
Papa gelisah.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, nampak Bianca masih menahan rasa sakit di perutnya yang tiap menit rasa mulasnya semakin menjadi.
Perutnya terasa sangat mulas sekali. Sang Mama terus menerus mengelus perut sang anak tersebut dengan penuh perhatian dan kasih sayang yang tulus.
Nampak sang Papa, sedang diluar bersama suami Tante Astrid.
"Aku bingung, nanti setelah melahirkan Bianca mau dibawa ke Jakarta lagi atau disini ya, tapi menurut Mamanya dibawa saja ke Jakarta, ke rumah." ucap sang Papa.
Papa merasa jika tinggal terus di Bekasi akan merepotkan Tante Astrid, tapi nampak terlihat Bianca terlihat nyaman kalau berada di rumah Tantenya, dan ada hiburan tidak sepi yaitu ada anak-anak Tante Astrid, yang masih kecil dan selalu menghiburnya.
Sedangkan jika kembali ke Jakarta nanti dia di rumah sendiri karena kedua orang tuanya kerja. Mungkin juga sang Papa, akan mencari pengasuh untuk Bayinya Bianca, agar Bianca merasa tidak sepi berada di dalam rumah.
Rasa khawatir Papa kian hinggap dia berpikir,
mungkin jika nanti dibawa ke Jakarta, Bianca harus siap dengan segala kenyataan.
Dimana semua orang akan tahu, jika dia sudah melahirkan terlebih lagi teman sekolah. Mungkin Bianca harus siap dengan semuanya, dimana dia harus meyakinkan kepada semua orang apa yang terjadi.
Banyak kenangan yang indah semasa kecilnya ketika Bianca, hidup di Jakarta bersama kedua orang tuanya.
Sosoknya yang polos namun periang dan supel dalam bergaul. Teman sekolah begitu dekat dengannya dan dia pribadi yang menyenangkan, juga teman-teman di lingkungan rumahnya. Mereka sangat dekat kepada sosok Bianca.
Adapun kenangan buruknya dari diri Bianca, yaitu pernah menelan pahitnya kehidupan dimana dia dikhianati oleh seorang lelaki, dan mengakibatkan dia hamil diluar nikah di usianya pada saat hamil masih belia
Sekarang disaat akan melahirkan sang Bayi. Lelaki bajingan itu meninggalkan dirinya.
Dia sendiri tanpa ditemani oleh lelaki tersebut. Bianca harus berjuang melawan rasa sakit untuk menyelamatkan Bayi dalam kandungannya itu.
Papa menghela napas panjang teringat kembali masa-masa dulu.
"Mas, sudah jangan banyak pikiran, Bianca jangan kembali ke Jakarta, tinggal disini aja dengan kita. Istriku ingin sekali mengasuh Bayinya Bianca. Dia semalam sudah bilang kepadaku ingin mengurus Bayinya Bianca. Mas nggak usah khawatir, selama anaknya senang tinggal di rumahku, aku tidak masalah," ucap suami Tante Astrid mencoba menenangkan hati Papanya Bianca.
Suami dari Tante Astrid menepuk lembut pundak Papanya Bianca, seakan menyabarkan hati Papanya Bianca yang sedang bingung.
Bianca Melahirkan
Terdengar suara tangisan bayi didalam ruang persalinan begitu nyaring terdengar.
__ADS_1
Sang Papa sontak terperanjat dan melirik suami Tante Astrid.
"Nah, Bianca sudah melahirkan," ucap Papanya Bianca, sambil tersenyum lebar dan diwajahnya penuh rona bahagia.
Nampak terlihat suami dari Tante Astrid pun tersenyum bahagia, karena Bianca sudah melahirkan.
Papa dan suaminya Tante Astrid pun dengan sigap memasuki ruangan, dimana Bayi akan di mandikan.
"Wah, Bayinya perempuan," ucap sang Mama.
"Bayinya mirip, Rama," Tante Astrid berbisik lekat ke kuping sang Kakak.
Mama Bianca menganggukkan kepalanya.
"Ya, benar. Rambutnya ikal dan matanya mirip Rama," jawab sang Mama
"Berapa kilo berat badan Bayinya Sus?" tiba-tiba sang Papa datang menghampiri.
Papa dan sang istri tatkala melihat Bayinya Bianca, terlihat begitu sedih karena Bayi Bianca begitu kecil. Mama Astri nampak meneteskan air mata, ketika melihat sang cucu dengan berat badannya begitu kecil.
Bayinya Bianca lahir prematur dan berat Bayi tersebut sekitar 1,5 kilo.
Bayi prematur biasanya kesulitan mengatur suhu tubuh mereka, karena bayi prematur tidak memiliki banyak lemak membuat mereka rentan terhadap hipotermia.
Sang Bidan menyarankan agar Bayi tersebut masuk inkubator karena alat ini untuk menempatkan bayi agar tetap hangat.
Semua keluarga yang hadir hanya bisa pasrah, dan menerima kenyataan tersebut.
"Kita ngikut saja apa saran dari Bu Bidan, yang terbaik menurut Bu Bidan. Asal Bayi kita sehat dan selamat kedepannya," ucap sang Mama menghela napas secara perlahan.
"Mah..." teriak Bianca di dalam kamar pasien.
Mendengar teriakan dari sang anak yang baru saja melahirkan sontak sang Mama datang menghampiri.
"Selamat ya Nak, Bayinya perempuan," Mama tersenyum menatap sang anak.
"Anaknya mana Mah?" tanya Bianca.
__ADS_1
"Anaknya harus di masukin dulu inkubator, tapi dia sehat ko, alhamdulillah tidak kurang sesuatu apapun keadaan normal. Cuma karena kondisi lahir prematur jadi Bayi, masuk inkubator dulu agar tumbuh kembang Bayi lebih cepat," sang Mama mencoba menenangkan hati sang anak.
Bianca nampak tegar dia hanya meneteskan air mata, tapi nampak mukanya masih pucat.
"Harusnya ada Rama, di sampingku. Dia hadir menemani kelahiran anaknya ini. Dia tidak tahu, anaknya hari ini lahir, dengan berat badan Bayi sangat kecil. Atau mungkin dia tengah sibuk dengan Bayinya dari pernikahan dengan istrinya sekarang," gumam hati Bianca. Pikiran Bianca seakan melayang terbang jauh.
Dia kembali mengingat sang lelaki yang telah mengkhianati dan lelaki tersebut adalah Bapak dari Bayi yang baru saja lahir.
Sang Mama seakan tahu isi hati dari anaknya tersebut. "Sudahlah, jangan mikirin yang macam-macam yang penting kamu dan Bayi selamat dan sehat. Jangan mikir yang telah lalu, nanti kamu pusing sendiri," tegas sama Mama, dengan membuang napas kasar.
Tiba-tiba sang Tante datang.
"Kak, Bianca setelah keluar dari Bidan ikut dengan aku saja di Bekasi, jangan kembali ke Jakarta," ucap sang Tante, terlihat penuh harap ketika berucap.
Sang Mama menatap lekat kepada Bianca, pertanda Mama ikut saja dengan keputusan sang anak. Dimana pun anak akan tinggal, sang Mama akan turuti.
"Bagaimana Bianca, kamu mau ikut ke Jakarta lagi tinggal sama Mama dan Papa atau dengan Tante Astrid?" tanya sang Mama.
Bianca menghela napas.
"Aku nggak mau ke Jakarta lagi, aku mau tinggal di Bekasi saja, bersama Tante," jawab Bianca sambil melirik sang Tante.
Sang Tante pun tersenyum sumringah.
"Sekarang kamu tidur, istirahat ya," ucap sang Mama, karena piring yang berisi nasi beserta lauk dan sayur sudah habis. Mama pikir Bianca tinggal menenangkan pikirannya dengan tidur istirahat.
Kemudian Mama dan Tante Astrid pun berlalu dari kamar, agar Bianca bisa beristirahat karena setelah melahirkan cukup banyak tenaga yang di keluarkan.
Setelah Mama dan Tante keluar dari kamar pasien, Bianca mencoba memejamkan matanya yang terasa lelah dan capek.
Namun entah mengapa bayangan Rama kian nyata menggelayuti.pikirannya.
__ADS_1
"Apakah aku telpon Rama, untuk memberikan kabar bahwa aku sudah melahirkan seorang Bayi perempuan," gumam hati Bianca.
Otaknya berselancar terhadap sang lelaki cinta pertamanya, yang sudah menghancurkan masa depannya.