Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 16 Bu Guru Termenung


__ADS_3

Bu Widya pulang.


Sang Guru akhirnya pamit dari rumah Bianca.


Kebetulan sang Guru, datang ke rumah Bianca, dengan memakai mobil online.


Dan pulang ke rumah pun, dia memesan lagi mobil online.


Di dalam mobil dia menangis seakan tidak percaya apa yang baru saja dia dengar dan lihat keadaan muridnya itu.


Teringat kepada sosok muridnya itu, setiap pagi dia selalu membawa sarapan pagi.


"Bu, pokoknya kalau pagi jangan sarapan di rumah, Bianca, akan bawakan setiap hari untuk Ibu," ucap anak itu, dia anak yang manja dari cara bicaranya, walau terlihat polos tapi dia anak yang berprestasi dan ceria.


Sang Guru, sudah 3 hari ini tidak ada yang memberi sarapan, tidak ada yang usil kepadanya, karena Bianca, selalu usil dengan menyimpan sebuah kotak di meja Gurunya, ketika hendak jam pulang sekolah. Isi kotak tersebut sebuah makanan dan tulisan yang selalu di tulis oleh Bianca adalah" Bu Guru Cantik" Bu Widya tahu isi kotak itu dari Bianca, karena Bu Widya hapal betul satu persatu tulisan muridnya.


***


Bu Widya meneteskan air mata.


"Bu, kenapa?" tanya Citra sang ketua kelas.

__ADS_1


Bu Widya, dengan cepat menghapus air matanya, dia lupa ada Citra, di sebelahnya yang duduk di dalam mobil itu.


"Ng-nggak apa-apa ko," Bu Widya berusaha tersenyum merekah. Walaupun senyuman yang dia berikan palsu karena dia sedang pilu.


Citra di hinggapi rasa penasaran, dia seakan mengingat-ingat kejadian di rumah Bianca barusan.


Bianca terlihat pucat mukanya, dia memakai baju longgar, dan sesekali mengelus perutnya.


"Apa dia hamil?" gumam hati Citra.


Tapi kemudian Citra mencoba menepis lamunannya. Dia tidak mau berprasangka buruk kepada temannya itu.


***


kemudian pesan muncul dari gawai milik Bu Widya. Nampak terlihat Bu Astri, Mama dari Bianca memberikan pesan.


{"Bu, sekali lagi terima kasih sudah mau berkunjung ke rumah kami, Bianca mulai besok tidak bisa mengikuti pelajaran seperti biasanya, dan saya selaku orang tua dari Bianca, mohon maaf bukan saya tidak mau memberikan kabar, tapi karena kondisi dan keadaan.....," } begitu panjang kata pesan yang di ungkapkan oleh Mamanya Bianca, kepada Bu Widya.


Bu Widya hanya membacanya pesan tersebut, dan menghela napas panjang.


Stop...

__ADS_1


"Aku disini ya Bu, turunnya," ucap Citra, karena Citra sudah sampai di rumahnya, sementara Bu Widya, masih meneruskan perjalanan ke rumahnya kurang lebih 20 menit lagi.


Citra pun turun, dari mobil online tersebut, tidak lupa dia mencium punggung tangan sang Guru.




Bu Widya masih termenung.


Kemudian sang Guru kembali membaca isi pesan dari Mamanya Bianca, dia terlihat sedih membacanya berkali-kali, isi pesan tersebut.



Saat tadi ada Citra, sang Guru tidak berani lekat ke arah telepon untuk membaca. Karena takut Citra mengintip membaca pesan dari Mamanya Bianca.



Kemudian Bu Guru menuliskan pesan.


"Semoga semua keluarga diberi ketabahan, dan saya ikut prihatin. Dan semoga di lancarkan untuk sore ini," Bu Guru mendoakan agar di lancarkan sore ini karena Mama dari Bianca, tadi berbicara kepada Bu Widya, sore ini akan berkunjung ke pihak lelaki yaitu Rama.

__ADS_1



Pandangan sang Guru lekat ke arah depan, matanya terpejam. Tidak bisa di pungkiri rasa sedih kian nyata menggelayuti hati dan pikirannya, karena Bianca murid yang sangat dekat dengannya.


__ADS_2