Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 105 Kesal Terpendam


__ADS_3

Tiba di Kota Jakarta.


Jam menunjukkan pukul 11 siang.


Amel dan Kang Burhan tiba di rumah Bianca. Nampak Bianca sedang duduk bersama anaknya di teras rumah.


Dia terkejut dengan kedatangan Amel karena dia sudah tahu dari sang Mama, bahwa Amel adalah mantan dari Rama. Terlihat muka Bianca tersenyum sinis tatkala melihat raut muka Amel, dadanya bergemuruh.


___


Bianca teringat ketika malam pertama yang dia akan bayangkan begitu indah, dia pun sudah menghiasi kamar dengan bunga mawar tapi semua hancur, karena Rama sang suami dengan seenaknya dia meninggalkannya begitu saja demi mengejar cinta Amel.


Masih terngiang jelas di telinganya Bianca, dengan ucapan Rama yang begitu menyayat hati. "Aku tidak bisa menikahi kamu, karena bulan depan aku akan menikahi wanita lain!" begitu tertampar hati dan perasaannya Bianca saat itu.


___


Rama adalah cinta pertama Bianca.


Saat itu Bianca berharap terlalu dalam untuk bisa mendapatkan hati Rama. Bianca berpikir saat itu Rama tidak sepenuhnya cinta kepada Amel walaupun dengan keadaan hamil, karena mereka melakukannya dalam keadaan mabuk.


Setelah itu Rama menjalin hubungan dengan Bianca, dan mereka satu sama lain jatuh hati kemudian terjadilah hal yang tidak diinginkan, Bianca hamil.


Karena usia kehamilannya Amel lebih besar dibandingkan dengan usia kehamilan Bianca, jadi Rama memilih Amel untuk menjadikannya sebagai istri, dan saat itu Rama pun selalu membawa Amel ke rumah orang tuanya untuk dikenalkan dan Rama pun beserta kedua orang tuanya bertanggung jawab atas kehamilannya. Sedangkan Bianca dipandang sebelah mata oleh Rama dan keluarga Rama, ini mengakibatkan ada rasa kecewa dan marah yang selama ini dipendam oleh hati Bianca.


___


Entah mengapa dalam hati Bianca ada rasa dendam terhadap Rama dan Amel.


Meskipun Amel sekarang ini dipandang baik oleh sang Mama dan kakaknya Tyanca.


"Yang merasakan penderitaan hatiku selama 1 tahun adalah aku! Mereka tidak tahu lukaku sampai sekarang belum sembuh." nampak mata Bianca berkaca-kaca ingin rasanya dia tumpahkan rasa kesal dan amarahnya kepada Amel, tapi Bianca seakan tidak mampu untuk melakukan itu semua, Bianca hanya mampu untuk menahan rasa amarahnya itu.


"Sabar, Bianca!" gumam hatinya sambil mengelus dada walaupun hatinya bergemuruh.


•••••


"Bianca.." Amel memanggilnya.


Senyum Amel begitu sempurna ketika pandangan matanya tertuju pada Bianca, Amel berharap Bianca pun memeluk dan membalas senyum termanisnya.Tapi?

__ADS_1


"Mau ketemu siapa ya?" tanya Bianca.


Pandangannya menatap kepada kang Burhan, sedangkan Amel yang berusaha tersenyum lebar dan bersifat ramah, Bianca acuhkan. Seakan tidak ada rasa peduli sedikitpun.


Melihat kondisi demikian kang Burhan pun dihinggapi rasa heran, karena Bianca terlihat tidak ramah dengan kedatangan Amel.


"Mau ketemu Pak Gerry," ucap kang Burhan, tersenyum kearah Bianca dan melirik anaknya Bianca yang pandangannya tertuju ke anaknya Bianca. "Anaknya cantik ya, dan gemuk," kembali Kang Burhan berucap.


Bianca seakan tidak mau banyak kata yang terucap, dia pun berlalu ke dalam rumah tanpa menoleh lagi kepada Amel.


Entah kenapa sosok Bianca yang tiba-tiba berlaku tidak ramah, mungkinkah bayangan kelam hinggap kedalam hatinya.


•••


"Mel, kenapa dengan Bianca?"tanya Kang Burhan kepada Amel, karena Kang Burhan merasakan ada sesuatu yang aneh dalam diri Bianca, dia tidak begitu ramah kepada Amel dan dari raut mukanya nampak terlihat Bianca dihinggapi rasa kesal.


"Nggak tahu, Kang," jawab Amel sambil menggelengkan kepala.


•••


"Eh, ada Amel, Kang Burhan, ayo masuk!" ucap Gerry tiba-tiba keluar dari dalam rumah.


"Kita langsung dari Bandung ke sini, soalnya orang tua Amel tidak ada di rumah. Mereka sedang ke Bekasi, katanya pulang dari Bekasi kemungkinan sore ini," ucap Kang Burhan.


•••


Mereka pun memasuki rumah.


Kemudian datanglah Tyanca dengan membawa sebuah minuman, Tyanca pun menyodorkan tangannya untuk bersalaman kepada tamu.


"ini Mih, Kang Burhan yang Papa kemarin cerita. Dia mau menawarkan Ruko kepada Bianca," ucap Gerry menatap kepada sang istri. Tyanca pun melirik Kang Burhan dan tersenyum ramah.


"Sudah cerita sama Bianca? mengenai Ruko tersebut?" tanya kang Burhan kepada Gerry.


"Belum ya, Mih. Belum bicara sama Bianca mengenai Ruko itu?" tanya Gerry. Pandangannya melirik lekat ke arah istri.


"Belum.." kata sang istri sambil menggelengkan kepala. Tyanca pun berlalu dari ruang tamu menuju kamar Bianca untuk memanggil sang adik.


"Mama Astri kemana?" tanya Amel karena warung yang biasa dia beli di teras rumah tutup, dan nampak sepi tidak ada di dalam rumah. Biasanya orang yang paling di ramah menyambut kedatangan Amel adalah Ibunya Bianca jadi Amel pun datang ke sana merasa nyaman dan ada perlindungan.

__ADS_1


" Biasa sedang berjualan di pasar, kalau Papa lagi keluar kota," ucap Gerry.


•••••


Tok...Tok...Tok..


Tyanca mengetuk pintu beberapa kali.


"Bianca, buka pintunya," ucap Tyanca.


Dia kembali mengetuk pintu, karena tidak ada jawaban di dalam kamar, Tyanca pun akhirnya tanpa pamit dia membuka pintu tersebut.


Krekkkk...


Akhirnya pintu terbuka lebar dibuka oleh sang kakak. Nampak terlihat Bianca sedang duduk di depan jendela kamar, pandangannya menatap lekat ke arah garasi halaman rumah.


"Bianca, Kakak lupa mengabarkan sama kamu. Kak Gerry mau menawarkan kamu untuk buka usaha. Katanya ada Ruko kosong dan nanti kedepannya Ruko tersebut bisa nanti kamu tempati. Nah, yang punya Ruko itu kebetulan orangnya sudah datang, dia bersama Amel. Ayo, kita ke depan, kita ngobrol di depan," ucap Tyanca mengajak sang adik untuk bertemu dengan Kang Burhan.


___


Bianca seakan tidak menghiraukan omongan dari sang kakak, dia pun tidak bergeming sedikitpun. Pandangan tetap mengarah ke arah jendela. Bayangan sosok Rama entah mengapa hinggap ke dalam hatinya.


Penghianatan yang dilakukan oleh lelaki tersebut, ketika mencoba merayunya sehingga Bianca hamil, lalu Bianca meminta pertanggungjawaban dan akhirnya Rama beralasan ingin menikahi Amel yang sudah dihamilinya sebelum menghamili Bianca. Terasa rasa sesak dan kecewa hinggap di hati Bianca saat ini.


"Kamu lebih sempurna Amel, dari aku! Karena Rama memilih kamu daripada aku saat itu," gumam hati Bianca, dadanya terasa mendidih.


Tyanca pun menyeret langkah kakinya ke arah jendela di mana sang Adik sedang termenung di sana.


"Bianca.." ucap Tyanca sambil berjalan ke arah Bianca yang sedang termangu di depan jendela. Tyanca pun menepuk pundak Bianca karena Tyanca berpikir sang adik sedang melamun.


•••


Bianca dengan cepat menoleh ke arah sang Kakak dengan sorot mata tajam, manik matanya seakan menyiratkan rasa kesal dan sesak


"Kamu kenapa?" tanya Tyanca karena nampak sang adik seperti dihinggapi rasa kesal.


Tyanca menatap sang adik dengan rasa penuh tanya, Tyanca seperti sedang menunggu jawaban dari Bianca yang nampak diam membisu.


"Kenapa sih, ada apa?" nampak Tyanca terlihat bingung dengan sang adik.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mau membahas Ruko, dan tidak mau bertemu dengan tamu yang ada di depan!" ucapnya tegas.


Bersambung...


__ADS_2