
Nampak Gerry mengelilingi ruangan Ruko yang mau dibelinya. Gerry pun menaiki tangga karena Ruko tersebut 3 lantai, begitu luas tempat tersebut dan sang istri mengikutinya dari arah belakang. Sementara Bianca dan Kang Burhan berada di bawah.
"Amel nya nggak ikut?" tanya Bianca dengan pandangan mengarah ke Kang Burhan nampak tersipu malu.
"Nggak, katanya dia kurang enak badan, dan ada Kakaknya datang, jadi mungkin sedang melepas rindu dengan sang Kakak," ucap Kang Burhan menatap Bianca.
"Anak ini usianya masih belia, nampak tidak bosan di pandang," gumam hati Kang Burhan.
"Kang Burhan sudah lama kenal Amel?" tanya Bianca kembali.
"Sudah, sudah lama Akang mengenal Amel, mungkin sebelum Amel menikah dengan Rama karena Akang berteman dekat dengan Bapaknya Amel, relasi bisnisnya Bapaknya Amel," ucap Kang Burhan tersenyum ramah.
"Oh, kedekatan mereka cukup lama, dan tidak mungkin jika aku goyah kan, mereka." gumam hati Bianca.
"Memangnya kenapa? Nanya udah berapa lamanya, kedekatan Akang dengan Amel. Hehehehe..." ucap Kang Burhan tersipu malu.
"Ng-nggak kok, enggak apa-apa," Bianca terdengar gugup.
"Nah sekarang giliran Akang yang nanya sama Bianca. Sekarang Bianca sedang dekat dengan siapa?" Kang Burhan menggoda Bianca.
_____
Nampak Bianca pandangannya menunduk dan mukanya merah padam. Dia menganggap dan berpikir bahwa, Kang Burhan sedang menggodanya. Padahal Kang Burhan adalah tipe lelaki dewasa dan humoris. Dia menganggap Bianca seperti saudara yang sudah lama tidak bertemu dan sekarang baru bertemu kembali, karena Kang Burhan baru mengenal keluarga Bianca begitu sopan dan terasa dekat.
"Bianca sekarang tidak dekat dengan siapa-siapa Kang," ucapnya tersipu malu.
"Loh, Kenapa? Padahal Bianca wanita cantik, dan baik," kembali Kang Burhan menggoda Bianca.
"Ah, Akang bisa saja," ucapnya, terlihat salah tingkah.
_____
"Saya sangat cocok dengan tempat ini Kang, nanti aku ke sini lagi bersama Mama Astri. Biar Mama melihat Ruko ini," ucap Gerry tiba-tiba datang dari lantai atas.
"Kalau Mama pasti cocoklah, soalnya tempatnya enak dan strategis," balas Tyanca.
Tyanca pun nampak betah dengan keadaan Ruko tersebut.
"Syukurlah kalau cocok," Kang Burhan pun tersenyum puas karena Ruko yang dia mau keluarkan disambut baik oleh Gerry dan Tyanca.
_____
Gerry pun nampak bersama Kang Burhan ngobrol 4 mata untuk membicarakan masalah harga Ruko tersebut.
Sementara Bianca pandangannya sesekali melirik ke arah Kang Burhan yang sedang berbicara dengan Gerry.
Bianca nampak tersenyum sendiri dan jemari tangannya membereskan helaian rambutnya yang terlihat tidak rapi.
Tyanca menatap lekat sang adik yang sedang memandangi Kang Burhan.
Sosok Kang Burhan yang nampak berwibawa, dan dewasa seakan meluluhkan hati Bianca. Beda dengan Rama yang terlihat tidak dewasa dan menebar rayuan gombal.
_____
"Bianca sepertinya mengagumi sosok Kang Burhan," gumam hati Tyanca sang kakak.
••
"Kenapa aku merasakan rasa nyaman ketika berbicara dengan Kang Burhan," gumam hati Bianca, dengan menatap lekat kepada Kang Burhan yang sedang berbicara dengan Gerry.
_____
Nampak Gerry bersalaman dengan Kang Burhan pertanda Ruko tersebut akan dibeli oleh Gerry. Nampak kedua orang tersebut tersenyum pertanda udah ada kesepakatan di antara mereka.
Gerry pun pamit kepada Kang Burhan karena sore ini dia akan pulang kembali ke Bandung.
"Kalau Amel lusa masuk kerjanya," ucap Gerry dengan pandangan mengarah ke arah Kang Burhan.
"iya, Amel sudah cerita sama saya, mungkin dia akan diantarkan oleh saya, ke Bandung," ucap Kang Burhan.
Degh..
Entah mengapa jantung Bianca berdebar, tatkala mendengar ucapan yang keluar dari mulut Kang Burhan, bahwa dia akan mengantarkan Amel ke Bandung.
__ADS_1
"Kenapa aku dihinggapi rasa cemburu?" gumam hati Bianca, dia pun tidak mengerti dengan keadaan hati dan perasaannya karena begitu cepat, dia mengagumi sosok Kang Burhan yang terlihat dewasa dan lembut.
Mungkin dia menemukan sosok seorang Bapak dari Kang Burhan yang mengayomi.
"Bianca juga mau ikut ah sama kak Tian kak ke Bandung," ucapnya.
"Boleh, tapi nanti kamu pulangnya sama siapa?" tanya Tyanca menatap sang adik.
"Pulang pakai kereta Kak," jawabnya.
"Mau berapa hari Memangnya di Bandung?" tanya Kang Burhan tersenyum renyah.
•••
"Senyuman Kang Burhan seakan adem,"
gumam hati Bianca.
"Mungkin 2 atau 3 hari," jawab Bianca tersipu malu.
"Kebetulan proyek saya yang di Bandung belum selesai, dan saya di Bandung kemungkinan tiga hari. Jadi nanti Bianca pulangnya bisa bareng sama saya saja," ucap Kang Burhan.
___
Seketika nampak wajah Bianca tersenyum lebar, dan hatinya berbunga-bunga dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Kang Burhan.
"Bo-boleh," ucapnya dengan cepat.
"Ya, sudah, nanti kamu pulangnya bareng saja sama Kang Burhan," ucap Tyanca.
Gerry dan Tyanca tidak ada rasa curiga sedikitpun terhadap Bianca yang sedang jatuh hati kepada Kang Burhan.
_____
Akhirnya mereka pun pamit kepada Kang Burhan, kemudian mereka memasuki mobil. Nampak Bianca melambaikan tangan kepada Kang Burhan ketika mobil akan melaju. Bianca pun tersenyum manis kepada Kang Burhan, dan Kang Burhan pun membalasnya dengan senyuman terbaiknya.
"Niatku akan berpura-pura jatuh cinta kepada Kang Burhan, agar Amel dihinggapi cemburu. Tapi kenapa aku jatuh cinta beneran, dengan Kang Burhan?" gumam hati Bianca dihinggapi rasa bergemuruh dalam dada.
_____
_____
"Gimana Pih, harga Ruko tersebut sesuai dengan yang kita obrolkan tadi, enggak?" tanya Tyanca menatap ke arah sang suami yang sedang fokus menyetir mobilnya.
"Alhamdulillah Mih, sesuai dengan rencana kita," jawab Gerry.
"Syukurlah kalau begitu, tapi Mama kan mau lihat Rukonya dan kita mau pulang ke Bandung sore ini. Jadi gimana? Apa kita undur saja pulang ke Bandung besok pagi jadi sore? Biar Mama lihat Rukonya terlebih dahulu," ucap Tyanca, karena dia pun ingin melibatkan sang Mama dalam bisnisnya.
"Aku terserah kamu saja, Mih," jawab Gerry.
"Gimana Bianca, Kamu setuju dengan Ruko yang akan dibeli oleh Kak Gerry?" tanya Tyanca kepada sang adik.
"Setuju Kak! Terima kasih ya," ucap Bianca.
"Tuh, kan kemarin mengelak untuk diajak lihat Rukonya, baru sekarang terasa Rukonya bikin betah," ejek Tyanca kepada sang adik tersenyum sinis dan mengejek sang adik
"Iya Kak, maaf! Soalnya Biancal belum lihat Rukonya tapi tadi pas lihat Rukonya, Bianca jatuh hati," ucapnya tertawa terkekeh.
•••
"yang lebih utama adalah jatuh hati kepada
Kang Burhan," gumam hati Bianca,
tersenyum sendiri.
•••
"Jadi jangan cemberut, cemberut lagi ya?" ejek Gerry tertawa lepas.
Bianca pun tersipu malu dengan ejekan suami sang kakak.
_____
__ADS_1
Tiba di rumah.
Bianca memasuki kamar, kemudian dia menidurkan sang anak di kasur empuknya.
Bianca menghela napas secara perlahan.
kemudian dia duduk di depan meja riasnya, nampak dia memandangi wajah dirinya, pikirannya melayang jauh.
"Tadi Kang Burhan menatapku dengan lekat. Mungkinkah dia terpesona denganku?" ucap Bianca tersenyum renyah.
Bianca memejamkan matanya kembali bayangan Kang Burhan hinggap di benak pikirannya.
___
Sosok Kang Burhan dewasa, mengayomi, sedangkan Bianca gadis belia yang pemikirannya masih (Baper) bawa perasaan.
Sifat dewasa dan mengayomi dari Kang Burhan membuat Bianca terbawa perasaan, mungkin Bianca menemukan sosok yang nyaman dan melindungi. Sementara Kang Burhan bukan tipe yang gombal dengan kata-kata tetapi lelaki yang menjaga arwah wanita jauh dari kata untuk mengkhianati hati wanita seperti Rama, cinta pertamanya dulu.
Di saat jatuh cinta pertama kali Bianca menemukan sosok Rama yang tidak dewasa dan menebar pesona, Bianca pun dibutakan oleh cinta.
Sekarang Bianca kembali jatuh hati kepada sosok Kang Burhan yang dewasa dan lembut jadi tingkat (Baper) semakin kuat hinggap di dalam hatinya.
_____
Tok... Tok...Tok...
"Bianca buka pintunya, makan dulu," suara Mama Astri begitu terdengar nyaring mengetuk pintu kamar Bianca
"Mama sudah pulang jam segini," ucapnya. Bianca pun menyeret langkah kakinya Ke depan pintu.
Krekkkk
Akhirnya pintu pun terbuka dengan lebar, Mama Astri menatap lekat Bianca, sang Mama dihinggapi rasa bahagia dalam hatinya, karena ketika melihat Bianca senyumannya tidak seperti hari kemarin yang nampak kusut dan terlihat menahan emosi, yang terlihat sekarang oleh sang Mama muka dari Bianca tersenyum sumringah.
"Mama sudah pulang? Tumben pulangnya tidak sore," ucap Bianca tersenyum lebar kepada sang mama.
"Iya, Sayang. Alhamdulillah jualannya hari ini laris. Kita makan yuk," ucap sang Mama sambil pandangannya melirik ke arah kasur, di mana anaknya Bianca sedang tertidur pulas.
"Iya Mah," ucap Bianca.
"Ayo, mumpung anakmu masih tidur," ucap sang Mama.
Mama asri pun menggandeng tangan Bianca menuju meja makan.
_____
Di meja makan.
"Mah, tempatnya enak loh, nyaman dan strategis," ucap Tyanca sambil melirik ke arah sang suami.
"Iya Mah, jadi saya dan Tyanca sepakat untuk membeli Ruko tersebut yang dihadiahkan untuk Bianca. Nah, sekarang saya akan mengajak Mama untuk melihat Ruko tersebut," ucap Gerry menatap sang Mama.
Sontak muka Mama tersenyum lebar tatkala mendengar kabar tersebut, karena sang anak dan Gerry sudah memberikan hadiah yang terbaik untuk Bianca, yaitu dibelikan sebuah Ruko.
"Terima kasih Tyanca, dan Nak Gerry. Tapi kan kalian sekarang mau pulang ke Bandung," ucap sang Mama.
"Kita pending pulang ke Bandung nya besok pagi Mah, sekarang setelah makan Mama lihat dulu Rukonya," ucap Gerry.
Mama pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar.
"Bianca gimana, kamu mau mengisi Ruko tersebut! Kamu nyaman nggak dengan Ruko itu?" tanya sama mama menatap lekat ke arah Bianca
"Tempatnya enak Mah, nyaman dan strategis. Semoga Bianca lancar usaha di sana," ucapnya tersenyum gembira
"Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, sekarang kita makan dulu," ucap sang Mama.
Mereka pun akhirnya menyantap makanan yang ada di meja makan.
Sang Mama tersenyum bahagia karena Bianca makannya lahap, beda ketika tadi malam yang menampakkan muka cemberut. Kalau sekarang terlihat dari binar matanya ada rasa gembira.
"Syukurlah kalau anakku kembali ceria," gumam hati sang Mama, menatap lekat ke arah Bianca.
Bersambung...
__ADS_1