Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 69 Terluka


__ADS_3

Nampak kedua bola mata Mama Astri seakan tidak bisa diam. Matanya berselancar ke arah pintu halaman rumah. Dia menunggu kedatangan Amel.


Keluarga kecil Tyanca telah pulang begitupun dengan keluarga Tante Astrid, tapi Bianca beserta anaknya masih tetap ada di rumah.


"Mah, nunggu siapa sih, dari tadi tatapannya ke arah luar halaman terus?" tanya Bianca sambil merebahkan anak di kursi sofa. Nampak anak Bianca tertidur lelap.


"Nunggu Amel, kenapa udah beberapa hari ini dia nggak belanja ya" jawab sang Mama, dihinggapi rasa khawatir.


Karena setelah kejadian Amel bertemu dengan Tyanca, dia sudah tidak belanja lagi ke warungnya itu.


"Mungkin sakit Mah, atau lagi keluar kota bersama keluarganya, atau sama suaminya, Hehehe.." ucap Bianca tertawa terkekeh.


Degh..


Ketika sang anak mengucap kata suami, hati Mama Astri dadanya seakan dihantam, sangat nyesek karena suami Amel adalah suaminya Bianca sendiri. Mama Amel menghela napas secara perlahan.


"Kenapa Mah," tanya Amel melihat hamparan wajah sang Ibu terlihat gusar.


Mama menatap lekat wajah sang anak, dalam hatinya berkata, inilah saatnya berkata yang sesungguhnya kepada Bianca, bahwa Amel adalah istri dari Rama.


"Nak, Alhamdulillah Mama bersyukur kamu sekarang sudah menjadi pribadi yang ikhlas dan sabar. Terutama kamu sekarang lebih dewasa dalam menghadapi persoalan hidup yang di hadapi." Mama mengusap lembut muka Bianca.


Sang anak keheranan karena sang Mama, terlihat sendu terlihat dari kedua bola matanya. Bianca menyangka pasti sang Mama ingin membicarakan masa lalunya.


Mama ingin membahas Rama, mantan suami yang brengsek. Padahal dia sudah menutupnya dalam-dalam. Semakin dia mengingatnya, semakin dia sangat terluka hatinya.



"Sebenarnya ada apa Mah," sang anak menatap lekat kepada Mamanya.



Nampak terlihat ada luka di manik mata sang anak. Luka yang terus meraja seakan menguasai dirinya sampai kapan pun. Tapi dia akan terus sembunyikan semua dari orang yang terkasih. Karena luka yang dia derita saat ini adalah luka yang dia tuai sendiri.



"Sayang, bukannya Mama mau mengorek masa lalu kamu, Mama yakin kamu wanita kuat dan ikhlas menghadapi situasi saat ini. Sabar, yang kuat ya Nak, sebenarnya Amel..." sang Mama seakan tidak bisa melanjutkan ucapannya.



"Ada apa dengan Kak Amel, Mah," ucapnya.



"Amel istri dari Rama," ucapnya sangat lirih dan pandangannya menunduk.



Bianca matanya membulat tatkala mengetahui Amel adalah madunya, Perasaannya luluh lantak. Entah apa yang sekarang ada di benak pikirannya. Hamparan pipinya dipenuhi dengan goresan luka yang kian mengaga.



Bianca mengelus dada, dalam dirinya dihinggapi rasa penasaran yang teramat setelah sekian lama berbulan-bulan.


Dia bertanya dalam hati dan pikirannya tentang madunya. Ternyata saatnya sekarang tiba, dia mengetahui sang madu adalah Amel.


Di ujung ekor matanya terlihat Bianca meneteskan air mata, namun dengan cepat dia menghapusnya.


•••


Hati Mama tahu, sang anak sangat terluka dan kembali teringat masa lalu. Mama seakan tidak bisa menahan luapan emosinya.

__ADS_1


Di peluknya erat sang anak.


•••


"Maafkan Mama Nak, selama ini Mama nggak mengurus kamu, Tante Astrid lah, yang hadir untukmu dan anakmu. Mama adalah Ibu yang tidak berguna bagi sang anak," Mama sesunggukkan menangis pilu, dadanya terasa sesak. Pelukan Mama begitu erat. Dia seakan menyalahkan dirinya sendiri.



Bianca hanya terdiam, dia menyadari sang Mama selama ini tidak sepenuhnya menemaninya. Hari-harinya yang pilu hanya di temani sang Tante, padahal saat itu dia butuh figur sosok Ibu di sampingnya.



Bianca mencoba menampakkan senyum di depan Mamanya, walaupun hatinya hancur lebur berkeping.



"Mah, Bianca ikhlas dan sudah melupakan semua. Mama pun jangan merasa berdosa karena tidak sepenuhnya ada di samping Bianca," ucapnya terdengar sangat lirih.



Mereka saling berpelukan dan tangis pun pecah seketika.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



"Assalamualaikum.." tiba-tiba ucap salam terdengar dari teras rumah.



Mama dengan cepat mengusap air matanya, kemudian Mama berlalu keluar.


"Bu, saya mau belanja," ucap sang Ibu yang kira-kira usianya sama dengan Mama Astri



Mencoba tersenyum lebar kepada sang pembeli meskipun hatinya sedang pilu.


•••


Mama Astri terasa asing dengan wanita yang tengah berada di hadapannya itu Mama berpikir mungkin dia pelanggan baru.



Sang Ibu tersebut dengan asik memilih-milih sayuran yang tersisa dan masih ada daging ayam tinggal tersisa 1 kantong yang beratnya sekitar 1 kg. Ibu itu pun mengambil 1kg ayam dan sayur bayam 2 ikat. Kemudian sang Ibu melirik pisang ambon yang berada di kresek tapi oleh Mama Astri di simpan di dalam wadah tidak di pajang di warung.



"Bu, maaf kalau pisang itu, udah ada yang punya belum?" telunjuk tangan sang Ibu mengarah ke wadah tersebut.



"Ini pisang buat Amel, tapi Amel nya ngga datang kesini, gimana ya," gumam hati Mama Astri.



"Sebenarnya ini pisang udah saya pisahin biasa langganan suka beli, tapi tak apalah Bu, kalau Ibu butuh, silahkan saja sama Ibu," ucap Mama Astri..



Sang Ibu tersenyum lebar, tatkala sang penjual dengan ramah memberikan pisang ambon tersebut.

__ADS_1



"Sepi ya Bu," sang Ibu matanya berselancar melihat keadaan sekitar. Karena terlihat warungnya sepi.



"Ya, karena sudah siang, biasanya rame pukul 6 sampai 10 Bu," jawab Mama Astri sambil memasukkan barang yang dibeli oleh sang pembeli.



"Nggak di tambah yang lain lagi Bu?" tanya Mama Astri tersenyum ramah kepada pembeli.



"Sebenarnya mau beli ikan salmon buat Cucu, tapi kayaknya sudah habis ya," ucapnya lagi.



"Kalau mau beli ikan harusnya pagi Bu, biasa pagi suka komplit," ucap Mama Astri



"Iya tadi saya pagi nyuruh anak saya kesini, dia nya nggak mau. Saya heran biasanya dia kalau di suruh ke warung mau," ucapnya tersenyum tipis. " Yasudah, Bu. Jadi semua berapa? tanya sang pembeli sambil merogoh uang yang berada di saku celana.



"Semua 50 ribu," ucap Mama Astri.



Sang pembeli pun mengeluarkan uang berwarna biru satu lembar.



"Ini Bu, uangnya pas ya," ucapnya.



"Ya, Bu terima kasih," Mama Astri tersenyum ramah kembali kepada sang pembeli.



"Oh ya, Bu, besok pagi sisain ya, ikan salmon nya, siapa tahu Amel anakku, mau di suruh ke warung lagi," ucapnya tersenyum tipis.


Sang pembeli pun dengan cepat berlalu dari warung tersebut.



Mama Astri hanya menganggukkan kepalanya dan mata Mama Astri terbelalak, mulutnya terbuka lebar seakan tidak bisa berkata apapun. Saat sang Ibu berucap nama Amel.



Dalam hati Mama Astri dihinggapi rasa terkejut tatkala dia, baru saja bertemu dengan Ibunya Amel.


Di benaknya berpikir Ibunya Amel, sangat ramah dan pantesan raut muka Ibunya sama persis dengan Amel.



"Semoga Amel besok datang belanja kesini kembali," gumam hati Mama Astri.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2