Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 115 Rasa Bersalah


__ADS_3

Di ruang Dokter.


"Sebenarnya Ibu kamu ini terlalu banyak yang dipikirkan, jadi penyakitnya pusing dan lari ke lambung. Diusahakan ya Bu, jangan terlalu banyak pikiran. Mikirin apa sih Bu!?" sindir sang Dokter kepada Ibunya Rama dengan tersenyum ramah.


"Banyak Dokter yang saya pikirkan, selain memikirkan Bapaknya Rama yang dulu telah mengkhianati, sekarang mikirin Rama yang telah diceraikan oleh istrinya," jawab sang Ibu.


Kedekatan keluarga Rama begitu dekat dengan sang Dokter sudah terjalin lama.


Jadi sudah tidak ada yang dirahasiakan lagi bagi sang Ibu untuk berbicara masalah pribadinya kepada sang Dokter, dan kebetulan sang Dokter adalah teman dari Tante Fani.


___


Ibunya Rama nampak pikirannya kembali ke masa lalu Ketika saat itu, Bianca datang bersama keluarga dan meminta pertanggung jawaban kepada Rama, karena Bianca tengah hamil. Tapi semua keluarga seakan memandang sebelah mata kepada keluarganya Bianca, terutama kepada Bianca nya sendiri. Dan kembali bayangannya dihinggapi dengan sosok Amel dan sang anak atau Rama, diusir oleh Bapaknya Amel karena ada masalah tentang utang yang 100 juta belum di bayar.


Air mata Ibu pun menetes dan dia tidak menyadari hal itu, mungkin karena luapan emosi yang teramat sakit di dalam hatinya.


____


Sang Dokter menggenggam jemari sang Ibu. "Bu yang sabar ya, sudah jangan ngelamun lagi. Ibu pasti bisa menghadapi semua masalah baca istighfar, jangan ngelamun." ucap sang dokter mencoba menyemangati pasiennya tersebut.


Ibu pun nampak merasa ada bentuk perhatian ketika sang Dokter memberikan sebuah pepatah kepadanya, begitu tersentuh hati ibu karena selama ini tidak ada lelaki yang begitu peduli untuk memberikan sebuah nasihat kepadanya.


___


"Ayo, Bu. Kita pulang," ajak Rama kepada sang Ibu. Nampak Ibu menghela napas panjang dia seakan ingin meluapkan rasa sesalnya terhadap sang mantan suami, dan anaknya yang menghantamnya terus-menerus dengan masalah, tapi semua itu hanya bisa dia pendam sendiri yang mengakibatkan dia di runding sakit yang tidak kunjung sembuh.


Ibunya Rama pun pamit kepada sang Dokter, tidak lupa dia mengambil secarik kertas dari sang Dokter, yaitu resep obat yang harus ditebus oleh sang Ibu.


Mereka pun keluar dari ruangan sang Dokter, Ibunya Rama duduk di kursi ruang tunggu karena Rama sang anak mau mengambil resep dari sang Dokter, yang jaraknya lumayan agak jauh ke tempat pengambilan resep tersebut.


____•••••_____


Mama Astri keluar dari ruang IGD.


"Alhamdulillah sudah di tangani oleh Dokter, dan anaknya Bianca sudah tidak menangis lagi," ucap Mama Astri yang tiba-tiba keluar dari ruangan IGD.


Nampak terlihat senyuman lebar dari bibir Raden dan bu RT, karena Mama Astri mengabarkan kondisi keadaan Bianca dan sang anak sehat tidak terjadi luka yang serius menimpa terhadap diri mereka.


"Syukurlah, kalau begitu," jawab Bu RT tersenyum bahagia. Bu RT sangat perduli terhadap siapapun, apalagi Bianca yang notabene pernah dekat dengan anaknya ketika masih duduk di bangku sekolah dulu.


•••


Mama Astri pun kemudian duduk bersebelahan dengan Bu RT, rasa lelah dan debaran dada yang tadi dia rasakan, kini seakan sirna tatkala melihat sang anak dan cucu dengan keadaan kondisi badannya baik-baik saja. Mama Astri kemudian pamit kepada Ibu RT, untuk pergi ke Mini Market, yang tengah berada di luar halaman Rumah Sakit.


Mendadak jalannya Mama Astri mematung ketika baru setengah jalan untuk pergi ke Mini Market, karena nampak terlihat jelas oleh kedua bola matanya, Ibunya Rama sedang duduk dengan pandangan menunduk, dan memakai jaket tebal dan nampak terlihat mukanya begitu lusuh dan pucat.

__ADS_1


•••


"Apa aku enggak salah lihat, itu kan ibunya Rama," Mama Astri mengucek kedua bola matanya ketika melihat sosok Ibunya Rama yang tengah berada di hadapannya.


Mungkin juga Mama Astri sudah lupa dengan wajah Ibunya Rama karena sudah lebih 2 tahun mereka tidak bertemu.


•••


Tiba-tiba Rama menghampiri sang Ibu, sontak debaran dada bergemuruh cepat dirasakan oleh Mama Astri tatkala melihat sosok Rama.


Mama Astri mencoba menghela napas secara perlahan, dia mengatur deru napasnya. Rasa kesal, kecewa, amarah ketika melihat kedua orang tersebut. Dia coba tenangkan dirinya dengan duduk sebentar di kursi yang nampak banyak orang di deretan kursi tersebut.


"Tahan emosi kamu Astri!" gumam hati Mama Astri. Pikiran Mama Astri berselancar jauh mengingat rasa sedih, karena Rama dengan Ibunya memandang sebelah mata kepada sang anak atau Bianca, ketika saat itu Mama Astri berkunjung ke rumahnya Rama, keluarga besar dari Rama tidak menerima kenyataan bahwa Bianca telah dihamili oleh anaknya atau Rama.


Mama Astri membuang napas kasar.


Mama Astri pun memberanikan diri untuk berjalan ke arah Rama dan Ibunya, yang sedang melihat obat yang baru saja resep obat tersebut dibeli oleh Rama.


••••


Langkah demi langkah dia pijakan untuk melewati kedua orang tersebut, bagi Mama Astri terasa berat langkahnya. Peluh pun bercucuran, bukan berarti dia tidak berani menghadapi kedua orang tersebut tapi Mama Astri takut, dia tidak bisa mengendalikan emosi yang sudah dia tahan selama 2 tahun ini karena Rama, tidak bertanggung jawab terhadap sang anak.


"Mungkin kedua orang tersebut tidak ingat siapa aku!?" gumam hati Mama Astri.


•••


Entah bisikan syetan apa yang hinggap ke telinga Mama Astri saat itu, dia pun mengarahkan bola matanya ke arah kedua orang tersebut, dan menghampirinya dengan jarak yang sangat dekat. Rasa amarah pun menyelimuti hati dan pikirannya.


"Kalian masih ingatkah dengan saya!?" sindir Mama Astri dengan tatapan penuh rasa benci dan kesal yang teramat terhadap kedua orang yang kini tepat berada di hadapannya itu.


Sontak kedua orang tersebut terkesiap, tatkala melihat sosok Mama Astri tepat berada di hadapannya.


Sepertinya Ibunya Rama sudah lupa dengan wajah Mamanya Bianca, dia nampak dihinggapi rasa heran seakan bertanya dalam dirinya siapakah sosok yang tengah berada di hadapannya!? Dalam benaknya berpikir, (Pernah bertemu, tapi lupa di mana).


"Mama,," bibir Rama bergetar tatkala memanggil Mama Astri yang tengah lekat dihadapan dirinya.


"Siapa itu Nak?" ucapnya lekat ke kuping Rama. Sang Ibu seakan menerka-nerka sosok yang berada dihadapannya itu siapa.


"Dia Mamanya Bianca," jawab Rama dengan wajah merah padam, dan peluh pun bercucuran. Rian dihinggapi rasa gugup dan malu ketika bertemu dengan sosok Mamanya Bianca. Rama seakan dihinggapi rasa salah, kecewa dan sesal.


"Ya, aku Nenek dari anakmu! Tapi maaf aku itu sudah tidak peduli dengan Bapaknya, cucuku itu siapa!? Aku bahkan sudah melupakannya, karena kamu sebagai seorang Bapak tidak peduli, bahkan tidak bertanggung jawab kepada darah daging kamu sendiri!!" bentak sang Ibu dengan sorot mata tajam.


Sontak Ibunya Rama terlonjak kaget dengan ucapan Mamanya Astri yang begitu berani, Ibunya Rama pun seakan tertampar hatinya mendengar ucapan seperti itu.


"Mama,,,Mamanya Bianca!?" ucap Ibunya Rama begitu lirih, dengan pandangan seakan menyimpan rasa bersalah yang teramat besar.

__ADS_1


"Ya, aku mantan besan kamu! Tapi mungkin bukan mantan besan karena pernikahan anak kita tidak sampai satu malam, karena anakmu setelah -Ijab Kabul- dia pergi entah ke mana. Apakah kamu tahu sebagai seorang Ibu bahwa anakmu itu kabur, ketika setelah menikahi Bianca, anakku!?" penuh emosi Mama Astri ketika berucap dia seakan tidak bisa mengontrol rasa kesalnya yang selama ini dia pendam.


_____


Ibunya Rama kembali terkejut ternyata yang diucapkan oleh Mama Astri baru saja, dia tahu jika Rama setelah -Ijab Kabul- kabur tidak bersama dengan Bianca.


Masih teringat saat itu oleh ibunya Rama, ketika anaknya pamit untuk menikahi Bianca, dan keesokan harinya, setelah itu selama dua hari Rama baru pulang datang kembali ke rumahnya.


Ibunya Rama menyangka kalau Rama tengah berada di rumah Bianca saat itu setelah selesai -Ijab Kabul- tapi tidak sesuai dengan ekspektasi, ternyata Rama menikahi Bianca hanya sebentar saja, setelah itu kabur tidak ada kabar berita.


_____


Nampak bola mata ibunya Rama berkaca-kaca, dia pun berpikir begitu perih penderitaan yang dirasakan oleh Mamanya Bianca, terutama dengan Bianca nya sendiri.


Kata maaf yang akan terucap dari mulutnya ibunya Rama seakan tidak bisa dia ungkapkan. Rasa gengsi malu campur menjadi satu.


Ibunya Rama menghela napas secara perlahan. Akhirnya dia pun ingin mengungkapkan isi hatinya.


"Ma,, maafkan saya," ucapnya lirih.


"Atas rasa bersalahku, gimana jika anaknya Rama, akan saya ambil dan saya urus," dag-dig-dug rasa hati Ibunya Rama dengan balasan ucapan dari Mamanya Bianca akan seperti apa.


Sontak Mamanya Bianca, matanya melotot, dia berpikir seenaknya saja Ibunya Rama mau merebut sang Cucu, sementara dulu dia kemana? Padahal dulu Bianca sangat membutuhkan sosok suami.


"Apa! Maksud kamu, mau ambil anaknya Bianca!? enak saja kamu berucap. Apa kamu tidak tahu malu dengan ucapan kamu itu!? kembali Mama Astri tersulut emosi.


Ibunya Rama seperti dihinggapi rasa takut dan khawatir kalau Mama Astri akan menampar pipinya, karena nampak terlihat jemari tangannya dia kepalkan, dan arah muka mereka sangat berdekatan.


Dengan sigap Rama memeluk sang Ibu.


"Kamu bisa menjaga Ibumu, tapi tidak bisa menjaga anakmu!" ucap Mama Astri.


Rama tertunduk malu dengan ucapan Mama Astri yang seakan menyindir dan memojokkan dirinya.


"Sabar, Mah, apa kita bisa bicara baik-baik. Mama jangan marah kepada Ibu saya, karena Ibu saya baru saja berobat khawatir keadaan badannya nanti akan drop kembali," bela Rama karena dia melihat sang Ibu dihinggapi rasa takut yang teramat, dengan ucapan dan gestur tubuh dari Mama Astri yang menampakkan amarahnya.


"Saya tidak peduli dengan itu, karena kamu pun apakah peduli dengan mantan istrimu dan anak darah daging kamu, yang tengah berada di ruangan IGD!?" kembali Mama Astri tersulut emosi.


Degh...


Terasa ada hantaman yang hebat hinggap ke dadanya Rama, karena yang tengah berada di IGD adalah Bianca dan anaknya sendiri. Pandangannya Rama sontak beralih ke arah ruang IGD dimana anaknya sedang di rawat.


Bersambung...


____

__ADS_1


__ADS_2