Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 78 Mengingat sosok Rama.


__ADS_3

"Amel.." ucap Tyanca.


Tyanca terkejut tatkala melihat Amel


yang sedang menyuguhkan teh hangat manis di atas meja.


Sontak pandangan Amel yang sedang menunduk dengan cepat mendongakkan pandangannya ke arah suara yang memanggil namanya.


"Kak Tyanca," ucapnya lirih. Amel nampak terkejut sama seperti Tyanca.


"Kamu kenal sama adiknya Angga, Mih?" Tanya Gerry sang suami.


Lalu Tyanca berbisik pelan dan mulutnya lekat ke arah kuping suaminya itu.


Gerry nampak menghela napas panjang, setelah mendengar penjelasan dari sang istri bahwa Amel adalah suami dari Rama.


•••


"Kalian saling kenal," ucap sang Ibu, menatap sang anak kemudian pandangannya beralih kepada Tyanca. Sang Ibu pun dihinggapi rasa penasaran.


"Ya, Bu, Amel adik kelasku," ucap Tyanca tersenyum tipis.


"Pantesan, berarti sudah lama sekali ya, nggak ketemu. Dunia memang sempit ya, akhinya kalian di pertemukan," ucap sang Ibu.


"Suami Amel kemana Bu!" Tyanca seakan ingin tahu lebih tentang keadaan Rama sekarang ini kepada sang Ibu.


"Justru itu suaminya..." ibu seakan tidak bisa melanjutkan ucapannya dan dia menatap mata Angga dan terlihat tersenyum tipis terlihat ada rasa kesal, luka, dsn kekecewaan yang terpancar dari raut mukanya.


Angga mendekap sang Ibu yang berada di pinggirnya. Seakan mencoba menenangkan hati sang Ibu.


Tyanca pun yang waktu kemarin menyimpan amarah dan kesal kepada Amel dan pernah bertemu dengan menyindirnya, seakan menyalahkan dirinya sendiri. "Mungkin Amel juga korban dari Rama, karena keluarganya begitu sopan, nampak dari raut muka sang Ibu terlihat menyimpan rasa kecewa yang teramat," gumam hatinya.


"Lelaki banyak, jangan mengharapkan lelaki yang tidak bertanggung jawab," ucap sang Bapak terdengar sinis ketika berucap.


"Sudah Pak, malu sama tamu," ucap sang Ibu tersipu malu.


Ibu pun menceritakan semua yang terjadi dan keadaan Amel sekarang sedang tersakiti hatinya oleh sang suami. Tyanca nampak terlihat merasa iba terhadap Amel dan terkejut, dengan pernyataan semua yang di tujukan oleh Ibunya Amel.


•••


"Ya, pasti orang kesal lah, dengan masa lalunya si Rama yang baru di ungkap sekarang, karena katanya dia sebelum menikahi Amel anakku pernah juga menikah dengan wanita dan lagi hamil!" Bapaknya Amel terdengar menggebu ketika berucap.

__ADS_1


"Dan yang lebih parahnya pernikahan itu berlangsung cuma beberapa jam. Sesudah itu si Rama pulang lagi, pas tengah malam ke rumah orang tuanya. Gimana adikku tidak hancur hatinya saat itu!" Tyanca terlihat dari raut wajahnya nampak kesal dan tersulut emosi.


___


Kenangan dia saat itu terhadap sang adik adalah, Bianca telah mempersiapkan kamar dengan penuh di hiasi bunga yang semerbak dan adiknya yang sedang di perbudak cinta itu sungguh tergila-gila terhadap bujuk rayunya. Padahal saat itu adiknya sedang masanya belajar usia masih terbilang belia. Dan Rama yang menghancurkan semuanya.


Kebahagiaan yang tengah di jalani oleh adiknya saat itu di rampas oleh Rama.


Tak terasa bulir putih meluncur deras di hamparan pipinya. Dia seakan tak kuasa anak kecil yang polos dan mungkin sangat bodoh pikirannya saat itu karena terbius cinta buta harus menikah karena hamil.


_____


Sontak orang tua Amel dan sang Kakak terkejut dengan pernyataan Tyanca, yang menyatakan wanita yang dinikahi oleh Rama sebelum Amel adalah Bianca, adik dari Tyanca.


Mata sang Bapak melotot seakan tidak percaya apa yang dia dengar barusan. Mulutnya terbuka lebar, dia melongo karena rasa keterkejutannya dengan semua yang dia dengar barusan.


"Apa aku nggak salah dengar, dengan apa yang barusan di ucapkan," sang Bapak menatap Tyanca dengan wajah dihinggapi rasa kejut yang teramat.


Gerry mengusap lembut pundak sang istri tanda menyabarkan emosinya yang sedang memuncak itu.


"Sabar, sabar Mih, kontrol emosi kamu. Malu ini di rumah orang," sang suami terlihat tersipu malu dengan ulah sang istri yang membuka semuanya tentang kejelekan Rama dan Bianca yang di perbudak cinta.


Tyanca hanya menangis, dia seakan kehabisan kata dan erat menggenggam jemari tangan sang suami.


Menghela napas secara perlahan.


Suami Tyanca sangat tenang ketika berucap tidak seperti sang istri yang terlihat penuh amarah dan tidak bisa mengendalikan emosinya.


Setelah mendengar ungkapan hati dari Tyanca dan Gerry, saat itu juga keadaan nampak sunyi, tidak ada kata yang terucap dari mulut masing-masing. Mereka otaknya seakan sedang memikirkan sosok Rama yang terlihat alim dan diam tapi ternyata dia adalah sang petualang dan pengkhianat cinta.


•••


"Ibu bisa merasakan bagaimana sakitnya hati Ibunya Bianca, tatkala mengalami kejadian anak yang masih duduk di bangku SMP hamil sebelum nikah. Ibu saja dulu merasa getir dan pilu tatkala mendengar Amel hamil. Apalagi ini usia anak masih belia dan perjalanan hidupnya masih panjang." ucap Ibunya Amel sambil mendekap anaknya Amel dan mengusap lembut rambutnya. Mata sang Ibu berkaca-kaca seakan ada air mata yang akan tertumpah namun coba dia tahan.


\_\_\_\_


Amel nampak terisak tangis, dia seakan menyalahkan dirinya sendiri, mengapa dia mengenal sosok Rama dan mempunyai anak. Kalau ternyata dia akan mengalami hal buruk dalam hidupnya.



Bayangan Rama dulu yang telah mengobral janji manis hinggap kian nyata, dan setelah pernikahan adanya utang ke Bapaknya, sang suami nampak tidak kunjung datang dalam kurun waktu mau hampir setahun.

__ADS_1


Hatinya terasa sesak dan di remas begitu terasa perih dan sangat pilu terasa.


\_\_\_\_\_


Tyanca dengan melihat Amel yang terlihat sedih dia pun seakan menyesal karena dia kemarin menduga bahwa Amel pun biang dari semuanya. Ternyata Amel juga korban dari Rama lelaki brengsek itu.



Karena melihat sang istri terlihat pilu dan kembali teringat masa lalu sang adik yang hidupnya dihancurkan Rama.


Gerry sang suami mengajak pulang sang istri menghindari tingkat emosi sang istri semakin memuncak.


•••


"Mih, ayo, kita pulang saja, nggak baik mengeluarkan semua rasa kesal di rumah orang," bisik sang suami lekat ke arah kuping sang istri.



Tyanca hanya menganggukkan kepalanya, dan Gerry pun pamit dari hadapan keluarganya Amel, dengan di ikuti oleh Angga dari arah belakang.



"Pak, Bu, saya mohon pamit ya, maaf telah mengganggu waktu istirahatnya," ucap Gerry tersenyum tipis.



Kedua orang tuanya Amel hanya menganggukkan kepalanya, dan tersenyum tipis. Mereka pikirannya seakan tidak karuan.


Di luar teras.


"Pak, saya sungguh tidak menyangka dengan semuanya, ini di luar dugaan saya. Adiknya Ibu Tyanca yang waktu bertemu di Bandung adalah istri dari Rama." ucap Angga ketika berjalan menuju tempat parkiran mobil diluar halaman rumah.


Angga berpikir dalam benaknya dan mengingat kala itu dia begitu nyaman dengan sang anak karena mukanya persis dengan anaknya Amel.


"Ya, inilah hidup penuh drama dan menguras air mata. Mungkin saatnya semua terungkap. Sudah ya, saya jalan dulu," Gerry menepuk pundak Angga.


Mobil Gerry pun melaju kencang dan sedikit demi sedikit pandangan Angga kabur tatkala mobil sudah menjauh dari hadapannya.


Baru juga mobil Gerry melaju dan Angga mau menutup pintu halaman, tiba-tiba suara mobil datang menghampiri, menuju halaman rumahnya. Nampak ada dua orang di dalam mobil tersebut kemudian sang wanita membuka jendela pintu mobil.


Angga terlihat begitu penasaran dengan yang tengah berada di mobil tersebut dan mengucek-ngucek kedua matanya lalu mencoba membuka matanya dengan lebar.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2