
"Assalamualaikum,"
ucap Pak RT, di depan teras rumah.
Serentak yang berada di dalam rumah, mengucapkan kata, Wa'alaikumsalam.
"Pak, kenapa datang jemput kesini?" tanya Bu RT, sambil tersenyum kepada suaminya tersebut.
"Raden, anak kita pulang Mah, dari Bandung," ucap Pak RT. Raden anak Pak RT, yang sudah bekerja, setelah keluar SMA dia tidak kuliah, tapi langsung bekerja usianya sekitar 19 tahun.
Mendengar nama Raden, Mama Astri jantungnya terasa berdetak lebih kencang, karena Pak RT, selalu menjodohkan Bianca, dengan anaknya yang bernama Raden itu.
________
Dahulu
"Bianca di antar Bapak yu," Pak RT, mencoba menawarkan Bianca di antar pergi sekolah waktu sekolah SD," sang Mama hanya tersenyum, dan pesona Raden, anak dari Pak RT begitu memesona, meskipun di usia dulu masih kecil.
"Bu Astri, Bianca cantik, jangan kasih kesiapa-siapa ya, nanti kita besanan," canda pak RT.
Sang Mama berusaha menepis semua bayangan. "Tidak, tidak mungkin terjadi perjodohan anakku dengan anak Pak RT," gumam hati sang Mama.
"Bu Astri, kita pulang dulu ya," ucap Bu RT, dan nampak Pak RT pun berpamitan kepada Bu Astri, dan tersenyum ramah.
"Iya, iya Bu, salam ke Nak Raden," ucap Mama Astri, terkesiap karena sedang melamun masa lalu.
"Iya, tadi Raden nanyain Bianca. Oh ya, katanya Bianca, sudah pindah ya Bu?" tanya Pak RT.
Nampak terlihat muka Mama Astri terlihat malu, ketika Pak RT, menanyakan keberadaan Bianca anaknya dimana.
"Ya, ikut Tantenya Pak," jawab Mama Astri tertunduk malu.
Melihat muka Mama Astri seakan menahan malu, sontak Pak RT, segera pamit berlalu dari hadapan Mama Astri.
__ADS_1
Mama Astri menghela napas panjang ketika tamu pulang. Mama Astri berpikir kehamilan Bianca, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Mama Astri seakan berpikir kenapa Pak.RT, sampai tahu anaknya tidak tinggal bersama Mama Astri lagi.
Keesokan harinya Mama pun bersama sang suami pergi ke Bekasi, ke rumah adiknya yaitu Tante Astrid untuk melihat keadaan anaknya yang sedang hamil.
Tidak memakan waktu lama untuk sampai ke rumah adiknya tersebut, yaitu perjalanan hanya memakan satu jam kurang, kebetulan jalanan kosong tidak ada hambatan jadi mobil sang Papa, bisa menerobos tidak ada aral melintang.
Tiba di Bekasi
Tiba di rumah sang adik, Bianca begitu senang dengan kedatangan sang Mama dan Papanya. Nampak perut sang anak sudah mulai terlihat membesar.
_____
"Pasti anaknya berjenis kelamin perempuan," gumam sang Mama. Nampak dari bentuk perutnya yang melebar ke samping dan terlihat Bianca pandai merias diri. "Ya, ampun, baru saja aku lihat beberapa bulan lalu anak ini memakai baju seragam putih-biru, sekarang sudah memakai daster baju longgar dengan perut buncit besar." sang Mama hanya menghela napas.
_____
Bianca nampak riang.
"Asik bawa harum manis (rambut nenek) cemilan kesukaanku," Bianca terlihat dari raut muka begitu senang, rambut Bianca pun nampak di kuncir dua, mungkin cuaca di Bekasi hari itu sedang panas menyengat juga.
"Pah.." Bianca bergelayut manja kepada sang Papa, namun sang Papa, terlihat menepisnya, ketika sang anak ingin bermanja-manja dengan sang Papa.
Bianca otomatis bergeser dan duduknya memberikan jarak kepada Papanya tersebut. Nampak terlihat mukanya seperti menahan malu dan segan kepada sang Papa.
"Nak, kemarin seru nggak, acara jalan ke Mall bersama Tante Astrid?" tanya Mama tersenyum manis kepada sang anak.
Bianca menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis, itu pun seakan terpaksa. Bianca terlihat melirik sang Papa, dan sang Papa pandangan hanya lekat ke layar televisi.
"Seru Mah," jawabnya.
Tante Astrid seakan menguasai keadaan, apa yang sedang terjadi terhadap keluarga sang Kakaknya tersebut
"Ayo, semua kita makan dulu yu," ucap Tante Astrid, menawarkan makan kepada semua orang yang tengah berada di ruang tamu.
"Ayo, Mas, kita makan," ucap suami Tante Astrid tersenyum pandangan mengarah ke Papanya Bianca.
Mereka pun semua berlalu ke meja makan, untuk menyantap makanan yang sudah dihidangkan di meja makan.
Nampak terlihat beberapa menu makanan tersedia sangat komplit.
"Wah, ada acara apa nih, banyak banget menu yang dihidangkan di atas meja," Mama Astri, begitu terkejut ketika membuka tudung saji yang berada di meja makan, dan makanan yang di sajikan disana, tampak beraneka ragam. Ada rendang, ayam goreng, sayur sup, udang saus tiram, kerupuk, dan menu lainnya. Nampak memenuhi meja makan.
"Hari ini anniversary, kita," ucap Tante Astrid, sambil melirik sang suami dan tersipu malu.
__ADS_1
"Wah, semoga langgeng terus ya," ucap Papanya Bianca, menepuk lembut suaminya Tante Astrid dan suami Tante Astrid, nampak tersipu malu.
"Mas, alakadarnya, ayo Mas, Kak Astrid, di santap makanannya," ucap suami Tante Astrid. Mereka pun akhirnya menyantap makanan yang dihidangkan dengan lahap.
Nampak Bianca, ketika sedang makan.Tangannya berselancar dan pandangan matanya lekat ke arah gawai nya. Dia terlihat sedang melihat foto-foto yang terlihat di status WhatsApp Merry, sang sahabat yang baru saja merayakan hari ulang tahun tersebut.
"Seru, di acara perayaan ulang tahun Merry," ucapnya berbicara sendiri, dia seperti berpikir ingin rasanya pergi ke acara tersebut.
Sang Mama mendengar jelas apa.yang baru saja di ucapkan dari mulut sang anak.
"Nak, kalau makan jangan sambil lihat Handphone!" tegur sang Mama.
Papa langsung mengambil ponsel yang sedang di mainkan oleh Bianca, nampak terlihat jelas Bianca kesal. Lalu dia cemberut dan meninggalkan meja makan.
"Maafkan ya, kelakuan Bianca," ucap sang Papa, menghela napas panjang.
"Biasanya, Bianca nggak gitu ko' dia baik-baik saja, selama disini. Iya kan Pak," ucap Tante Astrid, pandangan lekat kepada Bianca yang tengah berlalu menuju kamarnya.
"Mungkin cari perhatian saja, hehehe.." ucap suami Tante Astrid.
"Tidak bisa di bayangkan, jika nanti bayinya lahir, dia kelakuannya masih kekanak-kanakan," ucap sang Papa, sambil mengambil tisu, dan mengelap mulutnya lalu setelah itu tisu tersebut di simpan di piring kotor yang baru saja dia pakai.
"Mas, ko' makannya sedikit," Tante Astrid, melirik Papanya Bianca.
Mama Astri hanya menatap sang suami, dalam hatinya berpikir mungkin Papa sudah tidak selera makan ketika melihat kelakuan sang anak.
***
Acara makan pun selesai.
Mama Astri nampak menghampiri anaknya ke kamar. Seorang Ibu pasti merasakan mungkin karena Bianca, sedang hamil muda jadi tingkat emosi tinggi dan cepat tersinggung.
"Nak, ini Handphone kamu," ucap sang Mama, sambil menyerahkan ponsel milik Bianca kepadanya anaknya tersebut. Sang anak hanya cemberut.
Tiba-tiba sang Papa menghampiri, nampak terlihat dari raut mukanya begitu sangat kesal.
"Papa nggak suka dengan kelakuan kamu, Bianca!" Papa terdengar emosi ketika berucap.
"Sudah Pah," ucap sang Mama.
"Jangan dibiarkan saja Mah, dan di manja. Harus dididik anaknya. Dia mau jadi seorang Ibu, tapi kelakuan gak rubah," jawab sang Papa, terlihat kesal.
"Pah, Bianca umurnya masih.."
"Masih muda, tapi sudah melakukan hubungan terlarang!" sambar Papa, melotot.
__ADS_1
Sang Mama nampak matanya berkaca-kaca. Ucapan sang Papa, terdengar sangat mengiris hatinya teramat luka.