
Tyanca masuk ke dalam rumah dengan napas masih tersengal. Nampak jelas terlihat dari raut mukanya menyimpan rasa kesal yang menyelimuti hamparan wajahnya.
"Mih, ada apa?" tanya Gerry sang suami tatkala mendengar suara pintu yang terbanting begitu jelas terdengar sangat keras.
Tyanca menghempaskan badannya di atas kursi sofa mukanya menekuk, tatapannya lekat ke layar Televisi tapi terlihat kosong.
Gerry semakin heran dibuatnya melihat tingkah sang istri tersebut yang terlihat aneh.
"Mih, kenapa, kamu kesal? tadi ada tamu siapa sih, sampai kamu marah gak jelas!"
ucap Gerry sambil mengucek matanya karena dia terbangun dari tidur ketika mendengar suara pintu yang tertutup dengan sangat keras.
"Pah, kamu mau tahu, siapa yang datang barusan!" ucapnya terlihat masih dengan dada yang masih bergemuruh dan merasa kesal.
"Mana aku tahu, baru saja bangun," ucap Gerry, seakan malas untuk menerka-nerka.
"Istrinya si Rama!" ucapnya dengan sewot.
"Rama! Rama mantannya Bianca? Loh, ko' bisa dia kesini, mau apa?" tanya Gerry terlihat penasaran.
" Iya si Rama itu, siapa lagi! Dia mau belanja ke warung, aku jadi kesal Pih, ku usir dia secara halus," Tyanca terlihat masih menahan emosi dan amarah.
Dia dihinggapi rasa kesal kepada Rama dan keluarganya, waktu dulu yang berucap mau menikah bulan depan dengan wanita lain.
Jadi tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya Bianca.
"Kenapa kamu usir Mih, dia nggak tahu apa-apa loh, siapa tahu dia juga korban seperti Bianca," bela sang suami.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Teringat saat itu Tyanca sedang di buli oleh teman-temannya dan yang membela adalah sosok Amel, padahal Amel adalah adik kelasnya. Begitu mulya hati Amel dengan rela mau menolongnya padahal dia saat itu tidak kenal Amel, hanya satu sekolah saja.
"Iya juga, tapi entah mengapa aku kesal sama si Rama, kesal juga kepada Amel dan anaknya. Apalagi pas tadi lihat muka anaknya mirip sekali mukanya, dengan muka si Rama," gumam hati Tyanca.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
"Ya,sudah. Ayo kita pergi Mih, Aku mandi dulu ya, mungkin keluarga sudah nunggu di tempat rekreasi," ucap Gerry.
"Kayaknya aku mengurungkan niat untuk pergi Pih, kepalaku pusing," ucap Tyanca
"Kamu tuh, ya. selalu menyimpan rasa dendam dan cepat tersulut emosi. Udah lupakan saja kejadian barusan," ucap Gerry. Dia pun berlalu dari hadapan istrinya itu.
"Kenapa rasa kesal selalu menghujani hati ini, aku tidak bisa menahan emosi," ucapnya Tyanca lirih.
__ADS_1
Setelah selesai mandi Gerry mengajak Tyanca, cepat ganti baju karena mau menyusul keluarganya yang sudah tiba. terlebih dahulu di tempat rekreasi.
"Aku males Pih," dia masih tetap rebahan dan melamun di kursi sofa.
"Ayo, lah, jangan kayak anak kecil Mih, nggak enak sama Papa dan Mama, Mischa anak kita dibawa kan, sama mereka," ucap Gerry mencoba meyakinkan sang istri.
Akhirnya Tyanca pun mengikuti kemauan sang suami. Dia berlalu ke kamar untuk siap-siap ganti baju.
•••••
Setelah selesai ganti baju, lalu mereka memasuki mobil untuk menuju tempat rekreasi. Di dalam mobil nampak Tyanca tidak berucap sedikitpun.
"Pasti kamu lagi mikirin istrinya si Rama lagi," Gerry menatap sang istri sambil mengemudikan mobilnya.
Tyanca hanya diam tidak berucap satu kata pun, dia seakan malas jika berdebat kembali membahas Rama.
Setengah jam kemudian mobil pun berhenti dan telah sampai di tempat tujuan.
Tyanca dan Gerry turun dari dalam mobil kemudian dia berjalan menuju tempat dimana keluarganya berada.
Sang Mama sudah memberi tahu keberadaannya sedang dimana, jadi Tyanca tak perlu banyak waktu untuk mencari keberadaan keluarganya.
•••
Setelah sampai di tempat tujuan, Mischa sang anak langsung memeluk Maminya.
"Papi, baru bangun," jawab Tyanca mengecup lembut sang anak..
•••
Keluarga dari Tate Astrid sedang ke tempat kolam renang, sedangkan Papa sedang bersama kedua Cucunya di tempat kolam renang lain. Karena ada beberapa tempat kolam disana.
Sedangkan Gerry terlihat sedang menasehati Bianca begitu serius.
Mama Astri dan Tyanca sedang duduk di penyewaan Bale-bale (Tempat beristirahat terbuat dari bahan kayu)
"Mah," ucap Tyanca.
Sang Mama melirik anaknya tersebut.
"Iya, Nak, kenapa," jawab sang Mama.
"Aku mau nanya, Amel sering ke warung Mama ya?" tanyanya terlihat kesal.
"Amel.....Oh, yang suka bawa bayi ke warung, kenapa, tadi dia belanja ya, ke warung," ucap Mama tertawa terkekeh. "Anak itu belanja tiap hari, anaknya asik dan sopan sekali," sambung Mama kembali.
"Tahu gak suaminya siapa?" ucapnya sinis.
__ADS_1
Mama menggelengkan kepalanya.
Mama dihinggapi rasa penasaran karena anaknya seakan menyimpan beribu tanya, terlihat dari raut mukanya menyimpan rasa kesal yang teramat.
"Memangnya siapa, Nak?" tanya sang Mama menatap tajam.
"Rama! si Rama, mantan dari Bianca," Tyanca pandangannya kini mengarah ke Bianca yang tengah asik ngobrol dengan Gerry.
Sontak kedua mata Mama membulat, Mama seakan tidak percaya apa yang baru saja di dengarnya.
"Masa sih, Kak," ucap Mama.
"Iya, Mah, tadi aku usir secara halus si Amel," ucapnya dengan lirikan mata mendelik.
"Kenapa Kak, dia wanita baik. kamu cari masalah," ucap sang Mama.
Mama menghela napas secara perlahan.
"Kita nggak tahu kan, siapa tahu dia juga korban sama seperti Bianca," sambung lagi sang Mama seakan membela Amel.
Mama seakan tahu sifat dari Amel seperti apa. "Pantesan kalau Amel di tanya suaminya dia hanya diam tidak banyak kata," gumam hati sang Mama.
"Nggak tahu ah, Mah, pokoknya Tyanca nggak suka, dulu Bianca pas mau nikah kan di ulur-ulur karena alasan wanita itu dan Bapaknya si Rama, tidak percaya kehamilan Bianca oleh anaknya," ucap Tyanca.
"Terus apa hubungannya Kak," ucap sang Mama.
"Berarti keluarga si Rama lebih membela si Amel dari pada Bianca," ucapnya.
"Amel mungkin di cukupkan kehidupannya oleh keluarga si Rama sedangkan Bianca, mana!" sambung lagi Tyanca semakin kesal nampak terlihat ketika membuka lagi luka lama yang tertoreh kepada sang adik.
"Oh, jadi kamu cemburu? gini saja logika kalau di cukupkan mana mungkin belanja ke warung Mama dan pas-pasan loh, Kak. Kadang Mama juga suka kasian Mama suka kasih sayuran ke Amel." bela lagi sang Mama.
Tyanca hanya terdiam mendengar pembelaan dari sang Mama terhadap Amel.
Tyanca kemudian berlalu dari hadapan sang Mama, kemudian dia duduk di pinggir sang suami.
"Anak itu wataknya keras, kadang jutek. Kalau besok Amel ke warung lagi aku harus minta maaf, siapa tahu ada kata-kata kurang enak yang di ucapkan oleh anakku Tyanca,' ucap sang Mama.
Mama kembali mengenang kejadian kemarin saat Amel mengucap kata Rama.
"Ya, dia mengucapkan nama Rama, mungkin dia teringat suaminya, sekarang aku yakin suaminya tidak ada dan dia ingat suaminya. Tapi entahlah, aku nggak mau menebak-nebak takut salah. Mending aku cari tahu dari Amel, keberadaan si Rama, Bapaknya dari si Neng sekarang dimana." gumam hati sang Mama.
Mama Astri bukannya mau minta pertanggung jawaban kepada Rama, atau ingin tahu keberadaan Rama terhadap Amel. Namun Mama Astri hanya ingin tahu saja kondisi Rama saat ini seperti apa setelah mencampakkan hati anaknya itu.
Mama Astri sudah tidak mau peduli dengan sosok Rama, namun hati Ibu manapun pasti selalu teringat karena adanya keterkaitan darah dengan Rama dari anaknya Bianca. Apalagi anaknya Bianca seorang perempuan.
__ADS_1
Bersambung...