Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab 7 Papa kembali mengenang masa indah bersama Bianca


__ADS_3

Merry kembali mengetuk pintu.


Setelah beberapa menit menunggu di teras rumah, akhirnya ada yang membuka juga, pintu dari dalam rumah.


Krekkkk...


Pintu terbuka dengan lebar, nampak sesosok wajah lelaki yang nampak lusuh nampak terlihat dari raut mukanya, dia tidak tersenyum tapi hanya menampakkan wajah seperti ingin menanyakan sesuatu.


"Merry, ada apa datang kemari?"jawab Papanya Bianca.


Sontak Merry, merasa malu sekaligus kaget karena tidak biasanya, Papa dari Bianca berkata seperti itu. Sepertinya sang Papa mau mengusirnya dan tidak mau keberadaan Merry, sang sahabat anaknya itu, datang ke rumah untuk bertemu dengan Bianca.


~~


"Tenang, tenang, Merr...," gumam hati Merry. Merry mengatur napasnya.


Dia pun tahu keadaan rumah Bianca lagi genting, pasti semua yang berada di rumah tersebut, pikirannya sedang emosi dan tidak stabil.

__ADS_1


"Ini loh, aku cuma mau kasih sesuatu kepada Bianca," ucapnya. Kemudian Merry memberikan bungkusan yang berisi makanan yang dia beli di kantin sekolah yaitu, harum manis atau rambut nenek.


Papanya Bianca menatap lekat kepada sahabat anaknya tersebut. Dia sungguh terharu, ternyata masih ada yang peduli terhadap anaknya. Meskipun anaknya dalam keadaan sedang hamil, dan sahabatnya ini masih mau berteman dan tidak menjauhi anaknya itu.


Kemudian Papanya Bianca, hanya tersenyum tipis lalu dia mengambil makanan yang diberikan oleh sahabat anaknya itu.


"Terima kasih ya, Bianca lagi sakit. Maaf ya, dia tidak bisa bertemu dulu dengan kamu. Terima kasih ya," sang Papa mengucapkan rasa terima kasih kepada sahabat temannya itu, karena sudah memberikan makanan kepada anaknya.


"Yasudah, aku pamit pulang, dan besok Bu Guru, mau nengok kesini, kalau Bianca tidak masuk sekolah lagi," ucap Merry, tertunduk.


Merry pun berlalu dari hadapan Papanya Bianca.


Papa kemudian menutup pintu, lalu pandangannya tertuju ke arah kamar anaknya. Sampai sekarang dia belum bicara serius dengan anaknya itu.


Rencana sore ini sang Papa dan Mama, mau pergi ke dokter, untuk memeriksa kandungan Bianca. Karena Papa sampai saat ini tidak percaya kalau anaknya itu, sedang berbadan dua. Papa menghela napas secara perlahan, kemudian di menghempaskan badannya ke kursi sofa.


Papa seakan berpikir, jika benar anaknya hamil pada saat nanti di periksa oleh sang dokter.

__ADS_1


Dia tidak tahu harus berbuat apa. Papa belum siap untuk bicara kepada semua saudara besarnya tentang kehamilan anaknya itu, juga kepada gurunya Bianca di sekolah.


Papa kemudian melihat bungkusan yang dibawa oleh Merry untuk Bianca. Kemudian Papa mengambil bungkusan tersebut yang tadi di letakkan di atas meja olehnya.



Papa penasaran dengan isi bungkusan itu, karena di bungkus dengan kresek berwarna hitam. Lalu Papa membuka isi bungkusan tersebut. Nampak Papa tersenyum tipis, ketika melihat isi bungkusan tersebut.


Dia kembali mengingat kembali ulah sang anak, yang hampir hari selalu ada makanan tersebut yaitu harum manis atau rambut nenek.



"Jangan terus menerus makan harum manis, karena itu terbuat dari gula, nanti kamu sakit gigi," Papa seakan khawatir dengan keadaan giginya anaknya itu. Karena hampir tiap hari dia membeli harum manis di kantin sekolahnya. Bianca sang anak malah meledek sang Papa dengan berdalih, giginya masih kuat dan tidak akan sakit. Beda dengan Papanya yang sudah tua dan giginya sudah ada yang ompong atau putus. Saat itu tertawa Bianca sangat lepas seakan tidak ada beban dalam dirinya, Papa kemudian memeluk erat anaknya itu dengan gemas.



__ADS_1


Papanya Bianca, tersenyum sedih jika mengingat kenangan yang indah tentang anaknya itu. Anaknya yang ceria dan polos selalu membuat hatinya terhibur, dan kepolosannya dari bicaranya yang membuat sang Papa, dekat dengan anaknya itu.


__ADS_2