Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 142 Penuh sesak


__ADS_3

Panggilan nampak terdengar beberapa kali dari ponsel Bianca yang tengah berada di atas meja rias kamar, namun karena Bianca bersama Tyanca sedang makan dan setelah itu mereka ngobrol di meja makan. Jadi panggilan yang beberapa kali berdering tidak di angkat oleh sang punya pemilik ponsel begitupun dengan ponselnya Tyanca yang dia simpan di dalam kamarnya.


____


2 jam kemudian.


"Nanti ya, tunggu Kakak mau ambil dulu ponsel di dalam kamar, untuk memberitahu Gerry, acara kita pergi berlibur" ucap sang Kakak.


Tyanca pun berlalu dari hadapan sang adik untuk mengambil ponsel, setelah sampai di kamar nampak terlihat Bu Risma (Bu RT) menelepon beberapa kali. Tyanca pun dihinggapi rasa penasaran lalu dia keluar dari dalam kamar dan mengabarkan kabar tersebut kepada sang adik bahwa Bu Risma menelepon.


"Dek,,,ini Bu RT nelpon, ada apa ya!? ucap Tyanca dihinggapi rasa penasaran.


"Bu RT, mana!?" tanya Bianca.


"Ibunya Raden, Bu Risma," jawab sang Kakak.


_____


Tyanca pun membuka isi pesan dari ponselnya tersebut nampak dia terkejut dengan isi pesan yang di sampaikan oleh Bu Risma. {"Papa dan Mama kalian mengalami kecelakaan yang amat serius, Ibu harap kalian segera datang,"}.


{"Dek,,,Mama dan Papa kecelakaan!"} ucap Tyanca. Pandangan matanya seakan jauh meskipun sang Papa tengah melukai hatinya namun dia sebagai anak tetap saja dihinggapi rasa khawatir tatkala mendengar kabar berita tersebut. Tapi dia sangat mengkhawatirkan sang Mama.


Sontak mata Bianca terbelalak ketika mendengar kabar tersebut, belum juga Rian keluar dari Rumah Sakit yang mengalami kecelakaan sekarang giliran Mama dan Papanya mengalami kecelakaan. Musibah datang kembali secara berurutan sang Papa mengalami kecelakaan yang sebelumnya Rian yang mengalami kecelakaan.


"Mengapa kecelakaan ini beruntun!? Apa maksud dari semua ini!?" ucap Bianca, dadanya bergemuruh.


Pikirannya Bianca berselancar tidak karuan, antara sedih, kecewa dan dadanya terasa sesak. "Aku harus datang melihat kondisi Mama dan Papa," gumam Bianca.


____


"Kak, ayo,,kita lihat Mama dan Papa, dia sedang kritis. Ayo, Kak,,hubungi Kak Gerry kita harus segera pergi ke Rumah Sakit," ucap Bianca.


Tyanca pun segera menghubungi Gerry sang suami dan mengabarkan berita duka tersebut


_____@@@_____

__ADS_1


Mereka pun tiba di Rumah Sakit.


Bianca menangis histeris tatkala melihat kondisi kedua orang tuanya, apalagi sang Papa yang masih berada di IGD yang keadaannya cukup serius.


"Alhamdulillah Mama sudah sadar," ucap Tyanca.


Nampak sang Mama pun mengalami luka-luka di bagian tangan dan badannya, dan sudah di pindahkan ke ruangan pasien sementara sang Papa yang masih kritis berada di ruang IGD.


"Alhamdulillah akhirnya kalian datang, di mana Papa!! Papa gimana keadaannya?" tanya sang Mama terdengar sangat mengkhawatirkan keadaan sang suami.


"Papa kalian mengalami luka parah," ucap sang Mama kembali dengan menitikkan air mata.


___


Tiba-tiba sang Dokter datang menghampiri.


"Lebih baik Ibu Astri jangan banyak di tanya dulu, biarkan Bu Astri beristirahat tidur," ucap sang Dokter sambil kembali memeriksa keadaan pasien.


Tyanca dan Bianca pun nampak keluar dari ruangan tersebut. Karena dihinggapi rasa penasaran Tyanca pun bertanya kepada Bu Risma tentang kejadian yang menimpa kedua orang tuanya tersebut. Barusan Tyanca tidak sempat menanyakan kronologis kejadian kecelakaan tersebut kepada sang Mama, karena takut keadaan Mama memburuk dan kembali mengingat kejadian yang membuat hatinya dihinggapi rasa trauma dan sedih.


"Papa dan Mama kamu itu mau menyusul Bianca ke rumahnya Tyanca, karena sang Mama dan Papa khawatir kepada anaknya Bianca yang sedang sakit tapi dibawa pergi jauh pakai Bis," ucap Bu RT.


____


_____


Di ruang Dokter.


Gerry nampak sedang ngobrol serius dengan sang Dokter.


"Maaf,Pak Gerry, jadi tulang kaki kanan nya remuk jadi harus di amputasi, kemungkinan yang terjadi saat tabrakan sangat parah, karena kata sang Mama tabrakan berlawanan dari arah kanan dan menghantam kaki Papa. Tolong tanda tangani dulu surat persetujuan bahwa pasien akan di amputasi," tegas sang sang Dokter dengan raut muka serius.


Degh..


Gerry sangat terkejut dengan pernyataan sang Dokter, matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


____


Nampak Bianca menangis tatkala mendengar kabar sang Papa mau di amputasi, sementara Tyanca hanya diam tidak menampakkan raut muka sedih sedikitpun. Gerry pun sang suami nampak heran dengan sang istri seperti tidak dihinggapi rasa sedih sedikitpun.


"Mih,,apa kamu tidak sedih dengan Papa kamu yang akan di amputasi!" ucap Gerry lekat ke kuping sang istri.


Tyanca menghela napas panjang.


"Itu mungkin sudah takdir Papa karena sudah mengkhianati sang istri dan membuat luka hati anak-anak terima aja kenyataan," ucapnya enteng tersenyum sinis.


"Ya, doakan agar Papa kamu lancar operasinya, Mih," ucap Gerry sang suami dengan menepuk pundak sang istri.


Tyanca hanya terdiam sambil memainkan ponselnya. Mungkin rasa kesal masih tetap menghinggapi hati sang anak.


____


Ting...


Tiba-tiba pesan muncul di ponselnya milik Bianca. Nampak terlihat pesan muncul dari Tante Fani.


{"Bianca, kamu enggak mau lihat keadaan Rian, sebentar lagi Rian mau dioperasi!"} pesan dari Tante Fani membuat hati Bianca dihinggapi rasa bergemuruh di dada, bukan masalah karena Rian mau dioperasi lalu dia khawatir, tapi masalah yang kini datang, mengapa seakan bertubi-tubi. Tidak mungkin juga dia harus datang untuk melihat kondisi Ayahnya anak tersebut, tapi dia pun harus menunggu sang Papa yang akan di amputasi di Rumah Sakit, hati Bianca tidak karuan air mata pun menetes di ujung matanya.


Dia pun merebahkan badannya di kursi ruang tunggu pasien, pandangan matanya terlihat kosong. Ponselnya dia simpan di meja, dan masih nampak terlihat pesan dari Tante Fani yang belum dia balas. Dan Gerry pun nampak melihat isi pesan dari Tante Fani tersebut.


____


Gerry nampak membuang napas kasar, dia pun tahu bahwa sang adik sedang terluka dan tersayat hatinya.


"Bianca yang sabar ya, yang ikhlas memang Rian mantan kamu atau Ayah dari anakmu. Doakan saja dia agar lancar operasinya dan kamu pun sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Rian tidak apa-apa kalau kamu tidak melihatnya untuk menengok dia ke Rumah Sakit. Lebih penting kamu berada di sini menunggu Papamu yang akan dioperasi," ucap Gerry dengan mengelus pundak sang adik dengan lembut.


Sementara Tyanca pun yang membaca isi pesan dari Tante Fani nampak sinis terlihat wajahnya.


"Biarin saja, biar mati!" ucapnya geram


"Mih,,,!!" mata Gerry melotot ke arah sang istri.

__ADS_1


Bianca pun terkejut tatkala melihat Gerry dengan mata melotot. Sementara Tyanca hanya tersenyum sinis tanpa ada rasa takut sedikitpun terhadap sang suami.


Bersambung..


__ADS_2