
Rama terbangun dari tidur, dia berjalan menuju teras rumah dimana disana ada Ibu dan Tantenya, yang sedang asik ngobrol.
Melihat sang Ibu bercucuran air matanya, begitupun dengan sang Tante. Rama dihinggapi rasa penasaran kepada mereka.
"Ada apa ini," ucap Rama yang menatap kedua orang tersebut. Rama dalam hatinya dihinggapi rasa khawatir dan tanya yang begitu dalam.
Dengan cepat Tante Fani dan sang Ibu menghapus air matanya ketika Rama datang menghampiri mereka.
"Rama, kamu sudah bangun," ucap Tante Fani sedikit agak gugup, ketika mendapati Rama sedang berdiri tegap di hadapannya.
"Ada apa dengan Ibu, Tante juga. Kenapa kalian?" tanya kembali Rama, dihinggapi rasa penasaran yang dalam.
"Ngg- Nggak apa-apa," ucap Ibunya Rama, dengan cepat berbicara. Namun Rama seakan tidak percaya apa yang baru saja di ucapkan oleh sang Ibu. Karena ada kebohongan yang terlihat di mata sang Ibu.
Mata sang Ibu begitu sembab dan dari raut mukanya nampak terlihat sedang memikirkan sesuatu. Terlihat pandangannya kosong.
"Rama, duduk," ucap sang Tante, mencoba menenangkan hati Rama.
Rama pun jadi tambah penasaran dengan melihat gelagat sang Tante, yang seakan sedang ada masalah dengan pandangan seakan sedang menyembunyikan sesuatu.
"Tante aku tahu, ada masalah mengenai Bapakku, tapi aku sudah siap dengan semuanya. Coba sekarang Tante jawab jujur apa yang terjadi terhadap Bapakku," ucap Rama.
_______
Rama terlihat mencoba santai ketika berucap, padahal dalam hatinya sungguh teriris.
Rama sudah mengetahui perselingkuhan Bapaknya sudah lama sekali, namun dia belum tahu wanita yang dekat dengan Bapaknya itu siapa.
Rama bisa berkata begitu mungkin karena dia juga sedang berada di posisi yang salah, dan selama ini selalu menyakiti sang Ibu. Jadi Rama tahu diri dengan keadaan posisi dia sekarang seperti apa.
______
"Bapakmu nikah lagi dan wanita yang di nikahin oleh Bapakmu itu adalah Tante Rani, yang kemarin menabrak kamu," ucap Tante Fani lirih.
Tante Fani nampak tidak merasa khawatir dengan keadaan emosi Rama, karena terlihat dari raut mukanya dia lebih santai dan tenang.
"Rama tidak bisa berkata apa-apa Tante, ini masalah Ibu dan Bapak. Rama hanya bisa mendoakan yang terbaik kedepan buat kedua orang tua Rama" jawab Rama, tatapannya mengarah kepada sang Ibu.
Dadanya bergemuruh dalam hati Rama sangat kecewa sekali. Terrnyata wanita yang jadi pilihan istri kedua Bapaknya itu adalah seorang wanita yang menabraknya waktu kemarin.
Terjawab sudah teka-teki selama ini yang menjadi pikiran sang anak siapa sosok wanita yang ada dalam diri Bapaknya tersebut.
Sang Ibu hanya tersedu menangis pilu.
"Bu, maafkan Rama ya, selama ini aku hanya nyusahin Ibu saja dan belum bisa membahagiakan Ibu," Rama tertunduk.
Tiba-tiba Bapaknya Rama datang.
Bapaknya Rama menatap lekat kepada Tante Fani, dia seakan kesal karena Tante Fani telah menampar istri sirinya itu yang bernama Rani.
__ADS_1
Sang Tante pun seakan tahu bahwa suami kakaknya itu sedang menaruh kesal terhadap dirinya itu.
Kemudian Bapaknya Rama, masuk ke dalam kamar lalu dia membereskan baju dan memasukkannya kedalam koper. Tanpa rasa berdosa dia memasuki rumah tersebut, padahal dia sudah berhari-hari tidak pulang ke rumah.
Sang istri memasuki kamar dan termangu di depan lemari.
"Pak, apakah benar kamu sudah menikah lagi?" tanya Ibunya Rama, yang tiba-tiba datang masuk ke dalam kamar dengan sorot mata tajam menatap lekat kepada sang suami. Tatapan sang istri seakan menyiratkan luka yang begitu dalam.dan pedih.
Sang suami hanya diam tanpa ada kata sepatah pun yang keluar dari mulutnya, dan dia begitu asik merapikan pakaian yang sedang dibereskan kedalam koper.
"Pak, aku istri sah kamu, ada apa dengan kamu ini, sifat mu jadi berubah semenjak mengenal wanita itu!" sambung Ibu kembali dengan nada seperti kesal karena dia berbicara seakan tidak di anggap oleh suaminya itu.
"Sudahlah Bu, aku lagi pusing," jawabnya enteng dengan pandangan melotot ke arah istri sahnya itu.
Tiba-tiba sang suami merogoh ponsel yang berada di dalam saku celananya, lalu dia memberikan pesan kepada Rani istri sirinya.
{"Mah, aku mau bicara dulu dengan Ibunya Rama. Mama tunggu saja disana, didalam mobil jangan kemana-mana,"}.
\_\_\_\_
Terrnyata Rani sedang menunggu di sekitar rumah Rama, mobil yang di kendarai oleh mereka tidak berani mereka masukkan kedalam garasi rumahnya.
\_\_\_\_\_
Nampak sang istri ketika melihat suaminya memberikan pesan kepada istri sirinya itu, dia
hanya bisa mengelus dada,. Sang istri mencoba menahan rasa amarah yang bergejolak di dada. Tidak bisa di bohongi padahal jantungnya bagaikan di remas begitu sakit dan perih.
Sang suami membuang napas kasar lalu dia mengambil posisi duduk di dekat jendela kamar, seakan tidak ingin berdekatan dengan sang istri dan ingin menjauh. Sang istri pun seakan menyadari bahwa suaminya itu sekarang sudah tidak ada rasa lagi terhadapnya dirinya, atau sudah tidak lada lagi rasa sayang dan peduli kepada sang istri.
"Aku mau bicara serius sama kamu, Aku sebenarnya sudah nikah lagi, dan aku sekarang ingin.." ucap sang suami seakan tidak bisa meneruskan ucapannya lagu. Dia pun tidak berani menatap sang istri.
Dia seakan ragu untuk mengucapkannya. Tidak bisa di pungkiri pernikahan yang telah dibina oleh kedua pasangan tersebut cukup lama dan sang suami masih ada rasa sayang sedikit untuk sang istri. Begitu banyak kenangan yang di torehkan oleh mereka berdua selama mengarungi bahtera rumah tangga.
"Ingin apa Pak?" tanya sang istri.
jantungnya seketika berdetak lebih kencang tidak karuan.
"Aku ingin ceraikan kamu dan aku akan lunasi hutang Rama yang 100 juta itu!" ucapnya seakan mengejek sang istri.
Sontak sang istri mendengar kabar tersebut dadanya seperti di siram bensin rasa panas langsung menyambar hatinya.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, mau ceraikan aku dan akan melunasi hutang anakmu, kamu punya uang dari mana untuk melunasi hutang Rama. Atau mungkin karena wanita pelakor itu yang sekarang mampu membiayai kamu. Pak kamu sedang dibeli dengan uang oleh wanita itu. Kamu sadar pak!" sang istri sedikit berteriak ketika berucap, mengakibatkan Tante Fani dan Rama dihinggapi rasa khawatir.
Mereka pun menyeret kakinya ke dalam kamar. Nampak terlihat sedang terjadi percekcokan antara kedua orang tuanya.
"Kak, tenang dan sabar," ucap Tante Fani yang memasuki ke dalam kamar dan mendekat ke arah sang Kakak. Dia mengelus pundak sang Kakak mencoba dan menenangkannya.
"Gara-gara kamu semua kacau!" telunjuk Bapaknya Rama, mengarah ke Tante Fani. Dia seakan terhasut oleh omongan sang istri sirinya itu bahwa dia sudah di tampar pipinya, yang mengakibatkan ada rasa sakit dan perih dan itu mengakibatkan ada rasa kesal dan marah yang menghinggapi sang suami.
"Mas nyalahin saya, memang sudah waktunya terbongkar Mas. Jangan nyalahin saya," Tante Fani mencoba membela dirinya sendiri.
"Kamu nggak sopan ya, pakai acara menampar pipi segala. Aku malu sama Rani!" ucapnya membela istri sirinya itu.
Bapaknya Rama seakan tidak malu untuk berbicara dan membela Rani.
"Maksud Bapak apa, nggak sopan Tante Fani mungkin kesal kepada istri baru Bapak dan ingin membela Ibu," bela Rama.
"Kamu Rama, jangan ikut-ikutan membela Tante kamu ya, kamu selalu bikin ulah saja selama ini," Bapaknya Rama melotot seakan tidak terima kalau dia di salahkan oleh anaknya dan anaknya membela Tantenya.
"Ulah yang dibuat Rama itu karena karma dari Bapak, dan Bapak pun ternyata selalu membuat ulah," Rama menatap tajam sang Bapak, yang tersulut emosi.
"Ramaaaaaa!"
Sang Bapak berteriak, dia seakan ingin menampar anak tersebut. Namun dengan sigap sang Tante menyambar tangan suami dari Kakaknya tersebut.
"Tampar aku Mas, jangan anakmu!" ucap sang Tante membela.
"Arrghhhhhh...semua gara-gara kamu!" telunjuk Bapaknya Rama mengarah ke Tante Fani. Dia pun berlalu cepat keluar dari kamar dengan membawa koper.
Nampak tidak ada kejelasan dari obrolan tadi yang di sampaikan oleh sang suami karena dihinggapi rasa napsu dan amarah, sang suami berlalu begitu saja.
__ADS_1
Bersambung...