
Tante Fani kesal.
"Biar aku urus semua perceraiannya, buat apa mempertahankan lelaki bajingan seperti dia." ucap Tante Fani mencoba menyabarkan hati sang Kakak, yang sedang menangis tersedu pilu karena pertengkarannya dengan sang suami yang baru saja terjadi.
"Aku nggak nyangka dengan kelakuan Bapakku sendiri," gumam hati Rama.
Dia nampak termenung.
•••
Rama pikirannya melayang jauh, sebenarnya dia tidak jauh beda dengan sang Bapak, karena perilaku Rama yang bajingan dan brengsek ternyata turunan dari sang Bapak.
Dia terlihat berpikir cukup serius, jika wanita di duakan hatinya begitu sakit begitupun dengan hati Bianca, yang kala itu dikhianati olehnya.
•••
Tante Fani menatap lekat kepada Rama, dia juga ingin mengucapkan sesuatu, tapi sampai saat ini belum bisa di ungkapkan.
Nampak sang Tante membuang napas kasar.
"Rama, Tante mau bicara serius sama kamu," ucapnya tegas dengan pandangan lekat ke bola mata Rama.
"Bicara saja, Tante," Rama menghela napas secara perlahan.
"Kamu waktu itu menikahi wanita lain, sebelum kamu menikah dengan Amel. Apa itu benar?" tanya sang Tante, seakan ingin tahu cerita yang sebenarnya seperti apa.
Rama sontak terkejut, mukanya merah padam dengan pandangan menunduk tidak berani menatap sang Tante. Dia pun menganggukkan kepalanya pertanda memang benar yang di ucapkan oleh sang Tante. Kemudian Tante Fani nampak mengelus dada.
"Dia rumahnya dimana? antar Tante kesana. Kamu ya, tidak bertanggung jawab, dengan wanita itu,!" sang Tante seakan menyudutkan Rama, tetapi dia tetap santai dalam berucap.
Pandangan Rama menunduk, dia seakan malu atas semua yang terjadi.
"Maafkan, tapi dia sudah pindah Tante," ucap Rama masih dalam keadaan menunduk.
"Nggak apa-apa, biar Tante datangin rumah orang-tuanya," jawab sang Tante.
________
Niat Tante Fani ingin mengucapkan rasa maaf selama ini kepada istri Rama yaitu Bianca, terutama kepada sang Bayi, yang sudah di lahirkan oleh Bianca, dari pernikahannya dengan Rama.
__________
"Aku ingin melihat wajah istri dan anaknya Rama, terutama ingin melihat anaknya karena kalau istrinya, sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Aku berjanji akan aku biayai anak itu meskipun Rama, dan kedua orang tuanya tidak mengakui," gumam hati sang Tante terlihat gusar.
Terlihat Tante Fani setelah kejadian Bapaknya Rama, melakukan perselingkuhan betapa yakin sang Tante. Bahwa Rama pun kelakuannya sama seperti Bapaknya, dan yang lebih meyakinkan sang Tante, anak dari Bianca tersebut adalah anaknya Rama.
Meskipun orang-tua dari Rama tidak mengakuinya, bahwa anak tersebut adalah anaknya Rama.
__________
"Nama wanita itu siapa?" tanya Tante Fani menatap lekat kepada Rama.
"Bianca, Tante," jawabnya lirih.
__ADS_1
Sang Tante lalu menatap lekat kepada sang Kakak dengan tajam.
"Kak, apa kakak sekarang masih kurang yakin, bahwa anak dari Bianca bukan anaknya Rama, atau Cucu mu?" ucap Tante Fani.
_____
Pertanyaan sang Tante seakan membuat hati Ibunya Rama, tertampar keras. Karena selama ini diia sungguh tidak perduli dengan pernikahan Rama bersama Bianca.
Ibunya Rama nampak pikirannya melayang jauh, entah apa yang ada di benak pikirannya, penuh sesak terasa. Mengingat perselingkuhan sang suami dan sekarang dia, di kejutkan dengan sang Tante, seakan memintanya untuk bisa berkata jujur.
______
"Aku bingung dengan kondisi sekarang ini. Aku sekarang mau fokus dulu dengan perceraian kemudian bisa fokus dengan Bianca," ucapnya.
"Kak, aku cuma mau nanya saja, apa Kakak percaya nggak bahwa yang menghamili Bianca, itu sebenarnya anak Kakak. Sekarang gini saja aku nanya sama kamu Rama, jujur ngomong sama Tante, apa itu benar anakmu dan kamu melakukan hubungan yang lebih dengan Bianca, selama pacaran!" tegas sang Tante terlihat kesal, karena pertanyaan yang di ajukan olehnya kepada Kakak dan anaknya seakan dijawab berbelit-belit.
Rama menatap Tante dan Ibunya, terlihat dari raut mukanya nampak terlihat menahan rasa malu dan takut.
"Iya, itu anakku!" ucapnya lirih.
"Tuh kan, benar. Apa yang menjadi pikiranku selama ini, bahwa anak dari Bianca, itu adalah anakmu," ucap sang Tante.
Nampak sang Tante, menghela napas panjang. Persoalan demi persoalan seakan menghantam sang Kakak.
Dan nampak sang Kakak, memegang kepalanya seperti menahan rasa pusing yang tiada tara, pandangannya seakan kabur, lalu dia berdiri tegak dari kursi untuk berlalu berjalan ke kamarnya namun tiba-tiba.
Brukkk...
Ibunya Rama terjatuh nampak mukanya pucat pasi. Sontak sang Tante dan Rama, dihinggapi rasa khawatir dengan apa yang terjadi. Rama kemudian memangku sang Ibu ke dalam kamar.
Setelah berada di kamar kemudian Rama, membalur penghangat ke hidung dan pelipis kepala sang Ibu, agar nampak enakan badannya.
Arrghhhhhh..
Sang Ibu nampak terbuka sedikit demi sedikit matanya, dia seakan berat kepalanya.
Tante Fani kemudian memberikan air teh hangat manis ke Kakaknya tersebut.
Dia pun berpikir dalam hatinya tidak akan dulu membahas Bianca dan suaminya karena sang Kakak sedang kalut pikirannya.
Nampak Tante Fani berkaca-kaca matanya.
"Kak, makan ya, aku suapin, tadi kan Kakak belum sempat makan," ucap Tante Fani.
__ADS_1
Ibunya Rama, terlihat memegang dadanya yang dia rasakan seakan sesak, pikirannya seakan melayang jauh.
"Sudah jangan mikirin masalah dulu, maafkan aku ya," ucap Tante Fani, memegang erat jemari sang Kakak dan memeluknya.
•••
Rama nampak keluar kamar.
dia seakan bingung dengan masalah yang menimpa keluarganya.
"Kalau Tante Fani sampai kerumah orang tua Bianca, aku malu dan pasti akan di usir," gumam hati Rama.
Rama kembali mengingat saat sang Bapak, ketika dulu kedatangan keluarga dari Bianca, Bapaknya tidak peduli dan seakan memandang sebelah mata kepada keluarga Bianca, terutama Bianca.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Masih terngiang dalam ingatannya ketika itu sang Bapak, mengucapakan kata.
"Tidak mungkin Rama menghamili
Bianca, karena Rama baru
mengenalnya."
\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Sebenarnya Rama, menyadari bahwa dia baru beberapa bulan kenal dengan Bianca, dan Bianca pun masih belia, namun karena di dorong oleh napsu dan saat itu Bianca, terhadap Rama, adalah cinta pertama jadi mereka dengan mudah melakukan hubungan yang terlarang.
"Aku salah, aku egois!" ucap Rama, sambil meremas rambutnya.
•••
Dia pun teringat saat malam pertama, dengan mudahnya dia meninggalkan Bianca, setelah selesai ijab kabul. Begitu teriris saat itu hati Bianca, di perlakukan seperti itu olehnya.
Nampak matanya berkaca-kaca.
"Kesedihan yang dirasakan oleh Bianca kini di rasakan oleh Ibuku, disakitin oleh lelaki membuat wanita terpuruk," gumam hati Rama.
Dia pun tidak tahu kedepannya perjalanan cintanya akan seperti apa, karena dia pun jika menjalani hubungan kembali dengan Amel, sudah tidak di percaya lagi oleh Bapaknya Amel.
"Sungguh, ini ujian yang aku terima dari kelakuan yang aku perbuat dulu," bisik hatinya. Rama matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
Bersambung...