Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab 47 Amel panik.


__ADS_3

Amel terlihat panik.


Malam itu hujan sangat deras.


Nampak Amel sedang menggendong sang Bayi, dan kedua orang tua Amel, sedang pergi dan belum datang.


Amel nampak panik karena sang Bayi, terus menerus menangis meskipun sudah diberi susu formula, badan sang Bayi panas.


"Kenapa sih, sudah dikasih susu juga. Kamu jangan nangis!" Amel terlihat kesal dan capek.


Amel terus menerus menggerutu kepada sang Bayi.


Suara hujan pun seakan mengalahkan suara tangisan bayi yang terdengar nyaring bunyinya.


Satu jam kemudian.


"Amel..kenapa Bayimu!" tiba-tiba Ibu datang dengan baju yang basah dan nampak panik, ketika melihat sang bayi merengek nangis.



"Nggak tahu, nangiss Bu, aku capek!" ucap Amel dengan entengnya dia berucap.



"Bentar, bentar, Ibu mau ganti baju dulu. Terdengar loh, keluar suara tangisan Bayimu," ucap sang Ibu. Kemudian sang Ibu berlalu dari hadapan Amel untuk ganti pakaian, karena baru saja Ibu dari luar bersama Bapak, keluar dengan memakai motor.


Tiba-tiba sang Bapak datang, dengan baju yang sudah diganti.


"Amel kenapa, Bayimu?" tanya Bapak pun terlihat panik, melihat Cucunya tidak berhenti menangis. Sang Bapak lalu menggendong Bayi tersebut dan mengusap-usap Bayi itu.


"Bu..Bu," teriak sang Bapak.


"Bentar, Pak. Barusan Ibu ganti baju dulu.


Nih, Ibu sudah bawa bawang merah dan minyak kelapa biar Ibu pijat Bayinya," ucap sang Ibu, yang tiba-tiba datang dengan membawa irisan bawang merah dan minyak kelapa, dengan sedikit minyak telon.


Ibu biasa melakukan pengobatan tradisional yang di ajarkan nenek moyangnya dulu.


Irisan bawang merah di potong tipis-tipis dan minyak kelapa, lalu Ibu meremas bawang beserta minyak kelapa, di tambah minyak telon sedikit, semua dicampur jadi satu.


Konon katanya dapat meredakan panas bagi anak yang mengalami demam.



Ibu kemudian membuka baju sang Bayi.dan membalur badannya.


Setelah beberapa menit tangisan Bayi pun berhenti, mungkin Bayi tersebut merasa nyaman badannya setelah Ibu pijat.


"Kamu gimana sih, nggak becus rawat Bayi. Selalu nyusahin Ibumu. Kasihan Ibumu! Bapak nggak bisa membayangkan jika kamu bersama si Rama mengasuh Bayi ini, dan Ibumu tidak ikut membantunya mungkin Bayi ini akan sakit terus." sang Bapak terlihat marah kepada Amel.

__ADS_1


"Pak, aku capek!" jawabnya sambil cemberut


"Apa kamu bilang capek? Hey...ini anak siapa?" telunjuk Bapak mengarah kepada Bayi yang sedang terlelap dari tidur.


Amel terlihat menangis tatkala sang Bapak, memarahinya. Hatinya hancur berkeping. Dalam benaknya merasa dia tidak ada tempat untuk mengadu, dan belaian kasih sayang.


Rama sang suami nggak ada pergi di usir oleh sang Bapak, sedangkan sang Kakak yang selalu dia suruh dan begitu perhatian pergi meninggalkannya untuk bekerja.


"Sudah, sudah cukup!" Ibu pun berderai air matanya, tatkala terjadi adu mulut antara anaknya dan suaminya itu.


Ibu menghela napas panjang, dia seakan serba salah menghadapi semua.


"Besok mertuamu akan datang lagi kesini, coba kamu minta uang buat beli susu formula dan biaya makan kamu!" ucap sang Bapak dengan tegas.


Amel bertambah menjadi tangisannya ketika Bapak kembali memojokkan dirinya.


"Aku akan kerja Pak!" jawabnya sambil terisak tangis dengan pandangan masih menunduk


"Pak, jangan kasar sama anak. Bapak kenapa sih, tiba-tiba marah-marah nggak jelas!" sang Ibu nampak kesal, ketika sang Bapak terus-menerus memojokkan anaknya yang baru saja melahirkan.


Biasanya sang Ibu, tidak pernah melihat suaminya marah-marah kepada anaknya malahan waktu dulu Bapaknya Amel, nampak lembut dalam berucap dan memanjakan anaknya tersebut, malah Ibu yang dulu kesal atas kelakuan Amel yang manja dan selalu menggerutu. Tapi kenyataannya sekarang beda, malah Bapak, yang nampak kesal dengan kelakuan sang anak.



"Sudah kamu jangan mikirin dulu kerja, fokus kepada bayimu!" ucap sang Ibu, menatap lekat kepada Amel.




"Biar Angga Pak, nanti yang beliin kalau Bapak tidak ikhlas membeli susu Bayi," ucap sang Ibu.



"Bukan nggak ikhlas Bu, kita harus mengatur keuangan, Ibu tahu sendiri kan modal buat usaha habis semua oleh si Rama!" Bapak kembali membahas uang yang 100 juta, yang di pinjam oleh suami Amel yaitu Rama, dan sampai saat ini belum kembali.


Amel nampak terlihat menutup kedua kupingnya, kepalanya berasa pecah mendengar percekcokan yang terjadi antara kedua orang tuanya itu.


Amel kemudian turun dari ranjang tempat tidurnya, kemudian dia menarik tas yang terlihat menggantung dibelakang pintu, lalu dia membuka lemari dan mengambil beberapa baju yang berada di lemari tersebut untuk dimasukkan kedalam tas itu.


Melihat sang anak memasukkan beberapa baju kemudian sang Ibu dengan cepat merebut tas tersebut.


"Kamu mau kemana Nak!" ucap sang Ibu terlihat terkejut, karena Ibu berpikir dengan Amel memasukkan baju kedalam tas, dia akan kabur dari rumah.



Ibu sangat mengerti keadaan sang anak, mungkin dia tertekan dengan keadaan ini.


Dimana sang suami tidak ada, dan Bapaknya selalu menyudutkan dirinya.

__ADS_1



"Lepaskan Bu, aku mau keluar dari rumah ini!" ucap Amel dengan suara terbata-bata dan serak. Amel terlihat meronta tatkala sang Ibu dengan erat mendekap tubuhnya itu.



"Mau kemana kamu, lagi hujan deras gini. Jangan nyari penyakit dan menambah masalah ya!" ucap sang Bapak terdengar marah ketika berucap.



"Mungkin dengan kepergian aku, Bapak tidak ada lagi masalah!" ucap Amel sesunggukkan.



"Nak, kamu nggak sayang sama Ibumu? kalau kamu pergi, pasti Ibumu sakit," Ibu terdengar lirih ketika berucap.


Amel tidak bergeming sedikitpun,


hanya isak tangis yang terdengar dari mulutnya.



"Kamu harus berpikir dewasa, keadaan sudah malam dan diluar hujan deras. Kamu mau nyusul suamimu yang brengsek itu!" Bapak terlihat tidak bisa mengendalikan emosinya.



"Pak, sudah, sudah!" terlihat Ibu memegang dadanya yang terasa sesak.


Melihat sang Ibu memegang dadanya yang sesak, seakan menanggung semua beban, Amel pun memeluk erat sang Ibu.


"Bu, Ibu nggak apa-apa!" Amel terlihat mengkhawatirkan sang Ibu.


Melihat sang istri seperti menahan rasa sesak di dada, lalu Bapak mengangkat Ibu ke atas kasur untuk membaringkan tubuhnya.


Bapak pun berlalu keluar kamar untuk mengambil obat dan membuatkan teh hangat.


"Bu, maafkan Amel, Bu," ucap sang anak tersedu menangis, ketika melihat Ibunya menahan rasa sakit di dadanya.



Ibu begitu erat menggenggam jemari tangan anaknya tersebut, di tatapnya lekat sang anak. Ibu pun meneteskan air mata.



Air mata dari seorang Ibu yang kini di rundung masalah yang bertubi-tubi. Biasanya Angga tempat Ibu mengadu hanya dia yang bisa mengerti keadaan ibu saat ini yang sedang gundah gulana.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2