
Mama datang dari arah dapur dengan membawa -Es cincau- dan beberapa makanan lainnya.
"Mah, adikku sakit apa sih, barusan aku ke kamarnya. Kenapa pintunya di kunci ya?" Tyanca pun merasa heran, karena Bianca biasanya tidak mengunci pintu. Apalagi akan datang keponakannya yang selalu dia tunggu.
"Ayo, cantik. Dimakan Es nya," Mama tersenyum dan menatap lekat kepada sang Cucu. Tanpa menghiraukan pertanyaan dari sang anak, Tyanca.
"Papa tumben tidur siang Mah, apa Papa juga sedang sakit?" tanya Gerry sang menantu, seperti dihinggapi rasa khawatir kepada sang mertuanya itu.
***
Mama kemudian melirik kamar Bianca, dan menghela napas panjang. Pandangan Mama mengarah keluar teras namun terlihat kosong, dan seakan ada beban dan raut kesedihan di mata Mama.
Tyanca dan Gerry saling berpandangan, mereka seakan mengerti perasaan Mama.
Kemudian Tyanca mendekat ke arah Mama, lalu dia mengelus pundak Mama.
"Mah, ada apa?" Tyanca seakan ingin tahu, apa yang terjadi kepada Bianca dan Papanya tersebut.
Mama menatap mata Tyanca, tidak di bisa di bohongi Mama hatinya terluka. Bulir putih yang mulus meluncur dari ujung mata ke pipi sang Mama.
__ADS_1
"Mah, ada apa?" kembali Tyanca bertanya, dia dihinggapi rasa penasaran yang teramat dalam.
"Bia..Bianca..,Adikmu itu," Mama terbata-bata ketika berucap, dia seakan tidak bisa meneruskan bicaranya.
"Ada apa dengan Bianca, Mah?" tanya sang Kakak dihinggapi rasa khawatir.
"Dia..hamil," Mama berucap dengan lirih, dan terisak tangis.
Sontak Tyanca dan Gerry terbelalak matanya, seakan tidak percaya, apa yang baru saja di dengar dengan ucapan sang Mama.
"Mama jangan ngaco, ada-ada saja!" Tyanca tersenyum sinis. Tapi dalam dadanya ada suara yang bergemuruh yang sangat kuat.
Mama kemudian menceritakan semuanya, apa yang terjadi dengan Bianca. Mama ketika berucap di selingi dengan isak tangis seakan perih menyayat hati
"Papa sudah ke rumah lelaki itu?" tanya Gerry, menatap Mama.
"Belum, Mama dan Papa, menunggu kalian datang," Mama memegang erat jemari Tyanca.
"Sabar Mah, mungkin ini cobaan yang harus Mama dan Papa hadapi dari Bianca." Tyanca lalu berdiri kemudian dia berjalan ke arah kamar Bianca.
__ADS_1
Tok...Tok...Tok...
"Buka..! buka pintunya. Kakak mau ngomong," Tyanca mengetuk-ngetuk, pintu kamar sang Adik. "Cepat buka!" sambungnya lagi, dengan nada yang terlhat kesal dan memendam marah. Gerry sang suami mengedipkan matanya, seakan mencoba menenangkan hati sang istri agar bersikap tenang
Krekkkk..
Beberapa menit kemudian pintu terbuka, Bianca tidak menampakkan senyuman kepada sang Kakak, malah dia berlalu dari hadapan Tyanca, dan dia duduk di pinggir kasur.
Tyanca kemudian menghampiri adiknya itu, dengan keadaan masih berdiri. Dia seakan tidak mau duduk dekat dengan adiknya itu.
Tyanca menatap lekat bola mata sang Adik.
"Kamu ya, mencoreng nama baik keluarga. Kakak tidak menyangka kamu anak polos bisa melakukan hal tersebut. Kakak sungguh kecewa, kecewa, sama kamu!" telunjuknya mengarah ke jidat sang adik.
Baru kali sang Kakak memarahinya, dan menunjuk-nunjuk. Bianca, anak yang di manja oleh Kakak dan kedua orang tuanya.
Pandangan mata Bianca, tidak berani menatap Tyanca, sang Kakak. Dia tertunduk dan tidak berani berbicara sedikitpun.
__ADS_1
Lagi-lagi Tyanca bertanya.
"Kamu kenapa melakukannya, jawab!" nada bicara Tyanca, meninggi. Mengakibatkan sang Mama dan Gerry terkejut. Dan mereka pun menghampiri Tyanca yang sedang memarahi adiknya tersebut.