
Mama kembali bekerja.
Setelah beberapa hari sang Mama, tidak ke pasar untuk berjualan.
Pagi ini Mama, disibukkan dengan kembali melakukan rutinitas aktivitasnya, dengan berjualan di pasar.
Nampak suasana di pasar begitu
ramai, kebetulan hari itu hari libur sekolah, dan sang Papa ikut berjualan menemani sang istri di pasar.
~~
Kebetulan bulan ini musim buah mangga, Mama pun berjualan buah mangga, dengan beraneka ragam jenis buah mangga yang dijual sang Mama. Ada buah Mangga Arumanis, golek dan Manalagi.
~~
"Bu, ada mangga muda tidak?" tanya wanita yang sedang memegang perutnya itu.
"Serdang hamil ya Neng? berapa bulan?" tanya Mamanya Bianca," melirik perut wanita tersebut.
"Ini usia kandunganku jalan 5 bulan Bu," jawabnya sambil tersenyum.
"Oh, silahkan pilih-pilih dulu Neng," Mama pun , kembali melayani pembeli yang lain, dan membelakangi wanita itu, yang sedang memilih mangga.
~~
Wanita tersebut memilih-milih mangga yang akan dia beli.
Tiba-tiba sang suami datang menghampiri.
"Mah, aku cari-cari dari tadi, kirain kemana?" nampak sang suami terlihat seperti mengkhawatirkan keadaan istrinya itu.
"Iya Mas, nyari mangga muda, padahal Mas, tunggu saja di tukang ayam, nanti aku akan kembali ko," jawab sang istri.
***
Sementara Sang penjual tengah sibuk melayani pembeli lain.
Nampak Mama Astri begitu ramah melayani satu persatu pembeli.
"Sudah! mau beli berapa kilo?" tanya sang suami pembeli tersebut.
"Dua kilo, saja Mas," jawab wanita tersebut.
"Pak, mau mangganya dua kilo saja ya," ucap sang pembeli, kepada suami Mama Astri. karena Mama Astri tengah sibuk melayani pembeli yang lain.
"Boleh!" jawab suami Mama Astri, pandangan masih tertunduk dan sibuk melayani pembeli lain.
Nampak Mama Astri pun masih terlihat sibuk sehingga tidak dapat memandang, sang pembeli satu persatu.
***
Pembeli ternyata Rama.
Sang suami dari wanita pembeli, nampak sangat terkejut, karena penjualnya adalah Papa dari Bianca. Saking kagetnya dia termangu, seakan tidak bisa bicara.
__ADS_1
"Mas, Mas Rama!" ucap sang istri menepuk pundak sang suami.
Mendengar sang pembeli memanggil nama Rama, sontak sang penjual atau Papa dari Bianca, dengan spontan melirik ke arah sang pembeli tersebut.
Dengan waktu bersamaan pandangan, Rama dan Papanya Bianca, berpandangan. Kedua wajah mereka terlihat nampak terkejut apalagi Rama, mukanya merah padam.
"Ini..ini, uangnya. Tadi lupa ada yang ketinggalan di tukang ayam," Rama memberikan uang 50 ribu, kepada sang istri. Kemudian dia membalikkan badannya, lalu dia menyeret kakinya dengan langkah yang cepat. Rama pun berlalu dari Toko, milik Papanya Bianca.
"Aneh, masa ketinggalan sih, Mas.." Amel sambil memilih mangga kemudian dia melirik sang suami, belum beres Amel berbicara. Nampak sang suami sudah berlalu dengan cepat, pergi dari hadapannya.
Mata Papanya Bianca, melotot dan terus menyusuri kemana arah Rama, yang sedang berjalan begitu cepat di antara kerumunan orang, yang berlalu lalang di pasar tersebut.
"Pak...Pak, jadi berapa semuanya?" tanya Amel, kepada sang penjual.
Papa Bianca terkesiap ketika Amel, menepuk tangan sang penjual.
"Oo...dua kilo ya tadi? jadi 30rb," ucapnya gugup. "Neng, tadi suaminya ya?" tanya Papanya Bianca, kepada sang pembeli.
"Iya, Pak. Suamiku kembali lagi ke tukang ayam, katanya ada yang ketinggalan," jawab Amel.
"Lagi hamil, berapa bulan Neng?" tanya Papanya Bianca.
Nampak Papanya Bianca, menghela napas panjang, dia seakan tidak percaya apa yang baru saja dia lihat.
_____
Pikirannya berselancar cukup jauh.
"Jadi Rama telah menghamili wanita ini, kemudian menghamili anakku, dan wanita yang di hadapanku, dia terlihat masih muda, mungkin di bawah Tyanca, usianya." bisik hati Papa.
_____
"Pah.." Mama, menepuk pundak sang suami, karena terlihat sedang melamun.
"Iy...iya, Mah," terlihat Papa nampak terkejut.
"Itu loh, uangnya 50 ribu, pembeli minta kembalian," ucap sang istri sambil tersenyum ke arah Amel.
Papa tidak langsung membuka laci yang di dalamnya ada uang untuk kembalian, namun malah menatap kembali wanita yang tengah di hadapannya.
Mama kemudian dengan sigap mengambil uang kembalian yang ada didalam laci, lalu menyerahkannya kepada Amel.
"Terima kasih Bu, mari," ucap Amel.
__ADS_1
Kemudian dia berlalu dari Toko, milik Mama Astri .
"Pah..!" ucap Mama kembali menepuk sang suami. "Ada apa?" sambungnya lagi. Karena nampak mata Papa, seakan tidak dapat berkedip sedikitpun tatkala Amel berlalu dari hadapannya.
"Mah, wanita yang tadi beli mangga. Apakah dia sering belanja kesini?" tanya Papa, terlihat dihinggapi rasa penasaran.
"Baru hari ini, memang kenapa?" terlihat Mama pun, heran dengan sikap sang suami, yang menanyakan wanita yang baru saja beli di toko miliknya.
"Mama tidak menyadari ya, tadi wanita itu belanja kesini bersama dengan seorang lelaki, itu suaminya, dan..." Papa berhenti, tidak melanjutkan ucapannya, dia seakan ragu antara bilang sama istrinya atau tidak, terlihat Papa, serba salah takut jadi beban pikiran sang istri.
Papa membuang napas kasar.
"Ya, Mama tadi lihat dia bersama suaminya, tapi sekilas, Mama gak terlalu memperhatikan karena yang belanja tadi banyak," jawab sang Mama.
Papa menatap lekat kepada sang istri, matanya berselancar melihat keadaan sekitar. Papa takut jika obrolannya dengan sang istri itu terdengar oleh toko sebelah.
Papa kemudian mengusap lembut pundak sang Mama, dan sang Mama, sudah terlihat curiga karena dari raut muka Papa, seakan mengisyaratkan kata sabar kepada sang istri.
Mama Astri pun seakan siap untuk menerima apapun yang akan dibicarakan oleh suaminya tersebut.
Papa menghela napas secara perlahan.
"Suami dari wanita yang membeli mangga itu adalah Rama!" ucap Papa, pelan dan lekat ke kuping sang istri.
"Rama..." jawab Mama Astri.
Sang Mama ternyata tidak peka, dengan ucapan sang suami.
"Iya, Rama. Rama yang kemarin menikah dengan anak kita," ucap sang Papa.
Sontak sang Mama terkejut, seakan tidak percaya apa yang baru saja dia dengar dari mulut sang suami.
Mama kemudian menarik kursi yang posisinya berada di belakang badannya, kemudian dia menghempaskan badannya dan duduk seperti termangu dan tidak tahu mesti bicara apa.
Sang suami kembali mengusap lembut bahu sang istri.
"Mungkin mereka sudah menikah Mah," ucap Papa, pandangan Papa terlihat kosong sambil melihat orang di sekitar pasar.
"Benar kata Tyanca Pah, kemarin dia menelepon Mama, katanya Rama sudah menikah lagi. Kalau dia belanja ke pasar ini, kemungkinan besar wanita tersebut, tinggal di daerah sini." ucap Mama.
"Maksud Mama, istrinya Rama, rumahnya di daerah sini?" tanya sang Papa.
"Ya, mungkin istrinya orang sini, Pah." ucap sang Mama.
~~
"Aku harus menyelidikinya, istrinya Rama itu, sebenarnya anaknya siapa." gumam hati sang Papa.
Papa tidak begitu akrab dengan tetangga, karena Papa jarang keluar, tapi Papa nanti akan menyelidiki, Amel itu anaknya siapa.
"Mah, kita tutup saja Toko nya," ucap sang suami, meminta untuk menutup Toko. Padahal jam baru menunjukkan pukul satu siang, biasanya tutup sore.
Mama menatap lekat kepada sang suami, nampak sang suami sedang memikirkan sesuatu, Mama berpikir mungkin sedang memikirkan hal yang baru saja terjadi yaitu, bertemu dengan Rama dan istri barunya.
Wajah Papa, nampak gelisah dan terlihat capek. Mama pun seakan mengerti perasaan sang suami
__ADS_1
"Yasudah, kita tutup saja Toko nya," ucap sang Mama. Mereka pun menutup Toko, tersebut, dan pulang ke rumah.
Bersambung...