
Setelah sang suami masuk Penjara dan Rani menggugat cerai, dan kehidupan Rani sekarang dirundung masalah kembali karena begitu banyak orang yang datang untuk menagih utang.
"Bu, pokoknya kita tidak mau tahu, Ibu harus menutup usaha kuliner Ibu, yang ada di Bandung, karena sertifikatnya sudah ada di Bank digadaikan. Masa sudah jatuh tempo bahkan nunggak beberapa bulan tidak bayar! Ya, otomatis jadi tempat usaha tersebut akan segera di sita." nampak 2 orang lelaki dengan berbadan tegap, wajahnya yang sangar datang menghampiri rumah Rani.
Rani seakan sesak dan tidak bisa berkata apa-apa karena sudah 3 orang yang datang ke rumah untuk menagih utang.
Rani seakan pasrah dengan semua yang diputuskan oleh orang tersebut. Dia pun merelakan jika tempat tersebut di sita oleh pihak Bank.
_____
Rani menghela napas panjang, nampak dia pikirannya berselancar jauh.
"Masih ada simpanan perhiasan di lemari yang aku simpan rapat. Itu simpanan aku satu-satunya," gumam hati Rani.
Rani pun menyeret langkah kakinya ke kamar, dia pun seakan ragu untuk menginjakkan kembali rumah tersebut karena ada masa lalu yang begitu kelam yang terjadi di kamar tersebut, ketika sang suami mencoba melakukan serangan kejahatan dengan cara mendorongnya ke arah kaca lemari yang mengakibatkan badannya terluka dan kepalanya bercucuran darah.
Rani kemudian membuka lemari yang letaknya berada di dekat jendela kamar.
Setelah lemari terbuka dia pun mengambil kunci yang berada di bawah baju yang tersimpan rapi dan tersembunyi. Setelah kunci berada di genggamannya, dia pun secara perlahan membuka laci tersebut.
Ceklek..
Nampak laci pun terbuka dengan lebar, Rani mengambil sebuah kotak di dalam lemari tersebut kemudian dia menyeret langkah kakinya, dan duduk di pinggir ranjang.
Nampak dia menghela napas secara perlahan. Rani sudah lama tidak membuka isi kotak tersebut.
"Ini satu-satunya barang milikku, dan rumah ini pun akan segera di sita!" ucapnya matanya berkaca-kaca.
Degh...
Nampak terkejut hatinya Rani ketika melihat kotak perhiasannya tersebut kosong, nampak tidak ada perhiasan satu pun yang tersisa disana. Dia pun dihinggapi rasa curiga terhadap mantan suaminya karena yang tahu tempat kunci laci adalah mantan suami, sang ART mana mungkin bisa masuk ke dalam kamarnya yang keadaan terkunci.
*Goblok,,,dasar!" mata Rani melotot dan dia lemparkan kotak perhiasannya tersebut dengan kasar ke lantai.
____
Nampak Rani menjatuhkan badannya ke lantai terasa lemah lunglai badannya, dia berpikir sudah tidak ada lagi harta yang dia miliki karena terkuras habis oleh mantan suaminya tersebut. Rani pun dihinggapi rasa pusing yang teramat karena yang menagih utang lewat telepon begitu banyak berdering menanyakan kapan di lunasi.
Rambutnya dia remas dengan kasar, pikirannya melayang jauh entah kemana. Rasa kesal, kecewa, marah, tumpah jadi satu hinggap menyertainya.
__ADS_1
Tok...Tok...Tok...
Pintu terdengar di ketuk beberapa kali oleh sang ART, dari nada bicaranya sang ART seakan dihinggapi rasa khawatir karena sang majikan terdengar menangis sesenggukan.
"Bu,,,ada apa? Buka,,, pintunya!" ucap sang ART mengetuk pintu beberapa kali.
"Aku khawatir dengan keadaan Ibu di dalam kamar, kenapa!?" gumam sang ART tersebut.
_____
Sang ART seakan tidak mau terjadi sesuatu menimpa terhadap sang majikan karena dia diberi amanat oleh kedua orang tuanya Rani, agar menjaga Rani karena takut kondisi Rani memburuk dengan setelah terjadinya KDRT dan banyaknya yang menagih utang terhadap Rani bekas pinjaman sang mantan suami.
Kedua orang tuanya Rani sebenarnya menginginkan Rani tidak tinggal di rumahnya, yang sebentar lagi akan kena sita juga oleh Bank. Rumah tersebut adalah pemberian sang Papa, penuh kenangan yang terjadi di rumah tersebut dan kedua orang tua Rani takut jika Rani kembali mengenang masa lalunya yang buruk bersama sang mantan suami dengan melihat sekeliling rumah itu.
Niat pindah keluar kota pun, untuk tinggal di rumah sang Tante, Rani urungkan.
_____
Terdengar Rani berteriak dan bicara sendiri, kepalanya yang dia rasakan saat ini sangat teramat sakit sekali.
Bayangan semua pertengkaran dia dengan sang suami kian hinggap nyata terlihat.
•••
Kemudian Rani tertawa terkekeh setelah itu dia menangis sedih, sang ART pun kupingnya lekat ke arah pintu kamar. Dia pun tambah dihinggapi rasa khawatir dan penasaran dengan apa yang dilakukan Rani di dalam kamar itu. Sang ART pun kemudian mendorong pintu dengan kasar karena rasa khawatir tengah menghinggapinya.
Bruk...
Akhirnya pintu pun terbuka lebar.
Nampak Rani sedang termangu duduk di sudut kamar, dan Rani memegang kedua lututnya. Pandangannya kosong, mata berair penuh air mata, dan dengan senyuman lebar.
Sorot mata Rani begitu tajam tatkala melihat sang ART memasuki kamarnya, dia pun menutup penuh mukanya dengan kedua telapak tangannya. Rani seakan dihinggapi rasa takut yang teramat.
"Jangan,,,jangan, pukul aku! Jangan,,,!!" kembali Rani berteriak tapi dengan tangisan yang terdengar sangat pilu.
"Depresi,,,!?"
"Apa Rani sedang mengalami depresi!?" gumam hati sang ART, dada sang ART sangat bergemuruh, dia terkejut dan dihinggapi rasa takut dan sedih karena sang majikan seperti mengalami depresi atau kena gangguan mental. Karena ketika tertawa dia terlihat mengeluarkan air mata dan ketika menangis, dia seperti dihinggapi rasa takut yang teramat.
__ADS_1
"Aku,,,bodoh, Hahahaha...!!!" ucapnya menggerutu.
Sang ART nampak meneteskan air mata tatkala melihat sang majikan mengalami gangguan mental.
____
Rani pun kembali menatap lekat kepada ART tersebut kemudian dia mengelus lembut pipi sang ART. "Kamu siapa? Apa kamu Ibunya Rama!" tanya Rani sorot matanya begitu tajam seakan hendak memangsa sang ART tersebut.
"Bu,,,ini Mbak, yang ngurus Ibu disini, istighfar Bu,,,!" ucap sang ART terdengar mulutnya bergetar ketika berucap dan matanya berkaca-kaca terlihat ada kesedihan dari ART tersebut.
"Bapaknya Rama,,,Bapaknya Rama, kemana dia!?" ucapnya kembali sambil pandangannya beralih ke kaca lemari yang masih dalam keadaan pecah kacanya, karena belum diganti oleh yang baru. Saat itu kaca tersebut pecah karena akibat Rani yang di dorong keras oleh suaminya itu.
Rani kembali teriak tatkala melihat lemari tersebut, bayangan dia ketika di dorong oleh sang suami kembali membayanginya. Begitu sakit badannya ketika di dorong oleh sang suami.
"Aww,,,, sakit,, sakit,,!' ucapnya sambil memegang kepalanya kemudian dia kembali menangis dan di akhiri dengan tertawa terbahak.
____
Sang ART keluar dari kamar Rani.
Sang ART, seakan tak kuasa tatkala melihat keadaan itu. Dia pun keluar dari kamar Rani, lalu dia menyeret langkah kakinya ke dalam kamarnya untuk mengambil ponselnya yang berada di atas meja kamarnya.
Dia segera menghubungi Ibunya Rani, dan mengabarkan bahwa Rani keadaan seperti depresi.
•••
"Kamu,,,jahat!!" teriak Rani dari dalam kamarnya itu. Suaranya sangat nyaring terdengar yang disertai dengan tertawa terbahak. Hal ini mengakibatkan hati sang ART dihinggapi rasa takut dan khawatir yang amat dalam.
{"Mbak, apakah itu Rani!?" tanya Ibunya Rani, ketika sang ART sedang menelepon. Nampak terdengar suara Rani yang sedang ngamuk dan berteriak mengeluarkan rasa amarahnya yang selama ini terpendam.
{"Iya, Bu,,,Mbak takut dan khawatir dengan keadaannya,"} jawab sang ART.
Terdengar jelas oleh sang ART, Ibunya Rani terisak tangis tatkala mendengar sang anak berteriak seakan mengalami depresi.
"Mbak, aku mau kesana tungguin ya, Mbak. Kamu jangan keluar dari rumah. Kalau kamu takut kunci aja dari luar. Ibu takut dia kabur," ucap Ibunya Rani.
Sang Ibu pun menutup sambungan teleponnya tersebut.
Sang ART pun dengan cepat, kembali melihat keadaan Rani yang terdengar berteriak dan melempar barang yang ada di ruangan kamarnya, akhirnya sang ART pun mengunci kamar dari arah luar kamar karena takut Rani keluar kabur keluar rumah.
__ADS_1
Bersambung...