
Setelah Tante Fani pulang langsung Bianca, memasuki kamarnya karena dia nggak mau jika keluarga mencecar pertanyaan dan menyalahkan Rama dan dia.
Rama juga seutuhnya tidak bersalah semua, karena saat itu, dia pun mau melakukan hubungan terlarang atas nama cinta atau bawa perasaan. Saat itu dia terbawa bujuk rayu dan gombal, sang petualang cinta.
"Aku bodoh, terbuai bujuk rayu!" gumam Bianca, terlihat menyesal.
Dia menatap lekat anak yang tidak berdosa yang tengah berada di hadapannya. "Andai saja dia tahu, kalau hati ini begitu tersayat." ucapnya.
•••
Kenangan indah dulu kian menggelayuti hati dan pikirannya,
Rama begitu menghujani kata cinta terhadapnya, begitupun dengan kenangan suram yang hinggap menerpa dirinya saat pernikahan dan setelah itu.
Air mata lirih menitik di atas pipi sang anak, segera Bianca hapus air mata tersebut agar tidak mengganggu tidur sang anak. Tangan Bianca gemetar semakin dia tahan tangisannya semakin deras yang tertumpah.
"Nak, yang sabar ya," ucap Bianca menatap tajam sang anak, dia saat ini seakan dihujani rasa bersalah dan kesedihan.
Anak mungil yang kini berada di hadapannya itu tidak akan pernah tahu bagaimana perjuangannya selama ini.
Dia mengandung dan tidak ada seorang Ayah berada di sampingnya, selama tujuh bulan itu, Bianca bersusah payah menjaga kondisi badannya agar sang Bayi sehat terlahir dengan keadaan normal.
Bianca mengelus dada, ternyata tidak mudah untuk melupakan rasa pilu yang hinggap di dirinya, meskipun dia mencoba di depan keluarganya bersifat riang dan terlihat dewasa, namun ketika dia sendiri dan posisi sang anak sedang sakit, dia seakan sunyi sepi hatinya tidak ada pengobat diri.
_____
Tokkk...Tokkk..Tokkk
"Nak, makan dulu Nak," tiba-tiba sang Mama, mengetuk pintu beberapa kali.
Nampak jelas terdengar dari nada suara Mama, lirih dihinggapi rasa khawatir, karena Bianca setelah pulang dari mengantar anak ke dokter, setelah itu ada Tante Fani yang tiba-tiba datang dengan mengucap kata maaf, sedangkan Rama, sosok lelaki yang dia benci tidak nampak batang hidungnya.
Setelah itu Bianca memasuki kamarnya, dengan alasan mau menidurkan anak dan kepala dia sedikit pusing tidak mau diganggu,
Bianca tidak nampak keluar dari kamar lagi.
_____
"Nak, keluar, Sayang. Ayo, kita makan bareng, atau Ibu ambilkan ya, makannya ke dalam kamar," ucap sang Mama.
"Nanti Mah, Bianca keluar, Bianca mau tidur dulu bentar," jawabnya berbohong.
Dia tidak mau dengan mata yang sembab untuk keluar kamar, pasti pertanyaan muncul dari sang Kakak juga Mamanya.
Mama pun berlalu dari hadapan kamar Bianca, kemudian Mama duduk kembali di meja makan.
"Nggak mau makan dia!" ucap Tyanca dan pandangannya mengarah ke dalam kamar.
"Katanya mau tidur dulu, sudahlah, nggak apa-apa, kasian. Semalam begadang karena anaknya nangis terus, Bianca kurang tidur," ucap sang Mama
.
Tyanca pun tidak banyak kata dengan alasan Mamanya seperti itu.
••••••
Terdengar dari arah halaman rumah suara mobil, dengan cepat sang Mama berlalu dari meja makan karena dia tahu yang datang adalah sang suami.
Tersenyum lebar tatkala Mama membuka pintu rumah dan nampak terlihat sang suami sedang menutup pintu mobil, kemudian dia berjalan ke arah teras rumah.
"Biasa yang nyambut sang cucu, pada kemana Mah?" tanya sang suami.
"Mischa tidur begitupun dengan anaknya Bianca, mungkin pengaruh obat juga jadi tidurnya pulas," ucap sang Mama, sambil mencium punggung tangan sang suami.
"Loh, kenapa lagi anaknya Bianca, sakit?" tanya sang suami. Dia pun duduk di teras rumah sambil membuka sepatunya.
"Iya," ucap sang istri singkat.
__ADS_1
"Ada tamu Mah, tadi ke rumah?" tanya sang suami ketika pandangan matanya menatap lekat ke meja ruang tamu, karena disana terlihat ada gelas dan beberapa cemilan makanan yang masih tertata rapih yang belum di bereskan.
•••
Sang istri menghela napas secara perlahan, kemudian menatap sang suami.
"Barusan Tantenya Rama datang kesini!" ucap sang Mama.
"Rama..!'" sontak sang suami seakan bingung ketika sang istri berucap kata Rama, dia pun seakan lupa nama dari menantunya terdahulu atau suami dari Bianca, bernama Rama.
"Itu loh, Pah. Rama mantan suami Bianca," ucap sang Ibu, mencoba menerangkan kepada sang suami yang terlihat bingung.
"Loh, ngapain dia kesini!" sang suami nampak matanya terbelalak dan dihinggapi rasa heran dengan kedatangan Tantenya Rama tersebut.
"Intinya sang Tante, minta maaf Pah, atas kelakuan Rama yang selama ini tidak memberikan nafkah kepada sang anak." ucapnya sang Mama.
"Aneh sekali tuh orang, minta maaf itu seharusnya si Rama nya, yang datang kesini. Bukan Tantenya, yang datang! Atau orang tuanya," sang suami nampak terlihat kesal.
Sang suami pun berlalu ke dalam rumah di ikuti oleh sang istri. Kemudian dia berlalu untuk ke kamar Bianca.
Dia mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban disana.
"Pah, Bianca sedang istirahat, biarkan saja dia tidur kasihan semalam dia kurang tidur karena anaknya nangis terus," ucap sang istri.
"Pah, apa nggak sebaiknya Bianca dibawa saja ke Bandung, tinggal bersama Kakak," ucap Tyanca membuka obrolan, tatkala sang Bapak duduk di meja makan.
Sang suami membuang napas kasar.
"Terserah Bianca saja kalau Papa, mungkin lebih baik kalau dibawa ke Bandung, biar nggak terbelenggu dengan masa lalu yang kelam kalau berada disini," ucap sang Bapak.
"Nanti Mama bujuk, biar dia mau," jawab sang Mama berucap dengan lirih.
"Apa sih, Pih, aku justru kasihan dan iba terhadap adikku, yang hampir setahun perasaan dan hatinya di hantam. Aku yakin Bianca sebenarnya masih terluka hatinya, jika melihat sang anak, dia pasti akan teringat masa lalu. Di depan kita saja dia terlihat riang dan dewasa terus tegar, padahal hatinya rapuh!" ucap sang istri.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Obrolan keluarga di meja makan, begitu keras terdengar karena jarak antara kamar Bianca dan meja makan hanya terhalang lemari besar, dan ucapan Tyanca pun cukup terdengar oleh Bianca yang sedang berusaha memejamkan matanya, tapi bayangan kelabu seakan menghantuinya.
"Sampai kapan keluargaku tidak membicarakan aku!" ucap Bianca, air mata kembali meluncur ke ujung matanya.
"Apakah aku harus keluar dari rumah ini atau tetap disini. Kota yang banyak kenangan pahit dan indah yang tidak mungkin aku lupakan, karena jejak langkah kakiku dan pikiran normal aku, tetap berkelana mengingat semua itu." Bianca mengelus dada.
Ingin dia berteriak sejadi-jadinya, agar beban yang hinggap dalam dirinya hilang.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Disaat semua terlelap dari tidur dan mimpi indahnya, Bianca keluar dari kamar. Malam itu tepat pukul sebelas, perut Bianca terasa lapar kemudian dia pun berlalu ke meja makan untuk makan.
Bianca nampak sedang menikmati makanan tersebut. Dia begitu lahap ketika menikmati hidangan yang ada di meja makan. Tanpa menoleh keadaan sekitar.
__ADS_1
"Makannya yang kenyang ya, biar sehat, nggak sakit-sakitan," tiba-tiba pundak Bianca ada yang menepuk dengan halus.
Sontak Bianca terkejut dengan bunyi suara dan tepukan pundak halus tersebut. Secara spontan Bianca menoleh ke belakang. Nampak disana terlihat ada sang Papa, yang sedang tersenyum sumringah kepadanya.
"Papa, kapan datang," ucap Bianca tersenyum manis dan sedikit tersipu malu.
"Tadi sore, tadi Papa ketuk-ketuk pintunya, tidak ada jawaban, kata Mama kamu sedang tidur." ucap sang Papa.
"Iya, Pah, anakku sakit jadi semalam kurang tidur, aku capek," ucapnya.
"Kalau capek bilang sama Mama, biar gantian ngurusnya, kesehatan kamu juga harus dijaga Sayang, gimana kalau Papa carikan pengasuh buat kamu, biar kamu nggak kewalahan ngurus anakmu," ucap sang Papa.
"Nggak Pah, nggak apa-apa, biar Bianca sendiri yang ngurus. Kan kalau sakit nggak tiap hari juga, kebetulan saja sedang sakit cucu Papanya jadi agak sedikit rewel," ucap sang anak
Papa hanya mengelus dada, dalam hatinya berpikir. Anaknya begitu berhati Mulya dan sabar mengurus anak, walaupun tidak ada seorang suami yang menemani. Nampak terlihat mata sang Papa berkaca-kaca, seakan ada air mata yang akan mengalir deras di hamparan pipinya.
"Pah, jangan sedih dong, Bianca nggak apa-apa," Bianca tersenyum lebar. Walau dalam hati yang sebenarnya, dia hatinya terluka. Dia tidak mau di depan sang Papa, terlihat sedih karena takut menjadi pikiran.
\_\_\_
"Papa, sebenarnya tahu Nak, kamu itu sedang terluka, dan kamu itu sebenarnya berpura-pura ceria di hadapan Papa. Orang tua pasti merasakan kesedihan anaknya, tapi Papa pun tidak mau mengusik kesedihanmu karena Papa takut itu akan membuat kamu semakin terluka. Papa hanya bisa berdoa semoga kamu sabar dan kecepatannya kamu mendapatkan kebahagiaan," gumam hati sang Papa, menatap lekat kedua manik sang anak.
\_\_\_\_\_
"Nak, kebetulan besok libur, Papa mau ajak kamu keluar, kita berdua saja ya, anakmu dan Mama jangan ikut," ucap sang Papa.
Papa ingin sekali ada waktu berdua bersama sang anak, seperti yang dia lakukan dulu, ketika Bianca sebelum hamil.
Sang Papa selalu meluangkan waktu ngobrol dari hati ke hati bersama sang anak.
Sang Papa selalu melakukan hal tersebut, secara bergantian antara Tyanca dan Bianca.
Itu cara sang Papa, untuk mendekati hati sang anak agar rasa kasih terjalin utuh.
\_\_\_\_
"Asik, terima kasih Pah," ucap Bianca, tersenyum renyah dan memeluk sang Papa.
"Nanti kita makan di Kafe, setelah itu belanja, terserah kamu mau beli apa aja, ambil saja! Apa saja, terserah yang kamu suka." ucap sang Papa.
__ADS_1
Bersambung