
Rama pulang dari Rumah Sakit.
"Setelah memberikan tamparan keras kepada Rani sang Pelakor, kemudian Tante Fani kembali berjalan ke arah ruang pasien untuk menemui Rama, dengan keadaan hatinya hancur karena Bapaknya Rama, dengan tega sudah mengkhianati Kakaknya itu.
Nampak dari raut muka Tante Fani, seperti sedang berpikir keras. Dia tidak tahu harus berkata apa nanti kepada sang Kakak, tentang selingkuhan suaminya itu.
Ternyata selingkuhan yang selama ini dia cari adalah Rani yang menabrak Rama.
Tante Fani menghela napas panjang.
Pikirannya kalut dan rasa amarah masih menghinggapi pikirannya.
Tante Fani pun akhirnya tiba di ruangan dimana Rama sedang di rawat.
Krekkkk...
Pintu terbuka dengan lebar, nampak Rama bersama sang Ibu sedang asik ngobrol.
Tante Fani berusaha tersenyum manis kepada mereka walau dalam hatinya masih menyimpan rasa kesal dan amarah terhadap Rani sang Pelakor.
"Ko, lama Fan, dari mana?" tanya sang Kakak menatap sang adik dengan muka yang terlihat masih menyimpan rasa amarah.
"Maaf, aku tadi bertemu teman SMP. Lalu keasyikan ngobrol sampai lupa waktu," jawabnya berbohong.
"Fan, kata dokter Rama boleh pulang sekarang karena kondisi badannya sudah mulai membaik, bagaimana kalau menurut kamu," ucap sang Kakak.
"Yasudah kita beres-beres dulu," ucap Tante Fani dan pandangannya lekat ke arah Rama.
Mereka pun membereskan semua karena akan pulang. Nampak pandangan Tante Fani mengarah ke sang Kakak yang terlihat akhir-akhir ini seperti tidak ada gairah hidup.
Setelah semua selesai kemudian mereka berlalu dari ruangan tersebut. Nampak Rama di gandeng oleh sang Ibu, sementara sang Tante membawa barang.
Sampai di rumah
Rama langsung merebahkan badannya di kamar, lalu sang Ibu memberikan obat. Ibu pun berlalu meninggalkan Rama yang sedang memejamkan mata.
Nampak terlihat sang Tante, berada di teras rumah sedang melamun memikirkan kejadian yang baru saja terjadi di Rumah Sakit, ketika dia menyerang Rani dengan tamparan keras.
Sang Tante menghela napas panjang, nampak dia tadi belum puas menghantam wanita tersebut.
Ibu menepuk pundak adiknya tersebut, karena dia terlihat sedang melamun.
"Dek, kamu ngelamun ya," ucap sang Kakak.
Sang adik terperanjat tatkala pundaknya di tepuk oleh sang Kakak.
"Kak, aku kaget," ucapnya.
__ADS_1
"Sedang memikirkan apa sih!" sang Kakak terlihat penasaran.
Sang adik menghela napas secara perlahan.
"Aku mau ngomong ke kamu Kak, tapi kakak atur napas dulu dan jangan marah ya," ucap sang adik, menatap ke sang Kakak.
"Mau ngomong apa sih," ucap sang Kakak seperti dihinggapi rasa penasaran.
"Kak, yang sabar ya," ucap Tante Fani.
"Apa sih, Dek. Aku jadi semakin penasaran nih," ucapnya.
"Suamimu, Kak." terdengar parau Tante Fani, ketika berucap dan matanya berkaca-kaca. Dia seakan tidak tega untuk bicara kepada sang Kakak, bahwa suaminya sudah mempunyai istri lagi.
"Ada apa dengan suamiku!" ucap sang Kakak.
Tante Fani membuang napas kasar.
Dia terdiam seakan tidak ingin melanjutkan ucapannya.
"Dek, ada apa dengan suamiku!" ucapnya menatap lekat.
"Ternyata dia sudah menikah lagi, benar dugaan kita," ucapnya lirih dengan pandangan menunduk.
"Apa..!" ucap sang Kakak.
Matanya terbelalak seakan tidak percaya. Dadanya bergemuruh tidak karuan. Pikirannya seperti melayang jauh
"Cobaan apa lagi ini," gumamnya.
"Sabar, Kak," Tante Fani mengusap pundak sang Kakak dan memeluknya.
"Kamu tahu dari mana, suamiku nikah lagi. Dan wanita mana yang berani berselingkuh dengan suamiku selama ini," ucap sang Kakak terdengar pilu ketika berucap dan air mata pun tumpah ruah, di pelupuk matanya menetes ke pipi.
Dia seakan tidak sabar ingin mendengar dari mulut sang adik, siapakah wanita yang berani berbuat selingkuh terhadap sang suami.
"Jawab, siapa?" tanya sang Kakak, menatap lekat kepada sang adik dengan berlinang air mata.
Tante Fani melihat ada air mata yang cukup deras keluar dari sang Kakak. Masalah datang begitu bertubi-tubi menimpa sang Kakak. Tante Fani begitu iba dan kasihan terhadap sang Kakak. Nampak badan sang Kakak pun sekarang kurus dan tidak segar seperti dulu karena banyak pikiran.
Tante Fani seakan ingin mengurungkan niatnya, untuk berbicara masalah suaminya.
Dia takut keadaan sang Kakak, menjadi lebih menambah beban.
"Kak, tapi..." ucap Tante Fani, matanya berkaca-kaca.
"Tapi apa!" sang Kakak terlihat sudah tidak sabar mendengar ucapan dari sang adik
"Tapi jangan emosi ya, tenangkan diri dulu," ucap adiknya tersebut.
"Kamu berbelit-belit!" terlihat sang Kakak kesal kepada sang adik. Di balik rasa kesal tetap ada air mata yang meluncur deras.
__ADS_1
"Wanita itu adalah Rani.." ucap Tante Fani.
"Rani, maksud kamu Rani siapa?" tanya sang Kakak terlihat penasaran.
"Rani, wanita yang menabrak Rama," ucapnya lirih dengan pandangan menunduk.
"Apa...!" sang Kakak terkejut mendengar nama Rani yang menabrak sang anak.
Dadanya bergemuruh tidak karuan nampak muka yang sedih berubah menjadi nampak terlihat kesal dan menyimpan rasa emosi yang teramat.
"Iya, Kak. sabar, sabar..." ucap sang adik, kembali memeluk erat sang Kakak.
Sang adik pun terisak tangis.
"Aku harus bagaimana ini, suami dan anak, sama-sama bikin susah dan cari masalah," ucap sang Kakak.
Nampak Ibunya Rama, bingung dan terlihat stres, karena sang suami telah tega mengkhianati dirinya, lalu sang anak mengkhianati perempuan lain.
Belum juga selesai masalah Rama, kini datang lagi masalah baru yaitu sang suami menikah dengan wanita lain. Dan yang lebih parah wanita tersebut baru saja bertemu dengannya yang tidak lain adalah Rani, yang menabrak anaknya sendiri.
"Kakak kedepannya mau bagaimana, maaf Kak aku tidak mau mencampuri urusan rumah tangga Kakak. Aku juga tidak bisa berbuat apapun. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik saja buat Kakak, apapun itu," ucap sang adik.
"Aku sekarang ingin bertemu dengan wanita Pelakor itu!" ucap sang Kakak.
"Aku tidak tahu Kak, dia rumahnya dimana," ucap sang adik.
Tante Fani seakan mengingat-ingat ketika dia tadi diberikan nomor telepon oleh Rani.
Apakah dia akan menghubungi wanita itu lalu minta bertemu.
"Aku coba telepon saja si Rani, biar kita bisa bertemu bertiga," gumam hati Tante Fani.
Tante Fani hatinya tidak karuan, dia bimbang seakan dirundung masalah.
"Mana nomor telepon si pelakor itu. Aku mau nelpon. Aku mau jambak rambutnya, aku tampar pipinya." ucapnya geram.
Mata sang Kakak melotot menahan emosi dan amarah yang terpendam.
"Sudah Kak, aku sudah tampar pipinya. Dia meringis menahan rasa sakit tadi," ucap Tante Fani.
***
"Ada apa ini,"
Tiba-tiba Rama datang dari dalam rumah.
Bersambung...
__ADS_1