Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
bab: 92 Amel Kerja Di Bandung


__ADS_3

Amel bersikukuh untuk bisa bekerja.


Amel pun mencoba meyakinkan kedua orang tuanya dan kakaknya Angga, untuk bisa bekerja. Karena dia berpikir tidak mau merepotkan kedua orang tua, dan kakaknya untuk bisa bertahan hidup dengan anaknya.


Akhirnya dengan keyakinan yang kuat, dia mencoba meyakinkan kedua orang tua dan kakaknya. Amel pun diizinkan bekerja, Amel ikut ke Bandung bersama Angga untuk bekerja.


•••


"Bu, Pak, Maafkan Amel ya, amel mau pamit untuk bekerja dengan Angga. Semoga kedepannya lancar, masalah amel mau dijodohkan oleh Bapak, beri Amel kesempatan untuk memikirkan semuanya. Karena Amel untuk sekarang ini, ingin fokus sama diri Amel dan anak. Amel perlu waktu untuk memutuskan menikah bersama kang Burhan, Amel harap Bapak bisa memakluminya," ucap Amel air mata mengalir deras di pipinya.


"Sebenarnya Ibu nggak mau kamu bekerja untuk saat ini, tapi Ibu pun tidak mau melarang, apa yang sudah menjadi keputusan kamu, semoga kamu betah tinggal disana," sang Ibu memeluk erat anaknya tersebut.


Nampak terlihat rasa haru menyelimuti keluarga tersebut, dengan kepergian Amel untuk bekerja di Kota Bandung, bersama sang Kakak Angga.


Amel pun memeluk sang Bapak, Amel bisa bernapas lega karena Bapaknya sekarang sudah mulai membuka hati, untuk tidak memaksa anaknya agar segera menikah dengan Burhan.


"Kang Burhan, anak baik dia akan setia menunggumu. Padahal kamu kalau nikah dengan kang Burhan, tidak perlu bekerja lagi. Tapi Bapakmu ini, tidak bisa memaksa dengan keputusanmu," ucap sang Bapak terdengar lirih seakan tidak mampu untuk melepaskan sang anak pergi.


Burhan orang berada, tapi Amel menolak untuk bekerja di perusahaan Burhan.


Dia berpikir jika dia bekerja dengan Burhan, takut kedepannya ada rasa canggung dan otomatis, Amel harus patuh kepada sang Bapak dan Burhan agar dia mau menjadi istrinya.


Sedangkan Amel berpikir untuk masalah pernikahan, dia tidak mau memikirkannya dulu.


Titt...Titt...


Suara bunyi klakson terdengar jelas kedalam rumah, dengan sigap Angga membawa koper dan tas yang akan dibawa ke Bandung.


Angga bersama Amel pun berlalu dari hadapan kedua orang tuanya, tidak lupa mereka mencium punggung kedua orang tuanya.


Amel pun nampak terlihat sedih ketika melihat sang anak yang sedang digendong oleh ibunya. Amel menatapnya dengan penuh rasa iba, Amel pun memeluk erat anak tersebut.


Tangis Amel pun pecah, dia sesunggukkan seakan tidak mau berpisah dengan anaknya tersebut.


"Kamu yang kuat Nak, pasti kamu bisa."


bisik sang ayah lekat ke kupingnya Amel.


Ibu pun memeluk erat anaknya itu, dan mengusap-usap lembut sang anak.


•••••


Amel dan Rangga menyeret kakinya, dimana disana sudah ada mobil terparkir yang menunggu di luar rumah. Nampak terlihat sang pengemudi mobil yaitu Andri, sahabat dari Angga tersenyum ramah dan menganggukkan kepalanya kepada orang tua Angga.


"Masuk dulu Nak, ke sini!" ucap sang ibu, sambil tersenyum lebar meskipun hatinya sedang pilu karena kepergian sang anak.

__ADS_1


"Terima kasih Bu, lain kali saja," ucapnya. Kembali Andri tersenyum dengan ramah.


•••


Setelah memasuki mobil Angga, dan Amel melambaikan tangan kepada kedua orang tuanya. Nampak terlihat Amel mengusap air mata yang terhampar di pipinya.


Amel membuang napas kasar.


"Semoga aku diberi kekuatan untuk meninggalkan anakku, dan semua di lancarkan," gumam hati Amel.


•••


Menuju perjalanan ke Bandung.


Amel selama dalam perjalanan tidak banyak kata yang dia ucapkan, meskipun matanya mencoba terpejam. Entah mengapa bayangan anaknya, seakan hingga menyapa kepada dirinya.


Begitupun dengan bayangan Rama, yang terus-menerus kian menghantuinya, seakan sang lelaki itu mau menerkam dirinya.


Amel nampak beberapa kali terkesiap, yang mengakibatkan sang Kakak Angga, dihinggapi rasa khawatir yang teramat kepada adiknya tersebut.


Angga nampak terlihat beberapa kali melirik sang adik, di mobil kaca spion dalam.


"Mel lapar tidak? Atau mau istirahat dulu, kita istirahat dulu ya. Biar mobilnya, kita berhentikan di rumah makan," ucap Angga yang terlihat khawatir kepada sang adik.


Amel hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.


Kemudian Andri pun menjawab pertanyaan dari Angga. "Perutku lapar nih, gimana kalau misalkan, kita berhenti dulu. Lagian aku capek nih mengemudikan mobil." Andri terlihat ingin melumerkan suasana.


Andri pun nampak kasihan terhadap Amel, yang terlihat termenung dan tidak banyak kata selama perjalanan dari Jakarta ke Bandung.


"Ya sudah, kalau begitu istirahat dulu." ucap Amel sambil tersenyum ke arah Andri.


•••••


Di dalam Restoran


"Nanti Amel mau kerja di tempat kita, atau seperti rencana semula, dia akan bekerja di tempat Kafe temanmu?" tanya Angga kepada Andri.


"Ya, itu sih terserah Amel. Tapi temanku kan lagi membuka Kafe baru di Kota Bandung. Jadi dia perlu karyawan banyak. Mungkin nanti Amel, akan aku referensikan menjadi staf administrasi di sana." ucap Andri sambil melahap nasi dan ayam bakar.


"Gimana Mel, kalau menurut kamu kamu? Mau kerja bareng sama Kak Angga, atau mau kerja di Kafe temannya Kak Andri? Tapi nanti tetap kok kamu pulangnya bisa ke tempat Kak Angga. Ini hanya pilihan ya, terserah kamu mau kerja dimana, sama-sama di kafe juga." ucap Angga sambil menyeruput secangkir teh hangat.


"kalau Amel sih, terserah Kak Angga saja, gimana baiknya. Tapi Amel ingin lihat dulu keadaan Kafe temennya Kak Andri, Itu jaraknya dari tempat Kak Angga jauh tidak?" tanya Amel.


"Deket kok tidak jauh, hanya sekitar 10 atau 15 menit dari arah Kafenya Kak Angga," ucap Andri. Matanya melirik Amel yang sedang asik menatap layar ponselnya.

__ADS_1


"Ya sudah nanti kamu dibawa sama Kak Angga, untuk melihat Kafe tersebut," ucap Angga.


•••••


Setengah jam kemudian mereka keluar dari Restoran tersebut, dan memasuki mobil kembali, untuk melanjutkan perjalanan ke kota Bandung.


Setelah terasa perutnya kenyang, Amel pun mencoba memejamkan matanya, lama-kelamaan akhirnya, dia pun tertidur.


•••


Tiba di Kota Bandung.


Angga di Bandung sekarang tinggal di rumah baru yang cukup sederhana.


"Mel, ini kamar kamu!" Angga menunjukkan kamar yang akan di tempati oleh Amel.


Rumah tersebut ada kamar 3 beserta ruang tamu, dapur dan kamar mandi.


Tiba-tiba datang seorang wanita kira-kira usianya 50 tahun dia adalah ART yang membantu Angga selama ini.


"Oh, iya. Ini Teh Siti, Mel, kenalkan Teh Siti adalah ART, di rumah ini. Kalau kamu perlu apa-apa tinggal bilang ke Teh Siti aja ya," ucap Angga.


"Saya Amel, adiknya Angga." ucap Amel.


Amel pun tersenyum ramah kepada Teh Siti, dan mengulurkan tangannya.


"Aduh, cantik sekali adiknya Mas Angga, semoga kerasan tinggal disini ya, Neng," ucap Teh Siti tersenyum sumringah dan mengulurkan tangannya.


Amel tersenyum kepada teh Siti, dan menganggukan kepalanya.


•••••


Sore Tiba.


"Kak, aku pengen keluar jalan-jalan, bersama Teh Siti," ucap Amel.


"Iya, nggak apa-apa, mau Kakak temani tidak," ucap Angga.


"Nggak usah, mau keliling komplek saja," jawab Amel.


Akhirnya mereka pun berlalu keluar untuk jalan-jalan sore keliling komplek.


Ting...


Tiba-tiba pesan masuk ke ponsel Rangga, nampak terlihat nama yang muncul Andri.

__ADS_1


"Nanti malam bisa keluar tidak? Tamu kita dari Jakarta akan datang, namanya Pak Rngga, dia datang kesini bersama temannya juga," tulis pesan Andri.


Bersambung...


__ADS_2