Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 25 Bianca khawatir


__ADS_3

Hari Pernikahan tiba.


Di pagi hari nampak keluarga Bianca, sedang mempersiapkan acara untuk pernikahannya malam nanti. Pernikahannya akan dia adakan pukul 7. Nampak tidak ada keluarga besar disana. Yang datang hanya Kakaknya Tyanca saja dan sang suami. Tidak nampak saudara dari Mama atau Papanya.


"Mah, apa nggak jadi masalah nanti jika kita tidak memberitahu keluarga dari Mama dan Papa. Bianca kan acara nikahan Mah. Atau Kakak telepon ya, saudara," ucap Tyanca.


Karena disana hanya ada Tyanca dan sang suami, sedangkan sanak saudara tidak ada yang di undang.


Mama menghela napas secara perlahan.


"Mama malu Kak, dengan keadaan adikmu, yang tengah berbadan dua," ucap sang Mama. Sementara pandangan mengarah ke Bianca yang sedari tadi tengah menggenggam gawai nya itu.


"Gimana kalau kasih tahu Tante Astrid, kebetulan dia lagi di Jakarta bersama suaminya. Dia kan adik Mama satu-satunya, masa Mama nggak ngasih tahu." sambungnya lagi.


Mama terlihat berpikir.


Dalam benak Mama dihinggapi rasa.


Benar juga kalau nggak di beritahu nanti akan jadi masalah keluarga, meskipun Mama malu jika tahu sang anak tengah berbadan dua.


"Yasudah telepon Tante kamu, nanti kalau sudah tersambung baru Mama, ngomong," ucap sang Mama.


Tyanca pun mencoba menelepon sang Tante, setelah tersambung kemudian sang Mama, berbicara kepada Astrid sang adik, nampak Mama dengan suara terisak tangis.


{"Kak Astri, aku akan usahakan datang, siang ya, bersama suami,"} ucap sang adik yang bernama Astrid itu.


Astrid sang adik sangat kecewa sekali, terdengar dari nada bicaranya. Karena dia kecewa sang Kakak baru memberitahu bahwa Bianca hamil.


***


Selesai menutup sambungan telepon Mama menghela napas panjang, sang Papa melihat roman muka sang istri terlihat seperti menahan pilu, Papa mendekati istrinya itu.


"Mah, sudahlah jangan terlalu memasang muka sedih gitu, jadi Bianca sang anak pun merasa bersedih, ini kan sudah terjadi. Mama harus ikhlas ya," sang suami, menepuk lembut pindah sang istri.


***


***


Bianca memberikan pesan kepada Rama.


{"Kamu jam berapa nanti malam datang? awas kalau telat!"} tulis pesan Bianca.


{"Iya, pasti aku datang,"} balasnya singkat.


{"Aku sudah rapihkan kamarku, buat kita tidur nanti malam. Semalam Merry, memberi bunga mawar dan melati, jadi di kamarku wangi banget bunga, pasti kamu senang,"}Bianca kemudian memberikan pesan kembali kepada Rama.


Dengan polosnya Bianca, menuliskan pesan tersebut. Mungkin karena ada rasa bahagia sang kekasih akhirnya akan datang ke acara yang sangat dinantinya. Dia berpikir Rama tidak mengkhianatinya.


{"Ya,"} terbalas singkat oleh Rama, itu pun jaraknya hampir 10 menit baru Rama, bisa membalas pesan dari Bianca.


Bianca bertanya-tanya dalam hatinya.


"Apa Rama benar akan datang ke pernikahannya nanti untuk mengucapkan ijab kabul, atau membohonginya?" rasa khawatir ada dalam gadis polos tersebut.


{"kamu nggak senang ya, dengan pernikahan kita?} sambungnya lagi. Terdengar dari nada bicara Bianca kesal dan kecewa.


Bianca sangat mencintai Rama, dan Rama adalah cinta pertama bagi Bianca. Apapun rela dilakukan oleh Bianca, sampai dia dibujuk rayu oleh lelaki tersebut pun, Bianca tergoda dan melakukan hubungan pacaran diluar batas.


{"Pokoknya aku datang!"} balasnya.

__ADS_1


Karena balasan dari sang kekasih terlihat sedang marah, Bianca pun tidak berani lagi memberikan pesan kepada Rama.


Bianca pun menaruh dengan kasar, gawai itu di atas meja.


***


Tiba-tiba Tyanca berteriak dari teras rumah.


"Rama pasti akan datang tidak?" tanya Tyanca seakan ragu.


"Kak, ngomong ko' nggak sopan, pakai teriak segala, ngomong baik-baik, samperin adikmu ke dalam," ucap sang Mama.


"Ogah, ahh..," jawabnya.


"Aneh, Mah, orang ini!" sambar Hady Gerry Friadi atau biasa di panggil Gerry itu, suami dari Tyanca.


Mama hanya tersenyum tipis ketika Gerry, sang menantu mencubit lembut pipi sang istri dengan gemas.


Gerry menarik tangan sang istri menuju ruang tamu, lalu Gerry menggeser kursi untuk mempersilahkan sang istri duduk di dekat sang adik.


"Nah, coba sekarang ngomong dengan cara baik-baik dan sopan," ucap Gerry, tersenyum sinis seakan mengejek sang istri.


Tyanca hanya menatap tajam sang suami dan tersenyum cengengesan.


Tyanca kembali memasang muka serius dan berdehem.


"Jadi gimana? si Rama jadi kan, datang malam ini. Kakak sudah mempersiapkan semuanya, mulai dari penghulu, beresin rumah dari kemarin meskipun acaranya tidak besar dan makanan," ucapnya seperti menyindir sang adik.


Nampak sang Kakak seperti tidak suka dengan sosok Rama begitupun kepada sang adik, Tyanca sekarang seakan sudah tidak ada rasa peduli lagi terhadap sang adik tersebut.


Beda ketika dulu sebelum kejadian sang adik hamil, sang Kakak begitu perhatian dan sayang kepada adiknya tersebut.


Sang Kakak hanya mendelik ketika membaca isi pesan tersebut.


Bianca pun akhirnya berlalu ke arah kamar, matanya berkaca-kaca, dia seakan sudah tidak di perlakukan dengan lembut oleh sang Kakak.



"Mih, kamu jangan terlalu jutek sama adikmu, kasihan dia," ucap Gerry, matanya lekat ke mata sang istri.



Tyanca hanya terdiam dan Pandangannya mengarah ke arah adiknya yang sedang berlalu dari hadapannya kemudian memasuki kamarnya.



Brukkk...



Pintu kamar ditutup dengan kasar, membuat seisi rumah melirik kearah suara tersebut.


Sang Mama melihat kedua anaknya berselisih paham, dia hanya membuang napas kasar.


\*\*\*


\*\*\*


__ADS_1


Kedatangan Tante Astrid


"Tante, apa kabar!" Tyanca memeluk erat sang Tante dan mencium punggung Tantenya tersebut.


Tante tersenyum sumringah ketika keponakannya menyambut ramah kepadanya.



Tante dan suaminya, bersalaman kepada yang ada di rumah. kemudian pandangan Tante tertuju ke arah pintu kamar Bianca.


"Bianca sedang apa?" tanya sang Tante.



Tyanca tersenyum sinis.


"Lagi melamun!" ucapnya.



"Hussstt.." sambar sang suami.



"Bentar dipanggil dulu," ucap sang Mama.



"Nggak apa-apa, kalau sedang istirahat. Biar aku ke kamar Bianca, kasian," ucap sang Tante seakan mengerti keadaan.


Keluarga dari Kakaknya tersebut, sedang di rundung masalah. Jadi situasi di rumah sedang memanas.


\*\*\*



Tok...Tok..Tok..



Pintu di ketuk beberapa kali oleh sang Tante, karena lama membukanya, lalu sang Tante membuka pintu tersebut secara perlahan.


"Bianca..." ucap sang Tante lirih.


Dengan melihat keadaan Bianca terlihat sedih dan sedang termenung, lalu sang Tante matanya berkaca-kaca kemudian dia memeluk erat Bianca.



"Sayang...yang sabar ya," sambung lagi sang Tante. Sementara Bianca tersenyum tapi seakan terpaksa.



Sang Tante mengelus-elus pundak anak polos tersebut dan pandangan melihat lekat ke arah bola mata Bianca.


Lalu sang Tante melirik perut dari keponakannya itu. Dia mengelus dada dan menghela napas panjang.



"Sayang, Tante iba dengan kondisi kamu saat ini. Tante pas dengar kabar dari Mama kamu, Tante nggak percaya soalnya kamu anak polos dan baik. Tante nggak habis pikir, kamu tega melakukan hal tersebut, dan..." Tante meneteskan air mata, dia tidak sanggup meneruskan bicaranya.

__ADS_1


__ADS_2