Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 83 Masa Lalu


__ADS_3

Setelah Amel dan sang Ibu berada di Kampung, yaitu kota Ciamis. Dia merasa agak sedikit tenang hati dan perasaannya, dengan melihat sawah yang membentang di pinggir rumahnya dan semilir angin yang masih terasa sejuk dan udara yang dingin.


"Assalamualaikum.." ada bunyi salam di depan rumah.


"Wa'alaikumsalam.." balas sang Nenek.


"Nek, ini kata Ibu ada sedikit makanan untuk Nenek," sang lelaki tersebut memberikan makanan kepada Neneknya Amel.


"Terima kasih, Ibu kamu baik selalu ngasih makanan buat Nenek, bilang terima kasih ya, kepada Ibu, Asep," ucap sang Nenek.


•••••


Asep lelaki keturunan Sunda kerja yang bekerja di kantor lurah sungguh sopan.


Dia rajin memberikan makanan kepada Neneknya Amel, Ibunya buka warung masakan, jadi sang Nenek sering di kasih makanan.


"Asep.. ini Asep, anaknya Ibu Munah kan!" tiba-tiba Ibunya Amel datang dari arah dalam.


_____


Ibu Munah usianya di atas Ibunya Amel, beda dua tahun. Mereka dulu teman main di kampung tersebut dan Neneknya Amel hidup berdua dengan sang Kakek.


Hidup di kampung, Nenek dan Kakeknya Amel bertani dan hasil dari panen beras atau sayuran. Setelah di jual sisanya selalu di bagikan kepada tetangga terdekat termasuk Ibu Munah pun selalu di bagi.


Jadi Ibu Munah merasa berhutang budi terhadap Neneknya Amel yang bernama Nek Surti yang selalu memberikan hasil panen.


_____


"Iya Bu, kapan datang dari Jakarta?" tanya Asep tersenyum ramah kepada Ibunya Amel.


"Kemarin, gimana kamu sudah nikah belum, anakmu berapa?" sang Ibu mencecar pertanyaan kepada lelaki dengan tubuh tinggi, badannya berisi, warna kulitnya sawo matang.


Lelaki tersebut seakan malu, ketika sang ibu mencecar pertanyaan, dia hanya tertunduk.


"Belum, Asep belum menikah," sambar Nek Surti tersenyum tipis dan melirik anaknya itu.


"Maaf.." ucap Ibunya Amel tersipu malu.


"Ini siapa, Bu," Asep menatap anak yang sedang di gendong oleh sang Ibu.


"Ini anaknya Amel," ucap Ibu tersenyum.


"Amel.." ucap Asep.


Mengingat dulu ketika keluarga Amel tinggal di Kampung. Amel saat itu sekolah SD dan SMP di Ciamis dan Asep dengan setia selalu bareng pergi ke sekolah bersama Amel.


Setelah memasuki bangku SMA baru keluarganya pindah ke Jakarta.


Asep begitu ingin memiliki Amel, tapi dia sesosok lelaki yang pemalu. Untuk mengutarakan cinta pun seakan tidak bisa. Jadi hanya memendamnya saja sendiri.


Asep terlihat menghela napas secara perlahan. Terlihat dari raut wajahnya menyimpan rasa kecewa karena Amel sudah menikah.


"Bu..." tiba-tiba Amel datang dengan membawa susu formula di dalam botol, Amel terperanjat tatkala melihat sesosok lelaki hitam manis berada di hadapannya.


"Asep..." ucapnya lirih.


Entah mengapa terasa dag-dig-dug jantungnya, dan Amel terlihat salah tingkah dibuatnya.


"Sehat, kamu Mel," ucap Asep mengulurkan tangannya.


Neneknya Amel tersipu malu, sang Nenek sebenarnya dari dulu menginginkan Amel, bisa bersatu dengan Asep, alasannya Asep pribadi yang baik dan santun.


Amel nampak malu ketika mengulurkan tangannya. "Alhamdulillah, kamu gimana sudah menikah?" tanya Amel.


Pertanyaan yang diberikan oleh Amel sama persis dengan sang Ibu, menanyakan status Asep saat ini. Asep hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis.


"Gimana dengan Dina?" tanya Amel.


Dina sahabatnya Amel juga, dulu mereka pernah dekat karena Dina pernah cerita kepada Amel bahwa dia pernah dekat dengan Asep.


"Kata siapa, nggak ah," Asep tersipu malu.


"Dina sudah menikah bulan kemarin Mel, dia pergi meninggalkan Asep, di jodohkan oleh Bapaknya," ucap Nek Surti.

__ADS_1


_____


Hati asep seakan tidak karuan tatkala mendengar ucapan Nek Surti. Dia kembali mengenang masa indah bersama Dina yang tega meninggalkannya. Asep nampak mengelus dada.


Andai saja dia jadi menikah dengan Dina mungkin dia telah bahagia.


Kebersamaan antara Asep, Dina dan Amel terjalin sangat erat. Asep yang mencintai Amel namun dengan rapat menyimpannya dan tidak bisa mengutarakan isi hatinya.


Mungkin patah hati tatkala Amel, tidak ada kabar berita. Sementara Dina karena menyukai Asep, dia mengutarakan isi hatinya.


Namun setelah Asep membuka pintu hatinya, begitu tega Dina meninggalkan dirinya.


_____


"Sep, nanti Ibu mau bertemu dengan Ibumu ya, siang," ucap Ibunya Amel.


Sang Ibu tahu jika hari libur Ibunya Asep tidak berjualan. Dia ada di rumah, Ibunya Amel sudah lama juga tidak bertemu dengan Ibunya Asep, rasa rindu terhadap teman jika bertemu mungkin salah satu obatnya.


Asep menganggukkan kepalanya.


"Ya, sudah, saya permisi pulang ya, Bu," Asep menatap semua yang ada di rumah Nek Surti. Dia pun berlalu dari sana.


Sang Nenek menatap lekat kepergian Asep.


"Semoga kamu dapat jodoh yang lebih baik Sep, kamu orang baik. Kamu pantas mendapatkan wanita baik pula," ucap Nek Surti menghela napas panjang.


"Ibu mau masak dulu ya," ucap sang Ibu.


Ibu pun berlalu dari hadapan Nenek dan Amel menuju dapur.


•••


Sang Nenek menatap lekat wajah sang Cucu.


"Mel, Nenek kasihan dengan nasib kamu. Jadi kamu yakin dengan keputusan kamu, mau cerai dengan Rama?" tanya sang Nenek terlihat serius.


"Iya, Nek Aku mau cerai saja, rasanya nggak sanggup kalau hidup dengan dia lagi," ucapnya lirih.


"Iya," ucap Amel.


Amel menganggukkan kepalanya.


_____


Amel sebenarnya tidak mau membicarakan masalah laki-laki untuk saat ini. Dia sekarang ingin fokus kepada anaknya dan mencari kerja. Karena luka yang dia torehkan rasanya belum sembuh, dia ingin menata kembali hidupnya seperti dulu. Ketika Rama belum hinggap di hatinya.


Saat ini Amel ingin membahagiakan kedua orang tuanya juga anaknya. Sebenarnya masalah lelaki pun dia tidak mau di atur oleh sang Bapak. Dia ingi menentukan jalan hidupnya secara baik dan tidak mau lagi mengecewakan kedua orang-tuanya.


_____


"Coba dulu kamu hidup dengan Asep, mungkin hidupmu akan bahagia, dia lelaki baik dan sopan.


"Sudahlah Nek, itu masa lalu," ucap Amel.


"Tidak ada kata terlambat untuk mendapatkan hati Asep, Nenek lihat Asep sampai saat ini masih menyimpan rasa terhadap kamu," sang Nenek sepertinya ingin menjodohkan kembali Amel dengan Asep.


"Apa sih, Nek," ucap Amel tertawa terkekeh.


"Mel, Nenek serius. Asep lelaki baik," ucap sang Nenek kembali berucap.


"Iya Nek, memang dia baik, tapi nanti lah, Amel nggak mau ngurusin masalah lelaki dulu," ucap Amel.


Sang Nenek mungkin tidak tahu yang sebenarnya. Padahal Bapaknya, ingin cepat menjodohkan Amel dengan Burhan. Karena yang ada di otak Bapaknya, masalah finansial agar anaknya bisa tercukupi hidupnya dan bahagia. Amel pun hanya menghela napas panjang.



Drettt... Drettt...Drettt...



Tiba-tiba suara telepon berbunyi di ponsel milik Amel. Nampak terlihat yang menelepon adalah Tante Fani


Amel menatap lekat ke layar ponsel. Dia seakan ragu untuk mengangkat ponsel yang sedang berbunyi tersebut.

__ADS_1



"Siapa yang menelepon Mel," tanya sang Nenek.



"Teman, Nek," ucap Amel berbohong karena dia tidak mau jika sang Nenek mengetahuinya, bahwa yang menelepon adalah Tantenya Rama.



"Sini anakmu biar Nenek gendong," sang Nenek pun membawa anaknya Amel ke dalam rumah.



Amel menghela napas secara perlahan, kemudian dia mengangkat bunyi suara ponsel tersebut.


••••••••••


{Assalamualaikum, Halo, Tante Fani,"} ucapnya



{" Wa'alaikumsalam salam Mel, gimana kamu sehat! Maafkan Tante dan juga Rama ya, jika Rama sudah melukai hati kamu selama ini. Mungkin selama ini, Rama tidak bisa menjadi suami yang baik atau Bapak yang kurang bertanggung jawab. Ibunya Rama sakit terus, dia memikirkan kamu Mel. Tante ingin bicara empat mata dengan kamu. Kamu kira-kira ada waktu tidak untuk bertemu dengan Tante?"} ucap sang Tante begitu membuat dada Amel kembali bergemuruh, tatkala membicarakan sosok Rama kembali. Amel sebenarnya tidak mau membahas Rama.



{"Tante, Maafkan Amel, tapi Bapaknya Amel, akan mengurus perceraian. Kedua orang tua Amel sudah tidak mau lagi Amel berhubungan dengan Rama, kuharap Tante memakluminya."} ucap Amel kepada Tantenya Rama.



{"Salah Rama apa Mel, dia kan sudah membayar utang kepada Bapak kamu yang 100 juta, terus dia juga sekarang sudah mulai buka usaha, jadi Tante rasa Rama, tidak salah. Mungkin kamu telah di cuci otaknya oleh kedua orang tua kamu,"} kembali sang Tante meyakinkan hati Amel.



{"Ada masalah yang lain Tante, Amel jadi kesal dan menganggap dia tidak tanggung jawab dan berkhianat. Tapi sudahlah Tante, aku tidak mau bersama Rama kembali, intinya itu,"} ucap Amel kembali.


\_\_\_\_\_


Ketika ada kata dari mulut Amel.


'Tidak tanggung jawab dan berkhianat,'


Pikiran Tante Fani melayang jauh, dia teringat sosok Bianca, dalam benak Tante Fani dihinggapi rasa. "Mungkinkah Amel sudah mengetahui tentang Bianca," Karena selama ini Tante Fani begitu yakin, bahwa Amel tidak mengetahui masa lalu Rama.



"Aku lupa belum menemui Bianca saat itu, karena Rama keadaannya keburu ngedrop," ucap Tante Fani.


\_\_\_\_\_\_\_


{"Tante, Amel sedang di rumah Nenek, di kampung. Nanti saja jika Tante mau ketemu Amel, setelah Amel pulang dari kampung, itu pun jika Amel tidak sibuk,"} ucap Amel.



{"Pokoknya kamu jangan pisah dari Rama, itu pesan Tante!"} ucap sang Tante.



{Tante, sudah ya, Amel disini mau istirahat nenangin pikiran dulu, tidak mau memikirkan Rama, Amel mau istirahat,"} ucap Amel.



{"Ya, sudah Mel, Tante tunggu ya, kabar dari kamu, salam sama keluarga disana,"} ucap sang Tante



Saluran telepon pun mereka tutup.


Nampak Amel menghela napas panjang.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2