
Tante Fani emosi.
"Apa benar, yang di katakan kamu Rani!" ucap Tante Fani terlihat sangat kesal terlihat dari raut mukanya seperti menahan rasa emosi.
Sontak Rani terlihat heran terhadap Tante Fani karena dari nada bicara seakan terlihat seperti menahan rasa amarah.
"Memang dia suami saya," jawabnya tanpa ada rasa salah sedikit pun terlihat dari wajah Rani.
"Kamu tahu nggak, suami kamu itu sudah mempunyai istri!" ucap Tante, dengan membuang napas kasar.
Rani menganggukkan kepalanya, tanpa rasa bersalah. Dia pun mulai dihinggapi rasa penasaran kepada Tante Fani, karena berkata demikian.
"Memangnya Mbak tahu, istri dari suamiku. Kenapa Mbak seperti emosi!" ucapnya terlihat kesal. Rani berpikir Tante Fani terlalu jauh sudah masuk ke ruang ranah pribadinya.
"Kamu ingin tahu istri dari suami kamu itu siapa? tapi sebelumnya saya mau tanya tapi kamu jawab jujur. Kenapa kamu memilih lelaki yang sudah bersuami?" tanya Tante Fani dengan pandangan tajam ke arah bola mata Rani.
"Saya bersama suamiku sekarang, merasa nyaman, walaupun dia, maaf ya, tidak berduit. Tapi dia memberikan kenyamanan. Hanya itu saja," ucap Rani
"Meskipun ada yang tersakiti yaitu istri tua!" sambar Tante Fani mulai tersulut emosi dengan mata mendelik
"Itu urusan dia sama istrinya, aku kan nggak tersakiti nyaman." ucapnya tertawa terkekeh.
PLAKKK...
Tamparan keras melayang ke pipi Rani dari tangannya Tante Fani, sontak Rani meringis kesakitan, dan dia merasa heran. Mengapa Tante Fani, ikut campur ke ranah pribadinya, apa hubungannya.
Nampak semua orang-orang yang tengah berada didalam kantin menatap tajam, ke arah Rani yang baru saja di tampar keras olah Tante Fani.
Mungkin perasaan Rani campur aduk antara menahan rasa malu juga menahan amarah karena sungguh beraninya Tante Rani menampar dirinya.
"Kamu kenapa menampar aku, nggak sopan ya!" Rani terlihat melotot, dan tangannya nampak ingin membalas tamparan dari Tante Fani. Namun ketika Rani hendak menampar pipi Tante Fani, dengan sigap Tante Fani melawan arah tangan yang akan menyambar.
"Asal kamu tahu ya, suami kamu itu adalah Bapaknya Rama, lelaki yang di tabrak sama kamu!" ucapnya melotot.
Sontak mata Rani terbelalak tatkala mendengar ucapan dari mulut Tante Fani, bahwa suaminya adalah Bapaknya Rama, yang kini sedang terbaring lemah di Rumah Sakit karena kena tabrak olehnya.
Rani pun nampak menahan deru napasnya yang seakan memburu karena tamparan keras yang melayang ke pipinya.
"Jangan ngarang cerita ya," ucap Rani, dadanya terasa bergemuruh.
Dalam hati Rani padahal sedang berpikir, pantesan sang suami tadi nampak gelisah tatkala melihat Rama dan istrinya, di kaca jendela ruangan pasien.
"Coba telepon sekarang suami kamu atau sekarang juga ajak aku sama kamu untuk ketemu sama suamimu," tantang Tante Fani.
Penuh emosi ketika berucap.
Rani hanya diam pikirannya tidak karuan.
"Kenapa aku harus di pertemukan dengan keluarganya istri sahnya suamiku!" gumam hati Rani pikirannya sekarang kacau.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sudah curiga dari semenjak kedatangan suami kamu, dia hanya ngintip dari arah kaca jendela kamar, tanpa mau masuk ke ruangan Rama. Padahal anaknya sedang terbaring lemah tidak berdaya," ucap Tante Fani.
"Gini saja Mbak, aku nggak mau di cerai suamiku, aku sudah merasa nyaman. Nanti Mbak tanya saja sama suamiku, dia mau milih siapa, aku atau Ibunya Rama!" ucapnya nampak tidak merasa seakan tidak bersalah.
"Lihat saja nanti, dasar Pelakor!" telunjuk Tante Fani, mengarah ke muka Rani.
Tante Fani pun pergi dari hadapan Rani, untuk kembali ke ruang pasien, dimana Rama sedang di rawat
Rani pun menghela napas panjang, tatkala Tante Fani sudah berlalu dari hadapannya.
"Nah, sekarang terjawab sudah, rasa penasaran aku tadi, tatkala melihat suamiku terlihat gugup ketika melihat Rama dan istrinya," gumam hati Rani.
Rani mencoba memijit telepon untuk memberikan sebuah pesan kepada sang suami. {"Pah, aku tunggu sekarang juga di rumah,"} pesan dari Rani.
Setelah membayar ke kasir dan nampak orang sekitar memperhatikan Rani, karena dia tadi di tampar oleh Tante Fani yang mengakibatkan orang-orang pandangannya tertuju lekat ke arahnya.
Rani seakan tidak memperdulikan semua orang yang berada di Kantin, terdengar ada cibiran yang di dengar oleh Rani.
"Dia Pelakor, jadi berhak mendapatkan tamparan," bisik seseorang yang berada di kantin kepada sang teman.
Rani pun berlalu dari kantin dan berjalan menuju mobilnya.
Ketika menyetir pikirannya jauh melayang, dan dia sesekali melihat ke arah kaca spion dalam, untuk melihat pipinya yang di tampar oleh Tante Fani.
Mobil di kemudikan sangat kencang oleh Rani, dia seakan ingin cepat tiba di rumah untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, bahwa suaminya itu adalah Bapaknya Rama.
Tiba di rumah.
Nampak sang suami seperti sedang melamun.
"Pah.."
langsung Rani memeluk sang suami.
Mendapat perlakuan seperti itu sontak, sang suami merasa di perlukan oleh sang istri
"Ada apa Mah. Mama kangen sama Papa. Hehe.." ucap sang suami
"Pah, jawab jujur. Rama itu anakmu kan?" tanya Rani. Sontak Bapaknya Rama terkejut mendengar pertanyaan dari sang istri.
"Kamu kata siapa, Mah," ucap sang suami
"Aku tadi di tampar oleh Tantenya Rama," lalu Rani memperlihatkan pipinya yang terlihat membiru, dia pun seperti menahan sakit akibat tamparan tersebut.
__ADS_1
Nampak sangat terlihat muka dari Bapaknya Rama, merah padam karena menahan rasa malu dan juga kaget mendengar kabar tersebut.
"Mah.." ucap sang suami.
Lalu sang suami menggenggam erat jemari tangan Rani. Dan dari raut mukanya seakan memelas.
"Aku sudah tahu semuanya Pah, tapi aku merasa nyaman dan tidak mau pisah dari kamu," ucapnya.
"Aku senang mendengarnya Mah," jawab sang suami. Dalam benaknya berpikir, dia tidak menyangka bahwa istri sirinya akan memihak kepadanya.
"Kamu ceraikan saja istrimu Pah," ucap Rani, seakan menguasai keadaan
"Tidak mungkin kalau cerai, nanti saja," ucapnya.
"Pah, apa yang kamu cari dari Ibunya Rama!" sambung lagi Rani.
"Nggak ada, semua ada di kamu Sayang, pokoknya kamu sabar dulu, nunggu saat yang tepat untuk aku bisa bercerai dengannya," ucap sang suami mencoba meyakinkan Rani
"Kamu pernah cerita anakmu perlu uang 100 juta. Bagaimana kalau si Rama aku kasih uang yang 100 juta tersebut, asal..." ucap Rani, dia seakan tidak meneruskan ucapannya itu.
Rani seperti merencanakan sesuatu, dengan pandangan licik.
Kebetulan Rani punya bisnis dan kedua orang tuanya, kaya. Tapi mereka sibuk jadi tidak ada waktu untuk Rani. Dia seorang janda tidak mempunyai anak dan kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Asal apa?" tanya sang suami, seperti dihinggapi rasa penasaran yang mendalam.
"Asal kamu ceraikan istri kamu itu!" jawabnya terdengar sinis.
Nampak sang suami seperti sedang berpikir, apakah Rama akan diberi uang yang 100 juta dan dia tidak susah payah, sebagai Bapaknya untuk mencarinya lagi. Karena untuk saat ini kondisi keuangan dirinya sedang mengalami kebangkrutan, dan selama ini keuangan yang memberi kepadanya adalah Rani.
Tapi permintaan Rani, sungguh diluar dugaan sang suami, bahwa dia suruh cerai dengan istrinya atau Ibunya Rama.
__ADS_1
Bersambung...