Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab 46. Pertemuan Gerry dan Angga.


__ADS_3

Gerry berada di sebuah Kafe.


Secangkir kopi hitam panas, nampak terlihat


ngebul dan wanginya sangat menyeruak ke penciuman Gerry.


Gerry nampak sedang menunggu temannya yang bernama Andri, di sebuah Kafe yang berada di Jalan Dago Bandung.


Sayup-sayup terdengar suara life musik, yang terdengar begitu merdu dari sang biduan.


Tiba-tiba nampak dari jauh sosok Andri datang. Terlihat Andri dari kejauhan sudah menampakkan senyum ramahnya.


"Hai, Brother! apa kabar," Andri menepuk pundak Gerry dan memeluk temannya tersebut.


Andri adalah teman sewaktu SMA dulu, Gerry sangat dekat dengan Andri, bahkan kedua orang tua mereka pun sangat akrab, bagaikan saudara. Gerry nampak tersenyum ketika Andri menyapanya begitu hangat dan akrab.



"Hai Andri! kamu nampak semakin ganteng saja!" Gerry terpesona dengan Andri yang terlihat muda dan gagah.



Andri sampai saat ini belum menikah, karena dia mengejar karir. Kebetulan pertemuan mereka di Kafe tersebut untuk membicarakan bisnis yang akan mereka kelola.


Andri dan Gerry akan membuka usaha di bidang kuliner dan mereka akan membuka Kafe di daerah, Jalan Cihampelas Bandung.


"Oh, iya. Ini kenalin Angga temanku, dia temanku sewaktu SD, dan dia tinggal di Jakarta," Andri melirik Angga dan mencoba mengenalkan temannya itu kepada Gerry.


"Angga.." ucap Angga.


Angga mengulurkan tangannya kepada Gerry dan tersenyum ramah.


Gerry pun menyambut uluran tangan yang di berikan oleh Angga, dan membalas senyuman hangat yang diberikan oleh Angga.


Andri dan Angga teman sewaktu SD.


Andri dulu sempat tinggal di Jakarta, namun selepas SMP, dia pindah ke Bandung dan melanjutkan SMA di Bandung.



"Ayo, duduk.." Gerry mengajak Andri dan Angga untuk duduk.



Mereka pun memanggil pelayan Kafe tersebut lalu memesan beberapa minuman dan makanan ringan.


Beberapa menit kemudian, datanglah lelaki dengan perawakan tinggi, badannya tegap, dengan rahang yang sempurna, alis mata tebal dengan tatapan mata yang tajam. senyumnya begitu ramah. Dia adalah pemilik Kafe tersebut yang bernama Arsyad.


Arsyad lelaki keturunan Arab, dia seorang duda dan mempunyai anak 1 seorang perempuan, yang baru berusia 5 tahun. Istrinya meninggal karena kecelakaan, usianyan Arsyad sama seperti Gerry.


"Assalamualaikum.." ucap Arsyad, dengan sopan dia mengucapkan salam dan badannya di rengkuh kan, adabnya nampak sopan terlihat.



"Wa'alaikumsalam.." serentak ketiga lelaki tersebut membalas salam.



Arsyad pun duduk di antara ketiga lelaki tersebut. Pembicaraan pun dimulai.

__ADS_1


Gerry mau buka usaha Kafe bersama Andri akan dibantu oleh Arsyad, dia meminta solusi kepada Arsyad yang sudah berpengalaman dalam mengelola Kafe yang belasan tahun.


"Ini kenalkan, relasi kita kedepan," Gerry kemudian memperkenalkan Andri dan Angga, kepada relasi bisnisnya itu.


Obrolan pun terasa hangat karena Arsyad pribadi yang supel dan apa adanya. Dia seakan tidak pelit, atau berbagi ilmu untuk menerangkan bisnisnya, yang sudah maju pesat, secara detail kepada temannya itu.



Dua jam sudah mereka membicarakan Kafe yang akan di buka nanti. Obrolan pun mengarah ke masalah pribadi. Arsyad menanyakan keluarga Gerry.


"Anakmu sudah nambah?" tanya Arsyad.



Gerry menggelengkan kepalanya.


"Belum, nanti setelah Kafe jalan aku nambah lagi anak," ucapnya dan tersenyum lebar.



"Aku tahu, pasti jawabannya biar mapan dulu. Rezeki udah ada yang atur jadi jangan jadikan alasan untuk menunda anak," ucap Arsyad tertawa lebar.



"Kalian maaf, sudah berumah tangga?" tanya Arsyad sambil melirik kepada Andri dan Angga yang nampak asik sedang menyimak obrolan antara Gerry dan Arsyad



"Kita jomblo!" ucap Andri sambil tertawa terbahak dan Angga pun ikut tertawa.



"Sama, berarti kita!" ucap Arsyad.


Setelah semua selesai, Arsyad pun pamit kepada ketiga lelaki tersebut, karena dia akan rapat bersama karyawan Kafe.


"Jadi besok kita sudah mulai ya, pembukaan Kafe kita. Semua karyawan sudah ada dan tempat sudah rapih jadi kita besok tinggal isi," ucap Gerry.


Gerry sudah mengatur semuanya, mengenai Kafe yang akan di rintis oleh dia jauh sebelumnya. Andri dan Angga kemungkinan berada tiap hari di Kafe tersebut, sedangkan Gerry hanya sesekali karena dia di tempat lain ada usaha juga.


"Semoga bisnis kita berjalan dengan lancar kedepannya ya," ucap Andri.


"Aamiin.." ucap Gerry dan Angga secara serentak.


"Angga sekarang mau menginap dimana?" tanya Gerry, menatap lekat kepada Angga.


Angga kemudian menatap Andri, seakan ingin diberi jawaban oleh sahabatnya itu.


"Malam ini dia menginap di rumahku saja," jawab Andri.


"Di belakang Kafe ada kamarnya loh, dan beberapa karyawan ada yang tidur disana, kebetulan ada kamar yang kosong. Bagaimana kalau Angga, tidur disana saja," ucap Gerry, memberikan tawaran kepada Angga agar tinggal di Kafe saja.


Angga tersenyum lebar.


"Boleh, kalau begitu," jawab Angga.


"Itu terserah kamu sih, kalau mau tinggal di Kafe silahkan, tapi kalau mau tinggal di rumahku nggak apa-apa, karena di rumahku nggak ada siapa-siapa, cuma ada kedua orang tuaku," ucap Andri.


~~`

__ADS_1


Angga berpikir dalam hatinya, jika dia tinggal di rumah Andri, dia akan canggung karena di rumah Andri, masih ada kedua orang tuanya.


Drettt... Drettt... Drettt...


Tiba-tiba gawai Angga berbunyi, nampak sang Ibu meneleponnya.


{"Nak, kamu sudah sampai belum? kenapa gak ngabarin Ibu. Khawatir loh, Ibumu,"} ucap sang Ibu.


{"Maaf Bu, aku sibuk tadi, nggak sempat buka ponsel. Gimana Bayinya Amel masih nangis terus tidak?"} tanya Angga.


Angga sang Kakak begitu perhatian kepada Bayinya Amel. Meskipun kelakuan Amel kurang baik namun Angga, tidak menaruh dendam kepada Bayinya Amel, malah dia merasa kasihan terhadap Bayi tersebut, karena Rama sang Bapak, sudah di usir dari rumah dan Rama, sekarang tidak bertanggung jawab kepada Amel sang istri.


{"Bayinya Amel sedang tidur lelap, baru beres minum susu formula,"} jawab sang Ibu.


{"Tapi susu formula yang dibeli kemarin di Mini market, cocok kan, tidak sakit perut?"}tanya Angga seakan menghkawatirkan Bayi, Kakaknya tersebut.


{"Nggak apa-apa sehat ko,"} jawab sang Ibu.


{"Syukurlah kalau begitu,"} ucap Angga.


{"Kamu sekarang lagi dimana? ko rame banget,"} tanya sang Ibu.


{"Aku sedang berada di Kafe teman Bu, dan kebetulan rekan bisnis aku semua pada baik dan ramah. Semoga aku betah ya Bu,"} sambung lagi Angga.


{"Yasudah, kamu jangan lupa makan, dan istirahat,"} ucap sang Ibu.



Ibu pun menutup sambungan teleponnya. Angga menghela napas secara perlahan.


Dia pikirannya sekarang agak tenang karena baru saja mendengar kabar bahwa anaknya Amel sehat dan setelah meminum susu formula tidak sakit perut.



"Telepon dari siapa?" tanya Andri menatap Angga, temannya itu.


Sedangkan Gerry begitu asik sedang menerima telepon dari sang istri.



"Dari adikku," jawab Angga.


Pikirannya berselancar memikirkan sang adik.


Entah mengapa bayangan Bayinya, Amel datang hinggap menerpa.



"Adikmu yang kamu ceritakan itu, yang suaminya di usir oleh Bapakmu?" tanya Andri.



Angga menganggukkan kepalanya.


"Iya," jawabnya singkat.



"Kasihan ya, nasib adikmu, baru saja melahirkan sudah di tinggal pergi oleh suami.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2