lebih kencang, sontak matanya melotot, dia seakan tidak percaya apa yang baru saja diucapkan oleh Angga. Sosok Bu Fani dan Rama itu sebenarnya ada kaitannya dengan Amel dan dan Bianca.



Nampak terlihat Gerry pun tertegun, dia seakan tidak percaya karena rekan bisnis yang dimaksud Rangga, adalah Rama sang penghianat.



Andri pun sebagai seorang sahabat nampak kaget dengan apa yang baru saja dia dengar


"Jadi gimana ini, kita lanjut saja bisnis dengan si Rama atau dibatalkan saja! Jadi kita bicara dengan Rangga, sebaiknya Rangga aja sendiri untuk berbisnis, kalau Rama sama Tante Fani jangan diajak berbisnis dengan kita. Bagaimana kalau menurut kalian? Itu pendapat aku ya, tapi terserah kalian." ucap Andri yang tahu masalah Bianca dan Amel yang pernah dikhianati oleh Rama.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2