
Pagi itu nampak cuaca sangat cerah sekali, Bianca sudah dandan rapi karena sebentar lagi dia mau pergi dengan sang Kakak ke Kafe milik Gerry
"Bianca, sudah siap? Ayo!" ucap sang Kakak.
Tyanca pun dan Bianca pergi berlalu ke Kafe. Gerry sang suami sudah pergi 1 jam yang lalu ke tempat kerjanya.
___
Tiba di Kafe.
"Papi!" Mischa berlari kecil menghampiri Gerry, tatkala Gerry sedang duduk di ruang kerjanya sambil menikmati kopi panas yang ngebul.
"Hai, Sayang," dipeluknya erat sang anak oleh Gerry. Mata Gerry pun mengarah ke luar ruangannya, nampak terlihat oleh dia sang istri dan Bianca sedang duduk.
Gerry pun menggendong anaknya berlalu dari luar kantornya untuk menghampiri sang istri dan Bianca.
"Mau pulang jam berapa Bianca?" tanya Gerry.
Menatap lekat kepada Bianca.
"Kata Kang Burhan, nanti siang jam 12," jawab Bianca dengan pandangan melirik ke arah jam yang berada di pergelangan tangannya.
"Sudah diberesin semua pakaiannya? Jadi pulang dari Kafe tinggal siap untuk pulang," ucap Gerry. Dia begitu perhatian kepada adik dari sang istri.
Bianca pun menganggukkan kepalanya dan matanya berselancar ke arah Kafe tersebut. Seakan mencari sosok Amel.
•••
Nampak tepat di belakang meja yang diduduki oleh Bianca, ada Gisel yang sedang membereskan meja. Dia pun mendengarkan percakapan antara Gerry dan Bianca.
Gisel dihinggapi rasa penasaran karena dengan ucapan Bianca, yang mengatakan Bianca pulangannya ke Bandung akan diantar oleh Kang Burhan.
"Apakah yang dimaksud oleh Bianca itu, sosok Kang Burhan teman dekatnya Amel!" ucap hati Gisel.
Gisel seakan dihinggapi rasa penasaran, dia pun berlalu dari tempat itu, kemudian dia menghampiri Amel yang sedang berada di ruangan tempat kerjanya.
•••
"Mel,Mel,," ucap Gisel, raut mukanya seakan dihinggapi rasa bingung.
"Ada apa sih!" Amel tetap pandangannya fokus ke arah laptop.
"Ibu Tyanca dan adiknya datang ke sini, kemudian dia membicarakan sang adik yang mau pulang ke Bandung. Terus sang adik bilang, katanya dia hari ini mau pulang ke Bandung yang diantarkan sama Kang Burhan. Apa aku enggak salah dengar," Gisel seakan dihinggapi rasa penasaran.
"Maksud kamu, enggak salah dengar apa?* tanya Amel menetap lekat ke arah Gisel.
"Apakah yang dimaksud oleh Bianca, Kang Burhan itu adalah lelaki teman dekat kamu!?" tanya Gisel seakan ingin mengetahui lebih jelas dengan yang dimaksud oleh Bianca.
"Iya betul Bianca mau pulang dianterin oleh Kang Burhan," ucap Amel.
"Loh, kamu nggak cemburu?" tanya Gisel, seperti dihinggapi rasa heran, dalam hatinya seakan bertanya (Mengapa, Amel tidak cemburu, ketika Kang Burhan mengantarkan Bianca untuk pulang ke Bandung). Padahal jelas-jelas Amel adalah kekasihnya.
"Cemburu!? Aku enggak ada hubungan apa-apa kok, sama Kang Burhan," jawab Amel mencoba tersenyum walau dalam hatinya ada rasa sedikit cemburu terhadap sosok Bianca.
Tapi dia juga berpikir rasa cinta belum sepenuhnya hinggap didalam hatinya, jadi dia untuk apa dia cemburu berlebih.
Mungkin kecemburuan Amel adalah, takut jika Kang Burhan yang penuh perhatian dan dewasa akan berpaling ke Bianca.
"Tidak, aku tidak mencintainya," gumam hatinya, dia pun mencoba menepis perasaannya terhadap Kang Burhan.
•••
"Aku tidak yakin kamu tidak cemburu, pasti kamu cemburu," ejek Gisel tertawa terkekeh.
"Apa, sih!" Amel mendelik.
"Bibirnya jangan cemberut dong, kalau nggak ada rasa cemburu," sindir Gisel
Gisel pun kemudian berlalu dari hadapan Amel yang, pura-pura terlihat sibuk dengan pandangan fokus ke layar laptop.
___
__ADS_1
Amel kemudian berjalan ke arah jendela yang arahnya menghadap ke ruang Kafe dekat kolam ikan koi, di sana terlihat Bianca sedang tertawa lepas bersama Gerry dan Tyanca.
"Apakah Bianca menyimpan rasa kesal kepadaku? Karena sudah 2 kali pertemuan, dia nampak terlihat cemberut, dan tidak menampakkan ramah kepadaku," Amel dihinggapi rasa penasaran terhadap Bianca, karena Bianca seakan menaruh dendam terhadap dirinya.
•••
Tiba-tiba nampak terlihat Kang Burhan datang menghampiri, wajah Bianca merah padam dan tersipu malu dengan kedatangan Kang Burhan, Amel pun seakan dihinggapi rasa curiga terhadap Bianca karena wanita belia itu seakan ada rasa terhadap sosok Kang Burhan.
"Mungkinkah Bianca akan mendekati Kang Burhan?" tanya Hati Amel, dia seakan dihinggapi rasa khawatir jika Kang Burhan jatuh hati kepada Bianca, padahal Amel tidak ada rasa terhadap Kang Burhan, tapi entah kenapa rasa cemburu kian menyelimuti hati dan pikirannya.
_____
"Selamat pagi semua," ucapnya tersenyum ramah. Kang Burhan menyalami semua yang duduk di sana.
"Kang Burhan, silahkan duduk," ucap Gerry tersenyum ramah tatkala sosok Kang Burhan tiba-tiba muncul datang menghampiri.
Bianca pandangannya menunduk seakan malu, dan entah mengapa dadanya berdebar tidak karuan.
•••
Gerry pun berlalu dari hadapan Kang Burhan niat dia ingin memberitahu Amel bahwa ada Kang Burhan, datang untuk menemuinya.
"Mel, ada Kang Burhan," ucap Gerry yang tiba-tiba datang keruangan Amel.
Amel pun terkejut tatkala ada suara Bosnya itu datang menghampiri, karena Amel sedang melamun dan pandangannya matanya begitu lekat ke arah Bianca dan Kang Burhan yang terlihat sedang ngobrol.
"Iy-iya, Pak,," ucap Amel gugup terdengar gugup.
"Ayo, temuin dulu ada Kang Burhan, mungkin dia sekalian akan pamit pulang," ucap Gerry.
"Bukannya pulangnya nanti jam 12 siang! Sekarang baru jam 9, masih 3 jam lagi," ucap Amel tersenyum tipis.
"Kang Burhan mau berkunjung dulu ke rumahku Mel, ada perlu dulu. Jadi nanti pergi dari Bandung nya dari arah rumahku," ucap Gerry, dia pun berlalu dari hadapan Amel.
_____
Amel nampak menghela napas secara perlahan, entah mengapa pikirannya dihinggapi rasa serba salah ketika akan menemui Kang Burhan yang tengah asik ngobrol dengan Bianca.
Amel pun menyeret langkah kakinya ke arah di mana Kang Burhan dan Bianca berada, dia mencoba mengatur napasnya yang seakan memburu tidak karuan.
______
Tiba di depan Kang Burhan.
"Amel.." Kang Burhan memanggil nama Amel, ketika Amel datang menghampiri.
Sontak Bianca dihinggapi rasa gelisah seakan begitu cepat berdetak jantungnya berdebar. Peluh Bianca bercucuran, tatkala sosok Amel datang menghampiri Kang Burhan.
•••
"Bianca ini saatnya kamu tunjukkan bahwa
kamu akan mengambil hati Kang Burhan,
agar Amel dihinggapi rasa cemburu!"
bisik hati Bianca, begitu berkecamuk.
Entah mengapa rasa ingin membalaskan dendam terhadap Amel agar dia cemburu musnah hilang seketika. Padahal waktu kemarin dia ingin sekali membalaskan dendam kepada Amel, agar Amel dihinggapi rasa cemburu, tapi entah mengapa niatnya seakan diurungkan oleh Bianca.
"Kalau aku berbuat tidak baik, dan sikapku tidak terpuji di depan Kang Burhan. Kemungkinan nanti Kang Burhan tidak akan suka denganku, dan otomatis dia akan menjauhiku," hati Bianca seakan mengatur siasat jangan sampai Kang Burhan menjauhinya, karena sifatnya yang kurang baik di depan Amel dan Kang Burhan.
••••
Amel menyodorkan tangannya ke semua yang ada di meja tersebut.
"Sehat Mel!?" tanya Tyanca, kepada Amel.
"Alhamdulillah sehat Bu," ucap Amel tersenyum renyah.
Amel pun melirik kepada Bianca.
__ADS_1
"Sehat, Bianca?" tanya Amel
_____
Dia mencoba menampakan senyum seramah mungkin agar Bianca membalas senyumannya, karena Amel pikir dari semenjak berada di Bandung pertemuannya dengan Bianca.
Bianca terlihat cuek dan tidak ramah terhadap dirinya, jadi Amel pun dihinggapi rasa tanya kepada Bianca.
Amel pun merasa bersalah, dengan masa lalunya yang telah merebut Rama dari hati Bianca.
Nampak Bianca menghela napas panjang, sebenarnya dia tidak mau senyum kepada Amel, namun karena di depan matanya ada sosok Kang Burhan, dia pun terpaksa menampakkan senyum, meskipun senyumannya itu palsu.
_______
"Sehat,," jawabnya tersenyum tipis, dan pandangannya pun tidak berani menatap Amel.
"Kang, mau minum kopi?" tanya Amel.
Amel begitu ramah ketika menawarkan minuman kopi kepada Kang Burhan.
Dia nampak terlihat dewasa, Kang Burhan pun seakan suka dengan pribadi Amel tersebut.
"Boleh,," ucap Kang Burhan menatap lekat kepada Amel dengan senyuman penuh arti.
Kembali Rasa berdebar dan cemburu hinggap dalam diri Bianca, Amel pun berlalu dari hadapan Bianca dan Kang Burhan untuk mengambil secangkir kopi.
Sementara Tyanca berlalu menghampiri Gerry ke belakang Kafe.
_____
Kang Burhan menatap lekat Bianca.
"Sudah dibereskan semua tasnya, awas ada yang ketinggalan," ucap Kang Burhan, dia lelaki yang peduli dan perhatian terhadap siapapun, bukan berarti ada rasa atau suka terhadap sosok Bianca,
Bianca nampak tersipu malu, dengan perhatian Kang Burhan.
"Sudah," ucapnya lirih.
"Gimana, mulai usahanya kapan? Rukonya udah dibeli loh, sama Kakakmu. Tyanca memang Kakak yang baik dan perhatian." ucap Kang Burhan, pandangannya mengarah jauh ke Tyanca yang sedang berbicara serius dengan sang suami.
"Mungkin sepulang dari Bandung, Bianca akan bicarakan lagi dengan Mama, karena yang akan mengurus semuanya Mama," jawabnya tersenyum tapi pandangannya tetap menunduk seakan malu untuk menatap Kang Burhan.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Kang Burhan.
_____
Nampak Amel berjalan ke arah Kang Burhan, sambil membawa secangkir kopi. Nampak terlihat oleh Amel, Bianca menundukkan pandangannya dari sosok Kang Burhan, dan dia tersipu malu. Amel pun semakin yakin bahwa Bianca menyukai Kang Burhan.
"Silahkan, diminum kopinya Kang," Amel tiba-tiba datang dengan membawa secangkir kopi yang masih ngebul.
Bianca kembali terkejut tatkala mendengar suara Amel dari arah belakang dirinya, dengan membawa secangkir kopi. Karena Bianca tengah memandangi Kang Burhan yang lekat ke arah ponselnya.
"Oh, Iya, terima kasih Mel," Kang Burhan tersenyum manis kepada Amel, melihat Kang Burhan tersenyum kepada Amel dengan tatapan yang penuh arti, Bianca nampak seperti mengelus dada.
"Kang Burhan, betul-betul sayang kepada Amel," gumam hatinya.
_____
"Kita sekarang saja pulang kerumahnya, Kakak ada perlu dulu dengan Kang Burhan," tiba-tiba Gerry datang.
Akhirnya mereka pun keluar dari Kafe tersebut, dan tidak lupa Kang Burhan pamit kepada Amel.
Nampak terlihat oleh Bianca, Amel tersenyum tapi senyuman itu seakan mengisyaratkan ada rasa cemburu dalam diri Amel,
Bianca pun terlihat tersenyum puas.
Bianca tidak menyadari perhatian yang diberikan oleh Kang Burhan sebenarnya hanya rasa sayang terhadap Bianca, yang menganggap Bianca itu adalah sosok adik, karena usianya cukup jauh berbeda.
Dalam diri Kang Burhan pun mengatakan, dia mengantarkan Bianca pulang ke Bandung tidak ada rasa menaruh hati atau ingin mendekati sosok Bianca.
Bersambung...
__ADS_1