
Di teras rumah.
"Kenapa pandangan kamu menatap seperti itu kepada Papa!?" tanya sang Papa dihinggapi rasa heran kepada Bianca karena pandangan sang anak terlihat sinis tidak seperti biasanya.
Nampak Bianca menghela napas panjang.
"Aku mau nanya sama Papa, tapi jawab jujur," tanya Bianca dengan pandangan tidak menatap sang Papa, tapi ke arah pepohonan yang berada di halaman rumah.
"Tanya saja Nak, silakan. Semoga Papa bisa jawab," ucap sang Papa tersenyum.
"Apa benar Papa menikah lagi, tapi sekarang sudah putus dengan wanita itu!? Nah, yang Jadi pertanyaan Bianca adalah siapakah wanita itu sampai bisa merebut hati Papa. Setahu Bianca, Papa orangnya tidak mudah jatuh cinta dan setia terhadap Mama tapi kenyataannya tidak demikian Papa mengkhianati dan melukai hati Mama." ucap Bianca nampak terdengar kecewa ketika berucap demikian.
Degh
Nampak Papanya Bianca terkejut tatkala sang anak berucap bahwa dia sudah mengetahui sang Papa telah menikah.
"Sudahlah Nak, itu masa lalu Papa yang penting sekarang Papa sudah tidak ada hubungan lagi dengan wanita itu!" ucap sang Papa, dadanya bergemuruh.
"Sebenarnya aku kecewa dan kesal tapi aku pendam dalam hati tidak seperti kakak Tyanca, yang mengungkapkan kekesalannya dan kemarahannya. Sehingga dia tidak ada komunikasi dengan Mama apalagi Papa. Jujur hatiku sekarang tidak tenang tatkala mendengar masalah seperti ini," ucap Bianca.
Dia mencoba menahan amarah agar tidak tersulut emosi.
_____
Nampak Bianca membuang napas kasar dan menahan sesak dalam dada kemudian dia kembali berucap.
"Dan Bianca pun ingin menemui Ibu Azizah untuk menceritakan masalah yang tengah dihadapi sekarang, agar pikiran Bianca tenang setelah menemui Bu Azizah. Bianca yakin jika Bianca udah bicara dengan Bu Azizah perasaan Bianca akan lebih tenang,'"
ucapnya terdengar penuh harap.
•••
Terasa bergemuruh dada sang Papa dengan ucapan Bianca karena dia ingin bertemu dengan Azizah, padahal Azizah lah wanita yang kemarin menjadi istri keduanya.
"Lebih baik kamu jangan temui Ibu Azizah!" sang Papa dengan cepat melarang Bianca untuk bertemu dengan Azizah mantan istrinya itu.
"Loh kenapa Pah, bukannya Papa yang mengenalkan Bianca ke Bu Azizah? kenapa sekarang Papa yang melarang Bianca untuk bertemu dengan Azizah. Bukannya Bu Azizah guru spiritual Bianca yang selalu menenangkan pikiran Bianca. Nah sekarang pikiran Bianca lagi kesal terhadap Papa. Pokoknya Bianca mau nginap di rumah Bu Azizah ingin menenangkan pikiran di yayasan sana," ucap Bianca terlihat dihinggapi rasa penasaran karena sang Papa melarangnya untuk bertemu dengan Azizah, guru spiritualnya yang teramat dia kagumi dan sayangi.
____
Sang Papa kembali menghela napas panjang.
__ADS_1
Tiba-tiba sang Papa menggenggam erat jemari tangan Bianca dan matanya berkaca-kaca.
"Maafkan Papa ya, Papa mungkin sudah menyakiti hati kamu," ucap sang Papa.
"Aku sudah memaafkan Pah, tapi mungkin agak sedikit kecewa. Papa minta maaf saja sama Mama," ucap Bianca dengan pandangan tidak mau menatap sang Papa.
"Maksud Papa bukan itu,,, tapi, Bu Azizah,,!" sang Papa seakan tidak bisa meneruskan ucapannya. hanya ucapannya yang terdengar serak dan terbata-bata.
Bianca pun seakan dihinggapi rasa penasaran terhadap sang Papa tersebut.
"Ada apa dengan Bu Azizah Pah!?" tanya sang anak menatap kepada sang Papa.
"Istri muda Papa, adalah Azizah!"
jawab sang Papa, dengan memegang jemari sang anak lebih erat mungkin sang Papa sudah mengira bahwa Bianca akan marah terhadapnya.
degh..
"Kepala Bianca terasa berat dan pusing, jantungnya berasa di remas. Dia seakan tak kuasa mendengar sang Papa berucap, bahwa istri kedua dari sang Papa adalah Bu Azizah."
____
Sontak Bianca melepaskan genggaman sang Papa dengan pandangan matanya menyorot tajam ke arah mata sang Papa.
Meskipun Bianca wanita tapi karena dihinggapi rasa amarah dan kesal, dia pun mampu melawan sang Papa yang sedang berusaha ingin memeluknya. Pelukan sang sia-sia saja karena dilawan oleh sang anak.
Bianca pun lari ke dalam rumah.
Nampak sang Papa badannya terasa lemah lunglai, dia pun menghempaskan badannya dengan kasar ke lantai. Di remas rambutnya dengan kasar bayangan Azizah, Mama Astri, anak-anak kian hinggap nyata di pikirannya.
Dia pun sesenggukan menangis.
•••
Tiba--tiba sang istri datang.
"Pah,,kenapa!?" teriak sang istri yang tiba-tiba datang dari arah luar dengan menggendong anaknya Bianca.
"Bu,,aku salah, maafkan aku," ucapnya histeris. Dan sang Ibu pun dihinggapi rasa penasaran yang teramat dalam dengan sang suami yang terlihat begitu sedih dan tertekan ketika menangis.
"Sebenarnya ada apa Pah!?" tanya sang istri.
__ADS_1
"Bianca udah mengetahui semuanya Mah, tentang aku yang sudah menikah lagi dengan Azizah, kayaknya hatinya merasa terpukul," ucapnya sesenggukan menangis.
_____
Sang istri hanya menatap lekat kepada sang suami, dia pun berlalu dari hadapan suaminya tersebut, dan langsung menghampiri Bianca yang sedang berada dalam kamar.
Tok..Tok..Tok..
"Nak, buka Nak, ini Mama!" ucap sang Mama.
Pintu di ketuk beberapa kali oleh sang Mama namun tidak dibuka juga oleh Bianca yang sedang menangis tersedu.
____
Setengah jam kemudian.
"Mah, sini anaknya," ucap Bianca menatap lekat kepada sang anak yang baru saja keluar dari dalam kamar.
"Ayo,,, Sayang, kita pergi, ganti bajunya ya!" ucap Bianca tersenyum manis kepada sang anak, meskipun hatinya sedang pilu.
"Mau kemana Nak, kamu mau bawa kemana anakmu!?" tanya sang Mama menatap lekat ke arah Bianca yang sedang menggantikan dan memakaikan baju tersebut kepada anaknya yang sedang tersenyum kepadanya.
"Mau pergi nenangin pikiran dulu Mah, dan Mama jangan khawatir!" jawab Bianca.
•••
Sang Mama nampak mengkhawatirkan Bianca. "Nak, jangan pergi, kamu mau kemana!? Pokoknya kamu diam di rumah jangan kemana-mana!" ucap kembali sang Mama dengan dihinggapi wajah yang begitu khawatir karena sang anak mau pergi.
Apalagi sang Mama melihat tas yang akan dibawa Bianca begitu besar, sang Mama pun pikirannya melayang jauh takut Bianca pergi meninggalkannya jauh.
"Pokoknya kamu jangan pergi Nak, kalau kamu mau pergi sendiri saja jangan bawa cucu Mama!" ucapnya.
"Mah,, Bianca hanya mau nenangin pikiran diri dulu ya,, mohon Mama jangan halangi Bianca, tenang Bianca bisa jaga diri!" jawabnya.
Sang Mama tambah sedih ketika mendengar sang anak berucap seperti itu.
"Nak, Mama mohon, jangan pergi. Kamu mau kemana!?" sang Mama merengek seakan tidak ikhlas jika sang anak pergi.
"Sudah, Mah, jangan menangis dan sedih. Bianca hanya ingin nenangin diri dulu!" jawabnya.
"Oke,,,boleh, kamu pergi! Tapi anakmu jangan kamu bawa!" sang Mama menatap Bianca dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
Bersambung...