
Kedatangan Tyanca Kakak dari Bianca.
Bianca mengurung diri di kamar, padahal baru saja sang Mama, memberitahu bahwa sang Kakak akan berkunjung.
Biasanya jika ada sang Kakak akan berkunjung, Bianca selalu menanti kehadirannya, karena dia sangat rindu dengan sang keponakan yaitu anak dari Tyanca, yang bernama Mischa, dia baru berusia 5 tahun seorang anak perempuan yang sedang lucu-lucunya.
Drett.. Drett..Drett..
Tiba-tiba bunyi suara telepon dari gawai Mama berbunyi, nampak di layar ponsel Tyanca, menelpon.
{"Mah, bilang sama Bianca, mau dibelikan harum manis ( rambut nenek ) nggak?"}
sang Kakak selalu ingat makanan cemilan kesukaan adiknya tersebut.
{"Ya, bawain saja nggak apa-apa,"} jawab Mama, terdengar datar ketika berucap.
Tyanca, seperti dihinggapi rasa curiga, Mama seakan tidak ceria ketika berucap.
{"Teleponnya, Bianca nggak aktif, Mah,"} sambung lagi Tyanca.
{"Dia sakit,"} Mama kembali menjawab dengan singkat.
Tyanca mengernyitkan dahinya, ada apa sebenarnya. Dia membuang napas kasar.
*****
Tyanca terlihat termenung.
__ADS_1
"Kenapa Mami?" tanya Gerry, suami dari Tyanca. karena melihat wajah sang istri, tiba-tiba berubah tidak ceria.
"Mama, kayak sedang kesal atau malas, menerima telepon. Kenapa ya?" Tyanca menatap lekat kepada sang suami
"Itu hanya perasaan kamu saja, Mih," jawab sang suami, dengan tatapan mengarah ke depan, karena sedang mengemudikan mobil. *****
Tyanca tiba di rumah Mamanya.
Akhirnya mobil Pajero Sport berwarna hitam tiba juga di garasi rumahnya Mama Astri, yaitu Mama dari Tyanca.
"Tumben nggak ada yang nyambut, kenapa sepi. Apa orang yang ada di rumah sedang tidur siang, semuanya." Tyanca matanya berselancar mengelilingi halaman rumah.
Kemudian dia berjalan ke teras rumah dan dari sana dia mengintip dari arah jendela pinggir pintu. Dia dihinggapi rasa heran, karena di rumah Mamanya itu, terlihat sepi seakan tidak ada orang, tapi sandal dan sepatu, tertata rapih ada semua di rak sepatu, yang berada di teras rumah.
"Mami, Tante Bianca nya, ada nggak?" tanya Mischa anak dari Tyanca.
Kemudian anak cantik itu mengucapkan kata Assalamualaikum, begitu merdunya dan menggemaskan sambil mengetuk pintu beberapa kali.
Setelah beberapa menit kemudian, lalu ada yang menjawab di dalam rumah.
"Wa'alaikum salam," terdengar jawaban salam dari dalam rumah.
"Nah, itu suara Nenek," sontak tersenyum merekah dari bibir mungil Mischa.
Krekkkk..
pintu akhirnya terbuka dengan lebar.
__ADS_1
"Eh, Cucuku, udah lama sayang, nunggu diluar ya. Nenek lagi mandi tadi, nggak dengar. Maafkan Nenek, ya sayang," Mama langsung menyambar pipi Mischa, sang Cucu tersebut, dengan rasa gemas dan rindu.
Mischa mencium punggung tangan Neneknya, begitupun sama yang di lakukan sang anak, Tyanca dan menantunya Gerry.
Kemudian mereka memasuki rumah.
"Pada kemana Mah, ko' sepi," tanya Tyanca. keadaan di rumah begitu sepi.
"Papa lagi tidur, begitupun dengan Bianca," jawab Mama.
"Oh, iya. Mau minum apa. Nenek buatkan -Es cincau - untuk Mischa loh, bentar ya, Nenek ambilkan," sang Mama berlalu dari ruang tamu.
Tyanca seperti dihinggapi rasa heran, kenapa Mamanya seakan cuek ketika dia bertanya tentang keadaan Adik dan Papanya.
Dan biasanya Adik dan Papanya jika dia datang dalam keadaan apapun selalu di jemput di teras rumah.
Dahulu.
"Cucuku cantik, kalau mau kesini pasti Kakek jemput depan teras rumah, apapun keadaan Kakek, walau sedang sakit," sang Kakek, atau Papa dari Tyanca mencium gemas sang Cucu. Begitupun dengan Bianca, dia selalu memberikan hadiah kepada sang keponakan walaupun itu hanya sebuah kue, dengan di bungkus oleh kado berwarna pink.
Mischa mendapat perlakuan seperti itu, sangat senang sekali.
Tapi sekarang penyambutan seperti itu, sudah tidak ada lagi.
Tyanca bertanya-tanya, dalam hatinya.
__ADS_1