
Tante Fani menatap lekat Rama.
"Ayo, antar Tante ke rumah Bianca sekarang juga!" ucap Tante Fani. Nampak terlihat dihinggapi rasa kecewa kepada anaknya sang Kakak yaitu Rama.
Rama hanya terdiam dia seakan putus asa, dia seakan malu juga jika harus bertemu dengan keluarga besar Bianca.
"Tante, Bianca tidak ada di rumah, dia sedang berada di luar kota," ucap Rama lirih.
"Nggak apa-apa, Tante tidak peduli itu. Tante yakin dia sedang berkunjung ke rumah Ibunya, masa dia tidak pernah berkunjung ke rumah Ibunya," ucap Tante Fani
Sang Tante terdengar kesal melihat raut muka Rama yang seakan malas untuk bisa mengantarkannya ke rumah keluarga Bianca.
"Tuh, Tante lihat ini," kemudian Rama menunjukkan pesan WhatsApp dari Merry (sahabat Bianca dulu ketika SMP) bahwa Bianca telah pindah keluar kota.
Rama memperlihatkan pesan tersebut kepada Tante Fani, dan sang Tante pun membaca dekat lekat isi pesan tersebut.
"Ya, Merry mungkin nggak tahu, semua tentang Bianca. Masa segala sesuatu bilang sama Merry nggak mungkin. Walaupun Bianca nggak ada di rumah Ibunya, tetap Tante ingin bertemu Ibunya untuk meminta maaf atas kelalaian kamu tidak mengurus anaknya selama ini," ucap sang Tante terdengar menggebu.
Tante Fani berpikir, Amel sekarang sudah di kasih jatah bulanan olehnya untuk hidup anaknya, dan sang Tante pun harus bersikap adil terhadap anak Bianca. Dia harus mampu memberi bersikap adil.
•••
"Ucapkan rasa minta maaf Mama terhadap keluarganya Bianca," tiba-tiba sang Mama, datang, keluar dari dalam kamar.
•••
"Kak, sehat," ucap Tante Fani.
Kebetulan Tante Fani baru saja datang ke rumah sang Tante, dan mendapati Rama sedang termenung.
"Iya Kak, kebetulan uangku sudah ada yang 100 juta, jadi aku mau kasih juga ke Bapaknya Amel. Nah, kedepannya kamu buka usaha terserah kamu mau buka usaha dimana. Asal kamu bisa mensejahterakan anaknya Amel dan Bianca, jangan pilih kasih karena itu semua anak darah daging kamu. Jika kamu tidak tanggung jawab kepada anakmu dari Bianca maka karma akan menantimu," ucap sang Tante lekat matanya ke arah Rama. Ucapan sang Tante terdengar getir dan memukul keras hati Rama.
Rama menghela napas panjang.
"Tapi kayaknya nggak mungkin," ucap Rama dan pandangannya seakan kosong menatap ke teras rumah.
__ADS_1
"Nggak mungkin apa?" tanya sang Tante.
"Nggak mungkin seperti dulu, keberadaan aku di terima oleh keluarga Amel." ucap Rama terlihat dihinggapi rasa bersalah yang teramat.
•••
Rama begitu lama meninggalkan rumah Amel, sekitar 10 bulan dan salahnya Rama telah menutup komunikasi lewat ponsel dengan Amel. Ketika Amel datang ke rumah Rama untuk menagih uang yang 100 juta itu karena Amel di desak oleh sang Bapak.
Itulah pertemuan Amel dan Rama pertama kalinya semenjak Amel melahirkan Amera anak dari hasil pernikahannya dengan Rama.
"Jangan mikir terlalu lama, untuk melakukan kebaikan," ucap sang Tante, terdengar tegas.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Ibunya Rama diam dia pun seakan malu dengan apa, yang di ucapkan oleh adiknya tersebut karena Ibunya Rama, selama ini tidak pernah peduli dengan sosok Bianca.
Dia terpengaruh oleh sang suami yang berkata bahwa anaknya Bianca itu bukan anaknya Rama.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
"Iya, Dek. Aku yang salah. Yang tidak bisa mengurus anak sampai anakku melupakan Bianca. Kalau dulu aku mendukung dan sifatnya tidak sama dengan suamiku membenci anak itu, mungkin Rama nggak terpengaruh dengan aku. Memang Rama mempunyai orang tua yang tidak becus mengurus anak," ucapnya tersedu menangis.
Terlihat Tante Fani mencibir sang Kakak, dalam hati sang Tante mungkin saat ini baru dibukakan pintu hati sang Kakak yang dulu sangat keras.
Terlihat Rama sedang memanaskan mobil milik Tante Fani di halaman teras rumah.
Dia terlihat dihinggapi rasa was-was dan dadanya terus berdetak kencang tidak karuan, karena hari ini dia akan bertemu dengan keluarga Bianca dan Amel.
Peluh bercucuran dari kening Rama. Melihat situasi keadaan Rama yang salah tingkah sang Ibu menghampirinya.
"Nak, tenang. Sabar, ini ujian kamu. Barusan kata Tante Fani mampir ke rumah Amel dulu untuk menyerahkan uang setelah itu baru ke rumahnya Bianca. Kamu harus bisa mempertanggung jawabkan semuanya, jangan lemah. Berani berbuat berani juga bertanggung jawab," ucap sang Ibu menepuk-nepuk pundak sang anak beberapa kali. Rama hanya menganggukkan kepalanya.
Rama membuang napas kasar.
__ADS_1
"Iya, Bu," jawabnya.
Dengan mengusap peluhnya dan menggaruk kepala yang tidak terasa gatal.
___
"Ayo, sudah siap!" ucap sang Tante yang terlihat anggun dengan memakai baju gamis.
Sang Tante membawa tas yang cukup besar, dan beberapa kantong kresek lalu di masukkan ke dalam mobil.
"Apa itu Dek?" tanya sang Kakak.
"Ini oleh-oleh buat keluarga Amel dan Bianca," Tante Fani tersenyum tipis.
"Begitu mulya hati adikku ini. Alhamdulillah Gusti, telah memberikan malaikat berbentuk manusia datang kepadaku, yaitu adikku sendiri. Disaat aku terpuruk," spontan dari ekor mata sang Kakak keluar bulir putih bening bercucuran.
"Kenapa kamu Kak," ucap sang adik sambil membereskan barang-barang yang dimasukkan kedalam mobil.
"Aku berhutang budi sama kamu Dek," sang Kakak memeluk erat adiknya tersebut sambil menangis tersedu.
"Sudah Kak, jangan berpikir yang macam-macam, yang penting kita sudah ikhtiar dan hasil lihat saja nanti. Jika Rama masih berjodoh sama Amel syukur dan kalau tidak. Ya, tidak apalah, sudah suratan takdir, kita pasrah saja sama yang kuasa," ucap sang Tante mencoba menyabarkan hati sang kakak.
•••
Tante Fani seakan menguasai keadaan.
Jika Ibunya Rama, sedang berpikir bahwa keluarga dari Amel sudah membenci anaknya, karena selama ini belum bisa membayar uang yang 100 juta kepada Bapaknya Amel.
Tante Fani mencoba menyabarkan hati sang Kakak. "Sekarang berdoa saja yang terbaik untuk anakmu Kak, semoga keluarga Amel berlapang, begitupun keluarga Bianca bisa memaafkan Rama," ucap sang adik kepada Kakaknya tersebut.
Ibunya Rama seakan dihinggapi rasa khawatir dan sedih melihat kondisi sang anak yang terlihat melamun. Rama pun pasti memikirkan sang Bapak yang pergi meninggalkan Ibunya bersama sang pelakor.
"Bu, hati-hati di rumah ya, kalau Bapak datang jangan di bukakan pintunya," ucap Rama dihinggapi rasa khawatir karena, sang Ibu akan di tinggalkan sendiri di rumah.
"Iya, Kak, kunci saja rumahnya. Aku juga takut terjadi apa-apa kalau Bapaknya Rama datang kesini bersama pelakor," ucap Tante Fani
Ibunya Rama tidak ikut bersama mereka karena keadaan kondisi badannya sedang sakit belum stabil.
Akhirnya Mereka pun berpamitan pergi.
Ketika mengendarai mobil nampak Rama, diam seribu bahasa.
__ADS_1
"Sudah jangan banyak pikiran," ejek sang Tante.
Bersambung...