
3 bulan sudah Angga melepas masa lajangnya, dia sekarang pindah rumah dan membuka usaha di Kota Medan, bersama wanita pujaannya yang bernama Khumaira. Semenjak kepergian sang kakak tercinta menikah, Amel di Bandung tinggal hanya bersama sang ART, yaitu teh Siti di rumahnya Angga.
Amel tetap bekerja di Kafe miliknya Gerry sebagai Staf Admin.
"Mel, gimana kamu kerasan tidak tinggal di Bandung? setelah tidak ada kakak kamu Angga berada di sini?" tanya Gerry di suatu sore ketika dia sedang menikmati teh hangat yang berada di atas meja kerjanya.
"Ya, namanya juga cari duit Pak! di buat betah saja, daripada tinggal di Jakarta tidak ada kerjaan terus teringat masa lalu. Mendingan di sini banyak hiburan dan teman," jawab Amel sambil tersenyum tipis.
"Ya, Bagus kalau begitu," jawab Gerry
"Pak, saya mau tanya kepada Bapak. Itu loh, temennya Bapak yang namanya Pak Rangga, dia selalu memberi hadiah sama Amel. Maksudnya apa ya? Tapi dia bilang sih, menganggap sebagai adik," ucap Amel sambil melahap pizza yang masih hangat.
Gerry pun nampak mengernyitkan dahi, dan terdiam sejenak. Dia pun seakan tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan oleh Amel. Kemudian pikirannya berselancar, dia teringat 5 bulan ke belakang bahwa Rangga sedang mencoba mendekati Fani.
"Apakah ini caranya Rangga mendekati Amel, dengan memberikan hadiah yang mewah. Agar Amel bisa kembali dengan Rama. Dengan begitu dia bisa mengambil hati Tante Fani setelah Amel dan Rama bersatu kembali." gumam hati Gerry dihinggapi rasa khawatir.
_____
"Pak Gerry, saya percaya sepenuhnya sama Pak Gerry. Tolong titip Amel ya. Awas! jangan sampai dia kembali dengan Rama," ucap Angga sebelum pergi ke Kota Medan.
Pesan kalimat tersebut selalu muncul hinggap di benak diri Gerry. Dia pun merasa ada tanggung jawab yang lebih untuk menjaga sosok Amel dari Rangga saat ini.
Terutama Rama pelaku utama yang akan mencoba memasuki hati amal kembali.
Gerry menganggap Angga sudah menjadi bagian keluarganya, karena Angga rekan bisnis yang sangat jujur dan tanggung jawab. Sehingga Gerry percaya dan memberi perhatian lebih kepada Angga.
Jadi, ketika Angga memberi pesan kepada Gerry untuk menjaga adiknya, yaitu Amel.
Dia merasa ada tanggung jawab yang harus dia jaga dan pelihara.
Begitupun dengan masa lalu Amel yang sama persis dengan Bianca, rasa sakit hati yang dirasakan oleh sang istri yaitu Tyanca, bisa dirasakan oleh Gerry sang suami.
•••••
"Pak..Pak Gerry, saya ke depan dulu ya, katanya ada tamu," ucap Amel yang menatap lekat kepada Gerry karena nampak, Gerry sedang melamun.
"Oh, Iy-Iya," jawabnya gugup.
Nampak terlihat karyawan lain menghampiri Amel karena ada tamu yang menunggu di depan Kafe. Amel pun kemudian berlalu dari hadapan Gerry.
"Tamu, tamu siapa?" gumam hati Gerry.
Gerry pun terlihat dihinggapi rasa penasaran.
Siapa sosok tamu yang datang kepadanya.
Gerry pun menyeret kakinya, untuk berjalan ke depan Kafe tapi tanpa di ketahui oleh Amel. Jadi Gerry akan bersembunyi untuk melihat siapa tamu yang datang kepada Amel.
__ADS_1
__
"Halo, Amel, kamu sehat kan? Ini saya bawakan makanan untuk nanti kamu bawa ke rumah," ucap Rangga.
Tamu yang datang ternyata Rangga.
Nampak terlihat Rangga memberi makanan snack satu kresek penuh kepada Amel.
Amel hanya tersenyum tipis
"Silahkan duduk pak Rangga!" ucap Amel.
Rangga pun duduk di hadapan Amel.
Amel pandangannya menunduk tidak mau menatap Rangga.
"Pak Rangga, mohon maaf sebelumnya
Saya mau tanya. Kenapa Pak rangga berlebihan memberikan sesuatu kepada saya," tanya Amel.
"Nggak apa-apa Mel, terima saja barang pemberian dari saya. Anggap aja Ini hadiah untuk kamu karena aku tidak punya adik jadi aku menganggap kamu sebagai adikku sendiri." ucap Rangga.
"jawabannya terdengar klise," gumam hati Amel.
•••
Pasti ada tujuan licik, di balik semua ini,"
ucap Gerry yang mendengar semua pembicaraan Angga dan Amel.
Gerry matanya lekat ke arah Angga, dan hati Gerry seakan tidak bisa dibohongi bahwa Amel sedang berada di posisi yang terganggu oleh Angga. Gerry kemudian menghala napas panjang. Dia pun dengan cepat menghampiri Rangga dan Amel.
•••
"Eh, Pak Gery, apa kabar pak. Katanya kemarin ke Semarang ya, udah pulang?" tanya Rangga begitu terkejut ketika melihat sosok Gerry tengah berada di hadapannya itu.
Dia menyangka Gerry tidak ada di Kafe tersebut, belum datang dari Semarang, jadi Rangga berani datang ke Kafe tersebut untuk menemui Amel.
"Wah, Amel dikasih makanan nih, oleh Rangga!" Gerry seakan mengejek Rangga.
Rangga pun nampak tersipu malu, dan mukanya merah padam.
"Gimana bisnis Kafe kamu yang baru, katanya pengunjungnya mulai ramai ya?" tanya Gerry kepada Rangga.
"Alhamdulillah, ramai, berkat doa kamu. Hehehe." ucap Rangga.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Gerry tersenyum tipis kepada Rangga.
__ADS_1
"Ya udah, saya pulang dulu ya," ucap Rangga tersenyum lebar kepada Amel dan Gerry.
"Aku tahu ini jebakan buat Amel agar Amel bersimpati. Kemudian, jika Rangga bisa mendekatkan Rama dan Amel mau rujuk. Itu merupakan poin nilai plus bagi Rangga, dan dia pun akan mendapat simpati dari Tante Fani," gumam hati Gerry.
Gerry seakan dihinggapi rasa khawatir dan dia juga berpikir ingin menyelidiki semuanya.
•••••
Jam menunjukkan pukul 5.
Akhirnya Amel pun pulang dari Kafe.
Drettt... Drettt... Drettt..
Tiba-tiba bunyi getaran terdengar dari ponsel milik Amel. Nampak terlihat sang kakak menelepon.
{"Assalamu'alaikum, gimana Mel keadaan kamu sehat?"} tanya Rangga di sambungan selularnya.
"Wa'alaikum salam, Hai, Kak Rangga kemana saja! Kok baru menelpon," ucap Amel dengan rasa gembira, nampak terdengar dari suaranya, dia sangat merindukan sosok kakaknya tersebut.
"Kakak agak sibuk Mel, Maaf ya, Kakak baru menghubungi kamu," ucap Angga.
"Tidak apa-apa Kak, gimana kabarnya Kak Khumaira sehat?" tanya Amel kepada sang kakak.
"Alhamdulillah sehat Mel. Oh Iya, Kakak Mau mengabarkan kabar gembira. Kak Khumaira, Alhamdulillah sekarang sudah hamil," ucapnya terdengar dihinggapi rasa gembira.
"Oh, ya. Alhamdulillah dong Kak, Alhamdulillah Amel senang dengarnya," Amel pun terdengar sangat gembira karena sebentar lagi sang kakak akan mempunyai anak.
"Gimana kamu betah nggak, kerja di Kafe?" tanya sang kakak.
"Alhamdulillah Kak," ucap Amel terdengar lirih.
"Syukurlah kalau begitu. Oh Iya, dua minggu lagi kakak akan datang ke Jakarta, untuk menjenguk Ibu dan Bapak, kemudian ke Bandung" ucap Angga.
Mendengar kabar tersebut, Amel seakan dihinggapi rasa gembira.
" Asik.." ucapnya
•••••
Setelah mereka menelepon kurang lebih 1 jam, sambungan telepon ditutup oleh Angga.
Amel nampak meminjamkan matanya, nampak dia rindu dengan sosok kakaknya tersebut yang begitu perhatian dan memanjakannya.
Setelah sang kakak tidak ada. Amel merasa kehilangan karena tidak ada lagi tempat untuk mengungkapkan rasa manjanya.
Amel hanya bisa mengelus dada seakan ingin cepat berjumpa dengan kakaknya tersebut.
__ADS_1
Bersambung..