Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 74 Kenangan Lama


__ADS_3

Amel nampak berjalan menuju ke rumahnya terasa hampa, setelah mendengar semua cerita dari Ibunya Bianca, mengenai Rama yang ada hubungannya dengan anaknya itu.


Jalannya terasa berat dan pelan, pandangan matanya seakan tidak sempurna untuk menatap ke depan.


Ketika Amel hendak membuka gerbang pintu halaman garasi.


"Mel..." tiba-tiba ada yang memanggil dari arah belakang.


Amel seakan sudah tidak asing lagi dengan bunyi suara yang memanggilnya tersebut.


"Kak Angga," ucapnya.


Dia pun dengan cepat pandangannya mengarah kebelakang.


Ternyata benar sang Kakak nampak sedang berjalan dengan membawa beberapa tas.


Amel tersenyum merekah tatkala melihat sang Kakak, karena sang Kakak sudah satu bulan lebih tidak pulang ke rumah.


"Kak, di antar sama siapa, ko' jalan, nggak pakai kendaraan," ucap sang adik, matanya berselancar mengelilingi jalan tapi disana tidak di temukan mobil yang mengantarkannya.


"Kakak tadi pakai Kereta terus di teruskan memakai Taksi," ucapnya tersenyum ramah.


Angga dan Amel berpelukan melepas rindu.


Mereka pun memasuki rumah, nampak sang Ibu sedang menggendong sang Cucu.


Angga mencium gemas Amera, anak dari Amel. Lalu dia mencium punggung tangan sang Ibu.


"Bapak ada?" tanya Angga.



"Bapak sedang pergi bersama, Kang Burhan," jawab sang Ibu.



Mendengar nama, Kang Burhan sontak Angga, dihinggapi rasa penasaran. Karena sebelum Amel mengenal Rama, sang Bapak sudah menjodohkan Amel dengan Kang Burhan usianya sekitar 40 tahun. Dia orang berada, mempunyai beberapa kontrakan dan Toko di pasar.



"Ada apa Bapak, ketemu Kang Burhan, Bu?" tanya Angga sambil berjalan ke dalam rumah yang di ikuti oleh Amel dan Ibunya.



"Mau ada bisnis," jawab sang Ibu.



"Kak Angga, Amel buatkan kopi, ya," ucap Amel, menawarkan kopi kepada sang Kakak.


Amel pun berlalu dari hadapan sang Ibu dan Angga menuju dapur.



"Kirain Bapak, mau ketemu Kang Burhan, ingin mencoba menjodohkan kembali dengan Amel," bisik Angga.


Lekat ke kuping sang Ibu sambil tertawa terkekeh.



"Iya, ya, kalau dulu Amel mau di jodohkan dengan Kang Burhan, pasti hidupnya terjamin," ucap sang Ibu.


•••


Mengenang masa lalu ketika Amel mau di jodohkan dengan Kang Burhan, tapi Amel lebih dahulu hamil oleh Rama, dan perjodohan tersebut urung di lakukan.



Burhan lelaki Sunda, dia duda kaya, tidak mempunyai anak dan istrinya meninggal.

__ADS_1


Dia dulu sangat ingin menikahi Amel. Sang Bapak sebenarnya ingin anaknya bisa menikah dengan Burhan. Tapi apa daya Amel sudah keadaan hamil saat itu oleh Rama.



Saat itu Burhan sangat kecewa kepada keluarga Amel. Dia berharap lebih kepada Amel dan baru sebulan ini, Bapaknya Amel terlihat kembali akrab dengan Burhan karena ada bisnis usaha.


•••


"Gimana Bu, dengan Rama. Apa sudah bayar uang yang 100 juta kepada Bapak?" tanya Angga menatap lekat kepada sang Ibu.



"Sudah kemarin," jawab sang Ibu.



Kemudian sang Ibu menceritakan semuanya, apa yang terjadi ketika Rama datang ke rumah.


"Jadi Bapak menginginkan Amel pisah dengan Rama? sudah saja balik lagi, dengan Burhan dan jodohkan," ucap Angga kembali tertawa terkekeh.


"Apa sih," ucap Amel.


Tiba-tiba datang dengan membawa secangkir kopi dan singkong rebus yang Ibu buatkan tadi pagi.


"Dari pada menunggu lelaki yang tidak bertanggung jawab," ucap Angga terdengar seakan mengejek.


"Dia sekarang mau buka usaha dan waktu kemarin mungkin tidak ada uang untuk bayar, jadi dia tidak datang kesini," ucap Amel terlihat kesal.


"Sudah, sudah, cukup!" ucap sang Ibu.


Amel dan Angga pun akhirnya diam.


"Kalian pasti kalau ketemu selalu ribut dari dulu. Kenapa sih, nggak bisa akur," Ibu menatap kedua anaknya tersebut.


"Nggak seru Bu, kalau tidak berantem. Hehehe.." ucap Angga


Amel hanya cemberut dan mengambil anaknya dari gendongan sang Ibu, lalu dia berlalu ke dalam kamar.


"Sudah makan belum, Nak?' tanya sang Ibu.


Angga menganggukkan kepalanya.


"Sudah tadi Bu, di Kereta," jawabnya.


Terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah.


"Ayo masuk.." tiba-tiba terdengar Bapak memasuki rumah bersama Burhan.



"Angga, kapan datang," ucap Bapak sambil memeluknya.



Angga bersalaman dengan Burhan.


"Sudah kerja katanya di Bandung ya?" tanya Burhan tersenyum ramah.


Angga menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


•••


Tiba-tiba datang Amel keluar dari dalam kamar, nampak pandangannya tidak sengaja ke arah Burhan. Sontak Amel tersipu malu begitupun dengan Burhan.



Angga terdengar berdehem.


Mendengar sang Kakak kembali seakan mengejek dengan cepat Amel berlalu ke arah dapur. Ibu mengikutinya dari arah belakang.

__ADS_1


"Nak, suguhi teh manis hangat," ucap sang Ibu. Ketika berada di dapur.


"Iya, Bu. Kang Burhan kan nggak suka kopi," ucap Amel.


"Kamu masih ingat ternyata kalau Kang Burhan tidak suka kopi," ucap sang Ibu tersipu malu.


_____


Dalam hati Amel sebenarnya saat itu tidak menaruh hati kepada Burhan, namun Burhan selalu membantu kedua orang tuanya, jadi dia seakan berhutang budi.


Kebaikan Burhan sungguh tidak bisa di nilai karena terlalu banyak.


Mungkin juga karena usia terpaut jauh dan status Burhan yang sudah duda jadi Amel tidak menyimpan rasa yang lebih.


Tapi Burhan lelaki dewasa dan baik itu yang membuat kedua orang tuanya menaruh simpati.


_____


"Ayo, bawa sana minumannya ke depan," ucap sang Ibu.


Amel pun berlalu ke depan dengan membawa dua gelas minuman teh manis hangat.



Tiba di ruang tamu.


"Terima kasih, Mel. Anakmu mana," ucap Burhan. Ketika Amel tepat berada di hadapannya dengan menyuguhkan secangkir teh hangat.



"Tidur, Kang," jawab Amel tersenyum tipis.



"Masih tetap seperti dahulu, Amel manis dan terlihat ramah," gumam hati Burhan menatap lekat Amel.



Amel kemudian berlalu ke dapur kembali untuk memasak, karena dia tadi sudah belanja dari warung Bu Astri.



Melihat Burhan seakan jatuh hati lagi kepada sang anak. Sontak Bapaknya Amel dihinggapi rasa gembira.



"Bu, Bapak mau ada bisnis usaha dengan Kang Burhan, doakan berhasil ya," ucap sang Bapak ketika tiba-tiba sang istri datang menghampiri dan duduk bersebelahan dengannya.



"Iya, Pak, pasti di do'akan yang terbaik," ucap sang Ibu sambil tersenyum dan memandangi Burhan.



Ibu pun seakan ada niat untuk bisa Amel kembali dengan Burhan. Ibu berpikir Burhan adalah lelaki mapan dan bisa mensejahterakan Amel dan keluarga.



"Iya, Bu, semoga lancar kedepannya, mohon doanya," ucap Burhan terdengar sangat sopan.


•••


Sementara Amel mendengar obrolan yang di sampaikan oleh Burhan dan orang tuanya, Amel hanya menghela napas panjang.


Dia pun dulu sebenarnya tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya, tapi karena keadaan dia dulu hamil terlalu cinta buta dengan sosok Rama, tidak memikirkan bahwa Rama tidak mempunyai masa depan yang cerah.



"Aku tidak tahu kedepannya seperti apa, yang jelas kedua orang tuaku, apalagi Bapak sudah tidak mau lagi aku berhubungan dengan Rama," gumam hati Amel.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2