Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab : 31 Tyanca Kecewa


__ADS_3

Tyanca dihinggapi rasa penasaran.


Tyanca menelepon Febry karena dihinggapi rasa penasaran yang teramat, ketika melihat foto yang disana ada gambar Rama.


{"Halo, Febry. Halo..kamu masih di undangan?"} tanya Tyanca.


Terdengar riuh suara yang terdengar dari telepon selular milik Febry.


{"Iya, ada apa say?"} tanya Febry.


{"Kamu tolong fotokan kedua orang tua, yang berada di pelaminan!"} sambungnya lagi.


{Oke!} tanpa curiga sedikitpun lalu, Febry membidik ambil gambar pengantin, dan kedua orang tua dari pengantin tersebut.


Setelah dapat beberapa fose gambar, kemudian Febri, mengirimkan gambar tersebut kepada Tyanca.


{"Oke, terima kasih!"} ucap Tyanca. sambungan telepon pun, di tutup oleh Tyanca.


Setelah menerima beberapa gambar dari Febry, Tyanca pun memandangi dengan lekat satu persatu gambar kedua orang tua sang pengantin. Pandangannya lekat ke arah Ibu dan Bapak Rama, terlihat sinis ketika melihat foto tersebut.


"Pih, lihat!" lalu Tyanca memperlihatkan gambar foto tersebut kepada Gerry, sang suami. Gerry menatap lekat foto kedua orang tua Rama.


"Ya, benar ini Bapaknya Rama yang brengsek itu, yang tidak mengakui bahwa Bianca hamil oleh anaknya!" terdengar kesal dan marah dari ucapan Gerry.


Sang suami pribadi yang lembut dan sabar, tapi entah kenapa ketika melihat gambar foto yang dikirim Febry, betapa sesak dadanya terasa sakit. Karena kebersamaan mereka terlihat begitu bahagia tanpa berpikir ada yang tersakiti disana, yaitu Bianca.


"Aku akan memberikan pelajaran kepada si Rama, lihat saja!" Tyanca penuh emosi ketika berucap.


Kemudian Tyanca menelepon sang Mama.


{"Mah, Mama tahu tidak? si Rama kan, sekarang sedang melangsungkan pernikahan bersama Amel alias Siska!"} Tyanca penuh amarah ketika menelepon sang Mama, baru saja, sambungan telepon tersambung, dia nyeroscos mengeluarkan kekesalannya.


{"Ada apa Ka, kalau menelepon itu, biasakan ucapkan salam!"} ucap sang Mama.


{"Habis kesal!"} jawabnya ketus.


{"Maksud kamu apa Kak? Rama hari ini jadi menikah dengan wanita pilihannya begitu?"} sang Mama masih lembut terdengar dari nada bicaranya, seakan membuat Tyanca tersulut emosi.


{"Bukan wanita pilihan Mah, tapi karena wanita nya berbadan dua, sama seperti si Bianca, cuma pertemuan si Rama dan si Amel sudah lama. Kalau dengan si Bianca baru seumur jagung tapi dia hamil, dan si Rama lebih menikahi yang hamil duluan!"} ucap Tyanca terdengar emosi.


{"Kalau saja, aku masih di Jakarta belum balik ke Bandung, akan aku labrak untuk mendatangi pernikahan si Rama dan si Amel."} sambungnya lagi.

__ADS_1


~~


Mama hanya tertegun seperti sedang melamun, dan terhentak hatinya. Tanpa membalas lagi obrolan kepada sang anak yang begitu menggebu.


{"Mah, Halo...Mah, Mama..!"} ucap Tyanca, karena tanpa ada sepatah katapun yang terlontar dari mulut Mama lagi, ketika Tyanca berusaha menumpahkan kekesalannya, kepada seorang playboy seperti Rama.


{Iya, Nak. Mama dengar,"} ucapnya lirih.


Mama menghela napas secara perlahan.


{"Sudahkah Nak, jangan di permasalahkan lagi, Mama sudah ikhlas, lagian adikmu juga sudah gugat cerai, proses perceraian sedang di urus di Pengadilan Agama, oleh Pengacara.} sambung Mama kembali.


Sang Mama berusaha menenangkan hati anaknya itu, karena sang Mama tahu, anaknya sedang dalam keadaan marah dan kesal.


{"Yasudah Mah, kalau Mama tidak peduli dan sudah mengikhlaskan semuanya!"} jawab Tyanca terdengar kesal.


{"Bukan tidak peduli, habis Mama mesti gimana lagi, Kak? Mama harus datang sekarang ke pernikahan Rama, dan buat keributan disana begitu?"} sang Mama, terdengar nada bicaranya meninggi membuat Tyanca dihinggapi rasa heran.


~~


Dalam benak Tyanca, inginnya sang Mama juga kesal dengan kelakuan Rama yang begitu saja menikah dengan wanita lain sementara sang adik di telantarkan begitu saja. Sang adik anak polos, belia masa depannya masih jauh, dan Rama sudah menghancurkan itu semua.


~~


Mama hanya menghela napas panjang, ketika sang anak menutup sambungan teleponnya, tanpa mengucapkan salam. Dan Mama pun seakan mengerti kekesalan sang anak sekarang ini, seperti apa.


***


Setelah menutup sambungan telepon selularnya nampak Tyanca dari mukanya cemberut dan menahan emosi.


Sang suami Gerry, hanya terdiam tanpa bicara. Karena dia sudah tahu karakter dari sang istri cukup keras, jika dia ikut campur memanasi keadaan maka Tyanca, akan tersulut emosinya.


{"Pih, ayo kita pergi ke Jakarta!"} bujuk Tyanca.


{"Baru saja kita nyampe di Bandung Mih, buat apa?"} tanya sang suami. Dia tahu istrinya tersebut sedang tersulut emosinya.


{"Aku akan labrak si Rama, ke rumahnya!"} ucapnya lagi.


{" Sudahlah Mih, nggak ada gunanya,"} sambung sang suami, dengan nada yang rendah dan pelan.


Tyanca pun cemberut lalu dia meninggalkan suaminya di kamar. Dia pun berlalu ke teras rumah dengan keadaan hati yang teramat kesal.

__ADS_1


Sesampai duduk di teras rumah sambil memandangi pepohonan yang berwarna hijau yang asri dan sejuk kemudian Tyanca, memejamkan matanya, dan bayangan Bianca, sang adik pun menghinggapinya.


~~


Mengingat sang adik.


Bianca terlihat menunduk pandangannya, dengan senyuman polosnya, dan memakai baju putih-biru, dengan rambut yang di kuncir, dan sedang mengunyah harum manis(rambut nenek). Dia selalu manja kepada sang Kakak maupun kedua orang tuanya, namun sekarang setelah dia hamil, keceriaan dan sikap manjanya seakan tidak nampak terlihat dari sang adik tersebut.


~~


"Masa depan kamu, telah hancur Bianca!" gumam hatinya lirih, matanya berkaca-kaca.


~~


Mengingat sang orang tuanya, begitu menjaga dan memperhatikan kedua anaknya tersebut. Terutama Bianca, anak bungsu, tapi mungkin sekarang sia-sia saja, karena kedua orang tuanya sudah hilang harapan.



Harapan untuk anak bungsu itu, agar anaknya setelah tamat SMP, memakai baju putih-abu, dan setelah itu memasuki sekolah perguruan tinggi lalu punya cita-cita jadi seorang dokter.


Semua pupus hanya karena ternodai oleh seorang laki-laki playboy.


Tyanca menghela napas panjang.


Dia mengepalkan tangannya, dia seakan ingin membalaskan rasa kecewa orang tuanya kepada Rama.


"Tunggu pembalasanku Rama!" bisik dalam hatinya.



Gerry menyeret kakinya ke arah teras, dimana


Melihat sang istri sedang melamun dengan mata yang berkaca-kaca, kemudian Gerry, menghampiri sang istri, kemudian mengelus lembut rambut sang istri.



"Mih, sudah jangan sedih terus. Papi bisa merasakan ko, hati Mami. Seorang Kakak hatinya seperti apa, jika terjadi masalah yang cukup rumit dan memilukan. Tapi kalau kita berlarut-larut dengan kondisi keadaan memikirkan sang adik, sampai kapan?" Gerry menatap lekat kepada istrinya tersebut.



Tyanca hanya terdiam, bulir putih pun menetes deras dari ujung matanya.

__ADS_1


Mungkin hati dia sudah ikhlas, namun sebagai seorang Kakak, Tyanca juga punya hati nurani, dia seakan tidak tega jika sang adik dan kedua orangtuanya terluka.


__ADS_2