Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 98 Teringat Masa Lalu


__ADS_3

Nampak hari itu Bianca terlihat cantik, Bianca berdiri di depan cermin sambil memandangi tubuhnya yang masih terlihat langsing walau sudah mempunyai anak satu.


"Wajahku masih cantik, dan badanku masih bagus. Meskipun aku sudah melahirkan, tapi. Apakah Raden masih menyukaiku?" ucap Bianca nampak mengernyitkan dahi.


___


Tyanca mengenang masa lalu.


Raden tidak melihat penampilan fisik semata, tapi dia sayang dengan tulus dan selalu menjaga Bianca.


Raden begitu menjaga Bianca dengan tulus, mulai dari sekolah TK dulu, dia selalu mengantar Bianca dan itu pun disuruh oleh ibunya Raden.


Bianca kemudian merapikan bajunya karena sebentar lagi dia mau pergi bersama ibunya, ke acara syukuran Raden yang diadakan di rumahnya yang cukup asri banyak pepohonan hijau disana.


Bianca memakai baju gamis berwarna putih dengan kerudung warna senada, karena sebelum acara ulang tahun dimulai yang dihadiri oleh para sahabatnya.


Akan diadakan pengajian yang dihadiri oleh ibu-ibu setempat.


___


Di ruang tamu.


"Mah hati-hati jaga anak, jangan sampai ke depannya terjadi lagi hal yang tidak diinginkan. Misalkan nanti Bianca suka terhadap Raden, dan kejadian lagi hal yang tidak diinginkan seperti pergaulan bebas bersama Rama,' ucap sang Papa.


"Iya Pak, Raden kan anak yang baik. Masa sih, mau melakukan hal seperti itu," ucap sang Mama terdengar membela Raden.


"Maksud Papa, Mama kan berada di rumah tiap hari, jadi Mama bisa mengontrol keadaan Bianca setiap hari di rumah. Sedangkan Papa suka keluar kota jadi tidak bisa mengontrol sepenuhnya Bianca," ucap sang Papa terdengar dihinggapi rasa khawatir.


Papa khawatir dengan pergaulan Bianca ke depannya seperti apa, karena sang Papa sudah teramat trauma dan kecewa terhadap Bianca yang dulu mengalami hamil diluar nikah.


"Iya Pah, jangan khawatir Mama tahu Kok, ke depannya harus mendidik Bianca seperti apa, Mama pasti akan menjaga jangan sampai kecolongan seperti yang terjadi terhadap Rama," sang Mama terlihat mencoba meyakinkan suaminya tersebut.


"Papa berharap jangan dulu menjalin hubungan yang serius, karena dia belum cukup umur walaupun pernikahan yang kemarin itu terjadi karena keterpaksaan. Bianca hamil diluar nikah!" ucap sang suami mencoba menegaskan kepada sang istri.


___


Sementara Bianca dari tadi mendengar percakapan kedua orang tuanya tersebut. Bianca menghela napas panjang.


"Maafkan, aku bersalah," Bianca termangu di belakang lemari seakan mengurungkan diri tidak ingin melangkahkan kakinya untuk bertemu ke acara syukuran Raden.


Rasa bersalah terhadap orang tuanya kian menghinggapi pikirannya, kembali bayangan-bayangan masa lalu menghantuinya. Dia seakan penuh beban dalam dirinya dan dihinggapi dosa yang besar.


_____


Tiba-tiba Bianca menghampiri.

__ADS_1


"Mah, Bianca nggak ikut ke rumah Raden," ucapnya terdengar lirih.


Nampak kedua orang tua Bianca sangat terkejut karena tiba-tiba Bianca datang. Sedangkan mereka sedang membicarakan hal yang serius tentang Bianca.


"Loh, kenapa!" Mama terlihat dihinggapi rasa heran. Sang Mama lalu melirik Papa, dia pun seakan tahu bahwa Bianca, barusan mendengar pembicaraan kedua orang tuanya


"Iya, kenapa? Masa udah dandan cantik dan pakai kerudung nggak jadi ikut," ucap sang Papa.


"Nggak apa-apa sih, tapi tiba-tiba kepala Bianca pusing," ucapnya berbohong


•••••


Sang Mama menatap lekat kepada sang anak, Mama pun seakan dihinggapi curiga bahwa anaknya tersebut mendengar percakapan antara Mamah dan papahnya. Sehingga mengakibatkan Bianca tersinggung atau tidak enak hati dengan ucapan orang tuanya tersebut.


"Tidak boleh gitu Nak! Kita udah di undang sama Bu RT, kalau nggak datang, kita nggak enak." ucap sang Mama terdengar penuh harap sang anak untuk bisa ikut.


"Iya Nak, Papa sama Mama nggak enak, dengan Pak RT dan, bu RT, kalau kamu nggak datang ke acara syukurannya Raden," sambung sang Papa.


"Ayo cepat! Dari tadi Mama menunggu sama anakmu, kasihan anakmu udah rapi," ucap Mama Astri mencoba merajuk sang anak.


Bianca menghela napas panjang, dia pun berpikir cukup lama. ("kalau misalkan, dia tidak datang ke acara syukuran Raden, dia tidak enak dengan Bu RT yang kemarin sudah berbicara panjang lebar ke rumahnya,")


•••••


Akhirnya Bianca dan anaknya, juga sang Mama pergi ke rumah Bu RT.


Entah mengapa pikirannya tidak karuan.


Dia memikirkan ("Gimana cibiran para tetangga atau kerabat yang lain, ketika melihat keadaan dia yang sudah mempunyai anak,"). Sang Mama menggenggam erat jemari tangan Bianca.


Mama Astri seakan menguatkan Bianca, untuk terlihat tenang ketika bertemu kembali dengan semua orang. Karena setahun ini, dia tidak tinggal di rumah orang tuanya tapi di rumah Tante Astrid.


"Mah, aku malu sama semua orang, nanti mereka mencibir aku! Karena aku sekarang udah mempunyai anak," ucap Bianca, dengan lirih. Pandangannya tetap menunduk ketika dia berjalan, seakan semua orang matanya tertuju terhadapnya.


•••••


Tiba di rumah Raden.


"Assalamualaikum," ucap Mama Astri, dan juga Bianca secara bersamaan.


Sontak para tamu yang berada di rumah Bu RT, pandangannya tertuju kepada Mama Astri, dan Bianca yang nampak memasuki rumah Bu RT, dengan senyuman ramah.


Mama Astri dan Bianca pun menyalami semua para tamu yang hadir.


"Aduh ini anaknya Bianca ya, cantik sekali berapa bulan?" tanya Bu RW, pandangannya lekat ke anaknya Bianca sambil mengusap kepala rambut sang anak.

__ADS_1


"Usianya 1,6 tahun Bu," jawab Bianca tersenyum ramah.


Pandangan Bianca melirik satu persatu para tamu undangan dengan dibalas oleh yang hadir di sana, dengan senyuman ramah pula.


Nampak semua yang hadir tersenyum ramah kepada Bianca tidak ada yang mencibir, hal ini membuat Bianca hatinya terasa tentram.


Ternyata pikiran dia salah karena dia berpikir semua orang akan mencibirnya, ternyata diluar ekspektasinya. Semua yang hadir tersenyum ramah kepada dia dan anaknya.


•••••


Tiba-tiba datang sesosok lelaki berkulit sawo matang, badannya tinggi tegap, rambutnya lurus dan berhidung mancung. Keluar dari kamar, penampilannya sangat rapi.


"Raden, penampilannya nampak seperti dulu masih rapi," gumam hati Bianca.


Nampak terlihat Bianca, menatap lekat ke arah Raden, dan tanpa sengaja Raden pun melirik ke arah Bianca. Akhirnya mereka pun saling berpandangan dan tersenyum.


•••••


Setelah datang pak ustad acara syukuran pun dimulai tampak khidmat. berkali-kali Bu RT melirik Bianca, dia seakan terpesona dengan Bianca yang memakai kerudung berwarna putih terlihat anggun dan cantik.


"Kasihan anak itu, masih kecil udah punya anak, dan sekarang lelakinya entah ke mana! Nasibnya malang benar," gumam Bu RT. Menatap lekat ke arah Bianca yang sedang menggendong anaknya.


••••


Dua jam kemudian.


Acara pun selesai nampak ibu-ibu undangan yang hadir meninggalkan rumah Bu RT.


Yang tersisa hanya Mama Astri dan Bianca mereka terlihat akrab berbicara dengan keluarga Raden.


"Anaknya cantik ya, kayak Mamanya," goda Raden sambil mencubit gemas sang anak.


Bianca pun seakan tersipu malu dengan ucapan Raden yang terdengar menggodanya.


"Ayo Mama Astri, Bianca! Kita makan dulu," uca Bu RT, mengajak mereka makan.


Mereka pun akhirnya berlalu ke ruangan meja makan. Raden Masih Seperti dulu, dia sangat perhatian terhadap Bianca. Ketika Bianca hendak makan pun nampak Raden ingin menggendong anaknya Bianca.


"Ayo, kamu makan! Aku sudah makan Kok tadi, biar anaknya digendong sama aku dulu," ucap Raden seakan penuh perhatian.


Bianca membuang napas kasar.


"Aku merasa bersalah, kenapa dulu berkhianat dan terbuai oleh bujuk rayu Rama. Akhirnya aku hamil, dan aku harus menikah dengan Rama. Meskipun pernikahannya hanya sebentar, sedangkan lelaki yang tengah berada di hadapanku ini, dia orang yang terbaik yang sedari kecil selalu memperhatikan aku. Dasar Aku wanita bodoh!" gumam hati Bianca.


Dia seakan menyesali dirinya.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2