
Di pasar.
Pagi itu tepat pukul sembilan, Mamanya Bianca sedang asik melayani pembeli. Tiba-tiba Bu Dena, pemilik toko sebelah berkata.
"Bu Astri, katanya Bianca hamil ya?" tanya Bu Dena, dengan sorot mata menatap lekat kepada Mamanya Bianca.
Mama terlihat kaget dengan ucapan Bu Dena, tersebut. Mama terlihat menahan rasa malu dan muka Mama merah padam. Sang pembeli melihat sang Mama, dan tersenyum tipis.
"Bu Dena, tahu darimana ya, anakku hamil," gumam hati Mama.
Dia dihinggapi rasa penasaran, siapakah yang membocorkan anaknya itu hamil.
"Sudahlah, nggak apa-apa Bu, sudah terjadi jadi tidak perlu di meratapi. Ibu yang sabar dan kuat ya, ini cobaan buat Ibu," sambung Bu Dena kembali. Senyuman Bu Dena seakan mengejek sang Mama.
Mama hanya menganggukkan kepalanya, dia seakan di permalukan oleh Bu Dena, karena Bu Dena nada bicaranya terdengar keras, tidak pelan. Otomatis toko yang berdekatan di samping dan depan mendengar.
Sang pemilik toko lain akhirnya menatap tajam kepada Bu Astri, dengan pandangan terlihat sangat sinis.
"Nggak bisa jaga anak itu, jadi anaknya hamil diluar nikah," ucap pemilik toko yang lain, yang berada di pinggir Bu Dena.
Nada bicaranya cukup pelan tapi terdengar oleh sang Mama.
Ternyata orang pada mencibir.
Pandangan Mama kini menunduk, dia sekarang seakan tidak dihargai oleh teman-temannya.
***
Mama pulang.
Hari itu Mama seakan terkena beban mental karena orang di pasar sebagian sudah tahu, bawa Bianca tengah hamil diluar nikah.
Mama nampak siang itu, sudah menutup tokonya, karena kepalanya terasa pusing.
"Bu, tumben tutup tokonya. Mau urus Bianca ya?" kembali Bu Dena mengejek Mama.
Mama hanya, tersenyum tipis, dan tidak memperdulikan omongan dari Bu Dena, tersebut.
***
Mama tiba di rumah.
Sore itu Jakarta di guyur hujan, sang Papa sudah tiba di rumah.
"Pak, aku tadi kesal sama Bu Dena," ucap sang Mama, ketika sang Bapak baru saja datang dari kantor.
Bapak menghela napas panjang, dia seakan lelah seharian sudah bekerja di kantor.
"Kesal kenapa?" tanya sang Papa.
"Masa Bu Dena, tahu bahwa anak kita sedang hamil," ucap sang Mama. Nampak sang Mama pandangannya menatap tajam sang suami.
"Loh, Bu Dena tahu dari siapa bahwa anak kita sedang hamil?" tanya sang Papa.
__ADS_1
"Justru itu, aku juga nggak tahu, Mama malu loh, jadi tetangga toko yang di pinggir pada tahu." ucap Mama kembali.
Mama teringat kejadian tadi pagi ketika teman yang berada di pasar terlihat mencibirnya. Mata Mama, terpejam. Lalu dia memijit kepalanya.
Sang Papa terdiam, dia pun merasakan bagaimana perasaan sang istri ketika kena sindir, oleh teman-temannya. Begitu perih dan pedas, mengakibatkan luka hati mungkin saat ini yang sedang di rasakan oleh sang Mama.
Papa menghela napas.
"Sudah Mah, jangan anggap omongan orang, lambat-laun juga semua pasti akan tahu, karena perut anak kita membesar, dan nanti melahirkan. Kecuali kita usir Bianca anak kita, itu, dan orang tidak tahu tentang kehamilan Bianca. Mama mau anak kita di usir?" Papa seakan menyalahkan keadaan.
Mama mengernyitkan dahi.
"Loh, Kenapa Papa jadi seperti salah paham. Ada apa?" Mama heran dengan sifat sang suami, karena tiba-tiba ngomongnya ngelantur, terkesan menyudutkan dan terlihat emosi.
Papa berdiri dan menggeserkan kursi.
"Papa capek, udah ya, mau istirahat dulu!" sang Papa seakan banyak yang dipikirkan nampak terlihat dari raut mukanya. Papa akhirnya berlalu dari hadapan sang istri, tanpa berkata apa-apa lagi.
***
Mama melotot.
Mama terlihat kesal campur kecewa dengan sang suami, pikiran Mama tidak karuan.
Sang Mama berpikir juga bahwa dia belum bertanya kepada sang anak, kapan Rama akan segera melamar Bianca, karena semenjak dari rumah Rama, belum ada kepastian atau kabar berita.
Kemudian Mama berjalan menuju kamar Bianca. Setelah tiba di depan pintu kamar lalu,
Mama mengintip di luar jendela kamar. Nampak terlihat sang anak sedang melamun. Pandangannya menunduk dan mukanya pucat, badannya pun tidak segar.
Krekkk..
Setelah pintu terbuka, lalu sang Mama berjalan mendekati Bianca.
"Nak.." ucapnya lirih.
Bianca mendongakkan kepalanya,
Anak belia itu tersenyum tapi seakan terpaksa.
"Iya Mah," ucapnya.
"Kamu sudah ada kabar dari Rama, kapan rencana tanggal pernikahan akan di selenggarakan?" tanya sang Mama.
"Kak Tyanca kemarin sudah mendatangi kembali rumah Rama, minggu depan Mah.
Tapi..." ucapnya, tidak meneruskan bicaranya.
"Tapi apa..?" tanya sang Mama.
"Tapi dia datang hanya bertiga, Rama sama saksi," jawabnya.
"Orang tuanya?" Mama kembali dihinggapi rasa heran, karena orang tua dari Rama kenapa tidak ikut.
__ADS_1
"Nggak setuju Mah, dengan pernikahan Bianca dan Rama," matanya berkaca-kaca.
Mama menghembuskan napas kasar.
Mama, seakan sudah di puncak sabar dan ikhlas. "Nggak apa-apa, yang penting tanggung jawab dinikahi oleh Rama, setelah itu pisah," gumam hati Mama.
Mama sudah pasrah kedepannya akan seperti apa. Dia berpikir jauh. Setelah nikah nanti melahirkan, dan sudah tidak ada hubungan lagi dengan yang namanya Rama. Lagian kedua orang tua dari Rama pun tidak menyetujui jika Bianca jadi menantunya dan yang memberatkan hati Mama adalah Rama, akan menikahi wanita lain.
Sungguh Rama lelaki yang tidak terpuji akhlak nya, dengan menghamili dua wanita sekaligus.
Sang Mama tidak menyalahkan Rama sepenuhnya, dia pun kesal dan kecewa terhadap sang anak.
Mama menatap Bianca.
"Kamu sudah makan belum?" tanya sang Mama. Meskipun dihinggapi rasa kesal, sang Mama masih sangat perhatian kepada anaknya itu.
Bianca menggelengkan kepalanya.
Ting...
Tiba-tiba gawai Mama berbunyi tanda ada pesan masuk. Nampak di layar telepon, Tyanca memberikan sebuah pesan.
{"Mah, lusa Bianca kembali ke Jakarta, Tyanca sudah melabrak si Rama dan meyakinkan lelaki brengsek itu, agar mau bertanggung jawab untuk menikahi Bianca minggu depan,"} tulis pesannya.
{"Bagaimana dengan orang tuanya, apa betul mereka tidak akan hadir?"} balas sang Mama.
{"Biarin lah,, tidak hadir juga. Yang penting asal di nikahi dulu saja sama si Rama. Kita seakan tidak ada harga dirinya mengemis. Biar yang di atas membalas perbuatan keluarga si Rama!"} balas Tyanca.
Sang Mama hanya membacanya, dan tidak membalas kembali pesan dari anaknya itu. kemudian beberapa menit kemudian, Tyanca membalas kembali pesan kepada sang Mama.
{"Mama istirahat tidur, besok jangan ke pasar. Sudah istirahat saja di rumah. Besok biar Tyanca ganti, uang pendapatan Mama untuk besok. Tyanca besok pagi transfer Mama,"} Tyanca begitu menyayangi sang Mama, dibalik sifatnya yang cuek dan kasar tapi jiwa lembut dan iba sebenarnya sangat tinggi dalam diri hati Tyanca.
{Iya, Nak,"} balas sang Mama.
__ADS_1
Mama pun, berlalu dari kamar Bianca. Mama merebahkan badannya di kursi Sofa.