Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 116 Rasa rindu terhadap Anak.


__ADS_3

Rama dihinggapi rasa khawatir ketika dia mengetahui yang berada di ruangan IGD itu adalah sang mantan istri dan anaknya.


"Mah, boleh saya lihat kondisi anakku?" ucap Rama seakan memohon kepada sang mantan mertuanya itu.


"Tidak!" ucapnya spontan.


"Kamu jangan egois! Rama juga adalah darah daging anak itu, jadi dia juga berhak untuk melihat anak tersebut" ucap Ibunya Rama. Seakan membela anaknya yang diejek oleh Mamanya Bianca. Pandangan sang Ibu terlihat menampakkan rasa kesal kepada Mama Astri.


"Anak!? Sekarang Ibunya Rama baru mengakui, bahwa anak itu adalah anaknya dia, dan selama 2 tahun ini ke mana saja!?" bentak Mama Astri dengan pandangan mengarah ke ruang IGD.


"Memang keras kepala ini orang!" sindir Ibunya Rama dengan pandangan mendelik.


Dalam diri Ibunya menggerutu, dia semakin kesal dengan sifat dari Mamanya Bianca yang keras kepala dan mencoba ingin memisahkan Rama dengan anaknya.


Dalam dirinya memang mengakui bahwa dia dan anaknya bersalah karena selam 2 tahun ini telah mencampakkan Bianca dan anaknya, tapi Ibunya Rama pun seakan ingin di maafkan atas segala salah yang Rama lakukan selama ini terhadap Bianca.


"Keras kepala!? maksudnya apa ya, jangan suka berpikir jelek sama orang, jelas-jelas kamu tidak mengenal sifat saya seperti apa! Kenapa bilang keras kepala!?" bela Mama Astri, diapun merasa di pojokan oleh Ibunya Rama.


"Mah, maafkan Ibunya Rama, maaf, ya," ucap Rama. Dia seakan tidak mau Ibunya dan Mamanya Bianca ribut, dan ruangan tersebut menjadi gaduh.


"Nak, kita enggak salah ngapain minta maaf ke orang ini!" ejek Ibunya Rama kembali.


"Orang salah mana ada yang ngaku!" sambung Mamanya Astri dengan mata melotot ke arah Ibunya Rama.


Mamanya Bianca dihinggapi rasa kesal dan amarah. Dia seakan ingin menampar kedua orang yang tengah berada di hadapannya itu, yang telah melukai hati sang anak 2 tahun lalu.


Tapi dia seakan tak kuasa untuk melakukan hal tersebut karena di sana banyak orang berlalu-lalang, dan sebagian orang memandang ke arah Mama Astri. Begitupun dengan Bu RT dan Raden dari kejauhan mereka nampak melihat gelagat dari Mamanya Bianca yang sedang tersulut emosi.


"Orang salah! Sudah ninggalin istri dan anak terlantar," gerutu Mama Astri.


_____•••_____


Raden dihinggapi rasa penasaran.


"Bu, ada apa ya, dengan Mamanya Bianca. Dia sepertinya sedang berantem dengan kedua orang tersebut," pandangan Raden mengarah ke Mamanya Bianca yang sedang berkacak pinggang dengan sorot mata tajam.


"Lelaki itu kan yang tadi ngobrol di sini ya, kalau enggak salah," ucap ibunya Raden dengan mengernyitkan dahi.


Dalam hati ibunya Raden dihinggapi rasa penasaran yang teramat dengan tingkah Mamanya Astri yang seakan sedang marah dan meluapkan emosi.


"Sebenarnya ada apa ya, Raden jadi penasaran." ucapnya dengan pandangan masih terfokus ke arah Mamanya Bianca.


Dan nampak terlihat orang yang berada di sekitar itu pun pandangannya mengarah ke Mama Astri.

__ADS_1


"Iya, Ibu juga enggak ngerti ada apa," jawab Ibunya Rama, dihinggapi rasa penasaran.


"Raden coba lihat kesana saja!" Raden dihinggapi rasa khawatir. Tanpa menunggu jawaban sang Ibu Raden pun berlalu dari hadapan Ibunya menuju Mama Astri yang sedang bersama kedua orang tersebut yang terlihat sedang marah.


____


Raden mematung seakan tidak berani melangkahkan kakinya ke arah Mamanya Bianca, padahal langkahnya tinggal beberapa langkah lagi menuju Mamanya Bianca. Tapi Raden pun seakan mengundurkan niatnya untuk menghampiri Mamanya Bianca.


Karena nampak terdengar oleh Raden mamanya Bianca begitu menggebu meluapkan rasa amarahnya kepada dua orang tersebut.


"Pokoknya aku tidak sudi kalau kamu menjenguk Bianca dan anaknya, meskipun kamu Bapaknya!" ucap Mama Astri terlihat begitu emosi dengan muka merah padam.


Degh..


Sontak Raden terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar bahwa yang tengah berada di hadapan Mama Astri itu adalah mantan suami dari Bianca.


"Kalau aku menghampiri mereka, semua akan jadi runyam dan aku pun tidak berhak untuk mencampuri urusan keluarga mereka karena aku tidak ada hubungan khusus dan aku pun bukan keluarga dari mereka," gumam hati Raden. Dia pun membalikkan badannya, dan kembali berlalu ke arah dimana sang ibu sedang menunggu.


_____


Raden menghempaskan badannya di kursi ruang tunggu pasien. Raden pun kembali duduk di pinggir sang ibu dimana dia tengah menunggunya.


"Ada apa dengan Mamanya Bianca!?" tanya Ibunya Raden seakan dihinggapi rasa penasaran dan khawatir karena dia melihat mukanya Mamanya Bianca seakan dihinggapi rasa emosi.


"Sepertinya dia mantan suaminya Bianca," ucap Raden dengan tatapan mengarah ke arah Rama begitu tajam melekat.


"Apa,,,! Jadi lelaki yang tadi mengkhawatirkan keadaan anaknya Bianca itu adalah mantannya Rama!?" Ibunya Raden dihinggapi rasa terkejut dengan ucapan sang anak.


Ibunya Raden pun berpikir pasti seorang Ayah akan ada kontak batin yang kuat, merasakan sakit sang anak yang sekarang tengah diderita., meskipun dia meninggalkan anaknya dalam jangka waktu lama.


"Kenapa kamu balik lagi, dan enggak menghampiri mereka? Mama khawatir takut terjadi pertengkaran di antara mereka," ucap Bu Risma, karena Bu Risma tahu dari kisah Mamanya Bianca, bahwa hubungan antara keluarga Rama dan keluarga dari Bianca tidak baik.


"Kita pulang saja Bu," ucap Raden merajuk, Raden pun seakan ingin cepat merebahkan badannya di kasur karena dihinggapi rasa lelah dan capek. Raden pun dihinggapi rasa kurang nyaman jika keluarga dari Rama akan menjenguk kesana, apalagi keadaan mereka sedang berseteru.


"Apa enggak menunggu dulu kedatangan Mamanya Astri?" tanya sang Ibu.


Sang Ibu berpikir jika dia pergi begitu saja dari tempat itu tanpa ijin dari Mamanya Bianca mungkin rasanya tidak enak, dan kurang sopan tidak menjaga perasaan hati Mama Astri.


"Tugas kita sudah beres menolong Bianca dan anaknya, nanti saja kalau ada waktu kita jenguk di rumahnya saja. Lagian keadaan Bianca dan anaknya kan sudah membaik kata Mamanya tadi bilang," ucap Raden.


Ting.


Tiba-tiba pesan muncul di aplikasi WhatsApp milik Bu Risma, pesan tersebut datang dari sang suami yang mengabarkan ada kedua orang tua dari Pak RT datang, atau suami dari Bu Risma.

__ADS_1


Bu Risma pun tertegun sejenak.


"Ya, sudah, kita lewat belakang saja pulangnya. Bapakmu kasih kabar, Nenek dan Kakek datang katanya,". ucap Bu Risma.


"Ayo, Nak, kita lewat saja ke arah Mamanya Bianca, enggak apa-apa kita pamit saja, Perasaan Mama enggak enak kalau pulang enggak pamitan dulu," sambung sang Mama.


Mereka kan berjalan menuju arah depan dimana Mama Astri masih berada di sana bersama Rama dan sang Ibu.


_____


Melihat kedatangan Bu Risma dan Raden, Mama Astri menghentikan obrolannya bersama kedua orang tersebut.


"Bu, maaf, saya pamit ya, karena ada mertua saya datang," ucapnya. Bu Risma pun dan Raden keluar dari ruangan tersebut dengan di ikuti oleh Mamanya Bianca untuk mengantarnya ke halaman Rumah Sakit.


Rama menatap ke arah Bu Risma dan Raden, dia pun semakin yakin jika yang tadi menangis histeris di ruangan IGD adalah anaknya. Raden pun seakan tidak peduli dengan Mamanya Bianca yang melarangnya untuk melihat keadaan anaknya tersebut.


Tatkala Mama Astri tengah asik berbicara dengan Bu Risma, Rama pun pikirannya berselancar.


"Bu, Rama mau lihat anak Rama, Ibu bilang ke Mamanya Bianca, Rama sedang ke ambil resep obat yang ketinggalan," busuknya pelan kepada Ibunya. Sang Ibu pun seakan mengerti maksud dari sang anak dan menganggukkan kepalanya.


Rama berlari kecil ke arah ruang IGD dimana di sana ada sang anak yang sedang terbaring lemah.


•••


"Sus, saya Bapak dari anak yang Ibunya bernama Bianca, saya baru datang dari luar kota, mohon dengan sangat saya ingin bertemu dengan anak saya yang berada di dalam," ucap Rama ketika berada tepat di depan pintu IGD.


Sang suster menatap lekat ke arah Rama, dia pun mempersilahkan Rama untuk masuk ke ruangan IGD, dan suster mengatakan bahwa kondisi Bianca dan anak yang sudah membaik jadi akan dipindahkan ke ruangan pasien lain.


Begitu berdebar hati ramah tatkala akan bertemu dengan Bianca dan sang anak yang sudah lama tidak bertemu sekitar 2 tahun.


Sang Suster menunjukkan dimana arah tempat Bianca dan anaknya tersebut.


Degh..


Jantung Rama terasa di remas tatkala melihat sang anak sedang menatap langit-langit dengan muka yang sangat pucat. Sementara Bianca yang berada di pinggir sang anak hanya terhalang oleh gorden sedang tertidur.


"Sayang, ini Ayah, maafkan Ayah ya," Rama menggenggam erat tangan sang anak dengan erat nampak terlihat air matanya meluncur dari kedua bola matanya.


Di tatap lekat sang anak tersebut penuh dengan rasa kasih, muka anak tersebut mirip dengannya.


"Bagaimanapun caranya, aku harus membawa anak ini!" gumam Rama


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2