
Di dalam mobil.
Akhirnya keluarga Bianca pulang dari rumah Rama. Dengan hati yang menyimpan rasa kecewa karena keluarga dari Rama, seakan memojokkan keluarga Bianca.
Nampak di dalam mobil Tyanca terlihat kesal dan cemberut.
"Sudah, jangan memasang muka cemberut gitu," ucap Gerry, sang suami.
"Aku kesal Mas, sama keluarganya Rama, masa dia tidak percaya bahwa kandungan yang berada di dalam perut Bianca itu adalah anaknya si Rama!" ucapnya ketus.
"Nggak apa-apa Mih, yang penting Rama tadi sudah berjanji akan menikahi adikmu," jawab sang suami.
Mama nampak berkaca-kaca matanya, dia sangat sedih begitupun dengan sang Papa.
Nampak Mischa memeluk erat Bianca.
"Tante, sudah jangan sedih terus," ucap Mischa menatap Bianca, sambil memainkan kuncir rambut dari Bianca yang panjang.
Bianca hanya tersenyum tipis, dia tidak berani berkata apapun, seakan takut dengan sang Kakak yang keadaannya sedang emosi.
"Mah, Pah, mau makan dulu nggak?" Gerry mencoba melumerkan suasana agar sang mertua berbicara karena nampak mereka tidak bergeming sedikitpun.
Mama dan Papa menggelengkan kepalanya.
"Mischa lapar, mau makan," ucapnya.
__ADS_1
"Yasudah, kita cari makan dulu Nak Gerry, kasihan Mischa lapar," ucap sang Mama.
Gerry pun membelokkan mobilnya, ke arah Restoran.
\*\*\*
Setelah selesai makan mereka kembali pulang, di dalam mobil dalam keadaan pulang nampak Bianca sedang sibuk dengan ponselnya. Tyanca tatkala melihat sang adik sibuk dengan ponselnya lalu dia dihinggapi rasa penasaran dan curiga.
"Apa kata Rama, apa dia mau menikahi kamu minggu ini?" tanya Tyanca, tanpa menanyakan kepada sang adik, Bianca sedang memberikan chat atau pesan kepada siapa, dilayar ponsel itu.
"Apa sih Kak, ini pesan dari teman sekolah," jawab Bianca terlihat kesal ketika menatap sang Kakak karena dia terlalu curiga terhadap adiknya itu.
"Awas, jangan bilang ke teman-teman sekolah kalau kamu hamil, malu! Terutama Merry, itu kan Kakaknya Febry, teman Kakak. Mau taruh dimana mukaku nanti!" ucapnya.
Mama membuang napas secara perlahan.
"Kak, Febry sudah tahu. Bahkan yang pertama mengetahui kehamilan Bianca adalah Febry," ucap sang Mama lirih.
"Apa..!" sontak Tyanca melotot matanya. Dia seakan tidak percaya. Dalam benaknya berpikir, masa Febry yang pertama mengetahui kehamilan sang adik.
"Iya Kak, aku di test pack, sama Kak Febry, saat itu Mama, sedang ke pasar bekerja," ucap Bianca terdengar polos.
__ADS_1
"Loh, apa Mama tidak tahu kalau anak Mama perutnya sedang berisi. Ko' bisa orang lain yang pertama mengetahui tentang kehamilan Bianca. Gimana sih Mah, aku malu sama Febry," Tyanca terlihat kecewa.
Kemudian sang Mama menceritakan semuanya, sewaktu Febry datang ke rumah.
"Mama percaya Febry, akan mengerti keadaan kondisi keluarga kita Kak, kamu jangan khawatir ya," ucap Mama mencoba meyakinkan sang anak.
Tatapan Tyanca mendelik kepada sang adik.
"Bocil! bikin masalah," gumam hati Tyanca.
\*\*\*
Tiba di rumah.
Setelah tiba di rumah, Bianca langsung berlalu dari hadapan keluarganya. Dia seakan tidak mau di introgasi lagi oleh keluarganya itu. Mischa mengikuti dari arah belakang.
"Mischa tunggu, mau kemana Nak?" tanya Tyanca, sang Mama.
"Mau tidur sama Tante Bianca," jawabnya.
"Jangan, sama Mami dan Papi saja," ucapnya.
Sang anak merengek minta tidur sama Bianca, kemudian sang Nenek menggendong cucunya tersebut.
__ADS_1
"Mischa, tidurnya sama Nenek dan Kakek yu.." ucap Neneknya tersebut. Akhirnya Mischa pun menganggukkan kepalanya.