Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab; 139 Tyanca tersenyum puas


__ADS_3

Keesokan harinya Tante Fani datang dengan membawa anaknya Bianca.


"Sayang, gimana kabarnya sehat," ucap sang Nenek atau Mama dari Bianca tersenyum manis kepada anaknya Bianca yang tiba-tiba datang. Terlihat anaknya Bianca nampak senang ketika baru datang, dia menampakkan wajah senangnya tatkala sudah bertemu keluarga dari Papanya atau Rama.


Tapi nampak disana Tante Fani wajahnya terlihat lemas dan seperti dihinggapi rasa sedih. Mamanya Bianca pun dihinggapi rasa penasaran. "Ayo,,,masuk dulu!" ucap sang Mama ketika mendapati Tante hanya mematung diam di di depan pintu.


"Di teras saja, adem," jawabnya.


Setelah Tante Fani duduk lalu Tante Fani menghela napas secara perlahan, lalu dia menceritakan apa yang terjadi dengan Rama.


"Rama mengalami kecelakaan yang serius, dan dia sekarang berada di Rumah Sakit," ucapnya lirih.


Sontak sang Mama dihinggapi rasa terkejut kemudian dia memanggil Bianca yang tengah berada di dalam kamar.


_____


Tak butuh waktu lama Bianca pun keluar dari dalam kamar, dan mukanya nampak sumringah tatkala melihat sang anak dalam keadaan kondisi sehat.


"Kenapa Tan?" tanya Bianca tatkala melihat sang tante matanya berkaca-kaca.


"Rama, katanya kecelakaan kondisinya sangat kritis," ucap sang Mama.


Bianca pun dihinggapi rasa terkejut tatkala mendengar kabar tersebut.


"Semalam dia tabrakan dan mobil yang dipakai oleh dia rusak parah, maaf semalam Tante lupa mengabari, dan anaknya Rama Tante titip dulu ke ART dan untungnya dia tidak rewel." ucap sang Tante.


"Maafkan kesalahan Rama ya, takut banyak salah sama kamu, dan ini mengakibatkan Rama jadi melamun karena tidak ada maaf dari mantan istri. Mungkin juga dia dihinggapi perasaan bersalah jadi yang dilakukan dia selama ini hanya melamun dan menyesali dirinya yang sudah menelantarkan kamu. Baru juga dia beberapa hari menikmati kedekatannya bersama anak, dia malah mengalami kecelakaan sungguh ini di luar dugaan." ucap Tante Fani pandangan matanya menunduk dan terisak tangis.


"Kondisi Rama memang saat ini seperti apa Tan?" tanya Bianca


"Kemungkinan dia lumpuh kata Dokter, karena di bagian kaki mengalami cedera yang begitu serius." jawab Tante Fani.


Nampak mereka pun tidak bergeming sedikitpun, entah sedang memikirkan apa di diri mereka masing-masing.


••


Tante Fani pun pamit berlalu dari rumah Bianca, dia pun langsung menuju Rumah Sakit untuk melihat keadaan Rama kembali.

__ADS_1


_______


"Doakan saja yang terbaik buat Rama, memang kita sudah tidak ada hubungan lagi dengannya tapi dia adalah Papanya anakmu," ucap sang Mama dengan menatap lekat kepada sang cucu.


Drett...Drett...Drett..


Tiba-tiba terdengar bunyi suara telepon terdengar dari ponsel milik Mama Astri. {"Assalamu'alaikum, Mah,, kayaknya Tyanca minggu depan kembali datang ke rumah Mama karena Amel akan menikah. Oh, iya Mah, Bianca cerita tidak masalah Papa, kan Kakak sudah cerita sama Bianca tentang masalah Papa, bahwa Papa sudah menikah lagi, gimana Mah, dia marah enggak!?"} tanya Tyanca.


Mama Astri hanya terdiam seakan tidak mau menjawab pertanyaan dari anaknya tersebut yang selalu mempengaruhi sang adik agar emosi dan tidak mau memaafkan.


{"Mah,,,kenapa sih, diam saja!"} ucapnya.


{"Enggak apa-apa, Bianca cuma sedikit kecewa saja kalau marah tidak!"} ucap sang Mama secara perlahan karena nampak dipinggir ada Bianca sedang duduk sambil menggendong sang anak.


{"Sepertinya anaknya Bianca sudah datang ya?"} tanya Tyanca.


Suara anaknya Bianca terdengar tertawa lepas dan ini mengakibatkan rasa tanya dari Tyanca kepada sang Mama.


{"Iya, barusan diantarkan sama Tante Fani, dan dia mengabarkan bahwa Rama masuk rumah sakit karena kecelakaan dan katanya kondisi keadaannya sedang kritis,"} ucap sang Mama.


Sontak Tyanca tertawa lepas tatkala mendengar kabar dari sang Mama bahwa Rama kecelakaan, dan sekarang berada di Rumah Sakit dengan keadaan kritis.


Sang Mama berpikir Tyanca tertawa lepas tatkala mendengar kabar Rama tabrakan, dan sekarang kritis berada di Rumah sakit. Mungkin dia dihinggapi rasa senang karena dari dulu Tyanca tidak suka dengan sosok Rama dan dia selalu berharap Rama mendapatkan rasa sakit yang setimpal sama seperti yang dirasakan oleh adiknya tersebut.


{"Aku senang mendengar kabar berita Rama dan kondisi keadaannya kritis,"} ucapnya dengan tertawa lepas kembali.


{"Kamu aneh Nak, sifat dan kelakuanmu tidak berubah kamu pendendam orangnya, kamu tidak ikhlas. Mungkin dulu Rama berdosa tapi dia kan sekarang sudah insaf, terbukti dengan mau mengurus anaknya walau beberapa hari dan pada akhirnya dia mengalami kecelakaan,"} ucap sang Mama.


{"Terserah Mama mau bilang apa, pokoknya aku puas mendengarnya,"} ucapnya.


{"Ya, sudah Nak, Mama mau istirahat dulu. kepala Mama pusing,"} ucap sang Mama.


Mama pun menutup sambungan teleponnya karena Mama berpikir Tyanca jika berbicara selalu dihinggapi rasa emosi tidak dengan kepala dingin.


___


Nampak sang Mama membuang napas kasar.

__ADS_1


"Cobaan begitu bertubi-tubi," gumam hati sang Mama sambil melihat sang cucu yang nampak senang ketika bertemu dengan Bianca sama Mama.


"Telepon dari siapa mah!?" tanya Bianca


"Dari kakakmu, dia mengabarkan katanya Amel akan menikah minggu depan jadi dia nanti ke sini lagi untuk melihat resepsi pernikahan Amel." jawab sang Mama.


"Amel, mau menikah calon laki-lakinya siapa?" tanya Bianca dia pun sudah mengira pasti Kang Burhan.


"Mama tidak tahu karena Mama tidak menanyakan kepada Tyanca secara detail, Mama pusing mau istirahat," ucap sang Mama. Kemudian sang Mama pun pamit berlalu dari hadapan Bianca menuju kamar.


"Mungkinkah calon Amel adalah Kang Burhan!? Siapapun jodoh Amel semoga dia yang terbaik dan bisa membahagiakan Amel dan anaknya," ucap Bianca.


_____


Nampaknya dalam diri Bianca tidak dihinggapi rasa cemburu dan emosi seperti dahulu nampak dia sudah ikhlas melepaskan Kang Burhan yang dulu pernah dia bayangkan untuk menjadi kekasihnya.


"Apapun yang terjadi kedepannya, aku harus ikhlas menerima cobaan yang aku hadapi selama ini, Mungkin semua ini pembelajaran biar aku lebih dewasa dan lebih hati-hati untuk menata hidup," gumam hati Bianca dia ingin menata hidupnya lebih baik tanpa memikirkan laki-laki.


______


Drett...Drett..Drett...


Tiba-tiba telepon berbunyi nampak Tyanca menelepon kembali. Sepertinya dia tidak puas tadi ketika menelpon kepada sang Mama karena sebentar. Jadi dia menelepon lagi kepada Bianca untuk membicarakan kembali Papanya tersebut.


{"Dek, Amel akan menikah minggu depan, kamu datang ya, nanti temani Kakak ke acara pernikahan dia dengan Kang Burhan,"} ucap Tyanca sang Kakak.


{"Syukurlah Kang Burhan adalah lelaki yang terbaik yang di pilih oleh Allah untuk Amel, karena Amel juga wanita yang baik, semoga mereka bahagia sampai nanti tiba hari -H-. Aamiin,,"} jawab Bianca kepada sang Kakak.


{"Dek, Kakak mau ngenalin kamu ke laki-laki temannya Kak Gerry kayaknya dia cocok untukmu,"} ucap sang Kakak.


{"Jangan,,Kak, lebih baik aku fokus usaha dan anak, aku ingin membanggakan kedua orang tuaku agar mereka gembira, dan ingin mengajak jalan-jalan mereka dengan uang jerih payahku,} ucapnya kembali.


{"Kamu cukup membuat hati Mama saja gembira kalau Papa jangan, karena Papa sudah menyakiti hati Mama dan Kita."} ucap Tyanca. Terdengar Tyanca saat berbicara begitu dihinggapi emosi dan seakan dia tidak mau menerima kata maaf yang sudah disampaikan oleh sang Mama.


_____


Mendengar sang kakak yang mempengaruhi dirinya agar bersikap kesal dan marah kepada sang Papa, dan seakan menyalahkan terus. Bianca hanya mengelus dada.

__ADS_1


"Biarkan aku dengan caraku sendiri untuk membuat sang Papa menjadi malu dan berpikir." gumam hati Bianca tersenyum tipis.


Bersambung...


__ADS_2