Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab:. 87 Pertemuan Tante Fani


__ADS_3

Sepulang dari rumahnya Bianca, nampak Tante Fani terlihat dihinggapi rasa kecewa terhadap Rama, karena setelah dia lihat ternyata Bianca pribadi yang lembut, baik dan polos. Dalam hati sang Tante berpikir, mengapa dengan teganya Rama berbuat jahat kepada wanita belia itu.


Hati sang Tante pun merasa di remas, entah mengapa. Padahal Rama adalah saudaranya, sedangkan Bianca hanyalah orang lain. Tapi Tante Fani seakan ingin berbuat adil, dia tidak mau membela Rama yang salah.


•••


"Memang si Rama itu kelakuannya seperti Bapaknya, dengan begitu teganya, dia mengkhianati dua wanita sekaligus dan yang lebih parahnya lagi, kedua wanita itu hamil. Miris! Jarak hamil pun tidak terlalu jauh," ucap sang Tante, pandangannya tetap fokus ke depan sambil mengemudikan mobil.


Tuttttt


Tiba-tiba sang Tante rem mendadak, karena ada mobil yang mencoba mendahuluinya, tapi keadaan dia sedang melamun jadi mobil yang di kendarai oleh mobil lain tersenggol.


Sang pengemudi membuka pintu kaca mobil.


Tatkala melihat wanita berparas cantik, walau sudah tidak muda lagi tapi terlhat segar dan menawan, rasa untuk memarahinya seakan dia urungkan.


"Hati-hati ya, kalau nyetir.. Hehehe," lelaki tersebut tersenyum tipis.


Lalu lelaki tersebut memarkirkan mobilnya ke pinggir dan keluar dari dalam mobil.


____


Tante Fani seorang janda muda, status jandanya tidak dia beritahukan kepada sang Kakak dan tetangga, karena baru beberapa bulan. Suami Tante Fani kabur entah kemana, jadi Tante Fani menggugat lelaki brengsek itu yang berselingkuh darinya.


Tante Fani pandai menyembunyikan status jandanya, dia seakan nggak mau mengecewakan sang Kakak, karena sang Kakak sekarang sedang banyak pikiran, sama halnya seperti dengan dia dikhianati oleh seorang lelaki.


Jika sang Kakak mengetahui bahwa adiknya sama seperti dia, sudah bercerai. Mungkin sang Kakak merasa terluka, karena sama-sama dikhianati oleh lelaki brengsek.


Biarlah sang Tante yang menyimpan rasa luka dan sakit hatinya sendiri. Rasa kecewa, kesal, marah campur aduk menjadi satu kepada sang suami. Mungkin rasa semua itu seakan dia rasakan. (Bagaimana rasanya jika Amel dan Bianca berada di posisi dia).


___


Tante Fani pun memarkirkan mobilnya kearah pinggir, dan memberanikan diri membuka pintu mobil, lalu dia keluar dari dalam mobil tersebut.


Nampak terlihat lelaki yang mengendarai mobil tersebut keluar seperti sedang melihat mobilnya ada yang terkena goresan.


••••


"Maaf, kalau ada yang tergores mobilnya, dan ini kartu nama saya," ucap Tante Fani menyerahkan kartu nama kepada sang lelaki tersebut. Tante Fani berlalu dari hadapan lelaki tersebut.


"Hai, tunggu.." ucap sang lelaki tersebut.


Degh..


Jantung Tante Fani tiba-tiba berdetak lebih kencang seakan tidak beraturan, karena lelaki tersebut memanggilnya kembali.


Dalam pikirannya dihantui rasa takut.


Takut jika lelaki tersebut marah dan mencaci makinya karena keteledoran dia.


Padahal dia sedang buru-buru di tunggu oleh Rama untuk bertemu dengan rekan bisnisnya, sore ini di sebuah Kafe.


Tante Fani kemudian membalikkan badannya, dengan rasa campur aduk, peluh bercucuran.


Pandangan Tante Fani menunduk dan terlihat merah merona mukanya.


"Nama kamu Fani ya?" tanya lelaki tersebut sambil menatap kartu nama yang tadi diberikan oleh Tante Fani.


Tante Fani menganggukkan kepalanya. dan tersenyum ramah. Dia mencoba tersenyum agar lelaki tersebut tidak marah


"Iya, saya Fani," jawabnya.


"Ya, sudah, nanti saya bawa ke bengkel mobilnya," ucap sang lelaki tersebut.


Dalam hati Tante dihinggapi rasa heran, karena mobil lelaki tersebut tidak tergores.


Tapi Tante Fani, tidak memperdulikan hal tersebut, karena dia di kejar waktu mau bertemu Rama beserta kliennya di sebuah Kafe.


"Mas, maaf ya, saya sedang terburu-buru mau ketemu klien," ucapnya. Tante Fani pun berlalu dari hadapan lelaki tersebut.


•••


Setelan memasuki mobil nampak terlihat oleh sang Tante, lelaki tersebut sedang lekat menatap Tante Fani.


Terlihat sang Tante salah tingkah karena tidak bisa dipungkiri sosok lelaki yang tengah berada di hadapannya itu, lelaki yang tampan dan terlihat dari penampilannya, dia seperti orang berada.

__ADS_1


Tiittt.....Tiittt


Sang Tante membunyikan klakson beberapa kali ke hadapan mobil lelaki tersebut, lalu melambaikan tangannya, tidak lupa dia kembali tersenyum degan renyah.


__________


"Cantik dan anggun wanita itu, aku akan menghubungi nanti dan mengajak dia makan malam," ucap lelaki tersebut.


Dia menatap mobilnya yang mulus tidak tergores sedikitpun, dia berpikir dalam hatinya, padahal jika dibawa ke bengkel keadaan mobilnya nggak apa-apa, karena masih terlihat mulus, tapi lelaki tersebut hanya basa-basi saja, tatkala melihat sosok wanita cantik dan anggun tengah berada di hadapannya tadi.


Lelaki tersebut lalu melirik kartu nama yang diberikan oleh Tante Fani, dia tersenyum lebar dan memasukkan kartu nama tersebut kedalam dompetnya.


Kemudian lelaki tersebut memasuki mobilnya, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan perlahan, sambil mendengarkan musik yang terdengar dari dalam mobil tersebut.


Bayangan wajah wanita yang baru saja dia lihat kian menggelayuti pikirannya dan hatinya. Dia seakan tidak karuan, entah mengapa, itulah yang dirasakan oleh lelaki tersebut.


_____________


Ting..


Tiba-tiba pesan muncul dari ponsel milik Tante Fani, nampak terlihat yang memberikan pesan adalah Rama. Dia mengabarkan sudah berada di Kafe sekitar sejam yang lalu.


{"Maafkan Tante, karena Tante barusan ada urusan dan setelah itu, Tante tiba-tiba menyerempet mobil, jadi Tante berurusan dulu dengan pengendara mobil tersebut,"} tulis pesan dari Tante Fani.


Pesan tersebut membuat hati Rama terkejut dan khawatir dengan keadaan sang Tante.


{"Tante, sekarang posisi dimana, nggak apa-apa kan? Atau Rama nyusul ke sana ya,"} balas Rama. Nampak terlihat jelas Rama, dihinggapi rasa khawatir.


{"Tante, nggak apa-apa, kamu jangan kesini. Bentar lagi Tante Nyampe ke sana,"} balas sang Tante, seakan mencoba menenangkan hati Rama, yang sangat mengkhawatirkan keadaannya.


Setengah jam kemudian.


Mobil pun tiba di tempat yang dituju, Tante Fani keluar dari mobilnya, kemudian dia memasuki Kafe tersebut dan matanya berselancar mengelilingi tiap sudut ruangan



"Tante Fani!"



Tiba-tiba Rama memanggilnya dari tangga Kafe, sang Tante pun melirik ke arah suara tersebut.



Sambil berlalu menaiki tangga.



Tante Fani pun menyeret kakinya menuju arah tangga, lalu dia menaiki atas tangga. Dan setelah berada di lantai dua, nampak Rama sedang duduk dan meminum jus jeruk.


•••••


Tiba di lantai dua.


"Maaf ya, Rama, tadi ada sedikit tragedi," ucap sang Tante.



"Tapi Tante, nggak apa-apa kan?" nampak Rama terlihat khawatir terhadap Tantenya tersebut.



"Nggak apa-apa," jawabnya.



"Rama, barusan sudah menghubungi relasi bisnis kita, katanya sebentar lagi dia datang," ucap Rama.



"Tante mau ke toilet ya, bentar," ucap sang Tante, dia pun berlalu dari hadapan Rama menuju toilet.


\_\_\_\_


__ADS_1


"Halo, Rama ya?" ucap seseorang yang datang, dia tersenyum ramah kemudian bersalaman dengan tamu tersebut.



"Akhirnya bisa bertemu dengan Bapak," ucap Rama dia pun membalas senyuman ramah dari lelaki tersebut.



Mereka nampak asik ngobrol menunggu kedatangan Tante Fani, sebelum pembicaraan ke hal yang lebih serius.



"Nah, itu sudah datang Tantenya," ucap Rama.


Tersenyum lebar.


Sementara lelaki tersebut posisi duduknya membelakangi Tante Fani.



"Tante, ini loh, rekan bisnis kita," ucap Rama.


Mencoba memperkenalkan lelaki rekan bisnisnya kepada Tante Rani.



Sontak lelaki tersebut menengok ke arah belakang, dan mengulurkan tangannya.


"Rangga," spontan lelaki itu mendongakkan pandangannya.



Tante Fani dan Rangga saling bertatapan, kedua bola mata Rangga, lekat ke bola mata lelaki tersebut. Tante Rani dan Rangga nampak terkejut, karena baru saja mereka bertemu.



"Begitu indah bola mata wanita ini, sangat teduh," gumam Rangga terlihat kagum.



"Fani.." ucapnya lirih.



"Kamu, lelaki yang barusan aku serempet kan mobilnya," Tante Fani seakan sedang bermimpi dengan keadaan tersebut.



"Iy-iya.." jawab Rangga terbata-bata ketika berucap. Dia seolah terpesona dengan sosok Fani yang ada di hadapannya.



"Ternyata dunia sempit ya," ucap Tante Fani. Dia pun duduk di sebelah Rama.


Rangga tersenyum, seakan tersipu malu.


Pandangan Rangga masih lekat ke arah Rani, yang posisi duduknya berhadapan dengannya.


Satu jam sudah mereka ngobrol.


Nampak Rani terlihat pintar ketika berbicara masalah bisnis yang akan mereka jalani, Rangga terlihat kagum.


"Jadi kita buka Kafenya di daerah Bandung?" tanya Rama, menatap lekat ke wajah Rangga.


"Iya, di Bandung buka Kafe nya, prospeknya akan lebih bagus," jawab Rangga.


"Ya, lusa atau minggu depan, nanti kita survei! Yang paling penting kita lihat situasi atau keadaan sekitar Ramai tidak. Tapi kalau tempatnya di pusat strategis dekat kampus, dan banyak kost-kostan kayaknya peluang bisnis kita ke depan akan lebih bagus," ucap Tante Rani, matanya melirik Rama, kemudian pandangannya mengarah ke Rangga, yang nampak gagal fokus dengan kepintaran Rani ketika berbicara masalah bisnisnya.


•••


"Wanita ini sangat beda dengan mantanku yaitu Rani. Andai saja aku bisa memiliki wanita ini, mungkin aku akan bangga dan nanti mantanku pasti hatinya akan panas terbakar api cemburu, karena Fani lebih dari Rani. Dia wanita cerdas dan juga lebih cantik dari Rani. Dan yang terpenting adalah aku bisa mendapatkan wanita lebih muda sementara dia, memilih lelaki tua dan miskin!" gumam hati Rangga tersenyum puas.


•••


Sang Tante seakan tersipu malu dan gugup ketika Rangga terus menerus menatapnya. Tante Fani seakan tahu, isi hati Rangga, bahwa Rangga sedang menaruh hati padanya.

__ADS_1


"Kalau saja terjerat dia sama aku, mungkin usahaku akan lancar, dan nampak terlihat dia lelaki tajir!" Tante Fani menatap Rangga.


Bersambung...


__ADS_2