
Sang Mama dan Suami menghampiri Tyanca, yang sedang mencecar pertanyaan dengan nada keras kepada sang Adik.
Kemudian Gerry sang suami memasuki kamar sang Adik.
"Sudah, Mih, semua sudah terjadi. Jadi kalau disalahkan juga, percuma." sang Suami mencoba menenangkan istrinya itu.
Tyanca nampak kesal, lalu dia kembali menatap wajah sang Adik, dengan tatapan sinis dan terlihat kesal. Nampak di raut wajahnya menyimpan rasa kecewa yang teramat dalam, karena Adiknya yang terlihat polos, bisa-bisanya melakukan hal yang memalukan dan mencoreng nama keluarga.
"Tyanca, Bianca, semua kesini. Ke ruang tamu!" tiba-tiba suara sang Papa, muncul dari arah depan pintu. Ternyata Papa terbangun dari tidur, mungkin mendengar suara Tyanca yang keras jadi terbangun dari tidurnya.
Tyanca kemudian meninggalkan kamar tersebut, dan mencium punggung tangan Papanya.
"Maafkan Tyanca, Pah, jadi Papa terbangun gara-gara nada bicara Tyanca keras." ucap Tyanca sambil berlalu ke arah ruang tamu, yang diikuti oleh kedua orang tuanya itu.
"Ayo, Dek, kita ke ruang tamu. Kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya, kamu harus berani menghadapi semuanya, karena kamu sudah melakukan kesalahan yang sangat besar," Gerry menatap lekat ke arah Bianca. Anak belia itu tidak bergeming sedikitpun, hanya tetesan air mata yang meluncur deras dari matanya.
***
Tiba di ruang tamu.
Semua nampak terdiam, tidak ada kata, seakan masing-masing dalam hatinya berpikir. Kata apa yang akan pertama mereka ucapkan untuk memulai semuanya.
Tiba-tiba Mischa, menghampiri Bianca. dia menyerahkan cemilan, harum manis(rambut nenek) "Tante ini," ucapnya tersenyum merekah.
__ADS_1
Mendapat perlakuan seperti itu, Bianca tersenyum tipis seperti terpaksa.
"Terima kasih, Mischa." ucapnya lirih
Antara senang dan menahan rasa sedih. Senang karena sang keponakan telah memperhatikannya dengan sebuah makanan dan perhatian. Sedih karena hatinya sedang pilu. Disaat sedang keadaan tertekan masih ada sebuah kejutan untuknya, dengan kasih sayang yaitu, sebuah kejutan diberikannya sebuah makanan meskipun itu merupakan hal sepele.
***
Hemm....Deheman, sang Papa membuat jantung Bianca kembali berdetak kencang tidak karuan.
Papa menghela napas secara perlahan.
"Iya, Nak Gerry, sudah tahu kan ceritanya semua. Jadi Papa nanti mau ke rumah lelaki itu, yang menghamili Bianca." ucap sang Papa, terdengar dari raut mukanya sedih dan sangat kecewa.
"Sekarang Pah, ayo kita berangkat," Tyanca, penuh semangat ketika berucap.
"Yang penting kita meminta pertanggung jawaban dari sang lelaki untuk menikahi dulu, dan..." Papa tidak bisa meneruskan ucapannya.
"Maksud Papa apa?" tanya Tyanca.
"Dan setelah itu biar kita pikirkan nanti, karena lelaki itu akan menikahi wanita lain bulan depan, katanya." ucap Papa kembali.
Tyanca, sorot matanya seakan tidak bisa berkedip, dia menatap tajam kepada sang Adik, terlihat sinis dan kesal.
__ADS_1
Bianca hanya diam seribu bahasa, tidak bisa berkata apa-apa.
"Kenapa, Tante. ko' nangis," tanya Mischa.
lalu Mischa memberikan tisu yang berada di meja. Bianca terenyuh dan suara tangisannya bertambah keras terdengar.
"Sudah jangan nangis, salah sendiri kenapa mau dihamili. Laki-laki sint"ng, mau nikah masih hamili wanita lain, dasar gobl\*k!" Tyanca seakan tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
"Mami...ngomongnya kasar," Mischa, anak pintar itu menatap Tyanca.
"Mih, hati-hati kalau ngomong, jadi di dengar anak kan, malu." ucap Gerry melotot kepada istrinya itu.
"Habis kesal aku Pih," jawabnya.
"Sini Mischa, sama Nenek," ucap Mama Astri.sang Mama kemudian menggendong Cucunya menuju arah teras rumah.
__ADS_1
"Sore saja kita ke rumah lelaki itu, Pah," ucap Gerry, kepada Papa mertuanya. Sang Papa menganggukkan kepalanya.